
Pria itu memainkan pisau yang ada ditangannya dan bersiap untuk melemparkannya kepada Rifki yang tengah terbaring lemas dipantai. Darah akibat luka sayatan yang ada dikedua tangannya membuat lantai yang awalnya putih menjadi merah karenanya.
Pria itu mulai melemparkan pisau itu kearah Rifki, Rifki memejamkan matanya melihat hal itu. Telah lama ia memejamkan matanya tetapi ia tak kunjung merasakan pisau itu menembus ke perutnya.
Rifki mulai membuka matanya ia menemukan sosok seorang gadis yang berlutut didepannya sambil membentangkan kedua tangannya sedang membelakanginya. Ia juga menemukan bahwa pria yang menjadi lawannya telah terjatuh dilantai dan tidak sadarkan diri.
"Akh". Rintih Nadhira
"Nadhira".
Nadhira memegangi pisau yang menancap tepat diperutnya, tangannya mulai memerah karena darahnya yang mulai keluar, raut wajah Nadhira terlihat begitu kesakitan. Nadhira memegangi pisau tersebut dan langsung mencabutnya, darah mulai keluar dari mulutnya. Setelah pisau tercabut Nadhira menjatuhkan pisau itu dilantai dan pandangannya mulai sedikit buram.
Nafasnya mulai tak beraturan, Nadhira memejamkan kedua matanya, dan sebulir airmata keluar dari pelupuk matanya. Rifki berusaha bangkit untuk duduk, ketika Nadhira hampir terjatuh Rifki segera menangkapnya dan menidurkannya dalam pangkuannya.
"Rifki akhirnya kau baik baik saja". Dengan lemasnya Nadhira memaksakan diri untuk tersenyum dihadapan Rifki.
*Flash back on*
Nadhira merasa sangat khawatir dengan Rifki, setelah lama menunggunya, tetapi Rifki tidak kunjung keluar dari dalam markas, ketika Nadhira melihat beberapa anak yang berhasil Rifki selamatkan, ia mencari keberadaan Rifki, tetapi tidak ia temukan.
"Ren, dimana Rifki?". Tanya Nadhira sambil memandang anak anak itu.
Reno mendengar suara pesan masuk dan langsung membukanya. Ia membaca pesan tersebut dan segera memberi tanda kepada yang lainnya, pesan tersebut berasal dari Rifki.
"Rifki masih didalam, mungkin lagi mencari keberadaan adik tirimu Dhira, kamu jangan khawatir, ayo aku antar kemobil kamu kan lagi sakit". Jawab Reno, sebenarnya ia juga merasa khawatir dengan keadaan Rifki.
Nadhira mengangguk dan menerima tawaran dari Reno, Reno memapah Nadhira kemobil. Nadhira terpaksa menerima tawaran itu, karena ia melihat bahwa Reno telah memberi sebuah tanda kepada yang lainnya. Nadhira sangat khawatir dengan Rifki, jika ia terus berada didekat Reno, Reno tidak akan membiarkan dia untuk mencari Rifki sendirian.
Mobil yang mereka naiki terparkir lumayan jauh dari lokasi dimana mereka sedang mengepung, agar karena para penculik itu tidak mengetahui bahwa mereka sudah menjadi incaran pihak berwajib. Setelah beberapa lama diperjalanan keduanya merasakan ada kendaraan yang hendak melintas dijalan yang mereka lewati saat ini.
Seketika itu juga Reno menarik tangan Nadhira untuk bersembunyi dibalik semak semak yang cukup rimbun, dapat mereka lihat bahwa ada 4buah mobil yang menuju kearah lokasi.
"Mereka datang".
Reno segera membawa Nadhira menjauh dari lokasi itu, setelah sampai diparkiran mobil mereka, Reno menyuruh Nadhira masuk kedalam mobil.
"Dhira kamu disini saja, jangan kemana mana, disini sangat aman, aku harus kembali membantu yang lainnya"
"Tapi Ren, bagaimana dengan Rifki".
