
Nadhira nampak begitu ragu untuk meminjamkan tongkat kesayangannya kepada David, karena tongkat tersebut sangat tajam dan kecepatan untuk memanjang begitu cepat akan tetapi tidak ada salahnya jika David ingin mencobanya.
"Hati hati untuk memeganginya Om, tongkat ini sangat tajam dan kuat jika tanpa sengaja terkena kulit maka kulit Om akan tersayat karena benda seperti ini, dan sudah banyak darah yang menetes karena tongkat ini loh Om".
"Iya iya Om akan berhati hati, lagian kamu itu cewek kenapa sih harus mainan benda tajam seperti ini, bagaimana bisa orang terluka karena benda seperti ini itu tidak mungkin".
Sringgg...
"Akh... Dhira! Ada apa dengan benda ini, kenapa membuatku terkejut seperti itu, benda ini juga telah melukai tanganku".
Belum lima menit Nadhira memperingati David tentang tongkat itu, karena salah memegang membuat tongkat itu mendadak memanjang dan berhasil melukai tangan David dan untungnya luka tersebut tidak terlalu parah.
Entah Nadhira harus tersenyum atau bersedih karena tindakan David yang seakan akan meremehkan kemampuan dari kecepatan tongkat tersebut sehingga tongkat itu mampu untuk melukainya meskipun tidak terlalu parah.
"Haha... Dhira bilang juga apa Om, belum ada satu menit Om memegangnya sudah terluka kan tangan Om, ini tongkatnya agak sensitif Om, jadi jika tidak bisa memakainya dengan baik bisa jadi ini akan menjadi senjata makan tuan" Tawa Nadhira diatas penderitaan dari David.
David memberikan tongkat tersebut kembali kepada Nadhira setelah memanjang itu, Nadhira dengan sigap menerimanya dan segera memendekkan kembali tongkat yang telah memanjang itu dengan hati hati agar tidak mengenai tangannya.
"Tangan Om ngak apa apa?"
"Ngak Papa, hanya sedikit berdarah saja, Om ngak cengeng seperti Dhira juga kali".
"Dhira ngak cengeng Om, Dhira kan hanya tanya saja apa luka Om baik baik saja atau buruh diamputasi"
"Husss... Mulutnya"
"Hehe"
"Malah cengengesan lagi".
"Biarin lah, asal bukan nangisan".
Setelah tongkat itu memendek, Nadhira memasukkan kembali tongkat tersebut kedalam sebuah kotak yang telah diberikan oleh Bi Ira sebelumnya dengan sangat hati hati agar tongkat itu tidak memanjang tiba tiba.
"Kamu tidak bilang dari awal kalau benda ini sangat sensitif Dhira, kalau saja kamu bilang Om tidak akan pernah menyentuhnya tadi".
"Lagian Om sih ngak bertanya dulu, untung saja tidak ada racun dibesi pipih ini, kalau ada pasti rasa sakitnya akan bertambah".
"Kenapa jadi Om yang salah? Om kan ngak tau kalau benda ini bisa memanjang seperti itu".
"Mangkanya bertanya Om, jangan asal pegang aja, malu bertanya sesat dijalan loh Om, lumayanlah tongkatku bisa minum darah segar milik Om, lagian sudah lama banget tongkat itu tidak terkena darah".
"Emang tingkat ini biasanya minum darah orang?"
"Iya kalau pemiliknya mau darah orang menetes ya dia minum darah lah Om"
"Coba Om lihat seberapa hebatnya dirimu bermain tongkat".
"Ngak mau, aku masih belum bisa mengalahkan dirinya untuk bermain tongkat jadi aku belum hebat dalam bermain tongkat ini" Ucap Nadhira, Dia yang dimaksud oleh Nadhira adalah Rifki.
"Yee... Bilang aja kalau kamu juga takut untuk memanjangkan tongkat itu kan, soalnya kamu takut terluka seperti Om"
"Untuk apa aku menyimpannya dan mempelajari ilmu tongkat Om, jika aku takut untuk memanjangkannya sendiri, lagian tongkat ini juga milikku jelas lah aku mampu untuk mengendalikannya yang tiba tiba memanjang seperti tadi".
"Masak, Om ngak percaya".
"Terserah Om saja, ini benda kesayanganku jadi dia akan menuruti keinginanku"
Bi Ira dan Sarah tertawa mendengar percakapan keduanya mengenai besi yang dapat memajang itu, karena baru pertama kali mereka melihat besi tersebut, meskipun Bi Ira sering bersama dengan Dhira akan tetapi Dhira tidak pernah menggunakan benda itu sebelumnya.
