
Tak lama kemudian Rifki datang kekamarnya, ia menemukan bahwa Nadhira sedang serius dalam membaca sebuah buku yang ada ditangannya sehingga Nadhira tidak menyadari kedatangan Rifki yang tengah menatapnya dari kejauhan.
Rifki begitu penasaran apa yang dibaca oleh Nadhira sehingga ia mendekatinya secara perlahan, ada sesuatu yang bergerak mendekatinya tetapi Nadhira tidak merasakan hal itu, sampai Rifki membaca buku yang ada ditangan Nadhira dengan keras.
"Alam gaib memang benar adanya, tetapi tidak untuk ditakuti keberadaan".
Nadhira begitu terkejut dan segera menutup buku tersebut, "Aa... Rifki, sejak kapan kau ada disini? Membuatku kaget aja".
"Sudah dari tadi, kamu sih terlalu fokus dengan apa yang ada dibuku itu, sampai sampai tidak mengetahui kedatanganku".
"Aku hanya penasaran tentang alam gaib aja, lagian kamu sih, hanya mengoleksi buku buku seperti ini doang".
"Karena aku suka".
"Apa yang kamu suka? Oh iya, apakah alam gaib itu benar benar ada didunia ini?".
"Disana banyak cewek yang cantik cantik, putih, mulus, dan banyaklah yang lainnya, Kamu benar Nadhira, tidak semua orang dapat melihatnya".
"Baiklah, tinggal saja dialam gaib, jangan kembali".
"Seandainya bisa, sudah dari dulu aku tinggal disana". Ucap Rifki begitu serius.
"Ihhh... Rifki kan aku cuma bercanda, kenapa harus ditanggapi dengan serius sih". Sambil mencubit lengan Rifki.
"auh... kan aku cuma bercanda Dhira, kenapa kamu menyakitiku". Rengek Rifki sambil mengusap usap lengannya yang telah dicubit Nadhira begitu kerasnya.
Rifki menjelaskan kepada Nadhira mengenai alam gaib yang ia ketahui dan pernah ia datangi sebelumnya seperti halnya desa Mawar Merah, menurut pandangan orang biasa tempat itu hanyalah sebuah tempat yang terbengkalai dan sudah lama ditinggalkan, akan tetapi berbeda dengan orang yang indranya terbuka, ia akan mampu melihat bahwa itu adalah desa termegah yang pernah ditemui sepanjang masa.
Bukan hanya hal itu, orang yang mampu melihat alam gaib seperti Rifki, orang itu akan mampu melihat sebuah istana megah yang tak jauh dari rumah Rifki, alam gaib itu sama dengan alam manusia, mereka juga memiliki kehidupan dan aktivitasnya masing masing.
"Alam gaib hanya dapat dilihat oleh orang orang tertentu saja, sedangkan alam manusia adalah alam nyata apa adanya, kita bisa menyentuh, melihat, dan merasakannya".
"Apakah dialam gaib semuanya adalah mahluk yang jahat?".
"Coba dibuka bukunya, lihat halaman ke 56".
Nadhira membuka kembali buku yang ada ditangannya, ia membaca dengan teliti, seperti halnya manusia ada yang jahat dan ada yang baik, tergantung bagaimana cara kita untuk memperlakukannya, jika kita tidak menganggu mereka, mereka tidak akan menganggu kita, kecuali memang mahluk itu suka sekali menganggu manusia.
"Bagaimana caramu bisa mengetahui kebenaran buku ini?".
"Perlu kamu tau Nadhira, aku adalah salah satu orang yang bisa melihat alam mereka dengan kedua mataku, menurut pandanganmu ditaman itu apakah ada seseorang yang tengah bermain". Rifki menunjuk kesebuah taman dibelakang markas tersebut melalu cendela terdekat dari tempat Nadhira dan Rifki terduduk.
"Tidak ada orang sama sekali Rif".
"Yang ku lihat disana ada dua anak kecil yang sedang bermain dengan bahagianya, seperti itulah alam gaib, dialam gaib begitu banyak mahluk yang menakutkan, dan berbagai macam bentuknya mulai dari siluman, hantu, dan banyak lagi".
