
Tak beberapa lama kemudian berhentilah mobil itu didepan sebuah bangunan kosong yang ada didalam desa tersebut, bangunan itu nampak sudah bertahun tahun lamanya ditinggalkan oleh pemiliknya sehingga kondisi bangunan itu sangat menyedihkan karena ditumbuhi oleh begitu banyak tanaman merambat dan juga kondisi bangunan yang separuhnya telah roboh karena masa.
"Pak mobilnya bisa diajukan sedikit? Pemilik bangunan ini nampaknya tidak menyukai dengan kehadiran kita kemari" Ucap Nadhira.
"Baik Non".
Akhirnya mobil tersebut melaju sedikit kedepan sesuai dengan keinginan Nadhira, setelah itu Nadhira segera turun dan berjalan kaki menuju kearah bangunan itu, tidak ada yang mengetahui bahwa kesadaran Nadhira kini berganti dengan Nimas.
Melihat Nadhira yang turun dari mobil itu membuat Theo segera bergegas mengikutinya mengikutinya untuk pergi menuju kearah bangunan yang telah terbengkalai itu.
"Dhira apa yang kau lakukan? Jangan pergi kerumah itu" Theo berusaha untuk mencegah Nadhira.
"Kenapa? Aku hanya ingin bertanya tentang rumah yang ingin aku datangi, jika manusia tidak bisa memberitahunya, alam gaib pasti bisa" Jawab Nimas melalui tubuh Nadhira.
Nadhira tetap melanjutkan jalannnya tanpa mempedulikan tindakan Theo yang berusaha untuk mencegahnya itu, kedatangan Nimas dibangunan terbengkalai itu mendapatkan sebuah sambutan dari mahluk mahluk yang ada disana.
Selama ini tidak ada yang berani mendekat kearah bangunan itu karena banyak gangguan gangguan gaib yang akan didapatkan oleh orang orang yang sengaja untuk mendatanginya sehingga tidak ada yang berani mendekat kearah tempat itu.
Jika menurut pengelihatan orang biasa tanpa kemampuan mata batin mereka hanya akan melihat sebuah bangunan yang sudah hancur karena telah ditelan oleh masa dan terlihat sangat enggan untuk didatangi karena banyaknya tumbuhan yang tumbuh subur ditempat itu.
Berbagai jenis mahluk gaib yang ada ditempat itu, mulai dari mahluk gaib yang berupa anak kecil, usia remaja, usia dewasa, usia tua, dan berbagai macam mahluk yang sangat menyeramkan ada ditempat itu.
Akan tetapi jika menurut pengelihatan orang orang yang mampu melihat alam gaib, mereka akan melihat hal yang berbeda, mereka akan melihat bahwa dibangunan itu masih ada sebuah kehidupan didalamnya sehingga mereka akan melihat adanya aktivitas didalam bangunan itu.
Keduanya segera disambut oleh sebuah sosok yang memakai baju putih dengan bersimbah darah didalam tubuhnya, mungkin jika dilihat lihat mahluk itu seperti kehilangan kedua matanya sehingga dirinya terlihat seperti menangis darah.
Ada juga mahluk yang merangkak disana sambil memegang bagian tubuhnya yang berupa tangan maupun kaki yang telah terpotong ketika mereka masih hidup didunia sebelumnya.
Menurut mitos warga sekitar itu, rumah tersebut dulunya ditinggali oleh sepasang suami istri tapi sang suami adalah seorang psikopat sehingga ia membunuh istrinya sendiri dalam keadaan sadar, banyak orang yang tidak terima karena pembunuhan yang terjadi dengan si istri sehingga banyak warga yang mengamuk.
Sang suami itu tidak segan segan untuk menghabisi siapa saja yang berani mendekat untuk menyerangnya, karena amukan warga itu membuat lelaki tersebut kehilangan nyawanya dan karena begitu banyak korban yang ada ditempat itu sehingga warga desa enggan untuk memakamkan lelaki yang menjadi seorang psikopat itu.
Sehingga jasad sang suami itu segaja digeletakkan begitu saja didalam bangunan tua itu, jika ada yang berani untuk memasukinya mungkin mereka akan melihat adanya kerangka tubuh manusia yang masih ada ditempat itu sampai sekarang.
"Kami memberi hormat kepada sang Ratu iblis" Ucap para mahluk gaib yang ada disitu sambil menunduk hormat dihadapan Nadhira.
Setelah mengucapkan itu, tiba tiba bau anyir darah, wangi bunga, dan lain sebagainya dapat tercium dengan jelas oleh Theo, Theo merasa merinding ditempat itu sehingga dirinya berusaha untuk mengajak Nadhira kembali kedalam mobil akan tetapi Nimas yang sedang menggerakkan tubuh Nadhira terus saja menolaknya ajakan Theo.
