Apa Salahku Pa

Apa Salahku Pa
Kebahagiaan seluruh warga


__ADS_3

Nadhira menjatuhkan dirinya dan bersimpuh ditempatnya saat ini, air mata itu layaknya seperti sebuah bendungan yang tidak mampu lagi untuk ditahan, bendungan itu mengalir dengan derasnya tanpa mampu untuk dihentikan.


Nadhira terlihat begitu rapuh saat ini, ia tidak tau lagi harus berbuat seperti apa, seakan akan seluruh ketegarannya menghilang begitu saja, rasanya sesak sekali ketika mengetahui sebuah kebenaran yang selama ini disembunyikan.


"Argh... Semuanya sudah terlambat, bahkan Mama tidak akan mungkin hidup kembali, hiks.. hiks.. hua... Siapa yang harus disalahkan? Semuanya sudah terjadi, Mama sudah tiada meninggalkan diriku Pak" Ucap Nadhira dengan sesenggukan.


"Maafkan aku Nak, aku tidak bisa menolong Lia".


Nadhira menatap kedua telapak tangannya yang kini tengah bersimbah darah, darah miliknya sendiri karena kuku kukunya yang telah menancap kepada telapak tangannya, air matanya yang mengalir itu tak lagi mampu untuk ia hentikan.


"Pak Dwija tidak salah dalam soal itu, apa yang harus aku lakukan Pak? Bagaimana aku bisa menghadapi hari hariku selanjutnya? Aku tidak tau lagi harus berbuat seperti apa, aku juga tidak menyangka bahwa orang yang selama ini aku sayangi dengan tulus ternyata penyebab dari kematian Mamaku" Nadhira benar benar tidak percaya bahwa Rendi juga terlibat dalam kecelakaan itu.


Dada Nadhira terasa begitu sesaknya, bahkan nafasnya kini mulai tidak teratur lagi, ia merasakan nyeri yang teramat sangat didalam hatinya, Dwija hanya bisa membiarkan Nadhira untuk meluapkan perasaannya melalui air matanya.


"Menangislah jika kau ingin menangis, teriaklah jika itu diperlukan untuk menenangkan hatimu, ini memang sulit bagimu karena harus menerima kenyataan sepahit ini".


Tubuh Nadhira gemetaran, darah segar terus merembes keluar dari luka yang ada ditubuhnya, pandangan Nadhira seakan akan tengah kosong saat ini entah apa yang ia pikirkan, tanpa sengaja pandangan terjatuh kepada tongkat pemberian Rifki kepadanya yang telah memendek.


Nadhira mengambil tongkat pemberian dari Rifki itu dan menggenggamnya dengan sangat erat seketika tongkat tersebut berlumuran darah, darah milik Nadhira sendiri, Nadhira mengarahkan tongkat tersebut ke dadanya dan memejamkan kedua matanya dengan rapatnya.


"Apa yang harus aku lakukan sekarang Rif, semuanya seakan akan seperti mimpi yang sama sekali tidak aku inginkan terjadi".


"Dapat bertemu denganmu sebelum ajal menjemputku adalah sebuah anugrah terindah bagiku Dhira, sering kali aku mendengar kisah tentang dirimu, kau bukan hanya hebat tapi kau begitu sangat baik kepada siapapun, aku pikir kau tidak akan datang kemari".


"Maksud Pak Dwija apa?"


"Aku sangat bahagia kau datang kemari, tolong bantu aku untuk menyadarkan Sena atas kesalahan yang telah ia lakukan, dia harus mendapatkan balasan apa yang telah ia perbuat kepadaku dan juga kepada Mamamu Dhira".


"Aku pasti akan melakukan itu Pak, dia harus mendapatkan apa yang selama ini telah ia perbuat, kita akan bersama sama untuk melakukan itu Pak".


"Tidak Dhira, hidupku sudah tidak lama lagi, Deni telah mengabulkan keinginanku untuk bertemu denganmu sebelum aku mati, dan Allah maha baik hingga mempertemukan kita berdua selama aku masih ada didunia ini".


"Tidak Pak, kita harus keluar dari tempat ini bersama sama, aku tidak akan pernah meninggalkan dirimu ditempat seperti ini, aku pernah berkata bahwa aku akan membawa Bapak keluar dari sini kepada Bu Dewi, aku tidak ingin mengingkarinya".


"Ibuku? Bagaimana keadaannya? Apakah dia baik baik saja? Dhira katakan kepadaku, apakah Ibuku baik baik saja?".