Mendengar penjelasan dari Rifki, hatinya begitu merasa bimbang, jikalau mahluk gaib tidak akan menganggu sebelum ia diganggu mengapa mahluk yang ia temui mengganggunya dan ingin menguasai tubuhnya.
"Raka tolong bantu aku".
"Apa yang harus aku lakukan?". Ucap Raka yang hanya dapat didengar oleh Rifki.
__ADS_1
"Apa yang kamu bisa?".
"Em.... Mungkin membanting sebuah barang dengan energi yang ku punya? Atau tidak memberi energi dingin kepada dia".
"Baiklah, coba cara yang pertama, semisal sebuah buku?".
"Baiklah biar aku coba".
Rifki berbicara kepada Raka yang sedang ada disebelahnya, Nadhira mengira bahwa Rifki sedang berbicara sendiri, jelas jelas Nadhira tidak melihat sesuatu disebelah Rifki.
Bruak
Sebuah buku yang begitu tebal tiba tiba terjatuh dari tempatnya dan membuat Nadhira begitu terkejut dan menjerit ketakutan, bagaimana bisa sebuah buku yang begitu berat terjatuh tiba tiba tanpa adanya angin yang menerbangkannya.
"Raka!!! Itu buku kesayanganku, kenapa harus buku itu,,, aaaa.... Kan masih ada buku yang lain". Teriak Rifki.
Bruak...
"Jangan buku itu juga kali Raka!! Itu mahal tauk, aku membelinya dengan tabunganku sendiri".
Bhuk...
"Haduh karyaku!! Aaa... Aku menulis itu dengan susah payahnya dan kau berani beraninya menjatuhkannya ha?".
Ciarrr...
"Tidak!!! Aquariumku yang baru saja aku beli, Sudah hentikan!!! Bisa bisa kamar kesayanganku kau hancur leburkan semuanya".
Nadhira merasa merinding melihat Rifki yang terus berbicara sendiri dan melihat barang barang yang Rifki punya dikamar itu berserakan dimana mana, Nadhira hanya bisa mengigit bibirnya melihat hal itu.
"Rif? Apa kamu baik baik saja". Tanya Nadhira ketika melihat Rifki begitu marahnya.
"Pacarmu ini sudah tidak waras sayang, sebaiknya kau hati hati dengan dia". Ucap Raka pada Nadhira. "Ahhh... Aku lupa, dia tidak bisa mendengarku".
"Apa kau bilang?". Ucap Rifki dengan marahnya, seperti hendak menelan Raka hidup hidup
"Maaf, baiklah aku akan diam". Jawab Nadhira dengan sedihnya.
"Bukan kamu yang aku maksud Nadhira". Rifki menoleh kearah dimana Raka berada. "Pergi dari sini, tunggu saja diluar".
"Yayaya... Ngak usah berteriak juga kali, aku masih bisa mendengar dengan normal".
Brak...
Raka membanting pintu dengan kerasnya, Nadhira yang melihatnya hanya bisa diam membisu, bagaimana tidak, ia begitu merinding melihat itu, seakan akan benda benda tersebut bergerak dengan sendirinya. Apakah alam gaib itu begitu menakutkan seperti itu? Fikirnya.
Rifki hanya menghela nafas ketika melihat barang barangnya berserakan dimana mana, apalagi aquarium kecil yang baru saja ia beli sekarang hancur lebur menjadi serbuk kaca. Ia terduduk dilantai sambil memegangi kepalanya yang terasa sedikit nyeri.
"Rif!!!". Panggil Nadhira.
"Maaf atas perilaku Raka sebelumnya sehingga membuatmu takut, ia tidak bermaksud seperti itu kok, aku tadi hanya menyuruhnya untuk menunjukkan kepadamu bahwa alam gaib itu benar benar ada, tapi yang ia lakukan malah seperti ini".
__ADS_1
"Tidak papa kok Rif, baiklah aku akan membantumu membersihkan ini". Nadhira memunguti buku buku yang berserakan disekitarnya.
"Ngak usah Dhir, biar aku saja yang membersihkannya, ayo aku antar kamu pulang". Ajak Rifki.
