Apa Salahku Pa

Apa Salahku Pa
Dia adalah sahabatku


__ADS_3

Sulit bagi Nadhira untuk menjelaskannya kepada orang orang mengenai dirinya, bagaimana hal itu bisa terjadi kepadanya, Nadhira sendiri juga tidak mengerti apa yang terjadi kepadanya, hanya Rifki yang mampu melihatnya karena terbukanya indra keenamnya, yang Nadhira ingat hanyalah ucapan dari Nimas yang mengatakan bahwa dirinya tidak akan selamat jika terjadi sesuatu dengan permata yang ada didalam tubuhnya.


Ketika Nadhira mengingat hal itu, ia merasa begitu sedih tetapi ia harus tetap tersenyum didepan orang orang yang sangat berarti untuknya, ia tidak ingin mereka melihat kesedihan dari wajahnya, ia hanya ingin mereka melihat tawa bahagia dibalik topengnya dan menyembunyikannya wajah aslinya.


Nadhira terlihat begitu bingung dengan apa yang terjadi kepadanya, ia tidak mampu untuk menceritakan masalah Nimas kepada siapapun, karena memang dirinya tidak mengetahui apapun tentang Nimas dan dendam yang ia bawa kembali.


"Kalo ada masalah ceritakan saja kepada ibu nak". Ucap bi Ira dengan lembutnya.


"Iya bu, tapi untuk kejadian ini aku benar benar tidak mengetahuinya sama sekali, yang aku ingat hanyala pandangan yang begitu gelap, seakan akan tidak ada jalan untuk kembali".


Nadhira mengingat kembali kejadian disaat dirinya belum dirasuki, saat itu jantungnya seakan akan berdetak begitu kencangnya, pandangan mulai kabur dan lama lama berubah menjadi hitam total, disaat itulah dirinya mulai tidak sadarkan diri.


Nadhira merasakan ada sosok lain yang ingin mengambil alih tubuhnya, tetapi suara yang dilontarkan Rifki kepadanya membuatnya tersadar tetapi bukan dialam nyata melainkan dialam yang penuh dengan ilusi kegelapan yang menyelimuti dirinya, ia tidak menyangka bahwa dirinya telah dirasuki dengan tiba tiba.


Nadhira juga merasakan sakit yang teramat sangat, karena sosok itu terus memaksakan diri untuk masuk kedalam tubuhnya, tetapi kekuatan yang diberikan kepadanya oleh sosok seorang lelaki memaksa energi dari mahluk itu keluar dari tubuh Nadhira.


Karena kekuatan itu yang terus beradu, membuat Nadhira merasakan dampak dari kejadian itu, hal itu membuat kesadarannya semakin melemah, dan tenaganya hampir habis disaat itu.


Karena sakitnya membuat Nadhira menyerah sehingga sosok itu berhasil mendapatkan kendali tubuhnya, dan disaat itu juga Nadhira sudah tidak merasakan apa apa lagi, karena dia sudah berada dialam bawah sadarnya.


Menyadari itu Rifki segera berteriak memanggil nama Nimas, karena Rifki merasakan bahwa Nadhira sudah tidak sadarkan diri, setelah itu ia berteriak kepada mahluk tersebut dan mendapatkan jawaban dari mahluk itu tanpa sepengetahuan Nadhira.


Nadhira tidak mengetahui bahwa Nimas tengah berkelahi dengan sosok mahluk itu untuk mendapatkan kembali tubuh Nadhira dengan bantuan dari Rifki dan Raka, begitupun dengan kekuatan permata yang memaksa mahluk itu untuk segera keluar dari tubuh Nadhira.


"Nadhira ngak usah khawatir, sekarang Nadhira sudah mendingan kan?".


Nadhira tersenyum kepada ibu angkatnya, tetapi pikirannya terus memikirkan apa yang dikatakan oleh Nimas dan Rifki, diwajahnya mampu terukirkan sebuah senyuman tetapi dihatinya siapa yang akan tau mengenai hal itu.


