Apa Salahku Pa

Apa Salahku Pa
Mimpi yang begitu nyata


__ADS_3

"Dimana aku".


Didalam alam mimpinya Rifki terbangun disebuah tempat yang cukup asing baginya, seperti sebuah hutan belantara, ia tidak pernah melihat tempat itu sebelumnya, tempat itu seperti sebuah desa dizaman dahulu.


Rifki melihat sosok seorang pemuda yang dikejar kejar oleh segerombolan pasukan yang bersenjata lengkap dan tajam, pemuda itu terlihat seperti sedang mengalami sebuah luka yang cukup parah dari bagaimana caranya ia berlari.


"Raden Kian!! Berhenti!! Kau telah mengkhianati Raja, sebaiknya kau serahkan pusaka itu, sebelum kami menghabisimu!!".


"Tidak!!! Lebih baik aku mati daripada harus memberikan pusaka ini kepada kalian".


Pemuda yang dipanggil Raden Kian itu terus berlari dengan kencangnya meskipun dalam keadaan terluka parah, tiba tiba sebuah panah melesat kearahnya dan berhasil menancap pada punggungnya, meskipun begitu pemuda itu terus berusaha untuk menghindar dari segerombolan pasukan itu.


Dalam keadaan berlari pemuda tersebut terus saja berusaha untuk memcabut anak panah yang telah menancap dalam dipunggungnya, setelah panah itu tercabut ia mulai mengalirkan seluruh kekuatannya untuk menyembuhkan lukanya tersebut.


Tanpa sengaja ia dihadang dari depan oleh segerombolan pasukan lainnya, dengan terpaksanya pemuda itu harus menghentikan langkahnya, Raden Kian dikepung diberbagai arah, ia tidak bisa menghadapi mereka karena kekuatannya yang mulai melemah.


"Raden, sebaiknya kau serahkan pusaka itu dengan baik baik, sebelum kami kehilangan kesabaran hingga tanpa sengaja membunuhmu".


"Kalian menginginkan pusaka ini bukan? Maka rebutlah dariku jika kalian mampu!!!".


"Kau sama sekali tidak takut mati bukan? Maka jangan salahkan kami jika kami harus membunuhmu".


"Aku bukannya tidak takut mati, tetapi lebih tepatnya aku tidak mau mati hanya sia sia tanpa harus berusaha untuk mempertahankan nyawa".


Setelah mengucapkan itu, Raden Kian segera menyerang seseorang yang paling dekat dengannya terlebih dahulu, karena kekuatan spiritualnya telah melemah ia tidak mampu untuk mencabut pusaka itu dari sarungnya, pemuda itu terus menyerang dengan ganasnya hingga terciptalah sebuah danau yang berwarna merah karena darah yang mengalir dari tubuh musuhnya.


Dialam nyata tubuh Rifki terus mengeluarkan keringat dingin karena melihat kejadian seperti itu dialam mimpinya, ia sama sekali tidak bisa membuka kedua matanya seperti kelopaknya telah terkena oleh sebuah lem yang cukup kuat.


Peperangan itu terjadi begitu lama dan menewaskan banyak korban, itu bukanlah peperangan melainkan pembantaian lebih tepatnya, karena seorang pemuda melawan ratusan orang yang bersenjata lengkap.


Meskipun dalam keadaan terluka parah, tidak ada yang bisa mengalahkan kemampuan beladiri dari Raden Kian, seakan akan pasukan yang begitu banyak sekalipun bukanlah tandingannya.


Pertarungan itu terjadi begitu sengitnya sehingga menyebabkan beberapa luka sayatan yang mendalam ditubuh pemuda tersebut, darahnya mengalir deras hingga membasahi pusaka yang ada didalam pakaiannya. Tiba tiba pusaka itu mengeluarkan cahaya yang begitu terangnya dalam beberapa saat, setelah cahaya itu mulai meredup dapat Rifki lihat tubuh pemuda itu seakan akan mulai berstamina lagi.


"Apa yang terjadi dengan pemuda itu?". Kejadian yang terjadi itu menciptakan sebuah tanda tanya besar dikepala Rifki saat ini.


