
"Mama, aku tidak bisa bertahan lagi, rasanya begitu sakit, mama kita akan bertemu lagi". nafas Nadhira mulai terputus putus.
Siang hari ini adalah hari terberat bagi Nadhira, bukan hanya rasa kedinginan yang mendalam yang ia rasakan tetapi juga jantungnya terasa begitu sakit, tubuhnya mengigil kedinginan meskipun sudah memakai selimut yang sangat tebal.
Meskipun tubuhnya sudah terkena cahaya matahari disiang hari, tetapi Nadhira masih merasa begitu kedinginan, bi Ira juga telah memberinya minuman hangat untuk menghilangkan rasa dingin yang ia rasakan saat ini, tetapi minuman itu sama sekali tidak berpengaruh pada Nadhira.
"Bu, aku baik baik saja, jangan terlalu menghawatirkanku, mama bilang aku anak yang kuat, dan jika sudah waktunya semua akan terjadi tanpa kita minta". Ucap Nadhira melihat ibu angkatnya begitu panik mengenai kondisinya.
"Bagaimana bisa ibu tidak khawatir, lihat kondisimu saat ini, suhu tubuhmu belum juga menurun, ibu akan membujuk papamu untuk segera membawamu kerumah sakit". Tangis bi Ira pecah seketika.
"Jangan bu, aku mohon, tidak.... ibu tidak boleh memberitahu kepada papa".
Nadhira berusaha bangkit untuk menghentikan langkah bi Ira, hingga Nadhira hampir terjatuh dari tempat tidurnya, karena kehilangan keseimbangannya membuatnya terjatuh, karena reflek tersebutmembuat Nadhira berteriak, dan teriakan itu segera membuat bi Ira menoleh kebelakangnya, ia sungguh terkejut ketika melihat Nadhira terjatuh dan segera menolongnya.
"Kenapa aku begitu lemah seperti ini, apa yang terjadi kepadaku, kepalaku begitu pusing, mama tolong aku". Jerit batin Nadhira.
"Astaghfirullah hal azim nak, kenapa bisa terjatuh seperti ini". bi Ira segera membantu Nadhira untuk kembali ke tempat tidurnya.
Tanpa sengaja ia melihat luka seperti luka sayatan yang panjang ditangan anak angkatnya tersebut, Ia segera mengangkat tangan Nadhira dan melihat luka tersebut.
"Dari mana luka ini nak? bagaimana bisa".
Nadhira segera menyembunyikan tangannya dibalik selimutnya dan melepaskan pegangan tangan ibu angkatnya, Nadhira memejamkan matanya agar ibu angkatnya tidak menanyakan hal ini lebih lanjut.
Tetapi bi Ira tidak mempedulikan hal itu, ia segera menarik tangan Nadhira dari selimutnya. dengan reflek Nadhira memukul bi Ira, hingga ia sampai harus bangkit akibat pukulan tersebut.
"Apa yang ibu lakukan?". Nadhira begitu marah, ketika lukanya dilihat oleh ibu angkatnya.
"Ibu hanya ingin mengobatinya nak, kenapa kamu jadi semarah itu?".
"Nanti juga sembuh sendiri, ibu aku mau istirahat". Nadhira mengalihkan pandangannya.
"Tapi nak........ Baiklah".
Setelah kepergian bi Ira Nadhira bangkit dari tidurnya, Ia memegangi dadanya yang terasa sakit, dadanya sangat sakit ketika tanpa sengaja ia membentak ibunya,
"Maafkan aku ibu... hiks... hiks...". Nadhira menangis, karena perbuatannya yang telah membentak ibu angkatnya yang sangat menyayanginya.
*****
"ha.... akhirnya pulang sekolah juga". Rifki merasa lega ketika bel pulang sekolah berbunyi.
Rifki segera bergegas kearah parkiran dimana motornya terparkir disana, ketika ia sampai disana, ia tersadar bahwa bukunya ketinggalan dikelas, ia memutuskan untuk kembali kekelasnya.
"Kenapa aku bisa seceroboh ini sih, untung ngak hilang".
Rifki membuka bab yang ada dibuku tersebut, dibab tersebut tersimpan sebuah foto, foto seorang lelaki bersama dengan anak dan istrinya. Rifki memandangi foto itu sejenak dan menutup kembali buku tersebut.
Ketika ia hendak pergi dari kelasnya, tiba tiba segerombolan anak lelaki masuk kedalam kelas tersebut, mereka menghalangi langkah kakinya. Rifki mengingat salah satu lelaki yang ada dibarisan paling depan adalah orang yang membuat masalah dengannya pada waktu istirahat.
"Ternyata kalian belum puas juga". Rifki menghela nafasnya.
"Ngak usah basa basi, kami akan buat kau tidak betah disekolah ini".
"Apa karena masalah wanita? lelaki macam apa kalian beraninya main keroyokan, dan maaf aku tidak ada waktu untuk meladeni permainan kalian".
