Apa Salahku Pa

Apa Salahku Pa
Taruhan


__ADS_3

Bagi Rifki hal ini bukanlah masalah biasa, hal ini akan berkaitan dengan perasaan Nadhira, dirinya mengetahui kemampuan dari Theo yang berada dibawahnya dengan mudah ia akan memenangkan sebuah perkelahian, tetapi jika hal ini menyangkut dengan perasaan Nadhira, ia tidak akan mampu melakukan hal itu.


Suasana ditempat itu semakin memanas karena adanya taruhan didalam sebuah pertarungan, taruhan itu menyangkut perasaan Nadhira dan juga Rifki, seluruh anak buah Rifki takut jika sampai bosnya dipisahkan dari Nadhira maka tidak ada yang akan bisa menenangkannya.


"Permainan macam apa ini ha!! Kau sama sekali tidak memiliki hati nurani dimana pikiranmu? dia mempunyai hati yang tidak bisa dipaksakan". Bayu berteriak memaki Theo.


Mendengar teriakan itu bukannya Theo merasa bersalah justru ia semakin menjadi jadi, ia sama sekali tidak mempedulikan ucapan Bayu, ia hanya ingin melawan Rifki dan memiliki Nadhira.


"Kau sama sekali tidak berhak untuk memaki diriku!!". Bentak Theo kepasa Bayu.


"Theo jangan keterlaluan kau!!".


Didalam ruangan tersebut perdebatan mulai dimulai, suasana didalam semakin memanas karena taruhan yang diajukan oleh Theo yang membuat pihak dari Rifki tidak terima akan hal itu.


"Cukup Theo!! Aku sudah mengakui bahwa diriku adalah pengecut, jadi batalkan taruhan itu, aku tidak ingin bertarung lagi, hentikan semua ini!!". Sela Rifki.


"Membatalkannya?? Bagaimana bisa!! Kalian sudah repot repot datang kemari, kenapa harus buru buru membatalkannya?". Jawab Theo.


"Theo jangan keterlaluan!! Bagaimana bisa seorang gadis jadi bahan taruhan antara kalian, meskipun kau menang sekalipun aku tidak akan mau bersamamu!! ingat itu!!". Nadhira mulai menyuarakan pendapatnya.


"Diamlah Nadhira, semakin berisik semakin hal ini tidak akan pernah selesai, bukankah ide ini tercipata dari dirimu ha?... Haha.... ". Theo tertawa menghadap kearah Nadhira.


"Aku tidak menyuruhmu mengadakan taruhan, jika kau memang mampu kenapa harus melakukan itu ha? ingin membuktikan bahwa dirimu hebat? bagiku kau hanyalah pengecut!!".


"Karena memang diriku hebat, dan jangan lupa!! kalian sendirilah yang datang kemari".


Nadhira membuang muka dari wajah Theo, ia begitu muak melihat tawa dari seseorang yang sedang berada dihadapan Rifki saat ini, Nadhira adalah manusia bagaimana bisa manusia disamakan dengan barang yang dapat dipertaruhkan.


Rifki hanya bisa menelan ludahnya sambil menggeleng gelengkan kepalanya, ia tidak bisa melakukan hal itu, bagaimanapun ia tidak ingin memaksa kehendak Nadhira dan memaksakan perasaanya.


Rifki begitu bingung harus bagaimana lagi ia melangkah untuk selanjutnya, jika Theo kalah kali ini seluruh anak buahnya akan melawannya karena mereka tidak terima bos mereka dikalahkan dalam markasnya sendiri, sementara jika dirinya kalah ia akan kehilangan Nadhira.


"Aku tidak mau melakukan itu!! Sudah cukup Theo, hentikan hal gila seperti ini". Ucap Rifki dengan tegasnya.


"Ah.... Nampaknya aku sudah menemukan kelemahanmu, memang benar perkataan orang bahwa kelemahan seorang lelaki berada pada wanitanya". Theo melirik kearah Nadhira yang sedang membuang muka dari wajahnya.