Karena tenaganya mulai terisi kembali membuat Raden Kian mulai bangkit dan menghabisi seluruh pasukan yang tengah mengejarnya, beberapa saat kemudian akhirnya pemuda itu keluar sebagai pemenang dari setumpukkan mayat yang berserakan di sepanjang jalanan.


Dengan luka parahnya pemuda itu berjalan menjauhi tempat itu, Rifki terus bergegas untuk mengejar dan mengikutinya dari belakang, hingga tibalah mereka disebuah goa yang begitu luasnya, Raden Kian segera masuk kedalam goa tersebut diikuti oleh Rifki dibelakangnya.


Raden Kian segera melakukan pertapaan untuk mengembalikan energinya yang telah hilang sebelumnya, Rifki berdiri didepannya sambil menatap kearah wajah dari pemuda tersebut, pemuda itu seakan akan tidak bisa melihat sosok Rifki yang berada dihadapannya saat ini.


Setelah melakukan pertapaan yang begitu panjang, Raden Kian segera bangkit dari tapanya karena telat mendapatkan energinya kembali, Raden Kian menoleh kearah kanan dan kiri begitu serius, Rifki mengira bahwa pemuda yang ada dihadapannya mampu merasakan kehadiran Rifki ditempat itu, tetapi dugaannya salah, pemuda itu justru meneliti goa tersebut.

__ADS_1


"Seperti tempat ini begitu aman untuk aku menyembunyikan pusaka berbahaya ini".


Pemuda itu mengeluarkan sebuah cahaya putih dari dadanya, lebih tepatnya dari jantungnya, dengan susah payah dan rasa sakit yang begitu dalam, akhirnya pemuda itu mampu mengeluarkan cahaya tersebut meskipun dirinya kembali terluka lagi.


"Pengorbanan ibunda tidak akan sia sia, sekarang kekuatan kita berdualah yang harus melindungi pusaka ini digoa ini, separuh kekuatanku akan menjaganya dari luar goa".


Pemuda itu mengarah telapak tangannya yang terdapat sebutir cahaya tersebut kepada pusaka yang ia keluarkan dari balik bajunya, perlahan lahan pusaka itu mulai menghilang dari pandangan Rifki, setelah itu Raden Kian mengarahkan kedua telapak tangannya kearah langit langit yang ada didalam goa tersebut, kekuatan yang dimilikinya perlahan lahan terserap oleh dinding dinding yang ada didalam goa tersebut.


Kejadian itu tidak berlangsung lama sebelum pemuda itu terjatuh ditanah dan memuntahkan darah segar dari mulutnya, Rifki begitu terkejut melihat kejadian itu ia secara Reflek mengulurkan tangannya kepada pemuda yang ada dihadapannya saat ini, tetapi tubuh Rifki sama sekali tidak dapat menyentuh pemuda tersebut.


Raden Kian mengalami sebuah luka dalam karena tindakannya yang terus mengeluarkan kekuatannya untuk melindungi tempat itu, pemuda itu segera mengusap darah yang keluar dari mulutnya menggunakan salah satu jari tangannya.


Raden Kian terus memegangi dadanya yang terasa begitu nyeri, darah yang ia muntahkan berwarna begitu pekatnya sehingga darah yang tadinya merah berubah menjadi hitam pekat. Dapat terlihat bahwa pemuda itu begitu lemahnya, entah seberapa sakit yang ia rasakan saat itu, dari raut wajahnya dapat Rifki merasakan betapa sakitnya pemuda tersebut karena perbuatan yang ia lakukan.


Pemuda itu berusaha untuk menetralkan rasa sakitnya meskipun begitu ia tidak akan pernah mampu untuk menyembuhkannya, seandainya ia terus mengeluarkan seluruh kekuatannya mungkin nyawanya juga ikut menghilang sama seperti yang dialami oleh ibu kandungnya.


Setelah itu, pemuda itu keluar dari goa tersebut dan berkeliling disekitar goa, dan membangun sebuah desa untuk menutupi keberadaan goa tersebut agar tidak dicurigai oleh orang orang yang berniat untuk merebutnya dari tangan pemuda itu.


Bertahun tahun pemuda itu hidup begitu sederhana disebuah tempat yang jauh dari keramaian, semakin lama tempat yang ia tinggali mulai ditinggali oleh beberapa orang, Raden Kian mulai mengajarkan kepada orang orang yang ada ditempat itu mengenai bagaimana caranya untuk bercocok tanam.