Rifki melangkah melewati mereka dengan sekali dorongan tangannya, sebuah kepalan tangan terarahkan kedada Rifki, sehingga menghentikan langkahnya, bagi Rifki pukulan itu bukan apa apa sehingga ia sama sekali tidak terdorong mundur.
__ADS_1
"Aku tidak ingin membuat masalah dengan kalian, tapi jangan salahkan aku jika aku bertindak kurang ajar pada kalian". Rifki melirik satu persatu anak yang ada disitu dengan lirikan yang tajam.
"Kenapa menghindar, kau takut dengan kami?".
"Kalian salah, Aku adalah penikmat rasa takut, aku bukan pengecut yang takluk akan rasa takut, dan aku juga bukan pecundang yang hanya berani main keroyokan".
"Kau menyindir kami ha?".
"Apakah perkataanku terlalu halus untuk kalian? bagus deh kalau kalian bisa sadar diri".
"Kau!".
Segerombolan anak anak itu segera menyerang kearah Rifki tanpa aba aba, membuat Rifki sedikit merasa kewalahan karena ia kalah jumlah, tetapi hal itu sama sekali tidak membuat Rifki merasa takut, bagi Rifki ini adalah makanannya setiap hari, bagaimana tidak, karena kakeknya melatihnya begitu keras untuk dapat melawan orang yang jumlahnya lebih banyak darinya.
Perkelahian itu begitu sengit sehingga membuat barang barang yang ada diruangan kelas tersebut berhamburan, dan sebagian ada yang rusak karena itu. Perkelahian itu tidak berlangsung lama, karena sebagian dari mereka sudah kelelahan menghadapi Rifki.
Ketika Rifki terjatuh dan segera ditahan oleh tangannya, ketika itu juga seluruhnya ikut terjatuh dan mengalami beberapa luka memar, Nafasnya memburu tetapi mulutnya terus menampakkan senyuman.
"Ha... ha.. ha... Sudahku bilang, aku tidak ingin membuat masalah dengan kalian". Ucapnya.
Rifki segera bergegas meninggalkan mereka, perasaannya sedari tadi merasa tidak tenang, entah mengapa dirinya begitu gelisah dan ingin segera pulang dari sekolah tersebut.
Ketika Rifki sudah menjauh dari kelas itu, seluruh siswa yang mengeroyoknya segera bangkit dengan saling membantu untuk berdiri dan menatap kepergian Rifki.
"Siapa sebenarnya anak itu, mengapa dia dengan mudah mengalahkan kita?".
"Aku juga ngak tau bos, sebaiknya kita cari tau dulu, siapa dia sebenarnya".
"Kau benar".
Rifki terus bergegas menuju rumahnya, tanpa berfikir panjang ia menambah kecepatan laju motornya. karena kecepatan jalannya itu membuatnya sampai dirumahnya hanya membutuhkan waktu setengah jam, biasanya ia akan membutuhkan waktu 1 jam lebih umtuk menempuh perjalanan kesekolahnya.
"Mama? Ada apa ma? apa yang terjadi?".
"Kau datang? kenapa mama tidak tau kedatanganmu".
"Maafkan aku ma, karena tidak pernah pulang kerumah, mama kenapa? ada apa ma?".
"Mama juga ngak tau, mama terus kepikiran dengan papamu". Putri langsung memeluk anak laki lakinya.
"Kenapa mama masih memikirkan pria itu? untuk apa ma? dia bahkan tega meninggalkan kita bertiga, dan tidak memberi mama kabar apapun, untuk apa masih menangisi pria seperti itu?".
"Hentikan ucapamu!! papamu pergi karena ada alasan, biar bagaimanapun ia adalah ayah kandungmu, kau tidak boleh membencinya nak, jangan katakan hal seperti itu". Tangisnya pecah karena ucapan Rifki.
"Ma, maafkan aku, aku tidak ingin melihat mama terus tersakiti karenanya".
"Nak lihat mama". Putri memegangi wajah anaknya dan menyuruhnya untuk menatap kedua matanya yang sembab. "Apakah sebenci itu kau dengan ayahmu? hingga kau mengatakan hal seperti itu. nak biar bagaimanapun yang papamu lakukan hanyalah demi melindungi keluarganya, jika suatu hari kau bertemu dengannya jangan pernah membencinya, papamu tidak seperti apa yang kau fikirkan selama ini, ketika kau mengetahui semuanya, kau akan tau apa yang dia lakukan selama ini".
"Ma, Rifki salah, Jangan menangis ma, Rifki tidak kuat melihat mama menangis, Rifki janji tidak akan mengulanginya lagi, Rifki akan terus berbakti kepada papa dan mama, Jika Rifki melakukan kesalahan lagi, mama berhak menghukumku". Rifki menggerakkan ibu jarinya untuk mengusap airmata ibunya.
"Mama harap, suatu hari anak mama akan menepati janji itu, biar bagaimanapun lelaki sejati ia tidak akan mengingkari janjinya, buktikan itu nak, jangan biarkan usaha papa dan kakekmu menjadi sia sia".