Ketika mengingat kembali kejadian siang ini, Nadhira sangat tidak mempercayai hal itu, tetapi biar bagaimanapun juga hal ini benar benar telah terjadi kepadanya karena tubuhnya telah dirasuki.


"Iya sekarang, tetapi aku tidak tau dengan besok dan besoknya lagi". Ucap Nadhira dengan refleknya dan tanpa ia sadari hal itu terucap begitu saja.


"Apa yang kau katakan nak?".


"Ah tidak apa apa kok bu". Ucapnya sambil menggelengkan kepalanya.


Bi Ira mengusap tangan Nadhira, pandangannya tertuju kearah Nadhira berada, Nadhira yang ditatap seperti itu membuatnya menundukkan kepalanya dan tersenyum tipis.


"Kamu persis seperti sahabat ibu".


"Sahabat ibu? Yang sering ibu ceritakan itu ya, dia pasti orang baik, sampai sampai ibu tetap mengingatnya dan selalu merindukannya".


"Dia memang baik nak".


"Semoga ibu bisa bertemu lagi dengan beliau ya, beliau pasti juga sedang merindukan ibu".


Siang itu bi Ira terus menceritakan kisah tentang masa lalunya bersama sahabatnya, bagaimana mereka melewati hari hari mereka dengan bahagianya, bermain bersama tanpa membedakan kedudukan dan yang lainnya.

__ADS_1


Sahabat dari bi Ira adalah orang yang ramah, selalu melindungi bi Ira ketika dirinya dihina ataupun dicaci dengan orang lain, karena bi Ira adalah anak yatim piatu sehingga dirinya selalu dipandang rendah oleh yang lainnya kecuali sahabatnya yang selalu menyemangatinya dan selalu ada untuknya.


"Dia berkata bahwa dia tidak akan pernah meninggalkanku, dan kita akan menjadi sahabat untuk selamanya".


"Kalo Dhira boleh tau, Sahabat ibu kira kira sudah berumur berapa?".


"Kurang lebih 40 tahun nak".


Nadhira tersenyum mendengar jawaban itu, usianya hampir sama seperti mamanya yang telah lama meninggal, seandainya mamanya masih ada mungkin Nadhira akan menceritakan tentang sosok perempuan yang dipanggilnya sebagai ibu kepada mamanya itu.


Mungkin mamanya akan senang karena hadirnya bi Ira dalam kehidupan Nadhira yang membuat Nadhira mampu melewati cobaan yang selalu menimpanya.


Dari gambaran yang diceritakan oleh bi Ira mengenai sahabatnya, Nadhira mampu menduga bahwa orang yang dimaksud oleh bi Ira adalah wanita yang cantik, baik, lemah lembut, dan penyayang.


Nadhira memang tidak tau wajah asli dari wanita itu, tetapi Nadhira selalu membayangkan bagaimana sosok wanita itu, pasti dia akan begitu senang ketika bertemu dengan wanita itu.


Tiba tiba tangan Nadhira terasa seperti kesemutan dan pegal pegal. Nadhira menoleh kesana kemari mencari dimana ia menaruh kotak obatnya, ia mengingat ingat kembali dimana ia menaruhnya.


"Dhira minta tolong ambilkan kotak obat yang ada dilaci itu bu". Nadhira menunjuk kesebuah laci yang jauh darinya.


Bi Ira segera berjalan menuju laci tersebut, tetapi ketika ia hendak membukanya, ternyata laci itu masih terkunci, Nadhira menepuk jidatnya ia lupa bahwa ia telah mengunci laci tersebut.


"Maaf bu, aku lupa, ini kuncinya".


Nadhira memberikan kepada ibu angkatnya tersebut kunci dari laci itu, setelah itu bi Ira segera bergegas untuk membuka laci tersebut, alangkah terkejutnya ketika ia membukanya ia menemukan sebuah foto didalam figora yang berada dilaci tersebut.


