
Siang ini Nadhira, Rifki, Bayu dan Susi berkumpul ditepi danau seperti dahulu, kali ini Rifki mengajak teman temannya untuk memancing disana, Nadhira dan Susi hanya berdiam diri menunggu umpan dari Bayu dan Rifki disambar oleh ikan.
Rifki memang sengaja mengajak mereka untuk memancing kali ini, karena sebentar lagi dirinya akan pergi keluar negeri untuk melanjutkan pendidikannya seperti yang diharapkan oleh Kakeknya.
Sebentar lagi dirinya tidak akan bisa bersama sama dengan sahabatnya lagi dalam waktu yang cukup lama, mungkin disaat dirinya kembali lagi ketanah air mereka tidak akan bisa melakukan hal ini karena sibuk dengan urusannya masing masing.
"Rif, umpanmu dimakan!". Teriak Nadhira kegirangan.
Rifki dengan sesegera mungkin menarik kailnya, Susi dan Nadhira begitu senang ketika umpan yang diberikan oleh Rifki disambar oleh ikan, akan tetapi kesenangan itu tidak berlangsung lama karena ikan tersebut berhasil lepas dari pancingannya.
"Yah gagal deh, ngak jadi manggang ikan". Ucap Susi dengan sedihnya.
"Kamu sih Rif eh Tuan Muda, seharusnya nariknya itu jangan kuat kuat kan jadi terlepas". Ucap Bayu kepada Rifki sambil menepuk jidatnya.
"Iya ya maaflah, kan baru pertama kali aku mancing disini, wajar saja lah kan aku belum tau caranya untuk mancing". Ucap Rifki yang tidak mau disalahkan.
"Mangkanya tanya dulu dong sebelum asal narik aja, kan jadi terlepas begitu, kan gagal dapat ikannya".
"Lah kok malah marah? Yang disambar ikan kan umpanku, bukan umpanmu".
"Kan sama saja, kita juga mancingnya berdua, lain kali tanya dulu dong sebelum menarik pancingnya, kan jadi terlepas".
"Eleh... Umpanmu pun belum dimakan, pake acara ngajarin orang segala lagi".
"Ya ya ya... Bawahanmu ini yang salah, bukan dirimu". Ucap Bayu dengan pasrahnya.
"Tarek sis semangka". Ucap Susi ketika Bayu dan Rifki mulai berdebat lagi.
Cletak...
Sebuah jitakan meluncur dikepala Susi dengan lancarnya seakan akan tidak ada yang menghalanginya, Susi terlihat begitu marah karena pelakunya masih tetap sama yakni Rifki.
Sejak dulu Rifki memang paling suka untuk menjitak kening Susi, entah itu sebuah candu atau bagaimana yang jelas Rifki paling sering melakukan hal itu kepada Susi, Susi segera menggosok gosokkan tangannya ke keningnya yang sedikit kebas karena jitakan yang diberikan oleh Rifki kepadanya.
"Bisa ngak sih jangan jitak jitak gitu? Kamu itu selalu saja begini sama aku, emang kepala ini apaan ha? Seenaknya aja kamu itu". Keluh Susi kepada jitakan yang diberikan oleh Rifki kepadanya.
Ketiganya tertawa karena ekspresi wajah Susi yang sangat lucu tersebut, Rifki yang telah meluncurkan sebuah jitakan tersebut seolah olah tidak merasa bersalah sama sekali, justru dirinya tampak bahagia karena telah melontarkan sebuah jitakan kepada Susi.
"Dari pada dipukul, mending di jitak kan? Lagian kamu sih endel banget, salah pergaulan kali kau ini atau salah makan?". Gerutu Rifki kepada Susi.
"Dari pada lu sukanya main kekerasan, udah tau aku ini cewek masih aja dilawan, nantangin kamu?".
"Tapi Si, disini ngak ada antangin, kamu masuk angin?". Tanya Nadhira dengan polosnya.
"DHIRAAAAAAA!!!". Teriak Susi kearah Nadhira.
Susi terlihat begitu kesal kali ini, apalagi ucapan Nadhira seakan akan tengah mengejeknya itu, hal ini membuat keempat sahabat itu merasakan seperti waktu kecil mereka yang saling membuat sesamanya marah akan tetapi tidak ada dendam diantaranya.
"Aku salah apa?". Teriak Nadhira dengan sebuah senyuman sambil menutupi kedua telinganya dengan kedua tangannya.
