Apa Salahku Pa

Apa Salahku Pa
Aku tidak bisa beladiri


__ADS_3

Nadhira merasa bosan kali ini karena dirinya tidak pernah bermain keluar rumah oleh karena itu kali ini Nadhira memutuskan untuk berjalan jalan didekat rumahnya melihat itu Amanda tidak tinggal diam akan tetapi dirinya bergegas untuk mengikuti kemana Nadhira akan pergi kali ini.


Dengan pakaian yang selutut dan riasan wajah tipisnya Nadhira melangkah keluar dari rumahnya, Nadhira terlihat begitu cantik kali ini dan terlihat seperti seorang anak kecil yang telah diberi izin oleh orang tuanya bermain diluar, dan bagaikan seekor burung kecil yang mampu terbang dengan bebasnya, dengan riangnya Nadhira bersenandung lirih.


Nadhira merasakan bahwa ada yang tengah mengikutinya dengan diam diam akan tetapi dirinya tidak mempedulikan itu karena dirinya tau bahwa itu adalah Amanda, Nadhira tetap melangkah dengan raingnya melewati jalan jalan yang ada diarea rumahnya saat ini seperti tanpa adanya beban yang ada didalam hidupnya.


"Enaknya kemana ya, kiri atau kanan?" Ucap Nadhira ketika dirinya berhadapan dengan simpangan jalan yang ada didepannya.


Nadhira memutuskan untuk berbelok kearah kiri dan melangkah dengan riangnya diiringi dengan suara nyanyiannya, Nadhira begitu senang ketika melihat bunga bunga yang ada ditepi jalan yang ia lewati itu.


Nadhira merasa bahagia saat ini, dan bernyanyi nyanyi dengan riangnya dipagi ini. Nadhira sama sekali tidak mempedulikan sosok Amanda terus saja mengikutinya dibelakangnya.


Nadhira terus melangkah pergi entah kemana dirinya akan pergi saat ini, hingga tiba tiba dirinya dihadang oleh dua orang laki laki yang berusia sekitar 25 tahunan, Nadhira sama sekali tidak mengenali orang itu akan tetapi Amanda mengingat kedua orang itu, Amanda pernah bertemu dengan mereka disaat dirinya diculik waktu dulu.


"Bukankah itu orangnya? Dugaanku memang benar, Nadhira benar benar telah menyuruh orang untuk menculikku waktu itu" Ucap Amanda pelan.


Nadhira mematung ditempatnya ketika dirinya tiba tiba dihadang seperti itu, Nadhira mundur beberapa langkah kebelakang karena dirinya tidak mampu untuk beladiri sehingga dirinya tidak akan bisa untuk menghadapi kedua orang itu.


"Hay cantik buru buru amat, mau kemana?".


Keduanya nampak tersenyum misterius kepada Nadhira ketika melihat wajah cantik Nadhira, sementara Nadhira hanya bisa menelan ludahnya dan terus melangkah mundur agar menjauh dari mereka akan tetapi kedua orang itu pun melangkah maju untuk mendekat kearah Nadhira.


"Siapa kalian?" Tanya Nadhira.


Disatu sisi, tanpa Nadhira sadari bahwa ada segerombolan orang tengah bersembunyi dibalik semak semak dan sedang mengawasi setiap pergerakan yang dilakukan oleh Nadhira, Nadhira terlihat ketakutan disaat berhadapan dengan dua orang itu.


"Hay cantik, kenapa kamu ketakutan seperti itu? Kalau dilihat lihat gadis ini kalau dijual akan berharga sangat mahal bukan" Ucap salah satu dari kedua orang yang ada dihadapan Nadhira.


"Kau benar teman, gadis ini juga cantik".


Kedua pria itu pun tak henti hentinya menggoda Nadhira, dapat dilihat sesekali keduanya terlihat seperti mencolek pipi Nadhira, sementara Nadhira berusaha untuk menyingkirkan tangan tangan itu dengan tenaganya.


"Mau apa kalian! Jangan macam macam, atau aku akan teriak sekarang dan memanggil warga sekitar sini!" Ancam Nadhira.


"Oiisss... Galak banget lu cantik, kalau galak galak ngak laku lo".


"Hahaha.. teriak saja sebisamu, tidak akan ada yang akan mendengarkannya disini, kau tidak akan bisa lolos dari kami berdua gadia kecil".


"Tolong! Tolong!" Teriak Nadhira meminta bantuan.


Nadhira berusaha lari dari tempat itu untuk menghindari kedua orang itu, melihat Nadhira yang berada dalam kejaran dua orang itu, disatu sisi segerombolan orang orang itu begitu terkejut ketika melihat Nadhira berlari menghindari kedua orang itu.


