Apa Salahku Pa

Apa Salahku Pa
Mencari pembantu


__ADS_3

Tak beberapa lama kemudian mereka sampai disebuah pasar yang Bi Ira dan Nadhira sering ketempat itu untuk berbelanja, kali ini Rifki juga ikut masuk kedalam pasar tersebut.


Meskipun Rifki adalah pemilik sebuah perusahaan yang besar tetapi hal tersebut tidak menghalanginya untuk melangkahkan kakinya kedalam pasar yang becek dan bau tersebut.


Rifki dan Nadhira mengikuti Bi Ira dari belakang, Bi Ira berbelanja sambil menjelaskan bahan bahan masakan kepada Rifki yang ingin sekali belajar mengenal bagaimana bentuk dan cara membedakannya.


"Kalo yang ruas ruasnya seperti ini, ini namanya jahe, enak juga kalo dibuat minuman, kalo yang ini namanya kunyit, lihat warnanya kuning kemerahan kan? Nah ini biasanya dibuat untuk menghilangkan bau amis didaging ikan ataupun yang lainnya".


Rifki mengangguk angguk mendengar penjelasan dari Bi Ira, sambil menghafalkan apa yang telah disampaikan oleh Bi Ira sepanjang pasar tersebut.


Rifki segera membayar bahan masakan tersebut, setelah itu ia menyuruh sopirnya untuk mengangkatnya masuk kedalam mobil, begitu banyak belanjaan yang dibeli oleh Rifki sebagai kebutuhan pokok untuk anak anak panti asuhan yang akan mereka datangi selanjutnya.


"Bi, yang ini kok bentuknya lucu seperti bunga?". Tanya Rifki dengan antusias.


Tanpa sengaja Rifki melihat bumbu dapur yang berbentuk seperti bunga, tetapi warnanya coklat, hal itu membuat Rifki tertarik dengan bumbu dapur tersebut, entah apa gunanya tetapi bumbu itu berhasil menarik perhatiannya.


"Ini namanya bunga lawang, biasanya digunakan untuk penyedap rasa".


Bi Ira menjelaskan kepada Rifki mengenai hal baru yang ditemukan oleh Rifki didalam daftar bahan masakan yang telah dihafal olehnya, baru kali ini ia melihat bumbu masakan itu yang terdiri dari delapan ruas dan masing masing ruas terdapat biji kecil yang juga berwarna coklat.


Setelah lama berkeliling dipasar tersebut akhirnya ketiganya segera kembali dan masuk kedalam mobil untuk menuju kearah panti, jok mobil belakang Rifki sudah terpenuhi dengan berbagai macam kebutuhan pokok mulai dari beras, minyak, penyedap rasa, daging ayam, ikan, dan sapi juga telah ia beli untuk anak anak panti.


"Bibi kalo mau kepasar lagi bilang aku ya, sekalian juga buat persediaan dimarkas".


"Iya".


"Eh iya, apa Bibi punya kenalan atau saudara gitu yang bisa masak yang enak seperti Bibi, buat bekerja dimarkasku?".


Rifki berniat untuk mencari koki untuk masak dimarkasnya, karena selama ini anak buahnyalah yang masak, karena jadwal mereka yang bertambah karena Rifki sehingga mereka membutuhkan koki khusus untuk masak, Rifki juga tidak bisa sembarangan untuk menerima seseorang bekerja kepadanya sehingga sampai saat ini belum ada yang berhasil menarik minatnya.


"Mungkin setelah kita sampai dipanti, Tuan Muda akan mendapatkan jawabannya".


"Ih Bibi, sudah ku bilang jangan panggil seperti itu, panggil saja seperti Bibi memanggil Dhira".


"Baiklah".


Bi Ira menunjukkan jalan kepada sang sopir tersebut untuk kepanti, karena panti asuhan yang akan mereka tuju berada dikaki gunung yang jalanannya banyak belokannya, karena tempatnya begitu terpencil dan tidak jarang para donasi dapat melihatnya.


Bukan tanpa alasan pemilik panti tersebut membangun pantinya ditempat seperti itu, akan tetapi karena harga tanahnya sedikit murah sehingga pemilik panti memilih untuk membangun panti disana.


