
Indah sama sekali tidak keberatan mendapatkan seorang suami yang berumur pendek seperti Panji, bagi dirinya Panji adalah segalanya, ia akan berusaha untuk mendapatkan obat penawar untuk Panji agar Panji dapat terselamatkan.
"Jika suatu hari aku telah tiada, kau berhak untuk mendapatkan sosok pengganti diriku yang jauh lebih baik daripada diriku Indah".
"Jangan katakan hal seperti itu Panji, aku tidak ingin hidup tanpa dirimu, yakinlah bahwa racun itu dapat keluar dari dalam tubuhmu, kau pasti akan baik baik saja dan kita akan hidup bersama sama nantinya".
Indah merasa yakin bahwa Panji akan terbebas dari racun tersebut, dirinya akan terus berusaha untuk mendapatkan obat penawar dari racun yang ada didalam tubuh Panji, Allah tidak akan menciptakan suatu racun tanpa ada penawarnya begitulah keyakinan yang ada didalam hati Indah.
Indah merasa nyaman ketika berada didekat Panji, sehingga membuatnya tidak bisa jauh dari Panji walaupun hanya sesaat saja, meskipun Panji adalah pemuda yang memiliki umur pendek bukan berarti Indah akan meninggalkannya setelah mengetahui kondisinya itu.
Bagi Indah ini adalah ujian baginya, karena sang maha pencipta tidak akan menguji hambanya diluar kesanggupannya sehingga Indah sangat mempercayai bahwa Panji akan selamat dan keduanya akan bahagia kelah bersama dengan anak anak mereka nantinya.
"Kau sama sekali tidak berubah Nona, aku merasa begitu beruntung bisa bertemu dengan dirimu, jika seperti itu keinginanmu, maka aku akan datang untuk meminta restu kepada kedua orang tuamu sekarang, apakah kau benar benar menginginkan diriku menjadi suamimu Nona?".
"Untuk apa aku selalu ada untukmu jika tidak bisa bersama dengan dirimu, jika bisa aku akan memberikan setengah hidupku hanya untukmu, agar suatu saat nanti kita akan mati bersama sama".
"Jangan katakan tentang kematian, itu adalah takdir yang telah ditentukan kepada kita, kita tidak akan tau kapan dan dimana kematian itu akan datang menghampiri kita nantinya, dapat bertemu dengan dirimu saat ini sudah membuatku merasa beruntung".
"Aku pun sama, aku juga merasa beruntung ketika bisa bertemu dengan dirimu Panji".
"Baiklah, ayo kita kerumahmu, aku ingin menikahimu dan menjadikan dirimu sebagai wanitaku satu satunya untuk seumur hidupku".
Panji mengajak Indah untuk menemui kedua orang tuanya untuk meminta restu mereka, tanggal pernikahan telah ditentukan oleh mereka, Indah merasa senang karena sebentar lagi dirinya akan menjadi milik Panji begitupun sebaliknya.
"Baiklah, untuk tanggal pernikahan kalian, sebaiknya 7 hari dari sekarang, karena hari itu adalah hari baik untuk mengikat sebuah hubungan".
Panji sangat menyetujuinya, ia tidak ingin berlama lama lagi untuk menjadikan Indah sebagai istrinya, karena dirinya tidak ingin terlibat dalam sebuah zina membuat dirinya segera mungkin untuk dapat menikah dengan Indah.
Indah sangat menantikan hari dimana dirinya dan Panji akan bersatu untuk selamanya, Indah merasa senang ketika dirinya bisa bersama dengan orang yang sangat berarti bagi dirinya.
Ibadah yang paling lama dan paling besar pahalanya adalah menikah, karena menikah adalah mengikat sebuah hubungan keluarga besar dan menyatukan keeratan hubungan tersebut.
Tak beberapa lama kemudian, akhirnya hari pernikahan itu telah tiba, Indah diriasi dengan riasan yang sangat cantik bahkan orang orang yang ada didesa itu hampir tidak mengenalinya.
"Kau begitu cantik sayang". Puji Ibunya ketika melihat anaknya dengan gaun pernikahannya.
"Ibu aku takut". Ucap Indah dengan sedikit gemetaran kepada Ibunya.
"Tenanglah Nak, semuanya akan berjalan dengan lancar, Ibu juga pernah berada diposisimu, Ibu dulu juga merasa begitu gelisah ketika pengantin pria akan datang untuk meminta Ibu".