"Dia... Dia mengalami gangguan jiwa Pak, aku telah menemuinya dirumah sakit jiwa, dia terus memanggil manggil nama Bapak, dan dia mengatakan bahwa dia akan bertemu kembali dengan anda".


"Ya Tuhan, Ibu maafkan Dwija karena tidak bisa menjadi anak yang baik untukmu" Dwija meneteskan air mata ketika mendengar kabar mengenai Ibunya.


"Apapun yang terjadi, kita harus keluar bersama Pak, aku akan berusaha untuk melepaskan rantai yang mengikat tubuh Bapak".


"Tidak Dhira, itu hanya sia sia saja".


"Tidak ada usaha yang sia sia Pak".


Nadhira mencoba bangkit dan mencari sebuah benda yang mampu untuk mematahkan rantai rantai itu, akan tetapi dirinya hanya menemukan ruang hampa tanpa adanya alat yang bisa mematahkan sebuah besi yang keras itu.


Nadhira tidak menyerah, meskipun dengan kepalanya yang terasa pusing ia tetap berusaha untuk mengelilingi tempat yang gelap itu untuk mencari sesuatu yang ia butuhkan saat ini, entah sudah beberapa lama ia berada ditempat itu.


"Sudahlah Dhira, jangan pedulikan aku, sebaiknya kau cepat pergi dari sini".


"Tidak Pak, aku harus menyelamatkan dirimu juga, aku tidak ingin keluar hanya sendiri saja tanpa bersamamu ikut denganku untuk keluar".


"Jangan keras kepala Dhira, cepat pergi dari sini, dibalik tembok batu itu adalah jalan keluar dari tempat ini, kau tinggal dorong saja nanti pintunya akan terbuka dengan sendirinya".


"Bapak tau pintunya? Tapi kenapa tidak keluar dari tempat yang menjijikkan seperti ini?"


"Sudah ku bilang, mereka telah memberikan sebuah bom didalam tubuhku, jika aku keluar maka bom itu akan meledak dengan sendirinya, keluarlah Dhira".


"Tidak Pak! Aku tidak ingin keluar tanpa dirimu, bagaimana mungkin aku bisa keluar dari sini tanpa membawamu, lalu bagaimana aku menjawab pertanyaan dari Bu Dewi mengenai dirimu?".


"Semua orang sudah menganggapku mati Dhira, tidak ada lagi yang bisa aku harapkan, meskipun akhinya aku mati disini juga tidak akan ada yang mengetahuinya selama kau tidak mengatakan apapun kepada dunia itu bukan masalah, selamatkan orang orang yang telah menjadi tahanan ditempat ini, jangan pedulikan diriku".


"Bagaimana aku bisa meninggalkan dirimu ditempat ini Pak".


*****


Dipagi harinya, ketika warga mendengar bahwa Nadhira dan yang lainnya pergi ketempat makam keramat itu, mereka segera bergegas menuju kearah makam tersebut untuk memeriksa keadaan mereka karena keduanya belum kembali juga diesok harinya.

__ADS_1


Ketika mereka memasuki area makam itu, mereka melihat begitu banyak orang yang ada ditempat itu, dan sebagian dari mereka tengah diikat dengan erat oleh beberapa orang, yang diikat adalah para penjahat yang berhasil anak buah Theo tangkap.


Mereka kini tengah menunggu kedatangan dari para polisi yang mereka panggil ketempat itu untuk menangkap para penjahat itu, para warga begitu terkejut ketika melihat anak buah Theo yang tengah berjaga ditempat itu.


"Siapa kalian?" Tanya salah satu warga.


"Kalian jangan takut, kami kemari bukan ingin berbuat jahat, Bos kami memerintahkan kami ketempat ini untuk menangkap mereka" Ucap salah satu anak buah Theo sambil menunjuk kepada orang yang tengah mereka ikat itu.


"Kenapa kalian menangkap mereka?"


"Kami tidak tau, Bos bilang kalau kami hanya disuruh untuk menangkap mereka dan membawanya kekantor polisi"


"Siapa Bos kalian?" Tanya Ningsih.


"Bos kami bernama Theo".


"Theo? Apa mereka baik baik saja?"


"Anda mengenal Bos kami?".


"Iya, semalam dia menginap diwarung saya, dan seorang gadis tinggal dirumah saya, kalau ngak salah namanya Nadhira, iya benar Nadhira".


"Dimana mereka sekarang?"


"Apa? Kalian juga tidak tau kemana perginya mereka? Bagaimana bisa? Bukannya Theo adalah Bos kalian, kenapa kalian bisa sampai tidak tau?".