Perasaan Nadhira sekarang bercampur aduk, ia tidak ingin menjadi bahan taruhan yang akan membuat Rifki tertekan dalan tarungnya, ia yakin bahwa Rifki dapat mengalahkan Theo tetapi ia tidak yakin bahwa Rifki akan baik baik saja didalam markas itu.


Bisa jadi hal ini sudah direncanakan oleh Theo sebelumnya, dan bisa jadi didalam markas tersebut sudah dipasang jebakan yang akan membuat Rifki maupun dirinya terluka.


"Aku anggap permasalahan kali ini sudah selesai sampai disini, aku tidak mau mengorbankan perasaan seorang wanita". Ucap Rifki dengan tegas.


"Tidak semudah itu kau putuskan!!".


"Maumu apa sih sebenarnya!!". Tanya Bayu.


"Aku hanya mau Nadhira menjauhi Rifki".


"Tidak, kau tidak berhak untuk mengatur hidupku, aku tidak akan pernah menjauhi Rifki, aku tidak akan melakukan hal itu". Nadhira bangkit dari duduknya dan menatap Theo dengan tajam.


"Hanya Nadhira yang berhak memutuskan dengan siapa dia akan bersama, kau tidak berhak mengatur hidupnya". Kali ini Reno ikut angkat bicara.

__ADS_1


Theo tertawa mendengar ucapan tersebut, ia mengetahui bahwa kelemahan terbesar Rifki adalah satu satunya perempuan yang berada dimarkasnya saat ini, perempuan itu tidak lain adalah Nadhira.


Theo menyuruh Nadhira untuk duduk kembali karena lukanya, ia dapat melihat bahwa lutut Nadhira saat ini tengah terluka dan punggungnya telah cidera karena pukulannya.


"Aku masih bersikap baik denganmu karena kau sudah menamparku didepan banyak orang, aku bisa saja berubah fikirkan dan akan menyakitimu". Theo memandang Nadhira dengan senyuman yang menakutkan.


"Menyakitiku seberapa mampukah dirimu melakukan itu, melawanmu aku sama sekali tidak takut!! Kau bilang Rifki adalah pengecut, justru yang aku lihat dirimulah yang pengecut itu, kau boleh berusaha untuk memisahkanku dengan Rifki tetapi jangan paksa diriku untuk menjauh darinya". Ucap Nadhira dengan lantangnya.


"Apa yang kau bisa ha? Kau hanya seorang wanita dibentak dikit pasti akan menangis dan mengadu kepada orang tua, ingatlah lelaki jauh lebih kuat daripada wanita".


"Kau bilang wanita lebih lemah? asal kau tau Theo, wanita mampu melakukan apapun melebihi kekuatan seorang pria sekalipun, tanpa adanya wanita kau tidak akan pernah ada didunia ini". Teriak Rifki dan langsung melontarkan pukulan kepada Theo.


Pukulan Rifki jatuh tepat berada dipipi kanan Theo, sehingga membuatnya terpental, melihat dirinya yang hampir jatuh membuat Theo berusaha untuk bangkit kembali dari jatuhnya tersebut.


Theo mengusap pipinya yang berubah berwarna merah karena pukulan tersebut, setelah itu ia melirik kearah anak buahnya, orang yang diliriknya hanya mengangguk kearah Theo.


"Asal kau tau, kau tidak berhak untuk ku tangis, seorang lelaki sepertimu tidak pantas untuk dihormati".


"Theo, aku diam saja kau menghinaku, tapi jangan pernah menghina wanita!! Ingatlah kau lahir dari seorang wanita, dibesarkan oleh wanita, dan dididik oleh wanita, aku sangat membenci seseorang yang dengan beraninya menghina wanita didepanku!!". Sela Rifki yang merasa tidak terima atas ucapan yang dilontarkan oleh Theo.