Karena minimnya pengetahuan dikala itu membuat Raden Kian menjelaskan kepada mereka secara terperinci, hal itu menarik perhatian penduduk desa lain untuk pindah ketempat itu, dan terciptalah sebuah desa ditempat terpencil itu, bukan tanpa alasan Raden Kian memberi nama desa itu dengan nama desa Mawar Merah.


Mawar melambangkan seorang perempuan yang begitu cantik dan lemah lembut tetapi dapat melukai musuhnya dengan durinya, keanggunan seorang wanita layaknya seperti seorang putri kerajaan yang harus dijaga dengan baik baik agar tidak mudah terperdaya oleh rayuan pemuda.


Sementara Merah adalah sebuah simbol keberanian untuk menentang ketidakadilan yang terjadi dizaman itu, merah adalah warna darah para pasukan yang telah gugur ditangannya, tidak ada pilihan lain yang dapat para pasukan itu pilih selain mematuhi perintah tuannya.


Nama desa itu bukanlah semata mata hanya karena banyaknya tumbuhan bunga mawar ditempat itu, melainkan sebuah kisah yang pernah terjadi diarea itu, tetapi kebanyakan dari penduduk desa tersebut hanya mengetahui bahwa nama desa itu diambil dari tumbuhan yang tumbuh subur ditepat itu.


Setelah berdirinya desa tersebut, Raden Kian Jayaningrat memperkenalkan namanya sebagai Kuswanto didesa itu dan menjabat sebagai kepala desa ditempat itu, meskipun ia selalu bersikap tegar dihadapan seluruh rakyatnya, tetapi dikala ia sendiri ia tidak akan mampu untuk menutupi luka dalamnya, sehingga disaat itu Rifki dapat melihat bahwa Raden Kian terus saja termuntah darah.


"Kenapa luka ini semakin hari semakin parah, sepertinya aku harus secepatnya meninggalkan desa ini untuk bertapa".


Raden Kian terus memegangi dadanya yang terasa begitu nyeri yang teramat sangat, semakin harinya semakin parah pula luka dalamnya, Raden Kian segera mengusap darah yang ada dibibirnya untuk membersihkannya.


Rifki dapat melihat pertemuan dari Raden Kian dan Rahayu disebuah kebun milik Raden Kian karena sebuah ketidak sengajaan, sejak pertemuan itu hubungan keduanya semakin eratnya, seluruh penduduk desa mengira bahwa Kuswanto telah menyukai seorang gadis yang berada didesa sebelah, dan memutuskan untuk menikahinya sehingga ia meninggalkan desa tersebut.


Raden Kian menyerahkan kedudukannya sebagai kepala desa kepada salah satu warganya yang menurutnya paling tepat untuk menjaga kelestarian desa tersebut, setelah itu Raden Kian segera pergi dari desa tersebut diikuti oleh Rifki yang selalu berada dibelakangnya.


Bukannya menuju ketempat dimana Rahayu tinggal, Raden Kian justru menuju tempat yang berlawanan dari desa tersebut, dengan sempoyongan Raden Kian berjalan menjauhi desa Mawar Merah karena luka dalamnya yang mulai kambuh lagi.


Tak beberapa lama kemudian Raden Kian kehilangan kesadarannya dan terbaring lemah disebuah semak semak, karena cemasnya kepada Raden Kian membuat Rahayu berusaha untuk mencari keberadaan sang kekasih sehingga ia rela meninggalkan rumahnya.


Setelah lama pencarian yang ia lakukan akhirnya Rahayu menemukan keberadaan dari Raden Kian yang tengah terbaring tidak sadarkan diri, dengan susah payahnya Rahayu memindahkan tubuh Raden Kian kesebuah gubuk tua yang telah ditinggalkan oleh pemiliknya dan membaringkan tubuh Raden Kian ditempat itu.

__ADS_1


"Apa yang terjadi dengan Raden Kian". Guman Rifki.


Rahayu memeriksa suhu tubuh Raden Kian yang perlahan lahan akan semakin terasa semakin bertambah panas, Rahayu segera berlari mencari air yang berada disekitar tempat itu, setelah mendapatkan air, Rahayu segera menyobek baju bagian bawahnya untuk mengompres tubuh Raden Kian yang sedang demam.