"Kenapa kalian berdua malah tertawa?" Tanya David kepada Bi Ira dan Sarah.
"Kamu ini ada ada aja Dav, sudah tau ini masih di wilayah rumah sakit, masih saja menyuruh Nadhira untuk menunjukkan bakatnya tentang tongkat itu" Ucap Sarah.
"Tau nih Om"
"Sudah sudah ayo masuk".
David segera masuk kedalam mobilnya, dirinya duduk disebelah sopir pribadinya, sementara Nadhira tak kunjung masuk juga, Nadhira lebih memilih menatap kearah Ibu angkatnya.
"Dhira ayo masuk, kita akan menuju kerumah barumu" Ucap David.
"Masuklah Nak, mereka menunggumu" Ucap Bi Ira menyuruh Nadhira masuk kedalam mobil tersebut.
"Lalu Ibu akan tinggal dimana?" Tanya Nadhira.
"Mungkin Ibu akan kembali tinggal dipanti bersama dengan Fika, atau mencari pekerjaan lainnya".
"Bagaimana kalau Ibu tinggal bersama kita".
"Tidak Nak, Ibu tinggal dipanti saja".
__ADS_1
"Tidak! tidak boleh, Ibu ikut aku saja".
"Apa yang kamu katakan Nak? Kenapa kamu mengajak dia tinggal bersama dengan kita? Apa kamu tidak salah mengajak orang" Sarah menyela pembicaraan keduanya, Sarah begitu terkejut ketika mengetahui bahwa Nadhira mengajak Bi Ira untuk tinggal bersamanya dirumahnya.
Sarah seakan akan tidak menyukai kehadiran dari Bi Ira dirumahnya, apalagi dengan latar belakang Bi Ira yang hanya seorang anak yatim piatu dan tinggal dipanti asuhan sejak kecil, apalagi dirinya yang hanya bekerja sebagai pembantu rumah tangga dirumah Nadhira saat ini.
Sarah hampir tidak mempercayai bahwa cucunya itu begitu dekat dengan seseorang yang bahkan dia adalah pembantu rumah tangganya, apalagi dengan Nadhira yang memanggilnya dengan sebutan Ibu.
"Kenapa dengan Ibu angkatku Oma? Dia kan bukan orang jahat" Tanya Nadhira dengan memincingkan sebelah matanya.
"Tapi Nak, dia berbeda dengan kita"
"Apa Oma tidak setuju jika Ibu Ira ikut tinggal bersama dengan kita?"
"Tidak, Oma tidak setuju".
"Baiklah kalau begitu, Dhira permisi, Dhira akan ikut bersama Ibu Ira dipanti, Dhira merasa bahwa Dhira juga tidak pantas untuk tinggal bersama Oma" Nadhira mengenggam erat tangan Bi Ira.
"Dhira apa yang kau lakukan" Tanya Sarah ketika melihat tindakan Nadhira.
"Nak apa yang kau katakan? Mereka juga adalah keluargamu, dan Ibu dari sahabatku Lia, kenaoa kau mengatakan hal itu?" Tanya Bi Ira.
"Aku hanya mau tinggal bersama Ibu Ira, aku tidak ingin berpisah dengan Ibu biar bagaimanapun keadaannya nanti, aku tidak ingin meninggalkan Ibu" Ucap Nadhira sambil menghadap ke arah Bi Ira.
"Dhira masuk ke mobil sekarang!" Sarah memberi perintah kepada Nadhira.
"Tidak Oma, Dhira tidak mau, Dhira hanya mau tinggal bersama dengan Ibu Ira".
"Dhida masuk!"
"Aku tidak ingin tinggal bersama dengan orang yang tidak bisa menghargai orang lain hanya karena kedudukannya, untuk apa aku hidup dengan kemewahan harta dunia yang melimpah akan tetapi aku tidak bisa bersama dengan orang yang aku sayangi, Mama Lia sendiri tidak pernah membeda bedakan seperti itu" Ucap Nadhira dengan tegas.
"Sudah Oma biarkan Bi Ira tinggal bersama Oma, lagian selama ini Bi Ira yang selalu ada untuk Nadhira disaat suka maupun duka dan selalu menjaga Nadhira selama ini" Ucap Nandhita.
"Tapi dia kan..."
"Oma, Bi Ira juga adalah sahabat dari Mama, dia tidak mungkin berbuat sesuatu dengan Oma ataupun Dhira nantinya".