__ADS_1
"Kamu percayalah kepadanya, Rifki akan baik baik saja"
"Bagaimana aku bisa tenang, Rifki sendirian masih berada dalam markas"
Beberapa mobil mulai mendekat kearah markas. Melihat hal itu Reno bergegas kembali kemarkas, ia melupakan tugas yang Rifki berikan kepadanya. Reno fikir Nadhira akan aman jika berada dimobil, ia ingin membantu yang lainnya juga.
Tanpa disangka Nadhira justru bergegas kembali dengan diam diam Nadhira melangkah mendekat kearah markas. Kepalanya sangat pusing dan berkali kali ia harus terjatuh diatas rerumputan.
"Aku harus kuat, Rifki dan Manda masih ada didalam".
Nadhira mencoba bangkit dan terus bangkit, keringat dan airmata bercampur menjadi satu. Rasa sakit kakinya tidak ia pedulikan, ia terus melangkah dan melangkah sampai akhirnya ia hampir sampai ditempat ia bersembunyi sebelumnya.
Ketika melewati tempat dimana mereka sembunyi, Nadhira melihat bahwa para polisi dan organisasi yang Rifki bawa telah keluar dari dalam persembunyiannya dan mengempung markas tersebut.
Nadhira mencari dimana keberadaan Rifki tetapi tak kunjung ia temukan. Nadhira berlari kesana kemari dengan perasaan khawatir dengan Rifki, ketika itu juga Nadhira melewati beberapa anak yang telah diselamatkan oleh Rifki.
"Dek, apakah Rifki sudah keluar dari dalam markas?". Tanyanya kepada mereka.
Anak anak itu diam mendengar pertanyaannya, mereka saling berpandangan satu sama lain. Mereka tidak mengenali orang yang sedang ditanyakan oleh Nadhira, Nadhira mengerutkan dahinya ketika tidak mendapatkan jawaban dari mereka.
"Maksud kakak, kakak yang masuk menyelamatkan kita tadi?". Tanya anak yang paling tua dari yang lainnya.
"Iya, iya, apakah dia sudah keluar?"
Mendengar jawaban itu Nadhira bergegas menuju pagar yang Rifki dan anak anak itu lewati sebelumnya. Nadhira berusaha sekuat tenaga untuk dapat masuk kedalam, ketika ia sudah bisa melewati pagar itu, ia menemukan bahwa ia berada diruangan kosong.
"Gedung ini cukup luas, bagaimana caraku untuk menemukannya". Guman Nadhira.
Nadhira mendengar suara petarungan didalam dan beberapa kali mendengar suara benturan senjata yang mereka gunakan untuk bertarung, Nadhira berlari tanpa memperdulikan bahwa kakinya sedang terluka.
Nadhira terus mencari sumber suara itu, nafasnya mulai memburu karena terlalu banyak menguras tenaga. Nadhira menemukan sebuah pintu, ia mendekati pintu itu dan menempelkan telinganya kepada pintu tersebut.
Beberapa kali ia dapat mendengar suara Rifki dengan jelas dari balik pintu tersebut, ia juga mendengar tawa Rifki dari dalam.
"Apa yang sebenarnya terjadi didalam".
Nadhira mencoba membuka pintu itu secara perlahan, pintu itu ternyata tidak dikunci dan lebih tepatnya kuncinya sudah dirusak oleh Rifki sebelumnya.
Nadhira sangat terkejut melihat Rifki terbaring dilantai sementara ada sosok pria yang berbadan kekar dan tinggi berdiri tegak yang berada tidak jauh dari posisi Rifki saat ini. Pria itu terus memainkan pisau yang ada ditangannya, melihat hal itu Nadhira mengambil salah satu pisau yang berada didekatnya. Lebih tepatnya pisau yang para penculik itu gunakan untuk melawan Rifki sebelumnya.
