Apa Salahku Pa

Apa Salahku Pa
Sebuah Surat


__ADS_3

Rifki bergegas kembali kekelasnya, biar bagaimanapun mengganti semua barang yang ada dikelas itu tidaklah murah bagi Rifki, Rifki membantu teman temannya yang sedang membersihkan kelas itu, Sebenarnya kerusakan yang ia timbulkan tidak terlalu parah sehingga ada beberapa barang yang masih dapat dipakai.


"Sebenarnya ada apa sih Rif? kenapa bisa punya masalah dengan kakak kelas?". Tanya seseorang mendatangi Rifki.


"Aku juga ngak tau, tiba tiba aku dikeroyok gitu aja, emang salah ya kalau melindungi diri? kenapa jadi aku yang harus tanggung jawab". Ucap Rifki dengan marahnya.


"Emang kebangetan ya kakak kelas itu, gayanya sok sokan, kamu hebat lo Rif bisa ngalahin mereka". Puji teman lelaki yang paling dekat dengan Rifki.


"Sudahlah, ngak usah bahas itu lagi".


Setelah membersihkan kelas tersebut, Rifki bergegas kembali kemejanya dan membuka buku yang selalu ia bawa untuk dibacanya. Buku itu sangat tebal dan bersampul emas, buku itu adalah karangan dari leluhur keluarganya yang membahas tentang alam gaib dan sebagainya.


Rifki ingin mengetahui bagaimana caranya untuk bisa menyelamatkan Nadhira dari permata iblis itu, memang Nadhira tidak pernah menceritakan hal itu kepada Rifki, tetapi Rifki sangat yakin permata itu ada didalam tubuh Nadhira karena aura yang dipancarkannya.


Sudah setengah bab ia pelajari tetapi tak kunjung menemukan apa yang ia cari, dibuku itu hanya menjelaskan bagaimana caranya mengatasi santet, orang kesurupan, guna guna, dan sebagainya, tak satupun yang membahas masalah permata iblis.


"Eh Rif buku apa itu?".


Tiba tiba seorang lelaki mengejutkan Rifki dari belakang, sehingga Rifki buru buru menyembunyikan buku tersebut agar tidak ada yang membacanya, Melihat Rifki yang menyembunyikan buku tersebut membuat murid itu segera duduk disamping Rifki.


"Bukan hal yang penting".


"Ouh seperti itu". Ucapnya sambil mengangguk angguk.


Rifki segera memasukkan buku tersebut kedalam tasnya, ia tidak ingin ada seseorang yang membacanya dan menyalah gunakan buku tersebut.


"Oh iya Rif, kalau aku boleh tau, kamu belajar beladiri dari mana? sehingga kamu bisa mengalahkan kakak kelas?".


"Di perguruan, aku sudah berlatih sejak kecil".


"Benarkah? Sudah jadi pelatih dong, boleh ajari aku?".


"Langsung datang aja ketempat latihan, biar langsung diajari oleh pelatih disana".


Temannya tersebut terus menanyakan mengenai lebih lengkapnya tentang pelatihan yang akan ia ikuti dibawah bimbingan Rifki, pertama kali bertemu dengan Rifki, ia merasakan bahwa Rifki bukanlah orang biasa, karena ia sering melihat Rifki berbicara sendiri, ia menduga bahwa Rifki adalah keturunan orang yang hebat sehingga ia dapat berkomunikasi dengan mahluk astral, mahluk yang tak kasap mata.


Ketika keduanya sedang sibuk mengobrol tiba tiba seseorang menyela pembicaraan keduanya dan menyodorkan sebuah amplop kepada Rifki, Rifki menerima amplop itu dengan bertanya tanya.


Rifki membuka amplop itu dan mengambil sebuah surat dari dalamnya, ia membaca dengan seksama tulisan tulisan yang ada di amplop itu, ia sampai membaca beberapa kali karena merasa tidak percaya dengan apa yang ditulis disurat tersebut.


"Ada apa Rif?".


"Ngak papa, hanya panggilan orang tua saja".


"APA!!!". Kedua anak itu berteriak bersamaan.