"Baiklah kau boleh tinggal bersama kami, tapi kau hanya bekerja disana dan memenuhi kebutuhan dari Nadhira" Pasrah Sarah.
"Terima kasih Nyonya" Ucap Bi Ira dengan senangnya.
Nadhira hanya tersenyum kearah Sarah sesaat, setelah itu Sarah menyuruh keduanya untuk masuk kedalam mobil karena mereka sebentar lagi akan berangkat menuju ketempat dimana Nadhira akan tinggal sekarang.
"Terima kasih Oma, Oma yang terbaik deh pokoknya" Ucap Nadhira dengan senyuman yang mengembang diwajahnya.
"Sama sama sayang" Ucap Sarah sambil mengecup kening Nadhira dengan sayang.
Mobil melaju dengan kecepatan normal, didalam mobil tersebut Nadhira banyak bercanda gurau dengan Nandhita, karena keduanya tidak pernah melakukan itu selama ini sehingga terlalu banyak kisah yang harus diceritakan dengan Nandhita.
Didalam mobil tersebut nampak terlihat begitu ramai dengan suara Nadhira yang hadir didalam mobil tersebut, ketika sedang berada dengan Nandhita saat ini Nadhira mampu menunjukkan wajah cerianya didepan banyak orang.
Setelah sekian lama berada diperjalanan akhirnya mobil mereka masuk kedalam sebuah halaman rumah yang cukup luas, halaman rumah tersebut dijaga oleh beberapa satpam digerbangnya dan nampak seperti sebuah bangunan yang berharga.
"Selamat datang dirumah barumu Nak" Ucap Sarah.
"Ini rumah Oma? Terlihat seperti istana yang megah Oma" Ucap Nadhira sambil menatap kearah sekitar rumah tersebut melalui cendela mobil.
"Iya dong sayang, dan kaulah seorang ratu dirumah ini sekarang, mulai sekarang Dhira akan tinggal dirumah ini bersama dengan Oma" Ucap Sarah.
"Kenapa rumahnya begitu luas Oma? Apakah ada banyak orang yang tinggal didalamnya?"
"Oma dan Dhira saja, yang lainnya juga adalah pekerja dirumah Oma"
"Lah Om ngak ikut tinggal didalam?" Tanya Nadhira kepada David.
"Ngak, Om pulang kerumah, kan Om sudah punya istri dan anak juga" Jawab David.
"Oh seperti itu".
Halaman rumah tersebut begitu luasnya sampai sampai Nadhira seperti terlihat begitu kecil ditempat seluas itu, Nadhira juga terkejut ketika mendengar bahwa hanya dirinya dan Sarah yang menempati rumah sebesar itu dan yang lainnya adalah pembantu dan satpam yang ada disana.
"Kak Dhita ngak tinggal disini juga? Kenapa?" Tanya Nadhira kepada Nandhita.
"Ngak Dek, Kakak akan tinggal bersama Nenek dan Kakek, kasihan mereka nanti kalau Kakak tinggal"
"Yah ngak seru dong ngak ada Kak Dhita".
"Kan ada Oma" Sela Sarah.
Nadhira hanya tersenyum menatap kearah wanita paruh baya tersebut dengan tulusnya, setelah itu Sarah menyuruh mereka untuk turun dari mobil agar Nadhira bisa melihat lihat tempat tinggalnya yang baru itu.
__ADS_1
Nadhira melangkah dihalaman rumah yang besar itu dengan perasaan bahagianya karena dirinya melihat ada beberapa tanaman bunga mawar yang menghiasi rumah tersebut, Nadhira sangat menyukai bunga bunga apalagi bunga itu adalah bunga mawar.
Nadhira mendekat kearah bunga bunga yang bermekaran itu dan menunduk dihadapan salah satu bunga yang menurut Nadhira paling besar daripada yang lainnya.
"Kenapa Oma menanam bunga begitu banyak disini? Apa Oma juga suka bunga?" Tanya Nadhira yang tidak bisa mengalihkan pandangannya dari bunga.
"Kenapa tidak? Oma sangat suka dengan bunga, serasa damai begitu kalau melihatnya, apalagi ketika bunga bunga ini bermekaran, termasuk bunga kemuning itu? Jika mekar bau harumnya sampai kedalam rumah" Jawab Sarah.
"Dhira juga suka bunga tapi Dhira baru dengar ada yang namanya bunga kemuning, bunganya seperti apa itu Oma?".
"Kalau sekarang belum mekar, bunganya warna putih kecil gitu, tapi baunya sangat harum"
"Pasti bunganya cantik banget Oma, sampai sampai baunya tercium dimana mana"
"Iya dong".