"Dhira ayo balik, aku merasa tidak nyamam ditempat seperti ini".
Nadhira sama sekali tidak mempedulikan ucapan Theo, karena memang dirinya sudah dikendalikan oleh Nimas sehingga ia sama sekali tidak peduli dengan perkataan Theo.
"Saya menerima hormat dari kalian" Ucap Nimas dengan menggunakan tubuh Nadhira.
"Kalau boleh tau, kenapa Ratu iblis tiba tiba datang menemui kami?"
"Aku datang kemari untuk memberikan tugas untuk kalian, tugas itu sangat mudah bagi kalian"
"Tugas apa itu Ratu?"
"Ceritakan kepadaku tentang rumah yang ingin aku tuju bersama dengan rombonganku".
"Rumah itu dulunya dihuni oleh seorang sepasang suami istri, tapi kelakuan mereka sama sama bejatnya, keduanya sering bergonta ganti pasangan dan sudah terlalu banyak orang yang keluar masuk kedalam rumah tersebut, banyak warga yang tidak menyukai kehadiran dari orang orang itu, dari tempat ini kau bisa lurus keutara, rumahnya berada digang paling ujung dari sini, pemilik rumah itu bernama Dwija dan istrinya bernama Sena".
"Terima kasih atas info yang telah kau berikan kepadaku, aku akan memberikan hadiah sebuah energi kepada kalian semua".
"Terima kasih Ratu iblis".
Nimas yang menggunakan tubuh Nadhira segera membentangkan tangannya dan seakan akan tengah menyerap energi alam yang ada disekitarnya, yang dibutuhkan oleh para mahluk gaib adalah sebuah energi sehingga mereka sangat membutuhkannya dan kadang kala mereka akan menyerap energi manusia sesuka hati mereka agar mereka mampu hidup abadi.
Setelah energi itu terkumpul, Nimas segera memberikan energi tersebut kepada para mahluk yang ada disana, ketika proses itu selesai Nimas segera keluar dari tubuh Nadhira hingga membuat Nadhira sedikit tersentak dan termuntahkan seteguk darah segar dari mulutnya.
"Nimas lain kali pelan pelan napa kalau mau keluar, luka ku belum sembuh"
__ADS_1
"Maaf Dhira, energi ku hampir habis, jika aku tetap memakai tubuhmu energimu pun akan ikut habis nantinya" Jawab Nimas.
Nadhira seakan akan terasa begitu lemas, dengan pelannya dia mengusapi ujung bibirnya menggunakan ibu jarinya, Nadhira seakan akan terdorong kebelakang dan hampir jatuh, untung saja ada Theo yang segera menangkap tubuhnya.
"Dhira kau ngak apa apa?" Tanya Theo dengan khawatirnya ketika melihat masih ada setitik darah diujung bibir Nadhira.
"Aku ngak apa apa, sebaiknya kita segera pergi dari sini, mereka tidak menginginkan kehadian dari kita, aku sudah mengetahui rumahnya, sebaiknya kita segera kesana".
"Kau beneran tidak apa apa Dhira? Kenapa bisa ada darah dibibirmu seperti itu?"
Theo ingin mengusapi darah tersebut akan tetapi tangan Nadhira segera menangkisnya dan tidak membiarkan Theo melakukan itu, setelah itu Nadhira mengusapinya lagi menggunakan lengan bajunya.
"Aku ngak apa apa, kau tidak perlu se khawatir itu" Jawab Nadhira dengan cepat.
"Bagaimana aku tidak khawatir Dhira, kamu tiba tiba berdarah seperti ini"
"Aku bilang aku ngak apa apa, sudahlah ayo kita pergi dari sini, sebelum penghuni tempat ini semakin marah dengan kita"
Nadhira segera bergegas kembali menuju kemobilnya sementara Theo masih memandangi sekitar tempat itu dengan perasaan sedikit ngeri melihatnya, setelah itu ia segera bergegas untuk mengikuti Nadhira yang kembali masuk kedalam mobil.
"Kalian dari mana?" Tanya Bi Ira ketika melihat Nadhira masuk kedalam mobilnya.
"Habis bertanya dengan seseorang"
"Seseorang? Tapi disekitar sini tidak ada orang Dhira" Ucap Bi Ira dengan ragunya.
"Itu Bi...." Ucap Theo menggantung.
"Ada kok Bu, jalankan saja mobilnya Pak, nanti berhenti tepat diujung jalan ini" Ucap Nadhira memerintahkan Pak Mun untuk menjalankan mobil.