Tak beberapa lama kemudian akhirnya mereka sampai juga dipanti asuhan itu, Bi Ira langsung mengajak Rifki dan Nadhira untuk masuk kedalam panti asuhan tersebut, selangkah Nadhira masuk kepanti asuhan tiba tiba seorang gadis kecil menabraknya dan memberikan pelukan yang erat kepada Nadhira.


"Aih... Pelukan Fika sangat kuat ya sekarang". Ucap Nadhira sambil membalas pelukannya tersebut.


"Eh siapa namanya ini?". Tanya Rifki sambil mengusap kepala Fika.


Mendengar pertanyaan itu membuat Fika menoleh kearah Rifki, sebelumnya ia tidak memperhatikan adanya sosok laki laki yang ikut serta pergi kepanti asuhan itu, tetapi setelah ucapan Rifki terlontarkan membuat Fika segera melepaskan pelukannya dari Nadhira.


"Fika Kak". Jawab Fika sambil tersenyum malu malu kepada Rifki.


Ketampanan Rifki membuat penghuni panti terpesona karenanya, begitupun dengan ibu panti yang tidak henti hentinya terus memuji ketampanan yang dimiliki oleh Rifki.


"Oh jadi ini yang namanya Fika, gimana kabarnya selama tinggal dipanti?".


"Alhamdulillah baik Kak, eh Kakak pacarnya Kak Dhira ya? Kata temen temen kalo cewek sama cowok itu namanya pacaran". Fika menunjuk kearah teman temannya yang umurnya lebih dewasa daripada Fika.


Rifki sangat terkejut bagaimana bisa anak seusianya Fika mengenal yang namanya pacaran, bahkan dirinya sendiri saja tidak pernah pacaran, meskipun ia selalu dekat dengan Nadhira, tetapi Rifki menganggap Nadhira adalah sahabatnya.


Rifki segera menoleh karah dimana yang Fika tunjuk, ia menemukan beberapa anak yang usianya diatas 5 tahun, dan beberapa anak lagi yang menurut Rifki masih menginjak usia 13 tahunan.


Rifki menggelengkan kepalanya karena ucapan Fika, Rifki menduga bahwa Fika belajar dari Kakak Kakaknya yang ada dipanti yang usianya jauh lebih tua daripada usia Fika saat ini.

__ADS_1


"Pak tolong ambilkan belanjaan tadi, dan bawa masuk kedalam". Ucap Rifki kepada sopirnya.


"Baik Tuan Muda".


Rifki segera menjabat tangan Bu Fatimah dan menciumnya layaknya seorang anak kepada ibunya, karena Bu Fatimah adalah ibu panti asuhan tersebut.


"Ada sedikit bantuan dari saya, tolong diterima ya Bu, kalo ada kurang apa apa, Ibu bisa hubungi saya".


"Terima kasih Nak, semoga bantuan ini menjadi berkah, dan dibalas oleh Allah berkali kali lipatnya".


Bu Fatimah merasa begitu senang karena mendapat bantuan dari Rifki, bukan soal nilainya yang Rifki berikan, tetapi tentang ketulusan hati Rifki, bahkan Rifki sama sekali tidak menyebutkan namanya untuk bantuan itu.


"Aamiin". Ucap Nadhira dan Rifki bersamaan.


Bu Fatimah mengajak ketiganya untuk masuk kedalam panti asuhan, tidak lupa ia menyuguhkan beberapa cemilan dan juga minuman kepada mereka, mereka pun ngobrol santai.


Dapat dilihat bahwa Fika terus nempel kepada Nadhira seakan akan ia begitu rindunya dengan sosok Nadhira, bukan hanya karena itu saja melainkan karena adanya Nadhira membuat kehidupannya mulai membaik.


Rifki hanya melihat itu sekilas, sebenarnya ada rasa sedikit terganggu karena Fika yang terus saja memeluk lengan Nadhira dengan eratnya, seakan akan tidak mau melepaskan Nadhira.


"Oh iya bu, apakah teman teman masih ada yang nganggur belum bekerja?". Tanya Bi Ira kepada Ibu pemilik panti asuhan.


"Maksudnya gimana?".


"Tuan Muda ini sedang mencari pembantu Bu". Bi Ira menunjuk kearah Rifki.


"Ada kok, Fika tolong panggilkan Bu Laksmi sama Bu Lina".


"Iya Bu".


