Apa Salahku Pa

Apa Salahku Pa
Akhir kisah Apa Salahku Pa ( The end )


__ADS_3

Pemuda itu memperhatikan ketikan yang ditulis oleh Nadhira itu, "Ternyata rumah barumu itu lumayan jauh ya dari tempat ini, tapi ngak apa apa demi tugas negara yang harus disampaikan kepada Tuan Putri Nadhira dari Tuan Muda Rifki".


"Apa apaan sih kamu itu, lama lama kau juga seperti Rifki jadinya, suka banget ngegombalin orang".


"Siapa lagi dong kalau bukan Fajar gitu lo, kau tau aku akan terkenal disana karena telah berhasil menemukan alamat rumahmu Dhira" Ucap Fajar dengan sombongnya.


"Iya ya aku tau itu, kalian memang 11 12 lah, tidak ada bedanya sejak dulu, emang apakah selama ini kalian mencari alamat rumah baruku?".


"Is... kau tidak tau saja Dhira, kami bahkan sampai berlomba lomba untuk dapat menemukan dirimu lo Dhira, dan beruntunglah diriku yang bisa bertemu denganmu ditempat seperti ini, awalnya aku hanya ingin menenangkan pikiranku sejenak, tapi ketika melihatmu rasanya seluruh bebanku langsung menghilang saat itu juga".


"Seharusnya aku tadi tidak datang kemari, langsung saja datang ke markas Gengcobra, biar kau tidak terlalu sombong seperti ini".


"Yayaya semuanya juga sudah terjadi hehe... Sudah cepat pulang, aku telah mengirimkan alamat rumahmu itu kepada Bayu, dia akan segera mengirimkan hadiahnya kerumahmu setelah membaca pesan dariku, pulanglah sebelum ada orang lain yang membukanya terlebih dulu nanti kejutan itu tidak sepesial lagi bagimu".


"Baiklah, sampai bertemu lagi lain waktu".


*****


Bayu sedang bersantai digazebo yang ada dimarkas Gengcobra sambil memantau anggota Gengcobra lainnya yang sedang berlatih, tiba tiba hpnya berbunyi dan dia segera melihatnya.


Tertulis sebuah pesan didalamnya, "Bos aku sudah berhasil menemukan keberadaan dari Nadhira, ini adalah alamat rumahnya ______".


"Hebat juga nih Fajar, sudah lama aku tidak bertemu dengan Dhira, semoga Dhira baik baik saja selama ini, andai saja dia tau keadaan Rifki sekarang, tidak... Rifki pasti baik baik saja dan dapat pulang dengan selamat" Bayu menepis pikiran buruknya itu dan segera memanggil anak buah yang lainnya.


"Ada apa Bos?" Tiba tiba datanglah seseorang.


"Ikut aku sekarang, kita akan pergi".


"Baik Bos".


Bayu segera bergegas pergi dari tempat itu dengan beberapa anak buah yang mengikutinya dari belakang, kabar mengenai Rifki hanya diketahui oleh anggota Gengcobra yang inti saja, tidak ada yang boleh mengetahuinya dan kabar itu tidak boleh menyebar dimana mana.


Sejak kejadian dipesta ulang tahun Amanda waktu itu, anggota Gengcobra kehilangan jejak mengenai kepergian Nadhira, dan mereka tidak tau kemana orang itu membawa Nadhira pergi, hingga mereka mencarinya karena David sengaja menyembunyikan keberadaan dari Nadhira hingga tidak dapat ditembus oleh anggota Gengcobra.


Bayu segera menunjukkan alamat rumah Nadhira kepada sang supir dan dia segera mengangguk dan bergegas menjalankan mobilnya menuju kealam yang tertera didalam ponsel milik Bayu.


Setelah sekian lama perjalanan akhinya mereka sampailah disebuah rumah yang cukup besar, dari alamat yang ditulis oleh Nadhira membawa mereka menuju kerumah itu.


"Apa Nadhira tinggal disini?" Guman Bayu.


Bayu segera turun dari mobilnya menuju kegerbang rumah besar tersebut, Bayu segera mendatangi pos satpam yang ada digerbang rumah itu melihat kedatangan seseorang yang seperti orang kaya karena memakai pakaian dan jas yang sangat rapi dengan disertai kacamata hitam yang ia pakai, hal itu membuat Pak Santo segera mendekat.


