Apa Salahku Pa

Apa Salahku Pa
Desa Mawar Merah 2


__ADS_3

*masih Flash back*


Setyo adalah seorang petani didesa tersebut, usianya sekitar 40 tahunan dan memiliki 3 orang anak, 2 menantu, dan juga 2 orang cucu. Anak pertamanya bernama Nanang dan menantunya bernama Sari, ia memiliki dua orang anak yang mereka beri nama Puji dan Maya, anak keduanya bernama Suyitno dan menantunya bernama Maura, Maura saat ini sedang mengandung anak pertama.


Setelah perjalanan beberapa jam akhirnya keduanya tiba disebuah gua, gua tersebut tersembunyi dibalik semak semak berduri dan beracun. Setyo tidak mengerti mengapa ia harus diajak ketempat itu, ia memandang kesekelilingnya dan mendapati pohon yang rimbun.


Keduanya berdiri didepan gua tersebut, terlihat senyuman diwajah Kuswanto yang yang selama ini, ia jarang perlihatkan didepan semua orang, Setyo merasa begitu beruntung karena dapat melihat senyum Kuswanto yang begitu tampannya. Setyo merasa penasaran mengenai apa yang ada didalamnya sehingga membuat mantan kepala desanya mengajaknya ketempat seperti itu.


"Jagalah tempat ini, jangan biarkan orang lain mendekati tempat ini, hanya keturunanku yang bisa masuk kedalam gua ini, jika orang lain berani mendekati ketempat ini tanaman disini akan menyerangnya dan memberikan racun yang mematikan, Ingat! Kau adalah penerus kepala desa, hanya kau yang dapat kemari tetapi tidak akan bisa masuk kedalam gua tersebut". Kuswanto memberi peringatan kepada Setyo.


"Saya mengerti pak, kalau boleh saya tau, ada apa didalam?".


"Hanya seorang monster, dan beberapa iblis yang menjaga tempat ini, kamu tidak perlu khawatir karena mereka tidak akan menganggu kecuali mereka diganggu terlebih dahulu".


"Kenapa bapak memberikan saya tugas seperti ini? Apakah bapak akan pergi dari tempat ini?".


"Kau benar! Setelah hari ini, aku akan meninggalkan desa ini".


"Mengapa?".


"Ada banyak hal yang harus aku selesaikan dan harus aku lindungi, jaga desa ini dengan baik, jangan biarkan orang yang serakah mampu menguasai desa ini".


"Baik pak, ku harap suatu saat nanti, kita bisa bertemu kembali".


Kuswanto mengangguk dan menepuk pundak Setyo dengan pelan dan meninggalkan tempat tersebut, Setyo hanya mampu berdiam diri dan mematung ketika Kuswanto meninggalkannya sendiri.


Setelah lama akhirnya ia memutuskan untuk kembali kedesa, alangkah terkejutnya ketika ia sampai didesa tersebut, seluruh warga desa menangis dan mengatakan bahwa rumah yang dibangun oleh Kuswanto telah kosong tiada barang barang yang tersisa. Setyo memejamkan matanya dan menghela nafas panjang, didalam hatinya terasa begitu kosong.


"Apakah aku akan mampu menjaga desa ini seperti yang kau harapkan? Aku merasa kau tidak akan pernah kembali ketempat ini, dan aku merasa pertemuan kita kali ini adalah pertemuan terakhir kalinya".


Setyo meminta seluruh warga desa berkumpul diaula pertemuan, ia mengumumkan bahwa kepala desa sebelumnya pergi karena ada urusan yang tidak bisa ditinggalkan, dan mungkin tidak akan pernah kembali.


"Saya, sebagai pengganti kepala desa sebelumnya mulai sekarang, saya beserta keluarga besar akan menempati tempat tinggal pak Kuswanto, dan siapapun yang mempunyai masalah harap segera melapor kepada saya".


"Baik pak". Sahut semua orang.