Bi Ira segera mengambil foto tersebut, ia mengusap pelan dikaca bingkai foto itu, tanpa ia sadari airmatanya menetes dan membasahi pipinya.


"Ada apa bu?".


Ucapan Nadhira segera menyadarkannya dari lamunan, bi Ira sama sekali tidak menyangka bahwa apa yang ia lihat saat ini, tubuhnya bergemetaran akan hal itu.


Karena penasarannya Nadhira bangkit dari tempat tidurnya dan berjalan mendatangi bi Ira yang seakan akan sedang menangis, Nadhira melihat foto yang ada ditangan bi Ira, itu adalah satu satunya foto mamanya yang tersisa.


"Kenapa ibu menangis? Ibu kenal dengan orang yang ada didalam foto itu?". Tanya Nadhira lirih sambil menunjuk kearah foto itu.


"Iya nak ibu kenal, dia adalah sahabatku Amalia, yang selama ini menghilang entah kemana, sampai sekarang dia tidak pernah memberi kabar kepadaku, apa nak Dhira tau dimana dia sekarang?".


Nadhira begitu terkejut ketika mendengar bahwa orang yang ada didalam foto tersebut adalah sahabat baik dari ibu angkatnya, dia adalah orang yang sering bi Ira ceritakan kepada Nadhira, bi Ira begitu merindukan sosok sahabat itu.


"Ibu tau dimana dia sekarang... Hiks... Hiks... ". Tangis Nadhira pecah seketika.


Nadhira terjatuh duduk didekat bi Ira, seketika itu juga bi Ira terkejut ketika melihat Nadhira mulai menangis setelah mengatakan hal itu kepadanya.


"Nak ada apa?". Ucap bi Ira dengan paniknya ketika melihat Nadhira yang menangis.


"Dia tidak bisa memberi kabar kepada ibu selama ini, karena dia....". Nadhira begitu ragu untuk mengatakannya kepada ibu angkatnya itu.

__ADS_1


Nadhira memejamkan kedua matanya, ia sangat sulit untuk mengatakan hal itu kepada ibu angkatnya, biar bagaimanapun ibunya telah menunggu kabar dari sang sahabat yang telah lama tidak bertemu dan tidak pernah ada kabar selama ini.


"Dia kenapa nak? Dia kenapa? Katakan kepada ibu nak, dia kenapa?".


Nadhira memandangi wajah ibu angkatnya dengan seksama, mata sang ibu berbinar binar ketika mengetahui bahwa ia telah menemukan sahabatnya, wajah itu begitu penasarannya dan menunggu jawaban dari Nadhira mengenai sahabatnya yang selama ia cari.


"Karena... Dia.... Dia.... Sudah tiada, beberapa tahun yang lalu, meninggalkan kami semua, hua... Hua... ". Nadhira memeluk ibu angkatnya dengan eratnya.


"APA!!". Bi Ira sangat sulit untuk mempercayai bahwa sahabatnya telah pergi meninggalkannya.


Setelah penantian yang begitu panjang, akhirnya ia berhasil menemukan dimana sahabatnya tinggal selama ini, tetapi tidak dengan sosoknya karena sosoknya telah lama pergi untuk selama lamanya.


"Beliau adalah mamaku bu hiks.. hiks.. hiks.., orang yang selama ibu cari adalah orang yang paling aku rindukan selama ini, beliau pergi dengan tiba tiba dan sampai sekarang beliau tak kunjung kembali juga". Isak tangis Nadhira dapat terdengar didalam pelukan ibu angkatnya itu.


"Jadi kamu adalah anak dari sahabatku nak? Meskipun aku tidak bisa bertemu dengannya lagi, setidaknya anaknya sekarang menganggapku sebagai ibu".


Bi Ira memeluk Nadhira dengan eratnya seakan akan gadis yang ada dipelukannya itu adalah sahabatnya yang telah lama ia rindukan meskipun begitu airmatanya tak mampu ia tahan lagi.