"Kenapa dia malah kabur seperti itu?"


"Kenapa dia sama sekali tidak melawannya dan justru malah lari dari mereka? Bukannya dia pandai dalam beladiri kenapa dia harus berlari seperti itu?"


"Tidak biasanya dia kabur seperti itu, kenapa ada yang berbeda dari Nadhira? Cepat kalian awasi dia, jangan sampai dia kenapa kenapa".


"Baik Bos".


Nadhira berusaha untuk berlari menghindar dari mereka akan tetapi cidera yang ada dikakinya kembali terasa begitu nyeri, Nadhira terus berlari dengan menahan rasa sakitnya yang mulai menjalar keseluruh kaki kanannya.


"Apakah aku akan berakhir disini?" Batin Nadhira menjerit dan sambil terus berlari.


Nadhira berlari dengan pincangnya karena kakinya yang kembali terasa sakit seakan akan cidera lamanya kembali, Nadhira merasakan bahwa kakinya bergetar hebat karena sakit yang ia rasakan pada persendiannya dan rasa kesemutan diujung kakinya.


"Kemana kau akan berlari cantik, apa kau tidak lelah jika harus berlari terus terusan? Lihatlah kakimu itu sepertinya dia meminta untuk berhenti" Ucap salah satu dari orang yang tengah mengejar Nadhira.


"Tolong! Tolong!"


Nadhira terus berusaha untuk berlari, untuk dapat menghindari dua orang yang tengah mengejarnya saat ini tanpa mempedulikan kondisi kakinya yang semakin bertambah parah seiring dirinya melangkah untuk menghindari kedua orang itu.


Bhuk...

__ADS_1


"Akh..."


"Dhira!"


Dhuk.. bhuk.. plak.. bhukk...


Tanpa disengaja kakinya tersandung sebuah ranting pohon dan membuatnya terjatuh diatas tanah dengn posisi tengkurap, melihat Nadhira yang terjatuh membuat salah satu orang dari segerombolan orang tersebut segera menendang kedua orang yang mengejar Nadhira itu dengan kerasnya dan berkelahi dengan kedua orang itu.


"Dhira kamu ngak apa apa?" Tanya seorang gadis kepada Nadhira sambil membantunya untuk berdiri.


"Ngak apa apa, bukannya kamu gadis yang kemarin?" Tanya Nadhira kepada gadis itu.


"Iya, aku Susi dan yang sedang berkelahi itu Bayu" Ucap gadis itu yang tidak lain adalah Susi sambil menunjuk kearah Bayu.


Bayu saat ini sedang bertarung melawan dua orang itu, dengan mudah Bayu mampu mengimbangi kekuatan dari keduanya sehingga Bayu terlihat begitu santainya menghadapi keduanya. Nadhira tersenyum kepada Susi dan merasa kagum dengan Bayu yang saat ini sedang bertarung.


Bayu mampu mengalahkan keduanya dengan mudah dan membuat keduanya jatuh diatas tanah tanpa mampu untuk bangkit dengan mudah karena tendangan bebas yang telah Bayu berikan kepada keduanya itu sehingga mereka tidak mampu untuk berdiri karena sedanb menahan rasa sakitnya.


"Tangkap mereka! Bawa mereka kekantor polisi sekarang!" Teriak Bayu.


"Baik Bos"


Segerombolan orang yang telah dibawa oleh Bayu sebelumnya segera bergegas untuk melaksanakan perintah dari Bayu, kini ditempat itu hanya tinggal Bayu, Reno, dan Susi saja karena yang lainnya segera pergi dari tempat itu untuk mengawal kedua orang yang telah mereka tangkap saat ini.


Setelah selesai bertarung, Bayu segera bergegas menuju ketempat dimana Nadhira dan Susi berdiri saat ini, Bayu hanya ingin memastikan bahwa keadaan Nadhira baik baik saja.


"Kamu ngak apa apa Dhira?" Tanya Bayu ketika jarak Nadhira dan dirinya semakin dekat.


"Aku ngak apa apa, terima kasih sudah menolongku saat ini" Ucap Nadhira.


"Bukan masalah, kenapa kamu malah berlari dari mereka? Kamu kan ahli dalam beladiri Dhira?"


Nadhira menggelengkan kepalanya pelan mendengar pertanyaan dari Bayu dan berkata, "Aku tidak bisa beladiri" dengan pelannya, dan nampak terlihat begitu sedih ketika selesai mengatakan kalimat itu.