"Sudah sudah, suara adekku kalah lama lama". Rifki menggosok gosok telinganya karena suara keduanya.


"Tapi Rif ini benar benar ngak adil, bagaimana bisa korban harus menanggungnya? ngak masuk akal sama sekali".


"Iya bener kata Fajar, bagaimana ini bisa disebut adil".


"Terus kalian mau apa ha? mau protes? proteslah kesana, bisa bisa kasus ini malah semakin berat, lagian ini juga adalah salahku, membuat dua orang masuk rumah sakit". Sela Rifki


"Iya juga sih, lagian sih kamu Rif, mukulnya terlalu keras".


"Bukan aku yang terlalu keras, tetapi mereka aja yang terlalu lembek".


Mereka melanjutkan pelajaran dihari itu dengan lancar, hingga akhirnya bel pulang sekolah berbunyi, Rifki bergegas untuk pergi kemarkasnya dan memberikan surat itu kepada kakeknya, ia tidak ingin membuat mamanya khawatir karena masalah ini.


Kakeknya membaca surat itu dengan seksama, didalam surat itu tertulis nominal yang harus dibayar oleh keluarga Rifki atas kerusakan yang Rifki timbulkan disekolahan itu.

__ADS_1


Awalnya kakeknya begitu sangat terkejut dan marah, kenapa cucunya bisa melakukan kesalahan sebesar ini, tetapi keterkejutannya itu segera berubah menjadi rasa senang dan tawa kakeknya, setelah Rifki menjelaskan semuanya kepada kakeknya. Mulai dari ia tiba tiba ditendang sampai dikeroyok dikelas itu, kakeknya berfikir bahwa ilmu yang ia turunkan tidak menjadi sia sia.


Bagi kakeknya nominal didalam kertas itu tidak terlalu penting, yang terpenting adalah kejujuran dari sang cucu, dimarkas itu Rifki tidak hanya diajari ilmu beladiri saja tetapi juga dengan akhlak dan kejujuran.


"Jadi kakek tidak marah? karena aku dapat panggilan orang tua?".


"Tidak nak, besok kakek akan datang dan mengurus semuanya".


"Terima kasih kek".


Rifki merasa sedikit lega mendengarnya, sebenarnya ia merasa sangat takut kalau kakeknya benar benar marah kepadanya karena memang dialah yang salah, tetapi ekspresi yang ditunjukkan oleh kakeknya berbeda jauh dari ekspetasi yang ia bayangkan.


Rifki akhirnya berganti pakaian dan makan siang, setelahnya ia masuk kedalam ruang latihan privasi, ia mencoba berlatih senjata tajam karena baginya ia terlalu lemah dalam hal itu, tetapi bagi seseorang yang melihatnya bermain senjata, mereka akan merasa kagum kepada Rifki.


Meskipun kulitnya berulang ulang kali tersayat oleh pisau, itu tidak membuatnya menyerah. Rifki terus berlatih dan mengulangi kembali apa yang telah kakeknya tunjukkan sebelumnya.


*****


Keesokan paginya seperti biasa Rifki menjemput Nadhira terlebih dahulu sebelum berangkat kesekolah, Nadhira terlihat begitu ceria kali ini, membuat Rifki begitu terkejut, senyumannya mulai terbit seperti waktu kecil.


"Ada apa? melihatmu senyum rasanya membuatku semakin takut". Ucap Rifki.


"Aku hanya penasaran bagaimana Rifki melewati hari harinya disekolah beberapa hari ini". goda Nadhira.


"Hah!! Rasanya aku ingin menghilang dari bumi ini". Rifki membuang nafasnya dengan cepat.


"Dasar hantu".


"Kok hantu sih? padahal kan aku manusia".


"Yang bisa menghilang kan hanya hantu, emang aku salah? salahnya dimana coba?".


"Bukan hanya hantu saja yang bisa hilang, penghapus dikelas aja ditaruh sebentar sudah hilang".