Fika segera melepaskan pegangan tangannya dari Nadhira untuk memenuhi perintah dari Ibu panti asuhan tersebut, melihat itu Rifki merasa begitu lega entah apa yang ada dipikirannya saat ini, padahal Fika hanyalah seorang gadis kecil.


Tak beberapa lama kemudian akhirnya Fika datang bersama dengan dua orang wanita yang usianya masih dibawa 30 tahunan, dapat Rifki lihat bahwa usia mereka masih berkisar 25 tahunan.


"Nak ini kenalkan, yang sebelah kiri namanya Bu Lina, dan yang kanan namanya Bu Laksmi, keduanya bisa masak kok dan bersih bersih juga bisa". Bu Fatimah menjelaskan kepada Rifki mengenai dua orang yang ada dihadapannya saat ini.


"Bu Lina pernah bekerja sebelumnya?". Tanya Rifki kepada Lina.


"Belum pernah Tuan Muda". Jawab Lina dengan sopannya.


"Kalo saya belum pernah bekerja sebelumnya tapi saya bisa masak dan bersih bersih kok Mas, biasanya masak dipanti ini juga dan pengalaman saya lebih banyak daripada Lina". Cerocos Laksmi.


"Rif sebaiknya mempekerjakan Bu Lina saja, Bu Laksmi terlalu berambisi". Bisik Raka kepada Rifki.


"Hm... Sebelumnya saya ingin bertanya kepada kalian, apakah kalian akan sanggup bekerja kepada saya? bukan hanya memasak dan bersih bersih saja, kalian juga harus tahan mental menghadapi anak buah saya".


Rifki menjelaskan kepada mengenai pekerjaan yang akan mereka terima setelah menjadi pembantu Rifki dimarkas, Rifki tidak yakin keduanya akan sanggup ketika berada dimarkas karena umur keduanya yang masih begitu muda, apalagi harus menghadapi anggota markas yang mayoritasnya adalah laki laki.


Sebelumnya Rifki mengira akan mendapatkan pembantu yang berusia sama seperti Bi Ira akan tetapi setelah kedatangannya kepanti asuhan, Rifki malah menemukan dua wanita yang usianya terpaut beberapa tahun darinya.


"Jika kalian berdua sanggup, maka mulai hari ini kalian bisa langsung bekerja".


"Iya saya sanggup". Kedua wanita itu menjawab Rifki dengan begitu yakin mengenai pekerjaan tersebut.


"Baiklah, silahkan berkemas, kalian akan ikut kemobilku".


"Baik Tuan Muda". Jawab Lina.


"Baik Mas". Jawab Laksmi dengan antusias.


"Oh iya, jangan panggil aku Mas!! Panggil saja Tuan Muda, aku sangat tidak suka dipanggil Mas!!". Ucap Rifki memperingatkan Laksmi.

__ADS_1


Biar bagaimanapun usia mereka hanya beda beberapa tahun dari Rifki, panggilan itu sangat tidak Rifki sukai, apalagi keduanya masih gadis dan belum menikah, Rifki hanya menguji keduanya apakah mereka akan sanggup bertahan dimarkas tersebut atau justru menyerah ditengah jalan karena mengetahui keadaan markas sesungguhnya.


Laksmi hanya bisa menunduk dihadapan Rifki, ada sedikit rasa kecewa didalam hatinya mengenai ucapan yang terlontarkan dari mulut Rifki, sosok pemuda yang menarik perhatiannya saat pertama kali melihatnya, meskipun Rifki masih berusia 17 tahunan, tetapi karena pawakannya Rifki yang tinggi dan gagah ia terlihat sudah begitu dewasa.


Rifki sering berlatih beladiri dan juga nge-gym disetiap ada waktu senggang, sehingga tubuhnya begitu terlihat seperti berotot, tidak jarang para anggotanya terluka setelah melakukan fighter bareng Rifki, karena seringnya melatih kemampuan membuat Rifki terlihat begitu gagah walaupun masih berusia 17 tahun.


"Apa kamu yakin Rif, memperkerjakan keduanya?". Tanya Nadhira yang sedikit terganggu dengan hal itu, apalagi kedua wanita itu masih gadis.


"Kenapa tidak? Apa kamu mau mengajukan diri juga? atau kamu cemburu karena ada dua orang gadis yang mulai saat ini bekerja ditempatku?". Tanya Rifki menggoda Nadhira.