"Dhira apa yang terjadi dengan dirimu?" Tanya Susi dengan nada sedih dan khawatir kepada Nadhira.


"Aku tidak apa apa, sekali lagi terima kasih atas bantuan kalian, jika tidak ada kalian aku tidak tau lagi dengan apa yang akan terjadi kepadaku nantinya".


"Kamu adalah sahabat kami Dhira sejak kecil Dhira, bagaimana mungkin kami membiarkan sahabat kami dalam bahaya seperti itu" Ucap Bayu.


"Iya Dhira, Bayu benar, kami tidak akan membiarkan sahabat kami dalam bahaya seperti ini, kami akan selalu ada untukmu Dhira, setiap masalah yang kamu alami ceritakanlah keada kami, kami akan berusaha untuk dapat membantu dirimu, jangan pernah menghadapi segalanya sendiri lagi ya" Ucap Susi membenarkan ucapan dari Bayu.


"Aku tidak apa apa, kalian jangan terlalu menghawatirkan tentang diriku, aku bisa menghadapi semuanya sendiri, aku harap kalian bisa mengerti dan menghargai keinginanku, permisi!" Ucap Nadhira dengan tegasnya kepada ketiga orang itu.


Tanpa aba aba, Nadhira segera bergegas untuk pergi dari tempat itu dan meninggalkan ketiganya, Susi berusaha untuk menghentikan langkah Nadhira yang ingin pergi dari tempat itu akan tetapi tangan Bayu segera meraih tangan Susi untuk menghentikan apa yang akan dilakukan oleh Susi.


"Kenapa kamu menghentikanku!" Ucap Susi dengan nada tinggi kepada Bayu.


"Kita tidak bisa berbuat apa apa saat ini Si, kita harus menghormati keinginan dari Nadhira, jika Nadhira tidak ingin dibantu oleh kita, maka biarkan saja dirinya melakukan apa yang dia inginkan, kita tidak punya hak untuk mencegahnya" Ucap Bayu.


Mendengar ucapan Bayu yang sengaja diperkeras olehnya membuay Nadhira hanya bisa menghela nafasnya dan memejamkan matanya sesaat akan tetapi air matanya ikut serta keluar dari pelupuk matanya yang indah itu.


"Maafkan aku, aku tidak ingin melibatkan kalian dalam masalahku, aku begitu lemah dan aku tidak bisa berlatih beladiri lagi" Batin Nadhira.


Nadhira yang dulu dan Nadhira yang sekarang begitu berbeda, Nadhira yang dulu kasar dalam fisiknya dan lembut dalam ucapannya akan tetapi Nadhira yang saat ini kebalikan dari Nadhira yang dulu, dan justru Nadhira saat ini kasar dalam ucapannya dan lemah dalam fisiknya.


Entah apa yang terjadi dengan Nadhira, dan bahkan Nadhira sendiri pun tidak mengetahui apa yang terjadi dengan dirinya sendiri saat ini, bagaimana bisa orang lain akan mengetahui tentang dirinya? Sementara dirinya sendiri tidak mengetahuinya.


Amanda yang melihat kejadian itu hanya bisa berdiam diri, Amanda menyimpulkan bahwa Nadhira benar benar telah berubah dan hilang ingatan sehingga kecurigaannya itu tidak berarti. Amanda segera bergegas pergi dari tempat itu setelah melihat Nadhira berjalan pergi dari sana.


Nadhira kembali kerumahnya dengan langkah pincang karena rasa sakit yang ia rasakan di persendian kakinya, ketika Nadhira membuka pintu rumahnya tiba tiba dirinya terjatuh karena kakinya sudah tidak mampu untuk menahan berat tubuhnya.


Bhuk...

__ADS_1


"Akh.." Nadhira terlihat begitu kesakitan dan memegangi lututnya dengan erat.


"Ya Allah Non, kamu kenapa?" Ucap Bi Ira sambil bergegas mendatangi Nadhira yang terduduk dilantai rumahnya dan membantu Nadhira untuk bangkit.


"Aku ngak apa apa, lepaskan aku! Aku bisa melakukannya sendiri, aku tidak butuh bantuanmu, lepaskan aku! lepaskan!" Teriak Nadhira sambil mendorong tubuh Bi Ira agar menjauh dari dirinya.


Nadhira tidak ingin terlihat begitu lemah dihadapan Bi Ira apalagi membuat orang lain sampai sampai mengasihaninya, Nadhira ingin menunjukkan bahwa cidera yang ada dikakinya tidak akan membuat dirinya merasa lemah.


"Tapi Non, kakimu pasti sakit, biar aku bantu berdiri ya" Ucap Bi Ira dengan khawatirnya.