"Baik Non".
Mobil itu terus berjalan sesuai dengan perintah Nadhira, dan mobil itu berhenti tepat diujung jalan yang ada ditempat itu, terlihat hanya ada beberapa rumah warga yang ada ditempat itu saat ini, dan rumah rumah tersebut seakan akan terlihat sepi tanpa berpenghuni akan tetapi masih ada warga yang berada didalam rumah yang ada ditempat itu.
"Kalau ngak salah yang ini Pak rumahnya" Ucap Nadhira sambil menunjuk kearah sebuah rumah yang berada didekat mobil yang ia naiki.
Rumah yang ditunjuk oleh Nadhira itu sama persis dengan rumah yang ada didalam foto tersebut, tidak ada yang berubah sama sekali, sehingga Nadhira mampu untuk menunjuk kearah rumah tersebut.
Rumah tersebut terlihat begitu bersih seakan akan ada seseorang yang sengaja diperintahkan untuk membersihkan rumah itu setiap harinya, bangunannya juga masih terlihat bagus dan masih sangat layak untuk ditinggali.
Nadhira segera turun dari mobil tersebut diikuti oleh yang lainnya, baru pertama kali dirinya menginjakkan kaki dirumah lama Sena, ia tidak menyangka bahwa dirinya saat ini sudah berdiri didepan rumah tersebut.
"Permisi Neng, mencari siapa ya?"
Tiba tiba seorang lelaki paruh baya mendatangi tempat dimana Nadhira berdiri saat ini, lelaki itu terlihat begitu kurus dan seluruh rambutnya sudah memutih karena dimakan oleh usianya, akan tetapi tubuhnya masih terlihat begitu tegapnya meskipun hanya tinggal kulit dan daging yang dapat terlihat.
"Maaf Pak, apakah ini rumah Pak Dwija?" Tanya Nadhira kepada lelaki paruh baya itu.
"Iya bener Neng, ada apa ya Neng datang kemari?"
"Apa orangnya ada dirumah Pak?"
"Wah kalau itu mah sudah bertahun tahun yang lalu orangnya pergi dari sini Neng, sekarang rumah ini sepi, tidak ada yang mau menempati Neng".
"Sepi? Kalau boleh tau, kemana perginya Pak Dwija?"
"Kalau soal itu Bapak tidak tau Neng, dia dulu pergi juga tidak bilang bilang mau kemana, terus istrinya juga pergi entah kemana, Bapak juga tidak tau".
"Istrinya sudah menikah dengan Papa saya Pak, saya datang kemari untuk...."
"Kau anaknya? Mari masuk dulu, kita bicarakan didalam saja, tidak enak jika berbicara dengan cara seperti ini".
Belum selesai Nadhira mengatakan sesuatu, pria paruh baya tersebut mempersilahkan Nadhira dan yang lainnya untuk masuk kedalam rumah tersebut, pria paruh baya itu adalah orang yang selama ini merawat rumah itu sehingga dirinya mampu untuk membawa Nadhira masuk kedalamnya.
__ADS_1
Nadhira menoleh kearah Theo untuk meminta jawaban, Theo hanya bisa menganggukkan kepalanya pelan kepada Nadhira, hal itu membuat Nadhira segera melangkah untuk mengikuti pria tersebut yang akan masuk kedalam rumah itu.
Melihat itu membuat Pak Mun dan Bi Ira juga ikut serta masuk kedalamnya secara bersama sama, mereka tidak akan membiarkan Nadhira untuk bertindak sendiri kedalam rumah itu, setelah mereka masuk kedalamnya dan mereka segera dipersilahkan untuk duduk diruang tamu.
"Kau anak tiri dari Sena?" Tanya pria itu setelah Nadhira duduk dikursi ruang tamu.
"Iya Pak, kenapa ya Pak?" Tanya Nadhira keheranan.
"Dia adalah wanita yang sangat licik Nak, warga disekitar sini tidak ada yang menyukainya sama sekali karena dia itu bukan wanita baik baik, dan dia suka sekali gonta ganti pasangan, dia sengaja menjebak Ayahmu menggunakan anaknya sendiri".
"Menjebak Ayahku? Maksudnya gimana Pak?"
"Sebenarnya anak perempuannya itu entah anak siapa, dan dia mengaku bahwa anak itu adalah anak dari Rendi sehingga Rendi terpaksa harus menikahinya agar identitas dari anaknya tidak terbongkar".
"Apa? Jadi saudara tiriku itu ........"