"Ibu, apakah Panji akan mampu menerima segala kekuranganku? Setelah Panji mengetahui nanti".
"Pasti itu Nak, Panji adalah pemuda yang baik, dia tidak akan meninggalkanmu meskipun dirinya telah mengetahui segala kekuranganmu".
"Semoga saja seperti itu Ibu".
Indah menatap gambaran wajahnya sendiri dihadapan cermin yang ada dikamarnya, dirinya terlihat begitu cantik dan anggun bak seorang permaisuri kerajaan, Indah tersenyum ketika melihat wajahnya sendiri, ia tidak menyangka bahwa dirinya begitu cantik dengan riasan riasan itu.
Tak beberapa lama kemudian orang orang begitu ramai, Indah dapat mengetahui bahwa pengantin pria telah tiba dirumah mempelai wanita, hal itu membuat Indah semakin gugup karena kedatangan dari Panji dirumahnya.
Setelah melakukan beberapa ritual kedatangan mempelai pria, Indah segera digiring keluar dari kamarnya untuk menemui calon suaminya itu, dengan anggunnya Indah berjalan mendekat kearah Panji dengan digandengi oleh kedua orang tuanya.
"Kau begitu cantik Indah". Ucap Panji pelan akan tetapi masih mampu didengar oleh Indah.
__ADS_1
Indah yang dipuji seperti itu hanya bisa bersimpuh malu dihadapan Panji, ia tidak menyangka bahwa hari pernikahannya akan terjadi dihari ini, dan sebentar lagi dirinya akan sah menjadi istri dari Panji Abriyanta.
Para tetua mulai membacakan sesuatu kepada mereka berdua, sebagai ritual untuk mengikatkan hubungan antara keduanya, keduanya berjalan menuju ke pelaminan diiringi dengan langkah kedua orang tua Indah, Indah terlihat begitu anggun sementara Panji terlihat begitu berkarisma dan menawan untuk dipandang.
Indah memegangi lengan Panji dengan eratnya, Panji dapat merasakan bahwa Indah tengah gugup saat ini, Panji dan Indah saling bergandengan menuju ke pelaminan yang telah disiapkan didepan rumahnya.
Pernikahan itu berlangsung dengan meriahnya dan dihadiri oleh seluruh penduduk desa tempat dimana Indah tinggal untuk merayakan pesta pernikahan itu.
Indah dan Panji berpakaian begitu serasi dengan riasan riasan yang begitu sederhana, tawa keduanya terus tercipta diwajahnya, Indah merasa begitu senang ketika memiliki pasangan hidup seperti Panji, begitupun dengan Panji yang merasa beruntung dapat memiliki seorang wanita seperti Indah.
Dengan lantang dan lancarnya Panji mengucapkan ijab qobul untuk meminta Indah menjadi pasangan hidupnya, dan dijawab 'Sah' oleh orang orang yang menyaksikan pernikahan itu.
Indah segera meraih tangan suaminya itu dan menciumnya, Panji juga mencium kening istrinya dengan penuh kasih sayang dan cinta yang begitu tulus kepada Indah.
Setelah itu, keduanya meminta restu kepada kedua orang tua Indah, Ibu Indah tidak menyangka bahwa hari ini adalah pernikahan putri satu satunya dengan seorang pemuda yang menjadi pilihannya itu.
"Selamat atas pernikahan kalian, semoga kalian menjadi keluarga yang sakinah mawadah warahmah, dan segera diberikan momongan". Ucap Ibu Indah kepada keduanya dan langsung memeluk putrinya.
"Aamiin". Jawab Panji dan Indah secara bersamaan.
"Tolong jaga putriku Nak, aku serahkan semua tanggung jawabku terhadap putriku kepadamu Nak, jangan sakiti dia, dan sayangilah dia seperti diriku yang sangat menyayanginya". Ucap Ayah Indah melepaskan putri kecilnya untuk Panji.
"Iya Ayah, aku akan menjaga putrimu dengan seluruh hidupku, aku tidak akan membiarkan dirinya dalam bahaya, dan aku akan menyayanginya dengan sepenuh jiwa ragaku Ayah". Jawab Panji.
"Ayah tidak perlu menghawatirkanku sekarang, karena Panji akan terus menjagaku". Sela Indah.
