Apa Salahku Pa

Apa Salahku Pa
Keributan dimakam keramat


__ADS_3

Nadhira membuka kembali matanya setelah mengingat apa yang pernah disampaikan oleh Rifki kepadanya, Nadhira tanpa sengaja menemukan sebuah tali ban yang cukup panjang berada disebelahnya dan dia mengambilnya.


"Apa yang akan kau lakukan Dhira?" Tanya Theo.


"Rifki pernah bilang kepadaku, apapun yang ada disampingku bisa menjadi senjataku jika aku bisa menggunakannya dengan benar, dan karet ban ini sudah cukup untuk melukai mereka dengan anak panah mereka sendiri".


"Apakah begitu besar perasaanmu kepada dirinya, sampai sampai disaat seperti ini kau masih memikirkan tentang dirinya itu?".


"Theo, bukan saatnya untuk membahas hal ini, yang terpenting adalah bagaimana caranya untuk dapat menyelamatkan Pak Mun, dia dalam bahaya saat ini".


"Tapi Dhira..."


"Pertanyaanmu itu tidak ada hubungannya dengan kejadian saat ini, sebaiknya bantu aku untuk mengumpulkan anak panah yang berserakan itu".


"Baiklah Dhira".


Nadhira mengumpulkan anak panah yang telah berceceran ditempat itu dengan perlahan lahan agar tidak membuat mereka curiga dengan pergerakannya yang dengan diam diam itu, dirinya juga mengambil sebuah ranting pohon yang cukup kuat untuk menjadi busurnya.


Nadhira segera mengikat karet ban tersebut dari keranring yang ada ditangannya ujung satu keujung lainnya hingga membentuk sebuah busur, Nadhira segera memasang anak panah tersebut kepada busur buatannya dan merasakan setiap pergerakan yang ada disekitarnya meskipun dalam kegelapan.


Nadhira mencoba untuk tetap fokus dengan apa yang ia lakukan meskipun begitu banyak pergerakan yang ia rasakan didalam kegelapan itu, akan tetapi Nadhira hanya fokus kepada satu pergerakan yang tidak jauh dari dirinya.


"Anak panah dan fikiran harus terikat satu sama lain untuk menciptakan sebuah lesatan yang cukup cepat mencapai sasaran".


Nadhira mencoba untuk tetap fokus kepada satu orang yang tidak jauh darinya, ia mencoba untuk dapat mengenai orang tersebut dengan mengunakan anak panah yang ada ditangannya, tatapan Nadhira begitu fokus dengan satu orang yang saat ini menjadi sasaran panah pertamanya saat ini, dan


Syutt... Jleb...


"Akh...".


Anak pa nah Nadhira melesat dengan cepat dan tepat mengenai paha orang yang ia tuju, Nadhira tersenyum ketika anak panahnya berhasil mengenai sasarannya dengan begitu sangat mudahnya setelah itu dirinya melanjutkan untuk mengambil sebuah anak panah yang berada didekatnya.


"Siapa disana! Siapa yang telah melontarkan anak panah ini kepada kami! Keluar kau sekarang juga, jangan bersembunyi seperti pengecut!"


Tak beberapa lama kemudian ada sekitar 7 orang yang keluar dari persembunyiannya dan orang orang itu membawa sebuah busur panah sambil terus berjaga jaga karena serangan Nadhira membuat mereka segera keluar dari persembunyiannya.


Terlihat mereka seperti tengah mencari tau dimana keberadaan dari kedua orang yang mereka panah sebelumnya akan tetapi mereka sama sekali tidak menemukan keberadaan dari keduanya dengan mudah karena kegelapan malam yang menyelimuti timpat itu saat ini.


Nadhira begitu senang karena anak panahnya berhasil mengenai sasaran pertamanya begitu mudahnya hingga orang orang itu tidak mampu menyadari asal usul dari panah tersebut.