Rifki mengangguk kepalanya, ia menidurkan kepalanya dipangkuan mamanya, Putri mengusap kepala Rifki dengan lembut dan sesekali airmatanya menetes membasahi pipinya..
Putri merasa bahagia memiliki anak seperti Rifki, kelakuan Rifki mengingatkannya kembali kepada suaminya, ketika suaminya merajuk, suaminya akan tidur dipangkuannya sampai terlelap.
"Mas, dimanapun kau berada, aku harap kau akan baik baik saja, bertahun tahun kau meninggalkan kami, seandainya kau ada disini, kau akan bahagia melihat anak kesayanganmu memiliki sikap yang persis denganmu". Suara batin Putri.
__ADS_1
Benar saja, tak lama kemudian Rifki tertidur pulas dipangkuannya, karena kelembutan sentuhan seorang ibu akan selalu membuat kenyamanan bagi seorang anak,
Didalam tidurnya Rifki bermimpi dipukul oleh sesuatu yang begitu keras, membuatnya terkejut hingga terbawa kealam nyata, ketika ia membuka matanya ia menemukan seorang gadis kecil duduk disampingnya sambil membawa boneka, gadis itu berulang ulang kali memukul Rifki untuk membuatnya terbangun.
"Kakak!!!". Teriak gadia itu.
Teriakan itu membuat Rifki menurut telinganya dengan kuat, seakan akan kendang telinganya akan meletus jika mendengar teriakan itu lebih lama lagi.
"Bangun!! berani sekali kakak mengambil posisiku". Terus memberi Rifki hujan pukulan.
"Yayayayaya... aku bangun". Rifki segera bangun dari posisinya.
Gadis kecil itu tidak lain adalah adik kandung Rifki yang bernama Ayu. Ayu berusia sekitar 6 tahunan, sifatnya hampir mirip seperti ibunya, tetapi keras kepalanya seperti ayahnya. Melihat tingkah kedua anaknya membuat Putri tersenyum, dan menggeleng gelengkan kepalanya.
"Hih!!", Rifki mengeratkan giginya seakan akan mau mengigit adeknya tersebut. "seandainya kau laki laki, sudah ku gintes kayak kutu rambut tau, dasar adek durhaka".
"Mama lihat tuh, kakak mengataiku kutu rambut". Ayu memanyunkan bibirnya dan menatap Rifki dengan sebalnya.
"Ih dasar tukang ngadu". karena gemesnya membuat Rifki menarik bibir tersebut.
"Kakak!!!".
Ayu bangkit dari duduknya dan bergegas memukuli Rifki, melihat itu Rifki juga ikut bangkit dan berlari menghindari adeknya tersebut, hingga terjadilah kejar kejaran antara adek dan kakak, karena tidak bisa mengejar Rifki membuat Ayu menjatuhkan tubuhnya kelantai dan menangis.
"Sudah sudah jangan bertengkar lagi". Ucap Putri menghentikan mereka.
Rifki yang melihat adiknya menangis membuatnya tertawa bahagia, baginya tangisan adeknya adalah kemenangan untuknya, tetapi ada sedikit rasa tidak tega dihatinya, membuatnya bergegas mendatangi adeknya dan membantunya untuk bangkit.
Ayu merasa memiliki kesempatan untuk memukul kakaknya tersebut, hingga ia melanjutkan aksinya untuk memukul Rifki, Sementara Rifki hanya berlindung dibalik kedua tangannya.
"Sudah, sudah hentikan dek, arghh.... sakit". Rifki mengeluh karena pukulan adeknya itu, "Baiklah baiklah kakak kalah, adek mau apa nanti kakak turuti".
mendengar pengakuan dari kakaknya membuatnya berhenti untuk memukulnya, dan tersenyum selebar mungkin, Ayu memikirkan apa yang ia inginkan selama kakaknya masih ada dirumah, memang selama ini kakaknya jarang pulang kerumah karena lebih memilih tidur dimarkas untuk terus berlatih ilmu beladiri.
"Aku mau es grim yang banyak". Ucap Ayu dengan lantang.
"Es Cream kali dek".
"Ya.. pokoknya itu".
"Baiklah, ayo beli es cream yang banyak untuk tuan putri kecilnya kakak".
"Aku sudah besar kak, kata mama kalau makan yang banyak nanti cepat besar".
"Kalau besarnya seperti ini, kecilnya seperti apa ya". Guman Rifki sambil menggaruk kepalanya.
Gumanan itu terdengar oleh Ayu meskipun Ayu tidak faham apa maksud dari ucapan kakaknya itu, yang ada difikirannya hanyalah makanan dan es cream saja.
"Kakak bilang apa?".
"Ngak ada, ayo pergi..... ma kami pergi dulu".
"Iya nak hati hati, jaga adekmu baik baik".
Melihat anak anaknya kembali akur membuat Putri mengingat masalalunya bersama Saudaranya, sehingga ia hanya tersenyum menanggapi anak anaknya.
"Tenang saja ma, nanti adek bakalan aku tinggal ditepi jalan".
__ADS_1
"KAKAK!!!!".
"Yayaya... kakak cuma bercanda".