Diperjalanan menuju kelas keduanya saling bercanda tawa berdua membuat seluruh siswa yang melihatnya merasa iri kepada Nadhira, karena hanya dengan Nadhira, Rifki mampu berkata banyak hal, banyak yang bertanya, 'apa sih keistimewaan Nadhira'. karena dari penampilannya ngak ada yang menarik sama sekali.


Nadhira berpenampilan begitu sederhana, terlihat lemah lembut bagi orang yang pertama kali melihatnya, diperjalanan terlihat senyuman diantara keduanya, mereka sama sekali tidak memperhatikan disekelilingnya, keduanya sibuk dengan obrolannya.


Ketika sampai didepan kelas, langkah Nadhira berhenti dan menatap kelasnya yang banyak perubahan, ketika sampai dibangkunya, Rifki segera menjelaskan kejadian yang sesungguhnya kepada Nadhira.


Nadhira memukul dada Rifki dengan kerasnya, Rifki hanya bisa memegangi dadanya yang terasa sakit karena pukulan tersebut, tatapan keduanya bertemu, terlihat sebuah kekhawatiran dibalik tatapan Nadhira.


Seluruh siswa yang ada dikelas itu begitu terkejut ketika mendengar bunyi pukulan yang Nadhira lakukan, untuk menarik perhatian Rifki bagi mereka begitu sulit, sedangkan Nadhira dengan bebas untuk memukul Rifki.


"Aku tau kamu marah, kamu boleh memukulku sepuasmu, lain kali aku akan berhati hati, aku janji". Ucap Rifki sambil memegangi dadanya.


"Sakit?". Tanya Nadhira.


Rifki mengangguk kepalanya mengiyakan ucapan Nadhira kepadanya, entah mengapa pukulan itu terasa seperti pukulan yang paling keras baginya.


"Jangan ulangi lagi, aku ngak mau kamu dikeroyok lagi, aku ngak ingin melihatmu terluka, kamu ngertikan perasaanku?". Tanya Nadhira sambil kedua matanya berkaca kaca.


"Iya Nadhira, ngak boleh keroyokan kan? kalau satu lawan satu boleh kan?". Ucap Rifki sambil menyengir.


"Boleh, asal aku jadi lawanmu". Nadhira mengusap airmatanya yang hampir meneteskan, dan tersenyum kearah Rifki.


"Baiklah, kau pemenangnya".


"Kalau ada yang ngeroyok lagi, maka kita berdua harus hadapi bersama sama".


"Em... bagaimana ya, nampaknya aku jadi yang paling takut".

__ADS_1


Keduanya tertawa bersama sama, bel masuk berbunyi dan Nadhira segera mengeluarkan buku bukunya, Rifki menjelaskan secara rinci mengenai pelajaran yang telah Nadhira lewatkan sebelumnya. Jam pertama dan kedua berjalan dengan lancar. ketika memasuki jam ketiga tiba tiba siswa kelas lain memasuki kelas Nadhira. .


"Panggilan kepada Rifki segera kekantor untuk menemui kepala sekolah". Ucap siswa tersebut.


"Iya". Jawab Rifki.


Ketika Rifki hendak berdiri, Nadhira memegangi baju Rifki dengan eratnya, akhirnya Rifki kembali duduk dibangkunya, ia menatap Nadhira sambil tersenyum.


"Aku harus pergi Dhira, percayalah kepadaku, aku harus menyelesaikan semuanya, kamu ngak usah khawatir ada kakek juga disana, biarkan aku pergi ya". Bujuk Rifki.


"Baiklah". Dengan perlahan Nadhira melepaskan pegangan tangannya.


Ketika Nadhira sudah melepaskan pegangan tangannya, Rifki segera bergegas meninggalkan ruang kelas tersebut, dan segera menuju kearah kantor sekolah.


Nadhira hanya menatap kepergian Rifki dari kelas tersebut, setelah bayangannya sudah tidak terlihat Nadhira kembali memfokuskan dirinya kepada buku buku yang ada didepannya. Nadhira melihat loker meja Rifki ada sebuah buku yang pernah ia baca sebelum, buku itu bersampul emas. Nadhira mengambil buku tersebut dari loker meja Rifki.