"Semalam kami hanya diperintahkan untuk datang ketempat ini dan menangkap orang orang ini, tapi kami tidak tau kemana perginya mereka dan sampai sekarang nomernya pun tidak dapat dihubungi".


"Apa mungkin mereka juga dalam bahaya?"


"Bahaya? Bahaya apa yang anda katakan?"


Mereka terdiam begitu saja ketika mendengar ucapan anak buah Theo, bagaimana mungkin ketiganya menghilang juga, mereka berpikir bahwa ketiganya telah hilang disembunyikan oleh mahluk gaib penjaga tempat itu.


"Ibu..."


Ditengah tengah kesunyian tempat itu, seketika suara gadis kecil terdengar begitu nyaring ditempat itu, seluruh warga menoleh kearah sumber suara dan menemukan beberapa orang yang telah dikabarkan hilang saat itu.


Ratih dan anak anak yang lainnya segera berlari kearah orang tua mereka masing masing, dengan bahagianya mereka ketika melihat anak anak mereka telah kembali dengan selamat, mereka segera memeluk tubuh anak anak mereka.


"Mereka begitu baik karena telah mengembalikan kalian kepada kami, semoga mereka selalu dalam pelindung sang pencipta alam semesta".


Mereka memeluk anak anak mereka dengan eratnya, banyak warga yang menangis karena melihat kondisi putra putri mereka yang semakin kurus dan begitu banyak luka ditubuh mereka, bahkan pakaian mereka pun kusam karena bekas darah.


"Kau masih hidup Nak, kami merasa sangat bahagia bisa bertemu kembali denganmu"


"Kemana saja kau selama ini Nak, Ayah dan Ibu sangat merindukan dirimu".


"Ya Allah terima kasih telah mengembalikan anak hamba kepada hambamu ini".


"Kenapa kau bertambah kurus seperti ini, apa yang sebenarnya terjadi kepadamu Nak".


Tangis haru menyelimuti mereka semua, mereka merasa gembira ketika mengetahui bahwa anak anak mereka yang hilang selama ini sudah ditemukan dengan keadaan masih bernyawa, betapa bahagia hari itu dimana mereka dapat berkumpul kembali dengan keluarga mereka.


Tak henti hentinya mereka mengucapkan rasa syukur atas kembalinya keluarga mereka, isak tangis kebahagiaan mulai terdengar ditempat itu, bagi mereka kembalinya anak anak mereka adalah sebuah harta yang paling berharga yang mereka miliki.


"Kenapa Ibu dan yang lainnya menangis?" Tanya Ratih keheranan.


"Ini adalah tangisan kebahagiaan Nak, Ibu sangat bahagia ketika kau kembali".


Mendengar ucapan Ningsih hal itu membuat Ratih ikut menangis, kejadian yang ia alami itu membuatnya ketakutan sampai sampai mereka tidak mampu untuk tidur dengan baiknya, mereka terus diselimuti oleh ketakutan ditempat yang menyeramkan seperti itu.


Sebagian anak yang keluar dari tempat itu mengalami gangguan mentalnya, dan mereka seperti tengah mengalami ketraumaan tentang apa yang terjadi kepada mereka beberapa tahun terakhir ini, biar bagaimanapun seorang anak kecil yang dikurung dengan penuh penyiksaan itu pastilah akan mengalami ketraumaan tersendiri.


Awalnya mereka nampak begitu baik baik saja, akan tetapi setelah melihat beberapa orang yang diikat ditempat itu mereka menjadi berteriak histeris dan bersembunyi dibalik punggung orang tua mereka masing masing dengan rasa ketakutannya.


"Aaa.... Tolong!".


"Jangan sakiti aku, ampun!"

__ADS_1


Seluruh anak yang selamat berteriak histeris ketika melihat orang orang itu, karena mereka sering disiksa oleh orang yang tengah terikat saat itu, beberapa orang yang selamat dari tempat itu juga segera bergegas menuju orang yang tengah diikat itu untuk memukuli mereka akan tetapi anak buah Theo segera mencegah tindakan yang akan mereka lakukan.


"Apa yang sebenarnya terjadi?".


"Mereka telah menyiksa kami selama ini, bahkan mereka tidak pernah memberi kami makan dengan layaknya" Ucap salah satu dari orang yang hilang.


"Jadi mereka pelakunya!".


"Jangan biarkan mereka hidup!"


"Kita harus membunuh mereka segera agar tidak ada kejadian seperti ini lagi didesa inj! Karena mereka telah menyakiti anak anak kita!".