Cletak...
Lagi lagi Rifki menjitak kepala Susi karena teriakannya itu membuat telinga Rifki seakan akan terasa sakit, hal itu membuat Susi segera menoleh kearah dimana Rifki berada saat ini.
"RIFKIIIIIIIIIII". Bentak Susi kepada Rifki yang ada disampingnya.
"BAYUUUU!!! HADIR". Melihat teman temannya yang berteriak membuat Bayu ikut ikutan berteriak memanggil namanya sendiri.
Teriakan Bayu tersebut membuat kail Rifki berhenti bergerak, yang tadinya mulai disambar ikan sekarang menjadi tenang kembali.
"Kalian ini berisik sekali, ikannya kabur nih". Gerutu Rifki ketika melihat umpannya tidak dimakan makan oleh para ikan yang ada didanau itu.
Akhirnya mereka kembali fokus kepada memancingnya, karena mereka ingin mendapatkan ikan jika mereka terus saja berisik bisa bisa ikannya pindah dari air malah menuju keudara.
Setelah menunggu lama akhirnya seekor ikan yang lumayan besar akhirnya dapat mereka tangkap, Rifki segera memasukkan ikan tersebut kedalam wadah yang telah ia siapkan sebelumnya, Nadhira memperhatikan ikan itu dengan seksama terlihat ikan itu begitu gemuk dan Nadhira pikir dagingnya akan banyak ketika dimakan nanti.
__ADS_1
Setelah sekian lama memancing akhirnya mereka mendapatkan 10 ekor ikan yang besarnya berbeda beda mulai dari yang paling kecil hingga paling besar, setelah itu mereka membawanya pergi dari tempat itu menuju kehalaman belakang markas Rifki.
"Siapkan alat pemanggang sekarang!". Perintah Rifki kepada anak buahnya.
"Baik Tuan Muda". Ucap anak buahnya dan segera melaksanakan perintah tersebut.
Anak buah Rifki segera bergegas untuk melakukan seperti apa yang diperintahkan oleh Rifki, sementara Nadhira segera mengambil alih wadah yang terdapat ikan tersebut dari tangan Bayu.
"Biar aku dan Susi saja yang menyembelih ikannya". Ucap Nadhira.
"Biarkan Bi Lina ikut membantu". Ucap Rifki kepada Nadhira.
"Ngak usah, Mbak Lina mungkin banyak tugas juga, aku dan Susi aja sudah cukup kok, apa kamu meragukan kemampuanku?". Tanya Nadhira.
"Bukan begitu, biasanya tuh cewek takut kalo mau menyembelih hewan, emang kamu berani?".
"Kau yang akan ku sembelih pun aku berani, masak ikan begini ngak berani".
"Emang kamu mau menyembelihku?".
"Bercandanya ngak lucu Rifki!".
"Siapa juga yang bercanda, aku kan hanya bertanya, emang kamu berani menyembelihku?".
"Siapa bilang aku ngak berani? Sudah ah, sana pergi bantuin tuh anak buahmu menyiapkan peralatan memanggang, atau kamu yang akan aku panggang". Ucap Nadhira dengan kesalnya karena gombalan dari Rifki.
Nadhira dan Susi segera meninggalkan tempat itu dan menuju kedapur untuk menyembelih ikan tersebut, meskipun agak takut dengan ikan yang masih hidup akan tetapi Nadhira mencoba untuk memberanikan dirinya.
Selagi Nadhira menyembelih ikan, Susi menyiapkan bumbu bumbunya dan ia haluskan untuk dilumuri diatas ikan tersebut nantinya, setelah sekian lama berkutik didapur akhirnya Nadhira dan Suci segera keluar dari sana menuju ke halaman belakang.
Rifki segera menerima wadah yang terdapat ikan yang sudah dibumbui dari tangan Nadhira, ia tidak menyangka bahwa Nadhira berani untuk menyembelih ikan tersebut.
"Kau tau Rif, bagaimana Nadhira berteriak tadi ketika menyembelih ikan? Itu menyenangkan sekali". Ucap Susi kepada Rifki.
"Susi!! Apa yang kau katakan!". Nadhira begitu sangat terkejut ketika mendengar Susi mengatakan hal tersebut kepada Rifki.
"Emang bener ya, mak mak itu suka sekali gibah". Gerutu Bayu yang sejak tadi mengipasi arang agar menyala terang untuk membakar ikan.