"Tidak bukan seperti itu yang aku maksud, tapi kan keduanya masih gadis, apa bekerja ditempat yang dipenuhi dengan lelaki seperti markasmu?".


"Yakin tidak cemburu?".


"Tidak Rif!!!".


"Ya sudah, Aku juga tidak tau, kalo aku pilih salah satu dari mereka aku takutnya yang aku pilih itu akan merasa minder ditempat seperti itu tanpa ada teman yang sama perempuannya, kau tau sendirikan".


Nadhira mengangguk angguk pertanda mengerti mengenai ucapan Rifki, ia juga tidak mengetahui apa rencana Rifki selanjutnya, bagi Nadhira itu sungguh memberatkan kedua gadis itu karena mereka akan bekerja ditempat yang dihuni oleh mayoritas laki laki.


Mereka terus melanjutkan obrolan santai mereka, hingga kedua wanita itu selesai untuk mengemas i barang barang yang akan mereka bawa kemarkas tersebut, setelah itu Rifki dan lainnya berpamitan untuk pulang.


Didalam mobil milik Rifki, Bi Ira duduk didepan bersama dengan sopir pribadi milik Rifki, sementara Nadhira dan Rifki duduk dibelakang sopir tersebut, sedangkan kedua wanita itu duduk dibelakang Rifki dan Nadhira lebih tepatnya duduk ditempat duduk paling belakang.


"Kamu mau ikut kemarkas dulu atau langsung pulang?". Tanya Rifki kepada Nadhira.


"Ikut". Jawab Nadhira sambil cemberut.


Rifki tertawa melihat wajah cemberut dari Nadhira, bagi Rifki wajah cemberut Nadhira adalah hal yang terlucu yang Rifki sukai.


"Baiklah baiklah, kita antarkan Bi Ira dulu ya".


"Ya". Jawab Nadhira singkat, padat dan jelas.


"Pak, kerumah Nadhira dulu". Ucap Rifki kepada sopir pribadinya.


"Baik Tuan Muda".


Mobil tersebut melaju dengan cepatnya menuju kerumah Nadhira, setelah sampai disana Bi Ira segera turun dari mobil Rifki, Rifki juga ikut turun dari mobil tersebut dan berdiri dihadapan Bi Ira, Rifki menyalimi Bi Ira dan memberikan sebuah amplop kecil kepada Bi Ira.


"Ini sebagai ucapan terima kasih dariku Bi, mohon diterima ya".


"Tapi Tuan Muda".


"Terima kasih karena telah menjaga Nadhira selama ini dan juga terima kasih atas pengetahuannya, tolong diterima ya Bi, jangan panggil aku Tuan Muda lagi, panggil aku seperti Bibi memanggil Dhira saja, aku lebih nyaman dipanggil seperti itu".


"Terima kasih Nak". Ucap Bi Ira sambil matanya berkaca kaca dihadapan Rifki.


"Ya sudah Bi, kami pergi dulu, tolong bilangkan juga kepada Papanya Nadhira bahwa Nadhira ikut denganku kemarkas".


"Baik Nak, nanti akan Bibi sampaikan".


Rifki segera berpamitan kepada Bi Ira, setelah itu ia segera masuk kedalam mobilnya, mobil itu langsung melesat menjauh dari rumah Nadhira menuju kemarkas miliknya.


Sebelum sampai ke markas, Rifki meminta kepada sopirnya untuk berhenti kesebuah mini market untuk membeli beberapa makanan dan juga cemilan untuk Nadhira. hanya Rifki dan Nadhira yang berjalan menuju ke mini market tersebut, sementara lainnya masih tetap berada didalam mobil.


"Pak, apakah markas yang dimaksud pemuda itu begitu luas?". Tanya Laksmi kepada sopir pribadi Rifki.


"Iya sangat luas, dan pemuda yang kamu maksud adalah pemiliknya". Ucap sopir itu sambil menunjuk kearah Rifki yang tengah berjalan bersama Nadhira. "Hati hati dengan dia, dia lebih kejam daripada yang terlihat". Bisik sopir tersebut sambil memperingatkan kepada keduanya.


Bisikan itu berhasil membuat keduanya bergidik ngeri mendengarnya sambil membayangkan bertapa kejamnya seorang pemuda yang akan menjadi bos mereka itu.

__ADS_1


[Terima kasih atas dukungannya]


__ADS_2