"Ternyata metode pelatihan Rifki begitu bermanfaat ketika malam hari" Guman Nadhira ketika anak panahnya berhasil mengenai sasarannya.


Nadhira kembali memasang anak panah pada busur buatannya, melihat orang orang yang keluar dari persembunyiannya itu sama sekali tidak membuat Nadhira gentar sedikitpun untuk menghadapi mereka semua, karena memanah tidak memerlukan banyak tenaga akan tetapi memerlukan banyak kefokusan.


Kegelapan malam itu membuat mereka tidak mampu untuk melihat Nadhira dan Theo yang tengah bersembunyi saat ini, apalagi Nadhira dan Theo yang berusaha untuk tenang agar semak semak yang mereka tempati untuk bersembunyi tidak bergerak dan membuat orang orang itu mengetahui keberadaannya saat ini.


Nadhira memasang anak panah pada busur buatannya itu dan masih ia arahkan kepada sasaran yang ada didepannya saat ini, ketujuh orang itu kini tengah melingkar dan berjaga jaga terhadap lingkungan sekitarnya karena serangan dari Nadhira yang membuat mereka harus berhati hati.


"Semakin kuat aku menariknya dan dengan penuh tenaga untuk melakukan itu maka dengan akan semakin cepat anak panah ini akan melesat jauh untuk mencapai sasarannya".


Nadhira terus memfokuskan diri pada sasaran selanjutnya itu, sehingga ia sama sekali tidak mempedulikan lingkungan sekitarnya yang sedang mencari mereka berdua, ketika Nadhira sudah sangat yakin bahwa panah itu akan mengenai sasarannya, Nadhira mulai melepaskan anak panah tersebut.


Syutt...


"Akh..."


Sasaran panah Nadhira bukannya meleset akan tetapi berhasil menggores kaki kedua orang yang menjadi sasarannya itu, hal itu membuat keduanya segera menjatuhkan dirinya dan berlutut ditempatnya saat ini, akan sulit bagi mereka untuk bertarung dengan keadaan seperti ini.


Luka yang ada dikaki mereka nampak seperti luka sebuah sayatan akan tetapi sayatan tersebut begitu dalamnya sehingga luka itu banyak mengeluarkan darah segar.


"Siapa kamu! Keluarlah" Teriak orang itu.


Mendengar teriakan itu bukannya membuat keduanya takut melainkan tetap bersikap tenang seolah olah tidak terjadi sesuatu, dengan perlahan lahan Nadhira mulai mengambil kembali anak panah yang ada didekatnya dan segera ia pasang pada busur yang ada ditangannya.


"Pengetahuanmu begitu luas tentang memanah Dhira" Bisik Theo memuji Nadhira.


"Ini semua bukan apa apa bagiku tanpa adanya Rifki dalam hidupku, karena Rifki yang mengajarkan semua ini kepada diriku".


"Apa kau sangat mencintainya Dhira?"


Pertanyaan itu seketika membuat Nadhira terdiam, ia hanya menatap wajah Theo sekilas dan langsung menoleh kembali kepada target yang ada didepannya saat ini, pertanyaan itu tidak bisa dijawab oleh Nadhira untuk saat ini.

__ADS_1


"Keluar kau sekarang! Dan hadapi aku sekarang juga!"


Syuttt... Jleb...


"Akh... Siapa kau sebenarnya".


Panah Nadhira lagi lagi mengenai paha orang yang sebelumnya berteriak itu, Nadhira memang mengincar paha mereka agar mereka tidak bisa bertarung dengan baik nantinya bukan badannya karsna dia tidak ingin membuat orang orang itu mati ditangannya sendiri.


"Ternyata mereka bukanlah pemanah yang handal rupanya" Guman Nadhira pelan.


"Bagaimana kau bisa tau hal itu Dhira?"