"Bunuh saja mereka".


"Jangan ampuni mereka begitu saja!".


Seluruh warga nampak begitu murka ketika mendengar bahwa orang yang diikat itu adalah pelaku dari kasus penculikan, orang orang yang diikat itu sudah tidak mampu lagi untuk berbuat apa apa karena Nadhira dan Theo telah melukai mereka dan membuat mereka tidak berdaya.


Saat ini mereka hanya pasrah dengan nasib mereka masing masing, mereka pikir bahwa mereka tidak akan selamat dari amukan warga saat ini karena mereka telah menyakiti orang yang menjadi tahanan mereka selama ini.


Anak buah Theo tidak mampu untuk mencegah para warga yang ingin main hakim sendiri, hal itu membuat para penjahat itu terkena serangan dari mereka, anak buah Theo terus berusaha untuk memisahkan mereka.


"Bapak Bapak! Sebaiknya jangan main hakim sendiri".


"Bapak! ibu! Kami tau kalian marah kepada orang orang ini, tapi tidak baik jika kalian bertindak semau kalian seperti ini"


Dorr.... Dorr..... Dorrr....


Ketika orang orang yang mereka pukuli hampir sekarat, tiba tiba terdengar suara tembakan diudara yang membuat para warga menghentikan aksi mereka yang main hakim sendiri, tembakan itu berasal dari para polisi yang telah tiba ditempat itu.


"Bapak dan Ibu tenang dulu, jangan bertindak main hakim sendiri seperti ini" Ucap polisi.


"Tapi mereka telah menganiaya anak anak kami".


"Iya benar itu".


"Kami tidak terima begitu saja Pak! Mereka harus menerima akibatnya sendiri".


"Iya kami tau Bapak Ibu, tapi bertindak main hakim sendiri seperti ini tidak dibenarkan dalam peraturan pemerintah negara ini, kami akan memberikan hukuman yang tempat kepada mereka dipenghadilan".


Para polisi tersebut segera mengamankan para penjahat yang telah tertangkap itu, sebelum warga semakin mengamuk karena kejadian yang meninpa anak anak mereka beserta saudara saudara mereka.


Ningsih terus memeluk putrinya yang telah ditemukan itu, ia bersyukur karena dapat bertemu kembali dengan putri tercintanya atas bantuan dari ketiga orang yang telah hadir didesa itu.


"Bagaimana keadaanmu Ratih?" Tanya Ningsih.


"Aku baik Bu, tapi Kakak itu kenapa belum keluar juga dari sana?" Ucap Ratih sambil menatap kearah menuju kemakam keramat.


"Apa kau bertemu dengan mereka sebelumnya? Dimana mereka sekarang?" Tanya anak buah Theo.


"Mereka masih ada didalam, Kakak itu bilang mau mencari temannya yang terjebak didalam sana, ia lalu menyuruh kami keluar dari sana karena bahaya" Ucap Ratih dengan polosnya.


"Bawa kami kesana, kami harus menyelamatkan Bos kami yang ada disana".


"Tidak Mas, didalam sana bahaya, apalagi kami tadi sempat mendengar bahwa mereka akan menyalakan bom yang mereka pasang didalam sana" Ucap salah satu korban.


"Bom? Gawat mereka dalam bahaya".


Para warga hanya bisa berdiam diri dan terus berdoa semoga ketiga orang itu mampu terselamatkan dari bahaya bom yang ada didalam tempat itu, mereka tidak bisa berbuat apa apa untuk saat ini, jika mereka masuk akan terlalu berbahaya bagi mereka karena sama saja mereka mengantarkan nyawa mereka sendiri dan belum tentu mereka akan menemukan apa yang mereka cari didalamnya.


"Mereka orang baik, semoga saja Allah menyelamatkan mereka bertiga" Ucap Ningsih dengan memeluk Ratih dengan sangat eratnya.


"Dia berpesan kepada kami sebelum kami pergi, ia menyuruh kami untuk segera pergi dari tempat ini untuk menyelamatkan nyawa kami".


"Apakah baik meninggalkan tempat ini sebelum mereka keluar dari sana? Mereka telah berjasa besar karena telah mengembalikan putra putri kami".


"Aku tidak tau, tapi dia bilang seperti itu".


"Kami tidak akan pergi dari sini sebelum mereka ditemukan".

__ADS_1


...Jangan lupa like, coment dan dukungannya 🥰 Terima kasih, jaga kesehatan ya karena luka hati tidak butuh selang infus untuk diobati...


__ADS_2