Bi Ira sangat khawatir ketika melihat Nadhira kesakitan seperti ini apalagi dengan keringat yang membasahi seluruh tubuhnya itu akan tetapi Nadhira terus saja menolak bantuan darinya. Tolakan itu membuat Bi Ira merasa sedih dengan apa yang dilakukan oleh Nadhira kepadanya akan tetapi dirinya tidak bisa berbuat apa apa untuk menolong Nadhira.


"Aku bilang aku tidak butuh bantuanmu! Aku bisa melakukannya sendiri! Aku bukan wanita yang lemah!" Nadhira terus berusaha untuk bangkit dengan berpegang pada tembok rumahnya.


"Biarkan Bibi membantumu Non, Bibi tidak tega melihatmu kesakitan seperti ini Non".


"Aku bilang lepaskan ya lepaskan! Simpan saja rasa kasihanmu itu aku tidak membutuhkan itu!"


"Bibi mohon, biarkan Bibi membantumu Non".


"Lepaskan! Aku bilang aku bisa melakukannya sendiri!!" Bentak Nadhira sambil terus berusaha melepaskan diri dari pegangan tangan Bi Ira.


Dengan penuh perjuangan Nadhira mampu bangkit dari jatuhnya meskipun dengan bercucuran keringat dan air mata, cidera lamanya kembali kambuh lagi saat ini sehingga membuatnya begitu kesakitan kali ini. Perlahan lahan Nadhira melangkah menuju kekamarnya sambil merambat berpegangan pada tembok dan barang barang yang ada dirumahnya menuju kekamarnya.


Brakkk...


Setelah sampai dikamarnya Nadhira segera masuk kedalam kamarnya dan menutup pintu kamarnya dengan sangat kerasnya, ketika pintu itu sudah ditutup olehnya Nadhira segera menjatuhkan diri dibalik pintu kamarnya dan bersandar di pintu tersebut.


Nadhira memegangi persendian lututnya dengan erat karena rasa sakit itu seakan akan menjalar ke seluruh area kakinya, keringat terus mengalir membasahi tubuhnya dan tanpa suara Nadhira menangis menahan rasa sakitnya itu.


"Aku tidak boleh menangis kali ini"


Nadhira dengan kasarnya menghapus air matanya itu, karena rasa sakit itu seketika membuat bola mata Nadhira tampak begitu memerah, perlahan lahan Nadhira mulai memijat kakinya dengan pengetahuannya agar sakit yang ada dikakinya perlahan lahan mereda.


Tok tok tok


"Nak buka pintunya" Suara Rendi terdengar dibalik pintu kamar Nadhira.


Nadhira yang mendengar suara Papanya segera bangkit dari duduknya dan mengambil nafas dalam dalam untuk menenangkan dirinya, Nadhira meraih sebuah kain yang tidak jauh darinya dan mengikat kakinya dengan erat agar sakit itu berkurang, Nadhira juga menutupi kain tersebut menggunakan celananya.


"Ada apa Pa?" Tanya Nadhira sambil membuka pintu.


"Kamu ngak apa apa kan? Apa kakimu sakit lagi?"


"Aku ngak apa apa kok Pa, hanya sakit biasa, nanti juga bakal sembuh sendiri".


"Beneran? Apa kamu habis nangis Nak? Pasti itu sangat sakit bukan, ayo biar Papa antar kedokteran dan memeriksakan kakimu itu".


"Tidak usah Pa, Dhira hanya ngantuk, Dhira ingin istirahat, sebaiknya Papa kembali kekamar Papa, jangan khawatirkan Dhira, Dhira bisa sendiri".


"Bagaimana mungkin seorang Ayah bisa tidak menghawatirkan tentang kondisi putrinya, bersiap siaplah Papa akan membawamu kedokter".


"Dhira ngak mau Pa, Dhira takut dengan suntikan, Dhira ngak apa apa kok, Dhira hanya mengantuk saja, jadi Papa jangan khawatirkan soal Dhira".


"Baiklah kalau itu keputusanmu Nak, kalau Dhira butuh apa apa panggil Papa ya Nak, istirahatlah".


"Iya Pa".


Rendi segera meninggalkan kamar Nadhira untuk kembali kekamarnya sendiri, sementara Nadhira yang melihat kepergian dari Rendi hanya memutuskan untuk menutup pintu kamarnya dan berjalan menuju kekasurnya untuk membaringkan tubuhnya.


...Jangan lupa like, coment dan dukungannya 🥰...


...Terima kasih ...

__ADS_1


__ADS_2