"Lihat saja mereka, seorang pemanah yang hebat akan mudah mengetahui dimana asal panah yang menyerang mereka, sudah tiga kali aku melontarkan anak panah tapi mereka tidak mengetahui asalnya, itu artinya mereka hanya memanah saja bukan belajar ilmu panah".


"Pengetahuanmu begitu luas Dhira, aku merasa kagum denganmu".


Sudah tiga kali Nadhira melontarkan anak panah itu akan tetapi mereka sama sekali tidak mengerti asal usul dari panah itu sehingga Nadhira bisa menebaknya bahwa mereka bukanlah pemanah yang baik, seorang pemanah akan dapat mengetahui letak awal dimana sebuah anak panah melesat.


Tinggal 4 orang yang belum merasakan anak panah dari Nadhira, akan tetapi sebelum Nadhira melepaskan anak panahnya tiba tiba seseorang mengarahkan sebuah anak panah kepadanya hal itu membuat Nadhira berusaha sebisa mungkin untuk menghindar dari anak panah itu.


"Ternyata kau juga ahli dalam memanah rupanya" Ucap orang yang ada didepan Nadhira.


Melihat bahwa orang itu telah mengetahui keberadaannya saat ini, hal itu membuat Nadhira dan Theo segera bangkit berdiri dari tempatnya saat ini, bukannya takut melainkan hanya tersenyum kepada orang tersebut meskipun orang itu tidak mampu melihatnya dengan jelas.


"Kau baru menyadari keberadaanku rupanya, sudah sekian lama aku menunggu, akhirnya hal ini tiba juga" Ucap Nadhira dengan lantangnya.


Orang itu tetap mengarahkan anak panahnya kepada Nadhira dan Theo, ia tidak menduga bahwa mereka hanya akan berhadapan dengan gadis kecil saat ini, akan tetapi kemampuannya dalam memanah melebihi mereka yang ada ditempat itu.


"Apa? Ternyata hanya seorang gadis kecil saja? Kalian begitu lemah, hanya menghadapi dua orang ini saja kalian tidak mampu! Siapa kalian berdua sebenarnya?" Tanya orang itu.


"Tidak penting bagi kalian untuk mengetahui siapa sebenarnya kami, yang terpenting serahkan diri kalian kepada polisi sekarang".


"Jangan harap kalian bisa membawa kami kepolisi! Kalian bahkan tidak akan mampu keluar dari tempat ini hidup hidup".


Syutt... Jleb...


"Akh..."


"Siapa yang kalah sekarang? Kalian yang tidak akan bisa kabur dari tempat ini bukan?" Ucap Nadhira.


Orang yang sedang berbicara tersebut menggeram kesakitan karena anak panah Nadhira yang terakhir mengenai pangkal pahanya sehingga membuatnya tidak bisa berbuat apa apa untuk melawan Nadhira dan juga Theo.


Dengan mudahnya Nadhira mengarahkan sebuah anak panah kepada orang orang itu meskipun dalam keadaan gelap sekaligus karena Rifki yang terus melatihnya dengan kedua mata yang ditutup selama ini, hal itu membuat Nadhira mampu mengenai sasarannya meskipun dalam keadaan gelap gulita.


Syuttt....


Pria yang memegang panah itu juga tidak tinggal diam begitu saja, ia segera mengarahkan anak panahnya kepada Nadhira yang tengah memegang panah buatannya itu, akan tetapi panah itu meleset dari sasaran karena Nadhira dengan lincah menghindarinya.


"Sial!".


"Kau kurang cepat rupanya Paman, akan ku tunjukkan kepadamu cara memanah yang baik sebelum kalian tidak mampu melakukan itu lagi dikantor polisi nanti".


Nadhira segera mencabut anak panah yang menancap ketanah itu, dan memasangnya pada busur buatannya dan segera ia lontarkan kepada pria yang memegang panah itu, dengan menarik busur itu begitu kuat akhirnya anak panahnya melesat jauh lebih cepat daripada orang itu.