"Maaf Pak kalau boleh saya tau apakah ini rumah Nadhira?" Tanya Bayu dengan sopan.


"Iya benar Mas, ada apa mencari Non Dhira".


"Apa Nadhira ada dirumah?".


"Non Dhira masih dalam perjalanan pulang Mas, silahkan tunggu didalam saja Mas".


Pak Santo segera membuka pintu gerbang tersebut agar mobil yang mereka naiki bisa melewati gerbang tersebut, Bayu mengangguk kepada Pak Santo dan segera masuk kedalam mobilnya, mobil itu pun segera menuju kehalaman rumah Nadhira yang luas.


"Siapa orang orang ini? Apakah mereka tamu penting untuk Non Dhira" Guman Pak Santo.


Bayu segera kembali keluar dari mobil tersebut diikuti oleh beberapa anak buahnya yang berjumlah sekitar 7 orang itu, Bayu terlihat begitu gagah dan disegani oleh anak buah yang ia bawa saat ini.


Tak beberapa lama kemudian akhirnya datanglah mobilnya yang dinaiki oleh Nadhira masuk kedalam halaman rumah itu, Bayu tersenyum kearah mobil tersebut yang ia yakini bahwa Nadhira ada didalamnya saat ini.


Nadhira yang ada didalam mobil itu begitu terkejut ketika mengetahui bahwa anggota Gengcobra sudah sampai dirumahnya, benar apa yang dikatakan oleh Fajar kepadanya kalau anggota Gengcobra akan langsung bergerak setelah mendapatkan alamat rumahnya.


Melihat Nadhira yang keluar dari mobil tersebut membuat Bayu tersenyum kearahnya, ketika Nadhira mendekat kepada mereka, mereka segera memberi hormat kepada Nadhira, melihat itu membuat Pak Mun dan Pak Santo hanya bisa membuka matanya lebar lebar.


"Hormat untuk Tuan Puteri Nadhira" Ucap Bayu.


Nadhira hanya bisa tersenyum haru kepada Bayu, begitu banyak yang berubah dari anggota Gengcobra menurut Nadhira, Bayu merasa bahagia ketika berhasil menemukan keberadaan dari Nadhira.


"Bayu, bagaimana kabarmu?" Tanya Nadhira.


"Seperti yang kau lihat Tuan Puteri, aku baik baik saja".


"Syukurlah, panggil aku seperti biasa saja Bay".


"Sesuai dengan perintah Tuan Muda kami tidak bisa membantahnya sedikitpun itu".


"Apa Rifki yang memerintahkan untuk memanggilku seperti itu?".

__ADS_1


"Dugaan anda benar, seratus untuk anda, kami ditugaskan untuk mengantarkan sebuah hadiah kepada anda, hadiah yang dikirim langsung oleh Tuan Muda".


Bayu segera memerintahkan kepada satu anak buahnya untuk mengambilkan hadiah tersebut yang ada didalam mobil, hal ini membuat orang yang diperintahkan segera bergegas mengambilnya, setelah itu ia memberikannya kepada Bayu.


Sebuah kotak yang berukuran 30x30 cm itu diserahkan oleh Bayu kepada Nadhira, Nadhira segera menerima kotak tersebut dengan hati hati, entah kenapa perasaan Nadhira begitu bahagia saat ini meskipun disatu sisi perasaan merasa tidak tenang.


"Apa kalian tidak masuk dulu?" Tanya Nadhira ketika Bayu berpamitan kepadanya.


"Maaf Tuan Puteri, lain waktu saja kami mampir, kami akan melakukan latihan malam sebentar lagi"


"Baiklah, terima kasih sudah memberikan ini kepadaku".


"Kami hanya menjalankan tugas negara saja".


Setelah berpamitan Bayu segera masuk kedalam mobilnya dan diikuti oleh anak buahnya, mobil itu lalu pergi meninggalkan rumah Nadhira hal itu membuat Pak Santo dan Pak Mun segera mendekat kearah dimana Nadhira berada.


"Non siapa mereka?" Tanya Pak Mun.


"Kenapa mereka buru buru pergi?"


"Eh apakah pemuda itu suka sama Non?"


"Cie Non dapat kejutan nih"


"Cie Non Dhira, pasti setelah ini hatinya berbunga bunga atau jangan jangan sudah bermekaran".