"Tapi Rif".
"Sudahlah, bagaimana kalau keluargamu mencarimu, karena kamu tidak ada dirumah saat ini?".
"Baiklah".
Rifki mengantarkan Nadhira kerumahnya, setelah itu ia kembali kemarkasnya, ia mengambil nafas yang panjang dan segera membersihkan kamarnya, setelah selesai membersihkannya Rifki membaringkan tubuhnya dikasurnya.
"Aneh sekali, mengapa Nadhira tiba tiba menanyakan tentang alam gaib? Apa mungkin selama ini ia tau mengenai energi itu".
Rifki mengingat kembali apa yang terjadi sebelumnya, ketika ia mendatangi desa yang terbengkalai tersebut, seorang kakek tua membicarakan seorang gadis datang ketempat itu dengan sendirinya, ia bilang mengenai sebuah permata, dan jika permata itu ditelan oleh manusia maka manusia itu akan kehilangan jati dirinya.
"Apakah mungkin gadis yang dimaksud itu adalah Nadhira? tapi anehnya bagaimana mungkin sampai saat ini Nadhira masih terlihat baik baik saja, dan belum terpengaruh oleh permata itu, ada yang aneh dengan dirinya, tetapi mengapa ia tidak bisa membagi ceritanya kepadaku, jika ia bisa mengatakan hal tersebut mungkin aku bisa membantunya".
*****
Ketika Nadhira memasuki rumahnya, papanya begitu marah kepadanya karena Nadhira pergi dari rumah tanpa pamit, Nadhira merasa aneh mengapa papanya begitu marah, padahal setiap harinya ia tidak peduli tentangnya.
"Ada apa pa?".
"Kamu ini anak gadis, dari mana saja kamu, baru pulang siang hari seperti ini?".
"Mengapa papa begitu peduli denganku kali ini? Tetapi disaat nyawaku sedang melayang dan hampir tidak terselamatkan, papa sama sekali tidak menjengukku bahkan menanyakan kabarku, cukup aneh".
"Papa ngak mau tau, jangan sampai nama baik papa tercemar gara gara dirimu".
"Papa begitu peduli dengan nama baik? Tetapi papa sendirilah yang merusak nama baik itu".
Nadhira meninggalkan papanya yang sedang mengomelinya dan masuk kedalam kamarnya untuk istirahat, ia begitu lelah seperti sedang menanggung beban yang begitu berat dipundaknya.
Ketika melihat Nadhira memasuki kamarnya, bi Ira segera bergegas hendak menemuinya, bi Ira mengetuk pintu kamar Nadhira beberapa kali tetapi tidak ada respon dari dalam sehingga membuatnya nekat untuk masuk kedalam.
Ia menemukan anak angkatnya sedang tertidur dengan nyenyaknya diatas kasurnya, mendengar seseorang sedang membuka pintu kamarnya membuat Nadhira segera membuka kedua matanya.
"Ibu? Sejak kapan ibu ada disini?". Tanya Nadhira.
"Nak, kau dari mana saja, ibu sangat mencemaskanmu, tadi pagi ibu datang kekamarmu ternyata kau sudah tidak ada dikamar".
"Maafkan aku bu, aku pergi tanpa pamit kepadamu karena ada urusan yang mendadak".
"Ibu tidak mempermasalahkan hal itu, melihatmu kembali dengan selamat, ibu sudah merasa lega, lain kali kalau mau pergi bilang ya nak, jangan bikin ibu khawatir seperti ini".
"Iya bu".
"Ya sudah, ayo makan dulu nak". Ajak bi Ira.
"Aku sudah selesai makan kok bu, aku mau istirahat sebentar saja, badanku terasa begitu lelah".
__ADS_1
"Bentar ibu ambilkan minyak urut ya, biar ibu pijit biar ngak terasa lelah lagi".
Nadhira mengangguk, mungkin dengan begitu rasa lelahnya akan sedikit berkurang. Tak beberapa lama bi Ira datang kembali dan membawakan minyak urut untuk Nadhira, bi Ira dengan perlahan memijat pundak Nadhira, rasa hangat tersebut membuat Nadhira merasa begitu nyaman.