
Panji tidak segera meminumnya melainkan memainkan telunjuknya diujung gelas tersebut, entah apa yang ia pikirkan saat ini, dirinya tiba tiba tersenyum entah kepada siapa senyum yang sangat sulit untuk diartikan.
Panji sangat mengenali obat tersebut, obat itu tidak akan berpengaruh kepadanya karena tabib tersebut seting memberikan obat itu kepadanya ketika dirinya tidak sadarkan diri dalam waktu yang cukup lama.
"Baiklah berikan kepadaku, biar aku meminumnya agar kau percaya kepadaku bahwa aku tidak meracunimu melainkan memberikanmu obat yang telah diresepkan oleh tabib itu". Ucapnya lagi sambil merebut gelas tersebut dari tangan Panji.
Melihat Indah yang hampir menyentuh gelas tersebut hal itu membuat Panji langsung menggerakkan tangannya kebelakang agar Indah tidak dapat meraih gelas tersebut dari tangannya, justru apa yang dilakukan oleh Panji tersebut membuat wajah Indah dan dirinya bertatapan dengan jarak beberapa senti saja karena Indah mencoba meraih gelas yang ada ditangan Panji itu.
Pandangan keduanya bertemu dengan jarak yang begitu dekat, Indah memandangi wajah Panji yang begitu dekat dengannya begitupun sebaliknya, ia tidak menyangka apa yang dilakukannya membuat wajahnya berjarak beberapa senti dari Panji.
"Untuk apa aku takut dengan racun, sementara didalam tubuhku masih ada racun yang jauh lebih ganas, lalu kenapa kau justru yang terlihat pucat saat ini Indah?". Panji menatap kearah Indah dengan tajamnya.
Indah merasa malu ketika ditatap seperti itu oleh Panji, ia segera mengalihkan pandangannya dari wajah Panji saat ini, Indah dapat merasakan bahwa detak jantungnya bertambah keras ketika berhadapan dengan Panji saat ini.
Begitupun dengan Panji, kedua duanya merasakan sesuatu didalam jantungnya ketika saling bertatapan seperti saat ini, detak jantung tersebut tidak mampu untuk dikondisikan saat ini hal itu juga membuat Panji membuang muka dari wajah Indah.
"Apa kau sakit Indah? Kenapa kau terlihat begitu pucat saat ini?". Tanya Panji lagi kepada Indah.
Panji mencoba untuk meraih kening Indah untuk memeriksa suhu tubuhnya, Panji merasa cemas ketika merasakan bahwa suhu tubuh Indah meningkat dan jauh dari kata normal.
"Aku ngak apa apa kok, hanya sedikit kelelahan saja, nanti juga akan membaik dengan sendirinya". Jawab Indah singkat.
"Apakah karena menghawatirkan diriku? Aku sudah mengatakannya kepadamu Indah, jangan khawatirkan diriku, aku pasti akan baik baik saja, aku tidak akan mati dengan mudah hanya dengan racun ini". Ucap Panji dengan rasa bersalahnya.
"Bagaimana aku bisa tidak menghawatirkan dirimu Panji, sedangkan kau sendiri tidak kunjung sadarkan diri dalam waktu yang cukup lama, oh iya apa yang ingin kau tanyakan kepadaku tadi?". Ucap Indah kembali menatap kearah Panji.
"Sudah lupakan saja apa yang ingin aku tanyakan kepadamu tadi, karena aku sudah mengetahui jawabannya saat ini".
"Apa yang kau ketahui tentang itu?".
"Sangat sulit untuk mengatakannya". Panji kembali menyodorkan gelas yang ada ditangannya kepada Indah saat ini. "Minumlah, kau lebih membutuhkan obat ini daripada diriku, aku sudah mengetahui zat apa yang terkandung didalamnya, dan obat ini sama sekali tidak akan berpengaruh kepadaku saat ini, justru obat ini akan berpengaruh kepadamu".
Indah menerima gelas tersebut dengan kebingungan, ia tidak mengerti tentang apa yang sedang dikatakan oleh Panji kepadanya saat ini, bagaimana bisa obat obatan itu tidak berpengaruh kepadanya.