"Arghhh.....".


Anak panah Nadhira melesat dan mengenai lengan atas orang tersebut, hal itu membuat orang itu berteriak kesakitan atas apa yang dilakukan oleh Nadhira kepadanya saat ini.


"Cepat serang mereka!"


Dengan segera, ketujuh orang itu lalu mengeluarkan senjata golok dan berlari kearah Nadhira dan juga Theo, hal itu membuat Nadhira dan Theo segera berlari ketanah lapang agar memudahkan mereka untuk bertarung, Nadhira segera bergegas memanjangkan tongkat yang selama ini ia bawa itu.


"Cepat lari ketanah lapang" Ucap Nadhira.


"Baik Dhira" Jawab Theo.


Melihat Theo dan Nadhira yang tengah berlari menjauh dari mereka membuat mereka berpikir bahwa keduanya hendak kabur karena tidak bisa melawan mereka sehingga mereka segera mengejar keduanya meskipun kaki kaki mereka telah terluka karena ulah dari Nadhira.


"Heii... Jangan kabur kalian".


"Ayo Paman tangkap kami kalau bisa".

__ADS_1


"Berhenti kalian!".


Nadhira dan Theo segera berhenti disebuah tempat yang cukup luas untuk bertarung hal itu membuat ketujuh orang tersebut segera memutarinya dan menjadikan Nadhira dan Theo berada dalam lingkaran yang ia ciptakan itu.


"Kemana lagi kalian ingin berlari, kalian tidak akan bisa kabur dari kami ditempat ini".


"Berlari? Kabur? Siapa yang ingin melakukan itu? Kami hanya melakukan pemanasan saja, lagian berkelahi juga butuh pemanasan bukan? Karena kami baik hati, jadi kami mengajak kalian juga ikut pemanasan biar tidak kram" Ucap Theo.


"Banyak alasan! Kalian tidak akan selamat sekarang".


Orang orang itu segera menyerang kearah Nadhira dan Theo, dengan mudah keduanya mampu untuk bekerja sama sehingga mereka berdua mampu untuk menyerang mereka semua dengan serangan tendangan dari Nadhira.


Nadhira menjadikan tubuh Theo sebagai pijakan dan pacuan untuk dapat menyerang mereka secara bersamaan dengan menggunakan serangan kaki, Theo tidak tinggal diam begitu saja, dirinya lalu mengangkat tubuh Nadhira hingga membuatnya memutar dan kaki Nadhira dengan mudah mengenai kepala orang orang yang tengah memutarinya itu.


Dalam sekejap ketujuh orang yang memutari mereka berdua berjatuhan diatas rerumputan yang ada ditempat itu karena tendangan dari Nadhira membuat mereke terjatuh dengan sangat kerasnya.


"Siapa atasan kalian! Kenapa kalian harus menculik banyak orang dan anak anak yang tidak bersalah kepada kalian semua!" Teriak Nadhira kepada ketujuh orang itu.


"Itu bukan urusanmu!".


"Ini jelas urusan kami! Karena kau telah membunuh Pak Dwija".


"Hahaha... Apa urusanmu dengan orang itu?".


Mendengar pertanyaan itu seketika membuat Nadhira bergerak dan mencekik orang tersebut yang tengah terbaring diatas rerumputan dengan sangat eratnya, sampai sampai orang tersebut tidak mampu untuk berbicara sedikitpun.


"Apa yang bisa kau lakukan sekarang, aku mampu membunuhmu saat ini juga" Ucap Nadhira dengan nada suara yang begitu berat seakan akan suara itu bukanlah milik Nadhira, dengan tatapan yang sangat tajam Nadhira menatap kepada orang itu.


"Am... Pun" Ucap orang yang dicekik oleh Nadhira dengan susah payahnya.


"Beritahu aku sekarang! Atau nyamau dalam bahaya ditanganku, dimana kalian menyembunyikan Pak Dwija dan Pak Mun?"