"Mending suka ngibah, daripada suka ngomel, siapa juga yang susah, pada akhirnya lelaki pun yang kena batunya". Jawab Rifki yang mendengarkan gerutu Bayu.
"Kalian berdua itu aneh ya, kadang hormat kek polisi dan tentara, terus kadang gulat kek kucing dan tikus, emang beli dua wajah itu dimana sih? Aku mau beli juga". Tanya Susi keheranan kepada sikap Bayu kepada Rifki dan sebaliknya yang sejak tadi seakan akan ingin sekali berantem.
"Aku saranin jangan beli dua wajah deh Si, satu wajah aja sudah nyeselin banget apalagi sampai punya dua wajah sekaligus, serius Si jangan beli". Nadhira memberikan sarannya kepada Susi.
Susi sama sekali tidak mengerti tentang hal ini, Rifki dan Bayu segera memanggang ikan tersebut tanpa bantuan dari anak buahnya, dan Rifki ingin berusaha untuk memanggangnya sendiri meskipun wajahnya sampai tercoret arang yang hitam legam.
Setelah ikan tersebut matang, Rifki segera membawanya menuju gazebo miliknya, Rifki menata ikan bakar tersebut diatas sebuah piring dan menaruhnya dimeja yang ada digazebo tersebut.
"Wih.. kelihatannya enak banget". Guman Susi.
"Iya dong, hasil usaha ku gitu lo".
"Rif kamu tampan sekali, apalagi pipi kirinya di tambahin pasti sudah kayak kucing". Ucap Nadhira sambil menatap ke wajah Rifki.
Rifki tertegun sebentar ketika mendengar ucapan Nadhira, melihat Nadhira dan Susi tertawa bersamaan membuat Rifki mengusapi wajahnya akan tetapi tawa keduanya semakin keras.
"Bay, ada apa dengan wajahku?". Tanya Rifki yang justru dibalas tawaan oleh Bayu.
"Tolong ambilkan cermin kecil untuk Tuan Muda". Ucap Bayu memerintahkan anggotanya.
"Baik Tuan".
Tak beberapa lama kemudian anak buahnya segeda datang sambil membawakan cermin yang diinginkan oleh Bayu, sebelum Bayu menerima cermin tersebut Rifki segera mengambilnya dan melihat ada apa dengan wajahnya.
Rifki terkejut melihat bayangannya yang ada didalam cermin tersebut, ternyata pipi sebelahnya hitam karena terkena arang, melihat itu Rifki ikut tertawa didepan cermin tersebut.
__ADS_1
Tawa Rifki tersebut membuat teman temannya merasa aneh sehingga mereka menghentikan tawa mereka, mereka memandang kearah Rifki dengan curiga kenapa Rifki justru tertawa dengan hal itu bukannya malah mengusapinya justru dia malah membiarkannya begitu saja.
"Sudah boleh makan belom?". Tanya Susi sambil menatap kearah ikan bakar tersebut.
"Belum".
Plok plok plok
Rifki menepuk kedua tangannya untuk memberi tanda kepada anak buahnya untuk membawakan sesuatu ketempat itu, tak lama kemudian datanglah anak buahnya sambil membawakan sebuah wadah yang cukup besar.
Anak buahnya itu segera menaruhnya diatas meja, ketiga sahabatnya itu begitu terkejut ketika melihat apa yang dibawa oleh anak buahnya itu, Rifki yang melihat wajah terkejut teman temannya hanya bisa tertawa seorang diri.
"Nasi?". Tanya Nadhira.
"Kalau di Indonesia tidak bisa disebut makan kalau ngak pake nasi". Jawab Rifki dengan santainya.
"Boleh juga". Ucap Bayu sambil menuangkan nasi kedalam piringnya.
Melihat Bayu yang mulai melahapnya membuat Rifki mengikutinya dan melahap juga nasi dan ikan tersebut, ketika Susi melihat kearah Nadhira, Nadhira hanya menjawabnya dengan mengangkat kedua bahunya dan juga ikut menuangkan nasi kedalam piringnya dan memgambil ikan panggangnya.
Ketiganya makan dengan lahapnya meninggalkan Susi yang tengah mematung, dan tak beberapa lama kemudian akhirnya Susi ikut memakan ikan bakar tersebut dengan lahapnya.