Pak Mun dan Pak Santo terlihat begitu heboh ketika melihat sebuak kotak ada ditangan Nadhira, keduanya tidak henti hentinya membuat Nadhira merasa malu karena ucapan keduanya.


"Sudah sudah kembali bekerja saja Pak" Ucap Nadhira dengan cemberutnya dan langsung bergegas pergi dari tempat itu.


"Cie Non Dhira"


Pak Mun dan Pak Santo tertawa melihat sikap Nona nya itu, Nadhira meninggalkan tempat itu dengan senyum senyum sendiri hal itu membuat Sarah yang melihat kedatangan Nadhira merasa ada yang aneh dengan Nadhira.


"Kenapa kau senyum senyum sendiri seperti itu? Apakah ada demit yang menempel pada dirimu lagi Nak?" Tanya Sarah yang baru turun dari tangga.


"Ngak apa apa Oma, yang ada mah bukan demit Oma, tapi wewe gombel" Ucap Nadhira dengan malu karena terpergok senyum sendirian.


"Eh apa ini? Apa ini sebuah kejutan? Dari siapa?".


"Bukan apa apa kok Oma".


"Apa an sih Oma, Dhira kembali kekamar dulu aja lah"


"Oma juga pernah muda Dhira, cie...".


"Oma" Keluh Nadhira.


Nadhira segera bergegas masuk kedalam kamarnya dan duduk diatas kasur empuknya, Nadhira segera membuka kotak tersebut dengan perlahan lahan.


Bau harum bunga mawar dapat tercium olehnya, Nadhira begitu terkejut ketika membukanya karena begitu banyak bunga mawar merah yang ditaruh didalamnya, dan masih ada sebuah kotak lagi didalam dengan beberapa bait kata diatasnya.


Bait itu bertuliskan



Bagaimana kabarmu Tuan Puteriku? Ku harap kau baik baik saja ya....


Sudah sekian lama kita tidak bertemu, mungkin kau terlihat begitu cantik sekarang....


Secantik bunga mawar ini, aku telah meminta Bayu untuk memilihkan dan memberikan bunga bunga yang indah ini untukmu....



Tak henti hentinya aku memikirkan dirimu Dhira, aku bisa merasakan apa yang kau lakukan selama ini....


Ku harap aku masih bisa bernafas untuk dapat melihat wajahmu nanti....


Jangan khawatirkan diriku disini, aku akan secepatnya kembali untukmu....



Jangan menangis, seorang putri cantik tidak baik jika meneteskan air matanya....


Aku sayang kamu Dhira, aku tidak ingin melihatmu terluka walaupun itu hanya luka kecil....

__ADS_1


Jaga dirimu baik baik ya, karena aku tidak bisa melindungimu dari sini....


Tersenyumlah untukku Dhira, aku sangat merindukan senyuman cantikmu itu...



Kinara



Begitulah isi dari beberapa bait itu, Nadhira membacanya dengan berlinangan air mata, ini adalah tulisan tangan Rifki, tulisan itu dibuat seindah mungkin untuk Nadhira.


"Aku akan menunggu kepulanganmu Rif, kembalilah dengan keadaan baik baik saja tanpa ada luka sedikitpun itu, aku juga sayang kepadamu".


Nadhira segera menghapus air matanya itu, dan mengambil sebuah kotak lagi yang ada didalam kotak besar tersebut, Nadhira segera membuka kotak yang lebih kecil itu dengan perlahan lahan.


Sebuah album terdapat didalamnya, Nadhira segera mengambil album tersebut dan membukanya, begitu banyak foto foto kebersamaan mereka didalamnya, dan didalam album itu terdapat foto wisuda Nadhira bersama dengan Rifki dan ada sebuah tulisan kecil dibawah foto itu yang bertuliskan "Maaf hanya ini yang bisa aku berikan kepadamu Dhira, ku harap kau tidak akan pernah melupakan diriku".


Nadhira memeluk album itu dengan eratnya, ia sangat merindukan sosok Rifki, melalui kata kata yang ditulis dalam kertas itu Nadhira mampu mengobati rindunya walaupun hanya sesaat saja, Nadhira juga menatap kearah bunga bunga indah yang begitu segar itu, seolah olah dirinya mampu merasakan kehadiran Rifki didekatnya.