Nadhira kembali fokus kepada beberapa bunga yang ada ditempat itu, ada bunga mawar, bunga asoka, bunga melati, bunga sepatu, bunga anggrek dan lain sebagainya masih banyak lagi yang ditanam ditempat itu.
"Dihalaman belakang ada kolam ikan dan ada bunga teratainya juga, apa Dhira mau melihatnya? Sini biar Oma tunjukkan tempatnya kepada Dhira".
"Benarkah Oma? Dhira ingin melihatnya, Dhira belum pernah melihat bunga teratai dengan dekat" Nadhira sangat berantusias ketika mendengar bahwa dirumah tersebut juga terdapat kolam ikan.
"Ayo, ikuti Oma, bunganya bagus banget Oma suka".
"Ayo Oma" Ucap Nadhira dengan semangatnya.
Sarah segera bergegas meninggalkan tempat itu menuju kehalaman belakang rumah tersebut diikuti oleh Nadhira dibelakangnya, sesekali Sarah bercerita kepada Nadhira dan Nadhira hanya mendengarkan apa yang diceritakan oleh Sarah dapat dilihat bahwa sesekali Nadhira tertawa.
Tak beberapa lama kemudian akhirnya mereka sampai juga ditempat tujuan keduanya, Nadhira segera berlari menuju ketepi kolam ikan tersebut dan melihat ikan ikan yang sedang berenang renang didalamnya dengan gembiranya.
"Oma, ikannya besar besar ya, bunga teratainya juga indah sekali"
"Kamu suka Dhira?"
"Suka Oma".
Ketika Nadhira masih fokus dengan ikan ikan tersebut tiba tiba David mendatangi keduanya, David terlihat buru buru seperti sedang ada sesuatu yang penting.
"Ma, aku pulang dulu ya, sudah lama aku tidak pulang kerumah, Anis pasti merindukan aku" Ucap David.
"Iya Nak, hati hati dijalan, sampaikan kepadanya juga, kapan kapan main kesini ya"
"Iya Ma, nanti aku ajak Chika sekalian".
David segera berpamitan kepada Sarah dan juga Nadhira, setelah itu dia bergegas masuk kedalam mobilnya lagi, mobil tersebut segera bergegas meninggalkan rumah tersebut.
"Oma, Anis itu siapa?"
"Dia Tante kamu Dhira, istri dari David, terus Chika itu anak mereka berdua dan cucu Oma".
"Oh.. Chika itu umur berapa Oma?".
"Mungkin masih umur 15 tahunan Nak, nanti kalau keluarga kita sudah berkumpul, Oma kenalkan kamu dengan mereka satu persatu".
"Iya Oma"
Nadhira kembali memandangi ikan ikan tersebut, dirinya juga memberi makanan kepada ikan itu, sementara Sarah dirinya duduk digazebo yang tidak jauh dari tempat Nadhira berada.
Terlihat seorang pembantu mendekati Sarah dan menaruh beberapa cemilan dan minuman diatas meja yang ada digazebo tersebut dengan perlahan lahan setelah itu pembantu tersebut kembali masuk kedalam rumah yang besar itu.
"Dhira! Kemarilah" Ucao Sarah sambil melambaikan tangan kepada Nadhira.
"Iya Oma"
Nadhira segera bangkit berdiri dan berjalan menuju kearah gazebo yang dimana Sarah saat ini sedang berada, sesampainya digazebo tersebut Nadhira segera duduk disamping Sarah.
"Ada apa Oma?"
"Nih cemilan, kamu makan gih, Oma mau masuk kedalam dulu, nanti kalau Dhira buruh apa apa panggil Bi Sari saja ya, biar Bi Sari menunjukkan dimana kamarmu berada".
"Iya Oma, Oma tenang saja, apa Kak Dhita masih berada didalam Oma?"
"Dia didalam, biasa lagi rebahan sambil mainan hp"
"Apa Kak Dhita biasanya datang kemari Oma?"
"Iya, kadang kala dia datang kemari untuk menengok Oma, tapi ya begitu".
"Begitu gimana Oma?"
"Kemari cuma sebentar saja untuk menengok Oma nya, setelah itu dia balik pulang".
__ADS_1
"Kalau begitu aku mau menemui Kakak dulu Oma, dia telah berjanji sesuatu denganku, aku akan menagihnya sekarang".
...Jangan lupa like dan dukungannya 🥰 terima kasih, Selamat menjalankan ibadah puasa...