__ADS_1
"Rifki"
Melihat pria itu mulai melemparkan pisaunya kearah dimana Rifki berada, Nadhira berlari berniat untuk menghadang pisau tersebut, dalam larinya ia juga tidak lupa melemparkan pisau yang ia pegang kepada pria itu. Nadhira berlutut didepan Rifki yang tengah memejamkan matanya, ketika pisau itu menancap diperutnya, pisau yang Nadhira lemparkan juga menancap tepat didada pria itu. Lebih tepatnya diarah jantungnya sehingga membuatnya mati seketika.
*Flash back off*
Rifki memeluk Nadhira dan air matanya mulai menetes dipipi putih Nadhira, Nadhira terbatuk batuk dan memuntahkan darah segar. Nadhira mengangkat tangan kanannya menyentuh pipi Rifki dan menghapuskan airmatanya.
"Mengapa kamu menangis? Akh... I ah zinkan a ... Aku melihat se nyum mu". Ucap Nadhira terbata bata.
"Nadhira apa yang kamu lakukan? Mengapa, mengapa Nadhira mengapa? Kamu harus bertahan Nadhira, semuanya akan baik baik saja". Tangis Rifki pecah.
"Ti ih dur di si ni le bih nyaman". Nadhira memejamkan matanya.
Rifki memeluk tubuh Nadhira dengan erat, dapat ia rasakan sakit yang Nadhira tahan. Rifki menatap wajah Nadhira yang terpejam, sebulir airmata keluar dari pelupuk matanya.
"NADHIRA". Teriak Rifki ketika Nadhira sudah tidak sadarkan diri.
Mendengar teriakan Rifki, beberapa anak buah yang ia bawa segera berlari kearah Rifki berada. Mereka menemukan Nadhira yang terbaring tidak sadarkan diri dipangkuan Rifki.
Reno yang ada disitu segera mendekat kearah dimana Rifki berada, Reno berlutut dihadapan Rifki, ia tidak menyangka bahwa Nadhira akan pergi untuk mencari Rifki.
"Bukankah aku sudah bilang, jaga Nadhira, kenapa justru kau biarkan Nadhira masuk". Bentak Rifki.
"Maafkan aku, aku lalai dalam tugasku, aku tidak menyangka bahwa akhirnya akan seperti ini, tadinya aku sudah mengantarkan dia kemobil tapi aku tidak tau bahwa ia balik lagi".
"Aku tidak butuh penjelasanmu".
"Rif, ja ngan salahkan dia, i ni bukan sa lah nya". Ucap Nadhira lirih disisa kesadarannya.
Meskipun matanya terpejam tetapi Nadhira belum sepenuhnya tidak sadarkan diri, Nadhira dapat mendengar bahwa Rifki sedang marah kepada Reno. Rifki yang mendengar ucapan Nadhira segera menoleh kearah Nadhira.
"Nadhira bertahanlah, Kalian" menunjuk kearah beberapa anak buahnya. "Bantu aku, bawa Nadhira kemobil".
Mereka membantu Rifki segera dan mengangkat Nadhira. Salah satu dari mereka memapah Rifki, setelah Nadhira dibawa pergi dari situ. Rifki berdiri dengan dipapah oleh salah satu dari mereka menghadap kearah Reno yang tengah berlutut.
Masih ada kemarahan didalam hati Rifki terhadap Reno, karena ia membiarkan Nadhira sendirian masuk kedalam markas, hingga menyebabkan Nadhira terluka parah. Tatapan Rifki kepadanya seperti harimau yang sedang kelaparan.
"Kembali kemarkas, setelah ini temui aku disana". Ucap Rifki dengan dingin kepada Reno.
__ADS_1
Reno hanya mengangguk mendengar ucapan Rifki, Rifki melangkah pergi dengan dipapah. Ketika mereka sampai diluar Rifki melihat ada mobil ambulance yang terparkir didepan markas.
"Kepala polisi yang memanggilnya kemari, karena banyak dari kita yang terluka". Ucap seseorang yang memapah Rifki, ketika melihat wajah kebingungan Rifki.