Obat itu jelas jelas diberikan oleh tabib kepadanya untuk diberikan kepada Panji ketika Panji sudah sadar nantinya, bagaimana bisa Panji berkata bahwa obat itu tidak berpengaruh kepadanya.
"Kau tenang saja, tidak akan terjadi sesuatu kepadaku jika aku tidak meminum obat ini nantinya, sekarang minumlah".
"Tapi....".
"Minumlah Indah, kesehatanmu lebih penting daripada diriku saat ini".
"Baiklah".
Indah memandangi obat tersebut, ia sangat ragu untuk meminumnya bukan hanya bau yang tercipta dari obat tersebut akan tetapi dirinya belum siap untuk merasakan rasa pahit yang ditimbulkan dari obat yang ada ditangannya itu.
Pandangan teralihkan dari gelas tersebut menuju kewajah Panji, Panji mengangguk mengiyakan apa yang ia katakan sebelumnya kepada Indah bahwa obat tersebut sangat dibutuhkan oleh Indah daripada dirinya sendiri.
Melihat Panji yang mengangguk kepadanya dan tersenyum tipis membuat Indah tanpa berpikir panjang segera menempelkan gelas tersebut kepada ujung bibirnya.
Glek glek glek
Indah segera meneguk minuman yang telah diberi obat tersebut atas perintah dari Panji, Panji hanya bisa tersenyum ketika melihat itu, obat tersebut sangat pahit sehingga membuat Indah ingin memuntahkan obat itu.
__ADS_1
"Jangan dimuntahkan Indah, tahanlah nanti rasanya pahitnya akan menghilang dengan sendirinya seiring berjalannya waktu".
"Bagaimana kau tau hal itu?". Ucap Indah dengan ekspresi kepahitan setelah meminum obat itu.
Panji tertawa sambil menggeleng gelengkan kepalanya mendengar pertanyaan dari Indah, Indah memang tidak pernah melihat Panji meminum obat tersebut lantas bagaimana bisa dirinya mengetahui rasa dari obat tersebut.
"Kenapa kau malah tertawa bukannya menjawab pertanyaanku tadi?". Ucap Indah dengan rasa cutiganya dengan tawa Panji.
"Itu adalah obat yang sama, yang diberikan oleh tabib itu kepadaku sebelumnya, meskipun aku tidak sadarkan diri akan tetapi aku dapat mengetahui rasa obat yang diberikan kepadaku, memang rasanya pahit tapi itu memiliki manfaat yang cukup besar, begitupun dengan suara tangismu disampingku sebelumnya aku dapat mendengarnya dengan sangat jelas".
Meskipun dalam keadaan tidak sadarkan diri, Panji dapat mengenali rasa obat yang telah diberikan kepadanya, pahit obat obatan itu telah ia rasakan sebelumnya dan ia dapat mengetahui bahwa obat obatan tersebut tidak akan berpengaruh kepadanya.
Obat obatan itu tidak akan berpengaruh kepadanya karena racun yang ada didalam tubuhnya bukanlah racun ular biasa melainkan racun siluman ular yang mampu merenggut nyawa seseorang dalam sekejab tanpa adanya penawar untuk menetralkan efek racun ular itu sehingga obat itu akan sia sia ketika diminum olehnya.
Obat itu bukanlah obat untuk menetralkan racun melainkan obat untuk menambah stamina tubuh dan menjaga kekebalan tubuh, sehingga Indah lebih membutuhkannya daripada Panji karena Indah terlihat begitu pucat dan tidak bertenaga.
Dari baunya saja Panji sudah mengetahui bahwa ada beberapa bahan bahan herbal yang terdapat dalam obat tersebut sehingga obat itu akan aman ketika dikonsumsi oleh Indah.
"Apa kau mendengar semuanya apa yang aku katakan kepadamu sebelumnya?". Tanya Indah dengan terkejut sekaligus begitu malu jika Panji memang dapat mendengar suaranya.
"Iya, aku mendengar semuanya apa yang kau katakan ketika berada disebelahku, terima kasih telah hadir dalam kehidupanku saat ini, sekarang aku semakin yakin, bahwa perasaanmu kepadaku begitu tulus dan suci kepadaku".