Tak beberapa lama kemudian datanglah 10 orang ketempat itu untuk membantu temannya yang sudah tidak mampu untuk melawan Nadhira dan Theo, dan mapak sekali terlihat bahwa ada satu orang yang seperti pemimpin mereka.


"Hanya melawan dua orang ini saja kalian tidak mampu? Sia sia kalian hidup dan berlatih selama ini".


"Oh akhirnya kau datang juga" Ucap Nadhira sambil melepaskan cekikan itu dan berdiri menatap kearah orang yang telah berkata itu.


Nadhira memegangi erat tongkat yang ada ditangannya saat ini, tanpa rasa takut sedikitpun ia berdiri dengan tegaknya sambil menatap kearah orang orang itu.


"Jangan salahkan anak buahmu, lebih baik kau langsung melawan kami agar kau tau seberapa lemahnya anak buahmu itu atau mungkin kami yang terlalu kuat untuk mereka" Ucap Theo.


"Sial... Aku tidak akan pernah mengampuni kalian berdua! Lihat saja, kami akan menghabisi kalian berdua dengan cepat!"


"Jangan hanya mengancam Paman, kau tau bahwa orang yang banyak berbicara adalah orang yang mudah dikalahkan sebenarnya, karena singa lebih ditakuti daripada anji*g yang menggonggong".


"Diam kau anak kecil!"


Orang tersebut menatap kearah Theo dan Nadhira dengan tajamnya, melihat itu membuat Nadhira membuka matanya lebar lebar dan menggerakkan tongkat yang ada ditangannya, keduanya segera menasang kuda kuda untuk pasang siap bertarung dengan orang orang yang ada dihadapannya.


Orang orang itu mulai menyerang kearah keduanya dengan menggunakan sebuah senjata yang berupa golok dan mengayunkannya kepada Nadhira, Nadhira tidak tinggal diam saja melainkan menangkis golok tersebut menggunakan tongkatnya.


"Tongkat ini tidak hanya mampu memukulmu saja, akan ku tunjukkan kepadamu kalau tongkat ini juga bisa menyayatmu dengan mudah" Ucap Nadhira.


Ujung tongkat itu sangat runcing Nadhira menggerakkan tangannya untuk membuat ujungnya menjadi setajam silet, karena tingkat itu terbuat dari besi yang pipih sehingga pipihnya besi itu bisa menjadi setajam silet jika digunakan.


"Akh... Senjata apa yang kau gunakan itu!".


Dalam sekejap saja Nadhira sudah mampu meneteskan darah orang yang menjadi lawannya itu, begitupun dengan Theo yang saat ini sedang menggunakan pisau kecil yang berbentuk pena milik Nadhira itu.


Nadhira terus menyerang kearah mereka dan membuat mereka tumbang satu persatu ditanah karena kecepatan yang dimiliki oleh Nadhira, akan tetapi sebelum dirinya mampu mengalahkan semuanya Nadhira mulai kelelahan dan nafasnya tidak setabil lagi.


"Sepertinya kau sudah mulai kelelahan gadis kecil, menyerahlah dan ikuti kemauan kami, maka kau akan selamat" Ucap orang yang tengah berhadapan dengan Nadhira.


"Tidak akan pernah!".


"Dhira kau tidak apa apa?" Tanya Theo yang ada disamping Nadhira.


"Aku tidak apa apa".


"Aku harus bisa menghadapi mereka walaupun aku hanya memiliki satu ginjal saat ini" Batin Nadhira.

__ADS_1


Nadhira mengenggam erat tongkat yang ada ditangan itu yang kini tengah bersimbah darah, nafasnya benar benar memburu saat ini dan tubuhnya semakin lemah seiring berjalannya waktu.


...Jangan lupa like, coment dan dukungannya 🥰 Terima kasih ...


__ADS_2