__ADS_1


Setyo beserta istrinya dan anak ketiganya mulai tinggal ditempat kepala desa tersebut, kedua anaknya yang lain sudah memiliki rumah tangga sendiri tetapi masih tinggal disesa yang sama. Mulai saat ini, ia tinggal ditempat kepala desa sebelumnya, desa ini sudah berdiri hampir 5 tahun, dan baru kali ini Setyo merasa bimbang.


Ia menceritakan semua tentang perpisahannya dengan Kuswanto kepada istinya tercinta, karena ia tidak akan sanggup jika harus menanggungnya sendiri. Baginya masalahnya, istrinya berhak untuk mengetahuinya juga.


"Dek, apakah aku akan sanggup menjaga amanah dari pak Kuswanto".


"Ada apa mas?".


"Disuatu tempat terdapat sesuatu yang ia sembunyikan, dan aku harus bisa menjaganya dengan baik, bagaimana kalau aku gagal melakukan hal itu?".


"Selama hanya mas yang tau, semuanya akan baik baik saja".


Istrinya tersebut kepadanya dengan lembutnya sehingga membuatnya merasa begitu lega, tanpa ia sadari seorang warga desa telah menguping pembicaraan mereka, ia curiga karena sejak kepala desa yang baru kembali kedesa tersebut, ia mengalami perubahan yang begitu besar.


Karena rasa kecurigaan itu yang membuatnya menguping pembicaraan mereka, mendengar adanya sesuatu yang ia sembunyikan membuat rasa keserakahan didalam dirinya bangkit kembali, ia mengartikan bahwa sesuatu itu adalah sebuah harta yang disembunyikan.


Tanpa sengaja Setyo mengatakan bahwa hanya orang yang menjabat sebagai kepala desalah yang bisa mendatangi tempat tersebut, ambisi dari orang tersebut semakin besar hingga meminta bantuan kepada para dukun untuk membuat desa itu kekeringan, dan sering mengirim ilmu gaib kepada rumah Setyo.


Karena ilmu gaib tersebut membuat anak keduanya meninggal dengan tragis, dengan cara melompat dari sebuah tebing sehingga tubuhnya hancur, istrinya Maura merasa sangat terpukul karena kejadian tersebut. Istrinya saat itu sedang mengandung anak pertamanyanya, akibatnya ia mengalami keguguran.


Satu tahun kemudian, Ia menikahkan anak ketiganya, Burhan. Didesa tersebut banyak sekali mengalami musibah, mulai dari kekeringan, gagal panen, dan sebagainya. Ia tidak akan menduga bahwa hal ini akan terjadi, ia sudah melakukan berbagai macam cara untuk memulihkan kembali kondisi desa tersebut, tetapi ia selalu gagal.


Berbulan bulan ia terus melakukan usaha dan berdoa, agar desanya kembali seperti dahulu yang makmur dan sejahtera. Sampai cucu pertama dari anak ketiganya lahir didunia, kondisi desa tersebut belum juga kembali seperti semula.


Setyo mengumpulkan masyarakat setempat untuk membahas masalah ini, berbagai gagasan mereka ucapkan, tapi tak satupun cara yang mampu mereka temukan solusinya.


"Pak!! Bagaimana lagi ini pak, panen kita kali ini juga gagal, apakah akan terus begini, bisa bisa kita akan mengalami kerugian yang besar".


"Buah buahan yang kita tanam juga sudah diserang oleh hama".


"Pak tolong atasi hal ini, sebelum kita kelaparan".


"Pak carikan solusi terbaik untuk masalah ini, jika terus begini kita akan mati kelaparan pak!".


Banyak sekali warga setempat yang protes kepada Setyo, Setyo bingung harus bagaimana lagi, ia sudah berusaha semaksimal mungkin untuk menangani situasi ini, tetapi sama sekali tidak ada perubahan.

__ADS_1


"Saya sudah berusaha sebisa saya untuk hal ini, jika kalian mempunyai solusi terbaiknya maka katakan, saya akan melakukan hal itu". Ucap Setyo.