"Apa kau akan meninggalkanku nantinya? Setelah bertemu dengan wanita lain diluar sana? Bukankah kau bilang kepadaku waktu itu bahwa ada wanita lain yang bisa membuatmu jatuh hati kepada wanita itu". Tanya Indah dengan sedihnya.
"Bagaimana bisa aku meninggalkan dirimu saat ini Indah? Sementara diriku masih berada didalam ikatan yang sangat sulit untuk dilepaskan seperti itu". Ucap Panji sambil menatap kearah kakinya.
Indah menatap kearah yang sama seperti yang Panji lakukan saat ini, ekspresi sedihnya langsung berubah menjadi sebuah tawaan ketika melihat Panji yang masih berada didalam ikatan tali yang telah ia lilitkan kepada salah satu kakinya.
Perubahan ekspresi wajah Indah yang mendadak tiba tiba membuat Panji mengerutkan dahinya dengan perubahan yang diberikan oleh Indah kepadanya tersebut, sangat sulit untuk memahami sikap dan sifat seorang wanita bagi dirinya.
Panji sama sekali tidak mengerti mengapa ekspresi wajah Indah tiba tiba berubah seperti itu, dirinya yang tidak pernah berbicara kepada wanita lain membuatnya sangat bingung untuk mengartikan bahasa wanita.
"Baguslah, lebih baik seperti itu agar dirimu tidak pergi lagi dari sini, membuat orang khawatir saja".
"Apa kamu tega melihatku diikat seperti ini?". Tanya Panji dengan ekspresi cemberut.
"Aku lebih tega melihatmu seperti ini, daripada harus melihatmu kesakitan seperti sebelumnya".
Panji langsung diam seketika mendengar ucapan Indah, memang sebelumnya dirinya sangat kesakitan karena sosok seseorang telah melakukan sesuatu kepadanya dibawah alam sadarnya, rasa sakit itu begitu mencengkeramnya dengan erat.
Akan sangat sulit baginya untuk meminta Indah melepaskan ikatan yang ada dikakinya itu, apalagi Indah yang mengungkit kejadian sebelumnya yang terjadi kepada Panji sehingga membuat Panji terus memberontak kesakitan itu.
"Lalu bagaimana kalau aku ingin buang air kecil saat ini? Aku sudah tidak tahan lagi". Tanya Panji dengsn berharap Indah melepaskannya.
"Buang saja disitu apa susahnya sih?". Jawab Indah sambil mengalihkan pandangannya.
"Kau yakin menyuruhku untuk membuangnya disini bagaimana kalau nanti bau disini?".
"Baiklah baiklah, akan aku antarkan dirimu kekamar mandi". Pasrah Indah.
"Anak yang baik". Puji Panji kepada Indah.
Panji merasa senang ketika mendengar ucapan Indah bahwa dirinya akan dilepaskan olehnya saat ini, akan tetapi kesenangan itu perlahan lahan memudar dengan apa yang dilakukan oleh Indah saat itu.
__ADS_1
Indah segera melepaskan ikatan tali yang ada dikayu tersebut tanpa melepaskan ikatan dikaki Panji, Panji benar benar tidak habis pikir dengan apa yang dilakukan oleh Indah untuk melepaskan dirinya, memang ikatan tali itu dilepaskan oleh Indah akan tetapi bukan melepaskannya dari kaki Panji.
Indah segera memegangi tali yang ada ditangannya itu dengan erat, sementara Panji mulai berjalan dengan salah satu kakinya yang masih diikat oleh Indah dengan wajah cemberutnya dengan apa yang dilakukan oleh Indah kepadanya.
Panji sama sekali tidak bisa berbuat apa apa jika dihadapan Indah, dirinya hanya bisa pasrah dengan apa yang akan dilakukan oleh Indah kepadanya agar Indah tidak merasa sedih karena dirinya.
Keduanya berjalan menuju kekamar mandi dengan perlahan lahan, sesekali Panji menertawakan nasibnya yang harus menjadi tawanan oleh seorang wanita cantik seperti sekarang ini.
"Apa kau tidak ikut masuk kedalamnya Nona? Lalu bagaimana caraku untuk bisa buang air kecil jika seperti ini caranya?".
"Apa kau ingin aku juga ikut masuk kedalam kamar mandi untuk menemanimu didalam Tuan?". Tanya Indah dengan nada yang tidak mempercayai apa yang dikatakan oleh Panji.