Mereka memakannya dengan lahap, sampai ikan yang mereka makan tandas tak tersisa sedikitpun, setelah itu mereka segera meminum minuman yang telah disediakan ditempat itu, selesai makan keempat kembali berbicang bincang santai.
"Aku pasti akan merindukan hal ini". Ucap Rifki.
"Tenang saja, setelah kamu pulang ketanah air kita akan melakukan hal ini lagi, kamu ngak perlu khawatir markasmu akan aman bersamaku". Ucap Bayu dengan membusungkan dadanya.
"Justru ini yang aku takutkan". Ucap Nadhira. "Emang kamu disana berapa tahun Rif?".
"Mungkin kurang lebih 7 tahunan Dhira, kan disana juga ada cabang perusahaan milik Kakek, jadi aku mau kesana untuk menghandlenya juga".
"Setelah itu cepat pulang".
"Iya Dhira, doakan saja semoga lancar diperjalanan, aku akan secepatnya untuk pulang kok, biar bisa berkumpul dengan kalian lagi".
"Kami akan selalu mendoakan yang terbaik untukmu kok Rif". Ucap Ketiganya bersamaan.
"Makasih".
"Ngak ada terima kasih dan maaf, kita kan sahabat, bukan begitu?". Tanya Nadhira kepada Bayu dan Susi.
"Betul tuh". Jawab Bayu dan Susi bersamaan.
Keempat menghabiskan waktu itu bersama sama, mereka saling bercanda dan bergurau tanpa membedakan kedudukan, Rifki lebih menyukai bergabung bersama bawahannya tanpa adanya kedudukan diantaranya daripada ditakuti oleh bawahannya karena dia memiliki kedudukan tinggi diantara mereka.
Rifki memang tidak pernah mempublikasikan kedudukannya, karena dirinya tidak ingin dihormati hanya karena kedudukannya yang tinggi akan tetapi Rifki ingin mereka menganggap dirinya manusia bukan hanya karena kedudukannya akan tetapi karena kebaikannya.
Bagi Rifki uang bukanlah tolak ukur untuk dapat menghormati seseorang, meskipun banyak uang akan tetapi tidak mampu menghormati orang lain lantas untuk apa uang tersebut, Rifki akan menghormati siapapun yang bisa menghormatinya.
Rifki akan memandang rendah siapapun itu yang juga memandangnya rendah, akan tetapi Rifki juga akan menghormati siapapu itu yang dapat menghormatinya dengan tulus meskipun orang itu adalah seorang pemulung dan sebagainya.
Tanpa sadar waktu jugalah yang memisahkan ketiganya, kali ini Susi mengajak Nadhira bareng naik motornya jadi Rifki tidak mengantarkan Nadhira untuk pulang malam ini, Nadhira dan Susi sangat jarang sekali pulang berdua seperti malam ini sehingga Susi ingin mengajak Nadhira untuk pulang bersama.
Diperjalanan keduanya saling bercerita satu sama lain mengenai hari hari mereka disekolah masing masing, karena keduanya jarang bertemu sejak mereka masuk kesekolah yang berbeda sehingga banyak sekali cerita yang keduanya ceritakan.
Nadhira juga menceritakan mengenai hal apa yang mencurigakan menurutnya, Nadhira curiga dengan hubungan Mama tirinya dengan kemarian Mama kandungnya kepada Susi juga.
"Jadi kamu curiga dengan Mama tirimu dan kamu menduga bahwa ini ada hubungannya dengan kematian dari Tante Lia?". Tanya Susi penasarannya dengan apa yang dikatakan oleh Nadhira dan dirinya mengira bahwa dirinya salah mendengarnya.
"Aku merasa juga begitu Si, aku ngak tau lagi apa yang harus aku lakukan jika hal itu benar benar terjadi". Ucap Nadhira dengan bingungnya.
"Jika itu benar, jahat banget sih Mama tirimu itu Dhir, coba deh kamu bilang ke Papamu, kamu harus hati hati dengan dia Dhir, kalau dia sampai membunuh orang itu artinya bisa saja dia melakukan hal yang sama lagi".
"Yang aku takutkan juga begitu Si, entah apa tujuannya melakukan hal itu kepada keluargaku".
__ADS_1
Tak beberapa lama kemudian akhirnya mereka sampai juga dirumah Nadhira, Susi segera pamit dari sana setelah kepergian dari Susi, Nadhira segera masuk kedalam rumahnya.