"Saya tau solusinya".


Tiba tiba muncullah seorang sepasang suami istri ditempat itu, Darma dan Ila, Keduanya yang datang begitu tiba tiba membuat pandangan semua orang tertuju kepadanya, mereka berjalan diantara masyarakat dengan angkuhnya.


"Solusi apa yang kau punya?". Tanya Setyo.


"Berikan harta yang disimpan oleh kepala desa sebelumnya kepada kami, itu adalah hak kami, jangan kau sembunyikan seorang diri, kau begitu serakah!". Ucap Darma tanpa basa-basi.


"Harta? Harta apa yang kau maksud? Bagaimana bisa aku menyembunyikan sebuah harta hanya karena keegoisanku?". Bantah Setyo.


"Kau terkenal dengan kejujuranmu, tapi mengapa kau begitu serakah?".


"Tidak ku sangka, pantas saja sejak kau menjabat membuat desa ini semakin sengsara".


"Kau ingat kematian anak mu ha? Bagaimana bisa seorang tiba tiba bunuh diri dan meloncat dari tebing begitu saja".


"Setyo, kau telah menggunakan ilmu hitam kepada desa ini, kau telah menyengsarakan rakyat, demi keserakahanmu, kau dan seluruh keluargamu tidak berhak untuk hidup".


Banyak sekali yang mengolok-oloknya, ia merasa begitu dihantui oleh beban yang sangat berat, kepergian Kuswanto menjadi pukulan yang begitu keras baginya, ia hanya berharap bahwa Kuswanto akan kembali kedesa ini dan memulihkan kembali desa ini.


"Kalian salah paham, saya tidak menyembunyikan hal tersebut, saya juga tidak menggunakan ilmu hitam yang kalian tuduhkan".


Warga begitu murka karena hasutan dari sepasang suami istri tersebut, Sehingga melempari Setyo dengan bebatuan dan membuatnya terluka parah, tidak hanya itu Setyo dan istrinya, anak keduanya, Suyitno dan juga menantunya ikut terseret dalam hal ini.


Anak ketiganya sewaktu itu sedang menjalankan tugas dari ayahnya berupa mengatasi kekeringan yang ada didesa tersebut, ia pergi keluar desa untuk meminta bantuan berupa air.


Seluruh keluarga tersebut dikumpulkan disebuah lapangan yang luas, tak lupa juga ia menyeret Vivi istri Burhan kedalam lapangan tersebut dan meninggalkan bayi mungil yang telah diberi nama Nimas didalam rumahnya seorang diri. Tiba tiba seseorang masuk kedalam rumah tersebut dan mengambil bayi mungil itu dan membawanya pergi.


Puji dan Maya adalah anak dari Nanang anak pertama Setyo, Usia puji hanya sekitar 7 tahunan, dan usia Maya sekitar 5 tahun. Keduanya juga ikut terseret dalam hal tersebut.


Dengan tragisnya mereka dibantai tanpa belas kasihan, darah mengalir deras dari tubuh mereka, dikejauhan terlihat seseorang yang berdiri diantara rimbunan pepohonan, ia memperhatikan hal tersebut dalam diamnya.


"Memang kekuasaan telah membutakan, sungguh tragis nasibmu, kau telah menyelamatkanku sebagai gantinya, anak ini akan membalaskan dendammu kepada mereka yang terlalu memiliki ambisi untuk menguasai suatu harta yang belum tentu ada".

__ADS_1


Orang itu mengusap kepala bayi yang ada ditangannya dengan lembut, ia memeluk bayi tersebut dengan erat dan membawanya pergi dari desa tersebut. Tak beberapa lama sampailah ia disebuah gubuk tua yang dihuni olehnya dan istrinya, setelah lelaki itu memberikan bayi yang ada digendongnya kepada sang istri, ia segera bergegas kembali kedesa tersebut.


__ADS_2