"Boleh juga ide itu Nona, begitu lebih baik daripada menyusahkan diriku karena ikatanmu ini, dengan senang hati saya akan membiarkan anda masuk kedalamnya Nona". Ucap Panji dengan cara menggoda Indah.
"Tidak tidak itu bukanlah ide yang bagus untuk dilakukan, aku akan menunggumu diluar sini saja, masuk saja sendiri atau kita kembali kekamar sekarang juga".
"Jangan!! baiklah aku ingin menunaikan hasratku didalam, kau tunggu disini saja".
Panji segera masuk kedalam kamar mandi, sementara Indah menunggunya diluar sana, didalam kamar mandi Panji terus berpikir dengan kerasnya tentang bagaimana caranya untuk menunaikan hasratnya didalam kamar mandi itu sementara salah satu kakinya diikat dengan erat oleh Indah.
"Indah! Bagaimana caraku melakukannya? Lepaskan saja tali itu, aku tidak akan kabur Indah, percayalah kepadaku". Teriak Panji dari dalam kamar mandi.
"Tidak akan Panji, sudahlah jangan banyak protes, kau sendiri yang membuatku harus melakukan ini sebelumnya, jadi nikmati saja".
Karena pendeknya tali tersebut membuat Panji sangat kesulitan untuk mencapai bak mandi dan mengambil gayung yang ada didalamnya, Panji terus berusaha untuk meraih gayung tersebut meskipun dengan kaki yang masih diikat oleh Indah.
Indah menunggu Panji diluar begitu lama hingga membuatnya bosan menunggu, entah apa yang dilakukan oleh Panji didalam sehingga begitu lama.
"Panji apa kau sudah selesai?". Tanya Indah yang sudsh bosan menunggu Panji keluar.
"Aku bahkan belum memulainya, emang kau pikir ini mudah bagiku Indah? Apalagi dengan kakiku yang kau ikat dengan erat itu".
"Sudahlah jangan banyak protes, kau lebih cerewet daripada ibu ibu Panji, aku melakukan ini hanya untuk kebaikanmu saja maka dari itu jangan banyak protes, nurutlah dengan apa yang aku bilang".
"Tapi ngak begini juga kali Indah, sudahlah diam saja disitu jangan banyak protes".
"Kenapa jadi aku yang salah?".
"Yayaya.... Bukan kamu yang salah, tapi aku yang salah, wanita memang tidak punya salah".
Indah tertawa mendengar ucapan Panji yang begitu lucu bagi dirinya itu, setelah sekian lama menunggu diluar kamar mandi, tak beberapa lama kemudian akhirnya Panji keluar juga dari kamar mandi hal itu membuat Indah lupa akan kebosanannya.
"Lama sekali kamu didalam". Ucap Indah ketika melihat Panji berjalan kearahnya.
Panji menghela nafasnya dan menunjuk kearah kakinya yang sedang diikat oleh Indah. "Apa kau pikir pergi kekamar mandi dengan tali ini bisa dengan cepat? Aku bahkan kesusahan dengan adanya tali itu, huh untung saja diriku begitu pintar tadi".
"Apa kau melepaskan ikatan tali ini tadi?". Indah bertanya dengan Panji dengan nada mengintimidasi.
"Kenapa kau berpikiran seperti itu Indah? Bagaimana bisa aku melepaskan tali ini? Sementara diriku belum mendapatkan izin darimu, sebelum mendapatkan izinmu aku tidak akan bisa melepaskan diri dari ikatan ini Indah".
"Baguslah kalau begitu".
Setelah beberapa lama bercakap cakap didepan kamar mandi itu keduanya segera bergegas berjalan menuju tempat dimana Panji terbaring sebelumnya, tanpa banyak bicara keduanya berjalan menuju kamar tidur tersebut.
__ADS_1
Panji segera duduk diatas ranjang yang ada didalam kamar tersebut sementara Indah kembali mengikat tali itu kepada kayu yang ia gunakan untuk mengikat Panji sebelumnya, Panji begitu pasrah ketika melihat Indah yang tengah mengikatkannya seperti itu.
...Jangan lupa like dan dukungannya...