"Jika kau tidak terima maka terima saja tantanganku!!".


"Aku sudah bilang, permasalah ini sudah selesai sampai disini".


Rifki berjalan mendekati Nadhira dan mengabaikan tawa itu, ia tidak peduli dengan apa yang akan dikatakan orang lain tentang dirinya yang ia pedulikan hanyalah perasaan Nadhira.


Theo memberi sebuah kode kepada anggotanya beberapa dari mereka mengangguk faham, sebelum Rifki sampai ditempat Nadhira, beberapa anak buah Theo mengarahkan pisau keleher Nadhira dan beberapa diantaranya mereka memegangi tangan Nadhira dengan erat, dan menjadikan Nadhira sebagai sandera.


"Nadhira". Teriak Vano, Reno, dan Bayu yang bersamaan.


"Diamlah, jangan coba sekali kali menguji kesabaranku Dhira, pisau itu lebih tajam daripada ucapanmu, jika kau ingin mati maka cobalah". Ucap Theo dengan mudahnya.


Seluruh anak buah Rifki terkejut melihat hal itu apalagi Bayu, mereka tidak akan menduga bahwa hal ini akan terjadi, sementara Nadhira memejamkan matanya karena tajamnya pisau itu.


Nadhira mencoba menggerakkan tangannya yang dipegang oleh anak buah Theo dengan erat, tetapi ia sama sekali tidak sanggup untuk melepaskan pegangan itu, lebih dari tiga orang yang tengah mengepungnya saat ini.


"Apa yang kau lakukan!!". Ucap Rifki dengan marah.


"Jika kalian mendekat kearah Nadhira, maka anak buahku akan mencelakakannya". Ujar Theo.


"Jika kau berani melukainya, aku tidak akan tinggal diam ingat itu!!". Ucap Rifki.


Theo lagi lagi memberikan sebuah kode kepada anak buahnya tersebut, anak buahnya yang mengerti akan maksud itu segera melakukan apa yang diperintahkan oleh Theo kepadanya.


"Akh...". Nadhira merintih kesakitan karena kedua tangannya dipegang erat oleh anak buah Theo hingga berbunyi seperti tulang patah.


"Dhira....". Ucap Rifki setelah itu ia memandang Theo dengan tatapan seakan akan ingin melahap Theo.


Dada Nadhira tiba tiba terasa begitu sakit dan kepalanya mulai terasa sedikit sakit, kejadian ini sering ia alami ketika tubuhnya akan diambil alih oleh mahkluk berbaju merah tersebut.


Nadhira menelan ludahnya dengan susah payah, ia menatap kearah Rifki berada dengan nafas yang memburu, Rifki dapat merasakan aura dari permata iblis tersebut.

__ADS_1


"Rifki". Panggil Nadhira dengan lirihnya.


Nadhira merintih kesakitan, bukan hanya tangannya yang sedang dipegang dengan erat oleh anggota Theo tetapi juga dadanya yang terasa begitu nyeri karena detak jantungnya yang terus bertambah cepat.


"Tidak Nadhira!! Fokuskan dirimu". Ucap Rifki kepada Nadhira.


Nadhira mengangguk pelan kepada Rifki, ia berusaha untuk bersikap setenang mungkin agar makhluk itu tidak keluar untuk menguasai dirinya dan dapat membahayakan dirinya dan juga orang orang yang ada ditempat itu.


"Kenapa gadis ini terus melawan untuk ku rasuki, hah... aura itu juga menghalangiku untuk masuk kedalam raga ini, ah sial". Ujar Nimas dan tidak ada siapapun dapat mendengarnya.


Sementara roh Nimas terus memaksa untuk memasuki tubuh Nadhira, ia tidak ingin jika pisau itu benar benar akan menggores leher Nadhira sehingga membuatnya tewas seketika, hal itu juga akan berpengaruh terhadap permata iblis yang berada didalam tubuh Nadhira.