"Kau selalu tau apa yang aku suka Rif, bunga bunga ini sangat indah untuk dilihat, seindah senyumanmu yang pernah kau berikan kepadaku, kau tau Rif? Begitu banyak rintangan yang telah aku lewati tanpa kehadiran dirimu selama ini, kau tau apa yang membuatku kuat selama ini? Iya, itu adalah dirimu dan aku harus tetap hidup sampai suatu saat dimana kita akan bersama, ku titipkan dirimu kepada Sang pencipta alam semesta, semoga Beliau selalu melindungimu dan menjagamu untukku,


Rifki, ini adalah hal tersulit bagiku untuk menghadapi kenyataan yang bagaikan mimpi buruk yang sama sekali tidak aku inginkan terjadi, hanya dengan secercah tulisan ini, kau mampu mengembalikan semangatku untuk tetap bertahan hidup didunia ini, aku tidak tau lagi apakah aku bisa bertahan atau justru akan menyerah pada takdir, begitu banyak cobaan yang telah aku lewati meskipun nyawaku yang menjadi taruhannya, aku tidak akan menyerah demi dirimu,


Rifki, ku harap kau baik baik saja disana, aku percaya kepada takdir bahwa ia sudah menuliskan takdir yang terbaik untuk kita berdua, apapun jalan takdir kita nantinya hanya Allah yang maha tau segalanya, kita hanyalah manusia lemah yang hanya mampu merencanakan tanpa tau akhirnya akan seperti apa".


Nadhira segera membaringkan tubuhnya di atas kasur tersebut, ia menatap kearah langit langit kamarnya, seketika kesejukan malam menyelimuti dirinya dan dia teringat tentang kebersamaannya bersama dengan Rifki sebelumnya.


Nadhira bertekat bahwa mulai sekarang dia akan lebih semangat untuk menjalani hari harinya yang penuh kehampaan itu, ia tidak akan menyerah dengan begitu mudahnya dan akan berusaha untuk menjadi yang terbaik dari hari sebelumnya.


Ia merasa iklas dengan ujian yang telah berlalu itu, meskipun akhirnya dia mengetahui bahwa Nadhira bukanlah anak kandung dari Rendi melalui sebuah kertas yang diberikan kepadanya itu, ia tidak tau siapa orang tuanya yang sebenarnya, ia akan berusaha untuk menemukan mereka suatu hari nanti.


"Benarkah tidak ada lagi penyesalan dihati? Semuanya sudah berlalu, harus lebih fokus ke masa depan yang akan datang"


Nadhira bertanya pada dirinya sendiri, bagi Nadhira segalanya telah berlalu dan kini ia harus fokus kepada masa yang akan datang dan ujian yang jauh lebih besar nantinya.


Nadhira hidup bahagia bersama dengan keluarga barunya, tiada hal yang lebih membahagiakan baginya selain kasih sayang yang dilimpahkan oleh Sarah kepadanya, yang pada akhirnya Sarah tetap menyayangi Nadhira dengan tulusnya.


Sejak kejadian siang itu, Rendi tidak pernah lagi masuk kedalam kehidupan Nadhira, Rendi sudah bahagia bersama dengan Amanda meskipun Rendi sangat merindukan sosok Nadhira akan tetapi dirinya tidak mampu untuk bertemu kembali dengan Nadhira karena Nadhira sudah tidak lagi ingin bertemu dengannya dan ia sangat berharap bahwa suatu saat nanti akan dapat berkumpul kembali dengan anak anaknya.


-The end-


Alhamdulillah akhirnya Author bisa menyelesaikan kisah ini, terima kasih atas dukungannya selama ini kepada karya ku


Author tidak berniat untuk menggantung ceritanyanya ya Readers, Author nyatakan bab mengenai "Apa salahku Pa" sudah selesai sampai disini




"Masih penasaran dengan kisah cinta Nadhira dan Rifki?"



"Apakah mereka akan bertemu lagi?"



"Bagaimana dengan Theo? Apa dia akan patah hati? Atau justru Rifki yang akan patah hati?"



"Bagaimana soal permata iblis itu? Ataupun soal keris pusaka xingsi nantinya?".



"Kapan Rifki akan pulang?".



Author :



Kisah masih berlanjut ya Readers, tapi dinovel lain, klik tanda pencari dan ketik "Cinta terakhir dalam hidupku" by.Riskejully

__ADS_1



Terima kasih sudah selalu setia kepada novel Author yang ini, lanjut dinovel selanjutnya juga ya


__ADS_2