"Kenapa Rifki membawa buku ini? Inikan buku yang ada dimarkasnya".


Nadhira membuka halaman terakhir yang ia baca sebelumnya, melihat Nadhira memegang buku kesayangan Rifki membuat perhatian seluruh siswa terarah kepadanya.


Seseorang siswa yang bernama Fajar segera bergegas mendatangi Nadhira, apa yang dicatat didalam buku itu, semua orang dilarang Rifki untuk melihatnya, tetapi Nadhira berani sekali untuk membacanya.


Ketika mereka mendengar bahwa Rifki telah dikeroyok oleh kakak kelas membuat mereka harus berhati hati untuk berhadapan dengan Rifki, apalagi sampai menyinggungnya.


"Nadhira, kenapa kamu membuka buku itu? itu buku privasinya Rifki, ngak ada yang boleh membaca buku itu". Tegur Fajar.


"Hah? kalau begitu pergilah, jangan lihat tulisan ini". Nadhira mengambil buku tersebut dan menempelkannya kepada dadanya, dengan kedua tangan dilipat kedepan.


"Ya sudah, kalau kamu ingin bertengkar dengannya". Karena perkataannya tidak dihiraukan oleh Nadhira membuat Fajar pergi meninggalkannya.


Nadhira melanjutkan untuk membacanya, karena kelas mereka sedang ada jam kosong sehingga dengan leluasa Nadhira membaca buku tersebut, sementara murid murid lainnya sibuk dengan kegiatannya masing masing.


Tiba tiba ada yang mengebrak meja Nadhira dengan kerasnya, Nadhira segera menutup buku tersebut dan menyimpannya didalam loker miliknya, Nadhira menatap seorang gadis yang baru saja mengebrak mejanya dengan tajam.


"Apa maksudmu?".


Setelah Rifki selesai menyelesaikan urusannya dikantor kepala sekolah, ia bergegas kembali kekelasnya, jarak antara kelasnya dan kantor lumayan jauh.


Ketika sudah berada jauh didepan kelasnya, ia dapat melihat kelasnya yang lumayan ramai, Rifki bergegas untuk segera melihatnya, ketika ia sampai dikelas, ia terkejut melihat sosok seorang gadis yang terjatuh dilantai, sementara Nadhira hendak memukul gadis tersebut.


"Nadhira hentikan!!".


Ucapan Rifki diabaikan oleh Nadhira begitu saja, Rifki merasa hal yang tidak beres terjadi kepada Nadhira, ia menap sekelilingnya dan mencoba merasakan energi yang ada dikelas itu.


"Rif hentikan dia, ia sedang dikendalikan oleh mahluk itu, cepat". teriak Raka kepada Rifki.


Ketika pukulan tangan Nadhira hendak mengenai gadis yang terbaring dilantai, Rifki segera menangkisnya dan mengunci tangan Nadhira agar Nadhira tidak bisa melanjutkannya.


"Nadhira sadar!!! Nadhira kamu dengar suaraku kan? Sadarlah Nadhira!!! Nadhira kendalikan dirimu, jangan biarkan iblis itu menguasaimu, Nadhira sadar!!!". bisik Rifki ditelinga Nadhira.


Awalnya tubuh Nadhira memberontak untuk meminta Rifki melepaskannya, tetapi perlahan lahan Nadhira mulai merasa tenang karena ucapan Rifki, ia berusaha untuk merebut kembali kesadarannya dengan bantuan dari Rifki.


"Rifki". Ucap Nadhira perlahan.


Ketika Nadhira menyebutkan namanya, Rifki segera melepaskan kuncian tersebut, dan mengajaknya untuk duduk kembali dibangkunya.


"Ada apa sebenarnya Dhir?". Tanya Rifki.


"Awalnya aku membaca buku milikmu Rif, tiba tiba mejaku digebrak dengan kerasnya".


*jangan lupa like ya

__ADS_1


*teruntuk yang broken home, semangat ya, kamu ngak sendirian kok


*Keep spirit, Jangan lupa jaga kesehatan ✌️


__ADS_2