Nadhira begitu terkejut mendengar ucapan dari pria paruh baya tersebut mengenai sosok Sena, ternyata Sena adalah seorang pela**r yang suka sekali bermain main dengan seorang pria sebelumnya.
Setelah kematian dari Ayahnya waktu itu, Sena menjadi seorang wanita yang liar dan sangat sulit untuk dibilangi ataupun dinasehati sehingga dirinya terjerat dalam manisnya duniawi, Nadhira sama sekali tidak mempercayai apa yang ia dengar saat ini.
"Ketika Sena hamil waktu itu, dia ingin sekali untuk mengugurkan kandungannya, akan tetapi Rendi mencegahnya sementara suaminya Dwija, ia sangat lelah dengan kelakuan istrinya sehingga ia ikut serta terjerat dalam kegilaan se* bebas, sehingga membuat seluruh warga sangat membenci keluarga ini dan mengatakan bahwa mereka telah mencoreng nama baik desa ini".
"Mungkin itu adalah penyebab kenapa warga desa terlihat marah ketika aku bertanya tentang alamat rumah ini sebelumnya" Selah Pak Mun.
"Kau benar, jika kau bertanya tentang Dwija ataupun Sena, mungkin kalian akan segera diusir dari desa ini sebelum kalian selesia bertanya, saya tidak tau gadis itu anak dari siapa dan laki laki yang mana" Ucapnya dengan nada acuh tak acuh.
"Kasihan Manda, dia tidak salah dalam hal ini, dan mungkin dia akan terluka hatinya ketika mendengar kebenaran ini nanti" Guman Nadhira.
Bi Ira tiba tiba memegangi pundak Nadhira dan seraya berkata, "Kenapa kau masih memikirkan tentang gadis itu Nak? Dia bahkan sangat membencimu selama ini dan memberimu minuman minuman beralkohol agar kau bisa dilecehkan".
"Bu, setiap manusia pasti memiliki kesalahan, jika aku membencinya itu sama saja aku seperti dirinya, lalu apa bedanya aku dengan dirinya? Jika mereka berbuat jahat bukan berarti kita harus membalas mereka dengan hal yang sama, dia adalah Adikku, tidak seharusnya aku sebagai Kakaknya juga ikut membenci dirinya".
"Dhira, sebenarnya hatimu itu terbuat dari apa sih?" Tanya Theo yang mendengar ucapan Nadhira.
"Kita hanyalah sebongkah tanah yang diberi nyawa oleh sang pencipta dan nantinya akan kembali lagi ketanah, kita tidak akan bisa untuk disamakan dengan langit, kalau bukan aku yang ada untuk Amanda siapa lagi yang akan peduli dengan dirinya? Aku adalah saudaranya dan sebagainya saudara tidak boleh ada yang saling membenci".
"Kau benar Nak, maafkan Ibu telah salah mengatakan hal seperti itu kepadamu" Ucap Bi Ira.
"Ibu tidak perlu minta maaf, Ibu juga tidak salah kok".
Nadhira terdiam beberapa saat dan berpikir bahwa pria paruh baya tersebut pasti begitu sangat mengenal sosok Sena, dan itu artinya pria paruh baya tersebut sudah sangat lama tinggal didesa itu.
"Oh iya Pak, apakah Bapak sudah tinggal ditempat ini sangat lama?" Tanya Nadhira kepada pria itu.
"Sejak istri Bapak meninggal sekitar 20 tahun yang lalu, Bapak sudah berada disini untuk membersihkan rumah ini".
"Kalau begitu Bapak pasti tau tentang kejadian delapan tahun yang lalu dirumah ini?".
"Kejadian apa? Begitu banyak kejadian dirumah ini".
Nadhira mengeluarkan sebuah foto yang ada didalam tasnya dan memberikan foto tersebut kepada pria paruh baya itu, pria itu menyipitkan matanya untuk dapat melihat gambar yang tertera pada kertas putih itu.
"Apa Bapak pernah melihat wanita itu datang kemari sebelumnya?" Tanya Nadhira.
"Kalau wanita ini aku tidak melihatnya, mungkin saja Dwija yang mengetahui tentang hal ini".
"Kemana aku harus mencari Pak Dwija" Ucap Nadhira dengan rasa kecewanya karena tidak mampu bertemu dengan orang yang ia cari.
"Mungkin dirumah orang tuanya, karena sejak kedatangan Rendi, orang itu tiba tiba menghilang begitu saja, tidak ada yang mengetahui dimana keberadaannya".
"Kalau boleh tau, alamatnya dimana ya Pak?"
...Jangan lupa like dan dukungannya 🥰 Terima kasih, salam cinta dari Author...
__ADS_1
...Jaga juga kesehatan ya,...