Panji bersumpah didepan kedua orang tua Indah dan dihadapan Allah SWT bahwa dirinya akan menjadikan pernikahan itu sekali untuk seumur hidupnya, tidak akan ada wanita lain yang dapat menggantikan posisi Indah didalam hatinya, meskipun suka dan duka terjadi kepadanya, keduanya akan bersama sama untuk menghadapinya.
Kedua orang tuanya segera memberikan ruang kamar untuk Panji dan Indah untuk melakukan kewajibannya sebagai pasangan suami istri, dengan lantangnya ucapan ijab qobul dibacakan itu artinya Panji siap menerima segala kekurangan yang dimiliki oleh Indah, begitupun sebaliknya.
Indah dan Panji berjalan menuju tempat yang telah disiapkan untuk keduanya sebagai tempat malam pertama mereka, Indah terlihat begitu malu malu dihadapan Panji yang kini telah menjadi suaminya itu, dan memang seperti itulah sikap pengantin baru yang masih terlihat malu malu.
"Ada apa Indah? Kenapa kau terlihat begitu gugup seperti itu?". Tanya Panji yang sudah terlebih dahulu duduk ditepi ranjang.
"Kau berkata seakan akan hanya diriku yang merasa gugup disini, lihatlah dirimu sendiri". Ucap Indah yang langsung duduk disamping Panji.
"Aku sangat lelah untuk hari ini, kita tidur saja".
Tanpa banyak berbicara, Panji segera menarik tubuh Indah untuk tidur disampingnya, Panji membentangkan salah satu tangannya untuk menjadi bantal bagi Indah, sementara Indah yang ditarik seperti itu hanya bisa pasrah menuruti kemauan dari suami barunya itu.
"Kenapa kau masih terlihat gugup seperti ini? Bukankah kita sudah menjadi pasangan halal, apa salahnya aku tidur sambil memeluk istriku?". Ucap Panji yang sudah memejamkan matanya.
"Maafkan aku, aku belum terbiasa dengan hal itu". Jawab Indah dengan ragunya.
"Maka biasakan mulai saat ini, bukankah kau sendiri juga sering menyentuhku ketika aku tidak sadarkan diri sebelumnya?".
"Bagaimana kau bisa tau hal itu? Apa kau sengaja berpura pura tidak sadarkan diri?".
"Haha... Istriku memang cerdas". Ucap Panji dengan tertawa mendengar pertanyaan Indah.
"Kau menipuku". Ucap Indah sambil mencubit pinggang Panji.
"Auhh... Sakit Indah, apa perlu aku mengatakan semua yang telah kau katakan kepadaku ketika aku tidak sadarkan diri waktu itu?".
__ADS_1
"Kenapa kau sangat senang menggodaku seperti itu hem? Apakah tidak ada kata kata lain selain itu?".
"Karena kau adalah istriku sekarang, tidak ada alasan lain untuk aku tidak menggodamu".
Cup
Panji segera mencium bibir Indah karena Indah yang terlihat begitu menggemaskan bagi Panji, Panji memiliki alasan agar membuat Indah menghentikan ucapannya itu, karena dirinya sudah begitu ngantuk untuk meladeni perkataan Indah yang membuatnya terus terjaga dari tidurnya.
Indah yang tiba tiba dicium oleh Panji dibagian bibirnya, membuatnya seketika diam seribu bahasa tanpa bisa memprotes tentang apa yang dilakukan oleh Panji kepadanya itu.
Panji merasakan sebuah getaran yang sangat hebat didalam hatinya ketika selesai mencium istrinya, seketika itu juga dirinya merasa gugup ketika menatap kewajah Indah yang terlihat begitu merona karena malunya.
Ketika Panji sudah terlelap dalam tidurnya, tiba tiba Panji merasakan sesuatu didalam batinnya seakan akan dirinya telah kehilangan sesuatu, sehingga membuatnya bangkit dari tidurnya, melihat itu membuat Indah ikut bangkit dari tidurnya.
"Ada apa?". Tanya Indah kepada Panji.
"Telah terjadi sesuatu dengan permata yang ada didalam tubuh Nimas, mungkinkah nyawa Nimas dalam bahaya saat ini? Apa yang sebenarnya terjadi dengan dia, ". Ucap Panji pelan.
"Siapa itu Nimas? Kenapa kau sangat mencemaskan dirinya seperti itu?". Tanya Indah dengan curiganya.