"Jadi bagaimana?". Tanya Theo.


"Baiklah aku terima tantangan itu, tapi lepaskan Nadhira lebih dulu". Ucap Rifki dengan lantang.


"Apa yang kau katakan Rif?". Tanya Bayu.


"Ngak ada pilihan lain yang dapat aku ambil saat ini". Rifki menjawab pertanyaan dari Bayu dengan pelannya.


"Baiklah baiklah!! aku akan melepaskan Nadhira jika pertarungan ini sudah selesai". Ucap Theo dengan mudahnya.


Rifki kembali ketempat semula dihadapan Theo, tanpa aba aba kedua segera saling menyerang satu sama lain, perkelahian itu berlangsung cukup lama sehingga sulit dipastikan siapa yang akan menang.


Rifki dapat merasakan kemampuan dari Theo meningkat daripada sebelumnya ketika ia beradu dengan beberapa bulan yang lalu, tetapi Rifki masih mampu untuk menghadapinya.


"Kau memang hebat Rifki, tapi kemenangan kali ini pasti akan menjadi milikku, begitu juga dengan dia". Ucap Theo sambil menyerang Rifki.


"Aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi, Nadhira adalah milikku aku tidak akan membiarkan dia menjadi milik orang lain karena sebuah taruhan belaka". Jawab Rifki dengan mantapnya.


"Kita lihat saja nanti".


Keduanya terus bertarung, pertarungan itu begitu sengit dan begitu lama, pernafasan Theo mulai memburu sementara Rifki masih bernafas seperti biasa karena ia sering melatih pernafasannya.


Para penonton terus bersorak menyemangati dukungan mereka masing masing, tanpa Nadhira dan lainnya sadari salah satu anggota Theo mengeluarkan sebuah alat dari balik bajunya dan mengarahkannya kepada Rifki.


Tiba tiba Rifki merasakan sesuatu yang menembus kulit dan dagingnya dengan cepat, pandangannya kini sedikit memburam karena hal itu, Rifki tetap melawan Theo meskipun kepalanya begitu pusing. Dapat Rifki rasakan bahwa adanya sebuah jarum yang mengandung obat bius menancap ditubuhnya, Rifki berusaha untuk mencabut jarum tersebut.


"Gawat, mereka begitu curang bagaimana Rifki akan bisa melawannya". Ucap Raka.


Raka tiba tiba berada dimarkas tersebut, sebelumnya ia sedang bertemu dengan mahkluk lainnya untuk mencari tau mengenai kelemahan dari permata iblis karena perintah dari Rifki.


Ketika ia datang kemarkas, ia melihat Rifki sedang kehilangan kendali dalam tubuhnya, permainan tendangan dan pukulannya sedikit melemah daripada biasanya.


Karena kehilangan fokusnya membuat Rifki berkali kali terkena pukulan dan tendangan yang diberikan oleh Theo kepadanya, seluruh anak buah Rifki berteriak khawatir dengan keadan yang dialami oleh Rifki karena tidak seperti biasanya.


"Rifki....". Nadhira berteriak ketika melihat Rifki terus dipukuli oleh Theo sampai ia terbaring diatas matras.


Rifki masih berusaha untuk bangkit berdiri, ia tidak mau kalah dengan Theo kali ini, meskipun ia sudah terkena jarum bius tersebut. Ia menggerakkan tangannya berusaha untuk mencabut jarum tersebut, dan pada akhirnya ia mampu mencabutnya akan tetapi obat bius itu berhasil mengalir dari dalam darah yang ada ditubuhnya.


"Hanya segini kemampuanmu ha? Ayo bangun!!". Ucap Theo.

__ADS_1


Theo terus memukuli Rifki meskipun kondisi Rifki saat ini begitu lemahnya, rasa sakit didalam tubuhnya saat ini dapat ia rasakan dengan jelasnya.


"Kau curang Theo!!". Ucap Rifki dengan pelannya.


__ADS_2