Ia merasa beruntung karena bisa menemukan anak dari sahabatnya yang ia rindukan itu, dan ia akan selalu menjaga anaknya seperti Amalia yang selalu menjaganya ketika waktu kecil, yang selalu ada untuk bi Ira ketika ia membutuhkan.


Nadhira mengambil foto yang ada ditangan ibu angkatnya itu, ia memandangi foto tersebut dengan perasaan yang terasa seperti campur aduk, antara rindu, sedih, dan senang ketika mengetahui bahwa orang yang selama ini ia panggil ibu adalah sahabat dari mamanya yang telah lama pergi.


"Hanya foto ini yang aku punya, semuanya sudah dibakar oleh wanita jahat itu, hidupku menderita gara gara dia,,, arghh....". Teriak Nadhira dengan tangisan pilunya yang selama ini ia tahan.


Karena kamar Nadhira dibuat kedap suara sehingga siapapun yang berada dirumah itu tidak mampu mendengar teriakan Nadhira meskipun teriakan itu begitu kencangnya.


Jika bukan karena ibu tirinya mungkin Nadhira tidak akan mengalami kejadian kejadian seperti belakangan ini, seperti membunuh orang, kerasukan, dan bahkan merasakan sakit yang begitu dalam.


Jika tidak ada Rifki dalam hidupnya, Nadhira tidak tau lagi akan seperti apa kisah selanjutnya, mungkin ada banyak nyawa yang akan melayang karenanya, tidak bisa berpikir dengan benarnya, dan bahkan bisa bisa dia akan melakukan bunuh diri karena frustrasinya.


Bi Ira tidak pernah melihat Nadhira menangis seperti itu ketika mereka sedang berdua, Nadhira meluapkan segala emosi saat ini, berteriak seakan akan begitu marahnya kepada ibu tirinya.


"KENAPA!!! KENAPA INI TERJADI KEPADAKU!!! KENAPA!!! ARGHHHH.....". Teriak Nadhira begitu menakutkan, didalam teriakan itu dapat bi Ira rasakan sebuah kesedihan yang mendalam keluar dari relung hati terdalamnya yang tidak pernah ia utarakan.


Bi Ira terus memeluk Nadhira untuk menenangkan hati Nadhira yang tengah diterpa angin badai yang sewaktu waktu bisa bertambah semakin parah, sehingga hilangnya akal pikiran Nadhira.


"Nak tenangkan dirimu, ibu tau kamu begitu kecewa karena kejadian ini, ibu juga bisa merasakan apa yang kamu rasakan saat ini, tenanglah... Jangan sia siakan hidupmu selama ini, ibu yakin kamu bisa bisa melewati hari hari selanjutnya, karena ibu sangat percaya bahwa Nadhira sangat kuat hingga mampu bertahan sejauh ini". Ucap bi Ira sambil menghapus air mata Nadhira yang hendak terjauh dari pelupuk matanya.


"Ibu, jika suatu saat aku tiada....".


Sebelum Nadhira selesai mengatakannya dengan cepat bi Ira segera menempelkan telunjuknya dibibir Nadhira untuk menghentikan apa yang akan dikatakan oleh Nadhira kepadanya.


"Jangan katakan seperti itu nak, mamamu sangat membencinya ketika ada seseorang yang mengatakan hal seperti itu, ibu ngak mau kehilangan dirimu, ibu mohon jangan katakan hal yang bisa membuat ibu sedih dan takut".


"Maafkan Dhira, karena Dhira begitu lemahnya ibu, Dhira tidak tau, apa yang harus Dhira lakukan selanjutnya, Dhira merasa sangat takut".


"Dhira ngak lemah, Dhira sangat kuat, ibu yakin Dhira anak yang hebat, Dhira mampu bertahan selama ini, ibu yakin Dhira juga mampu menghadapi masalah yang akan datang".

__ADS_1


Nadhira tersenyum kepada ibu angkatnya itu, senyum itu begitu mengerikan karena meskipun tersenyum airmatanya tak berhenti untuk mengalir, justru semakin derasnya.


__ADS_2