"Nimas adalah anak angkat dari kedua orang tuaku, yang telah lama pergi untuk mengembara demi membalaskan dendamnya, sejak saat itu aku sama sekali tidak pernah mendengar kabarnya, tetapi Ayahku telah memberikan sebuah permata kepandanya untuk melindunginya, jika terjadi sesuatu dengan permata itu, diriku mampu merasakannya".
Disaat pernikahan Panji berlangsung disaat itulah Nimas sedang berjuang untuk melawan penduduk desa Mawar Merah demi membalaskan dendamnya karena fitnah yang diberikan oleh orang orang itu kepada keluarganya, disaat Panji bertaburkan dengan bunga bunga yang harus semerbak wangi, disaat itulah Nimas sedang bersimbah darah.
Antara rapinya gaun pernikahan dan lusuhnya baju perjuangan, antara memulai kehidupan baru dan mengakhiri kehidupan lama, antara kebahagiaan dan kesedihan tengah tercampur aduk menjadi satu kesatuan yang saling melekat.
Antara sebuah pesta pernikahan yang begitu ramai disaat itu lah adanya kematian seseorang yang sangat berarti baginya, baju koko putih bersih melekat dengan rapi dibadannya, disatu sisi kain kafan panjang melekat ditubuh Nimas.
Disatu sisi, Dilham sedang memakamkan jenazah Nimas yang telah mengorbankan nyawanya demi permata itu disebuah tanah yang berada didalam bangunan yang cukup besar daripada bangunan yang lainnya, bangunan itu adalah rumah dari keluarga Nimas sebelumnya.
Dilham merasa begitu sedih ketika harus berpisah dengan orang yang paling ia sayangi itu, sejak kecil dirinya sudah terbiasa sendiri akan tetapi setelah kehadiran Nimas dalam hidupnya membuat Dilham begitu senang karena kehadiran sosok perempuan itu yang selalu mewarnai kehidupannya.
Setelah perpisahannya dengan Nimas waktu itu, Panji sama sekali tidak pernah mendengar bagaimana keadaan dan kabar dari Nimas, dirinya berkelana ditempat yang berlawanan dari Nimas sehingga keduanya tidak pernah bertemu walaupun hanya dengan waktu yang sangat singkat.
Karena permata dan keris pusaka xingsi adalah suatu benda yang saling berhubungan satu sama lain membuat Panji dapat merasakan apa yang sedang terjadi dengan permata itu, akan tetapi itu berbeda jauh dari Nimas yang tidak mampu merasakan apapun yang terjadi kepada Panji.
"Apa yang terjadi denganmu Nimas? Tidak! ini pasti salah, kau tidak mungkin meninggal Dek, kau pasti baik baik saja bukan? Tidak! jangan tinggalkan aku, Nimas kau pasti baik baik saja". Batin Panji menjerit.
Seketika itu juga Panji meneteskan air matanya, Panji merasakan kesedihan didalam hatinya ketika dirinya merasakan bahwa Nimas sudah tidak lagi bernyawa saat ini, Panji merasa bersalah karena dirinya tidak bisa berbuat apa apa untuk melindungi Nimas.
Melihat Panji yang meneteskan air mata seperti itu, membuat Indah menggerakkan tangannya untuk memeluk Panji, Panji terjatuh dalam pelukan Indah istrinya, Indah dapat mendengar beberapa isak tangis dari Panji setelah mengetahui bahwa Nimas sudah tidak lagi bernafas.
Indah memeluk tubuh Panji dengan eratnya, Panji begitu rapuh ketika mengetahui bahwa adik angkatnya itu sudah pergi meninggalkannya untuk selama lamanya.
"Saudara angkatku telah tiada Indah, dan diriku tidak bisa berbuat apa apa untuk menolongnya, Ayah pasti begitu kecewa kepada diriku yang tidak bisa menjaganya dengan baik saat ini, mungkinkah sekarang Ayah tengah mencaciku disana?". Ucap Panji dengan sedihnya.
"Ini bukan salahmu sayang, kalian berdua juga telah lama tidak bertemu, bagaimana bisa Ayah mertua mencacimu disana? Mungkin dia akan bangga kepada dirimu, karena telah menjadi orang yang seperti dia harapkan".
"Menjadi seperti yang dia harapkan? Aku bahkan sangat jauh dari kata itu".
"Bukankah dia berharap bahwa kita berdua menikah? Bukankah itu sudah terjadi?".
...Jangan lupa like dan dukungannya ...
__ADS_1