"Mas Wanto bertahanlah, jangan tinggalkan aku".


Tangis Rahayu mendadak pecah seketika ketika suhu tubuh Raden Kian bertambah semakin panas seiring berjalannya waktu, Raden Kian masih belum sadarkan diri dari pingsannya, sehingga membuat Rahayu merasa begitu khawatir dengannya.


Rifki mendekat ketempat dimana Raden Kian terbaring lemah untuk memeriksa keadaannya, tetapi Rifki sama sekali tidak bisa menyentuhnya karena tubuhnya saat ini mendadak seperti transparan.


"Kenapa aku sama sekali tidak bisa menyentuhnya, apa yang terjadi?".


Tiba tiba air mata Rifki terjatuh ketika melihat tubuh lemah dari Raden Kian yang berada dihadapannya, sebercak darah keluar dari mulut Raden Kian, darah itu berwarna begitu pekat, melihat adanya darah itu membuat Rahayu terkejut dan segera mengusapnya.


"Mas apa yang terjadi kepadamu? Sadarlah mas, jangan tinggalkan aku, aku mohon".


Rahayu mengenggam tangan Raden Kian dengan eratnya, ia tidak ingin kehilangan sang kekasihnya untuk selama lamanya, suasana haru didalam gubuk itu telah menyelimuti hati Rifki, Rifki dapat merasakan senuah kesedihan yang mendalam yang tengah dirasakan oleh sosok perempuan yang ada dihadapannya saat ini.


"Apa yang harus aku lakukan, Mas tolong beritahu aku, aku akan lakukan apapun itu hiks.. hiks..".


Mendengar tangisan yang begiti memilukan hati membuat Raden Kian tersadar dari pingsannya dan mulai mengerutkan keningnya mencoba untuk membuka kedua matanya tersebut, ketika merasakan adanya gerakan ditubuh Raden Kian membuat Rahayu merasa begitu senangnya dan mulai mengusap air mata yang jatuh dipipinya.


Pelahan lahan mata yang sayup itu mulai terbuka dengan indahnya, dengan lemahnya Raden Kian menggerakkan tangannya untuk menggenggam tangan Rahayu.


"Mas kau sudah sadar".


"Kenapa kau disini Ayu? Akh...".


Ketika Raden Kian berusaha untuk bangkit dari tidurnya seketika itu juga dadanya terasa begitu nyeri membuatnya mendesah kesakitan, Raden Kian memegangi dadanya dengan eratnya, melihat itu Rahayu segera menyuruh Raden Kian untuk tetap tidur diposisinya.


"Aku begitu menghawatirkan dirimu Mas, aku takut terjadi sesuatu kepadamu".


"Ayu, seharusnya kau tidak melakukan hal ini, sebaiknya kembalilah pulang, jangan pedulikan diriku, aku akan baik baik saja".


"Tidak Mas, aku tidak mau pergi jauh darimu".


"Maafkan aku, selama ini aku tidak jujur kepadamu, setelah kau mengetahui kebenarannya mungkin kau tidak akan pernah mau bertemu dengan diriku lagi, aku tidak bisa menyembunyikan hal ini terlalu lama".


"Apa yang kau katakan Mas? Kebenaran seperti apakah yang belum aku ketahui?".


"Aku....". Tampak sosok Raden Kian yang begitu ragu untuk mengatakan jati dirinya sesungguhnya. "Aku bukanlah rakyat biasa, aku adalah seorang pangeran yang telah berhianat dikerajaanku".


"Maksud Mas apa?". Rahayu begitu terkejut mendengar ucapan itu. "Jadi Mas adalah Pangeran Kian? Maafkan hamba yang telah lancang Pangeran".

__ADS_1


Mendengar kebenaran itu seketika membuat hati Rahayu seakan akan disambar oleh sebuah petir yang cukup besar, bagaimana tidak, orang yang sangat ia cintai adalah seorang Pangeran dikerajaan yang cukup kuat pada masa itu, sehingga Rahayu telah merasa telah lancang karena perilakunya yang seakan akan menganggap Kuswanto adalah rakyat biasa.


__ADS_2