
Dari kejauhan Nadhira melihat kepergian Rifki hingga bayangan Rifki hilang dikejauhan, setelah itu Nadhira berjalan menuju kearah pintu rumah dan membukanya.
Ketika Nadhira mulai memasuki pintu rumahnya dan ia tiba tiba disambut oleh tatapan tajam dari papanya, papanya sehera mendekat kearah Nadhira berada, Nadhira hanya berdiri mematung ditempat itu, tatapan keduanya bertemu.
"Dari mana saja kamu?". Tanya Rendi.
"Dari rumah teman pa".
"Siapa laki laki itu?".
Nadhira memandang Rendi dengan tatapan yang begitu malasnya untuk berbicara kepada papanya, pertanyaan itu seketika merubah moodnya, laki laki yang dimaksud oleh Rendi adalah Reno yang menyuruhnya untuk masuk kedalam mobil milik Rifki.
Memang penampilan Reno berbeda dengan orang orang yang lainnya, pakaiannya begitu rapi dan terlihat seperti seorang bodyguard kepercayaan disebuah perusahaan yang besar, tetapi sebenarnya Reno lebih tua dua tahun daripada Nadhira, tetapi penampilannya seakan akan seperti orang yang sudah dewasa.
Memang Rendi belum pernah bertemu dengan Reno sebelumnya karena anak buahnya itu tidak pernah diajak oleh Rifki kerumah Nadhira, tetapi ia juga tidak mengetahui tentang kehidupan Rifki selama ini, Rendi mengira Rifki adalah anak dari orang biasa karena selalu menjemput Nadhira dengan motor bututnya tetapi ia tidak mengetahui bahwa Rifki adalah pemilik dari perusahaan ternama.
"Untuk apa papa menanyakan itu?".
"Kamu pergi dengan laki laki tanpa meminta izin dari papa, naik mobil juga, apa kamu tidak tau malu ha? Mau ditaruh dimana muka papa hah, ketika anaknya begitu gampangan diajak oleh lelaki seperti bajingan itu .....". Omel Rendi kepada Nadhira.
"CUKUP PA!!! Aku bukan orang seperti itu!!! Dan asal papa tau laki laki itu tidak seperti apa yang papa katakan!!! Aku kecewa sama papa, apa salahku pa!! Kenapa papa membedakan antara diriku dengan Amanda!!! Iya aku tau, aku bukanlah Amanda yang bisa merasakan kasih sayang seorang papa!! Tapi aku juga punya perasaan pa!!". Tangis Nadhira pecah seketika.
Nadhira begitu tidak terima ketika papanya terus menjelek jelekkan sosok laki laki yang dimaksud oleh papanya adalah Rifki, selama ini Rifki sudah menjadi orang yang begitu berarti dalam kehidupannya ketika kasih sayang seorang ayah tidak dapat ia gapai, maka kasih sayang seorang sahabat menjadi tempatnya untuk bersandar.
Nadhira sangat mengenal bagaimana sosok sahabatnya itu meskipun ia adalah bagian dari sebuah geng yang dipenuhi oleh orang orang yang hebat dalam ilmu beladiri tetapi Nadhira begitu yakin bahwa Rifki tidak akan pernah melecehkan wanita seperti apa yang dibilang oleh papanya.
Rifki begitu sangat menghormati wanita, hal itulah yang membuat Nadhira begitu aman dan nyaman berada didekat Rifki, Nadhira tidak akan terima jika sahabatnya itu dihina oleh orang lain meskipun itu adalah papanya sendiri.
Selama ini Rifki selalu ada untuk Nadhira, meskipun sering dalam keadaan tidak sadarkan diri Nadhira dibawa kemarkasnya, tetapi Rifki selalu menjaga kesuciannya dan membiarkan Nadhira menempati tempat tidurnya sementara dirinya lebih memilih untuk bergabung dengan anak buah untuk tidur meskipun berdesakan dengan yang lainnya.
Apalagi ketika melihat Rifki dan Theo bertarung, karena Rifki merasa tidak terima apabila seorang perempuan remehkan oleh Theo, sehingga membuat Rifki begitu marahnya.
"Kamu benar benar berani untuk membantah ucapan papa saat ini!! Kau tidak seperti didikan mamamu".
Nadhira menangis didepan papanya, ia menutup kedua telinganya karena ia tidak sanggup untuk mendengarkan ucapan papanya yang begitu sakit menurutnya.
Nadhira yang dahulu selalu patuh dengan papanya dan akan mengadu jika akan melakukan sesuatu, Nadhira tidak akan mampu untuk membantah ucapan Rendi selama ini, dan sekarang yang ada dihadapan Rendi, Nadhira dengan beraninya membantah ucapannya dan bahkan berani menyembunyikan sesuatu darinya.
Tiba tiba Nadhira teringat ketika ia dirawat di rumah sakit, papanya sama sekali tidak pernah menjenguknya ataupun menanyakan tentang kabarnya selama ia dirawat, sejak kehadiran mama dan saudara tirinya membuat sikap Rendi berubah drastis kepada Nadhira.
"Memang benar Nadhira yang dahulu memang sudah tidak terselamatkan dirumah sakit itu, jiwanya sudah hilang dan lenyap untuk selama lamanya, jangan samakan Nadhira yang dulu dengan yang sekarang pa, karena jiwa kita memang berbeda!!".
__ADS_1
Isak tangis Nadhira dapat terdengar dengan jelas diruangan itu, kesedihan yang mendalam Nadhira rasakan, memang benar apa kata orang jika kita terlalu banyak tertawa nantinya kita akan menangis dengan kerasnya, seperti yang Nadhira alami saat ini.
Nadhira yang tadinya tertawa dengan bahagianya bersama sahabat sahabatnya sekarang ia menangis dengan kerasnya karena perilaku Rendi kepadanya.
Biar bagaimanapun Rendi adalah ayah bagi Nadhira, sebenarnya didalam hatinya yang terdalam, Nadhira juga terluka karena perkataannya sendiri kepada ayahnya tetapi perkataan ayahnya jauh lebih membuat Nadhira terluka.
"Lebih baik kamu menyusul mamamu saat itu juga daripada harus membuat papa malu karena sikapmu, kau hanyalah sebuah beban bagiku!!".
Ucapan Rendi seketika menciptakan sebuah petir didalam hati Nadhira, ucapan tersebut terasa begitu sakit dihati Nadhira dadanya terasa begitu sesak, Nadhira menghentikan tangisannya dengan mengusap air mata yang akan menetes dipipinya.
Nadhira mengepalkan kedua tangannya dengan erat, Nadhira mengambil nafas dalam dalam agar airmatanya tidak jatuh karena menangisi papanya, tangisannya seketika berubah menjadi wajah emosi Nadhira.
"Tidak usah membenci diriku pa, bahkan aku sendiri juga membenci diriku sendiri".
Nadhira memegangi dadanya yang terasa sakit karena ucapan tersebut, Nadhira mencoba untuk mengendalikan nafasnya yang memburu, perlahan lahan emosi itu mereda dihadapan Rendi. Nadhira memejamkan kedua matanya dan mengatur pernafasannya.
"Seandainya bunuh diri itu tidak berdosa, maka sudah pasti aku lakukan sejak dulu pa, tanpa harus menunggu papa untuk mengatakan hal itu, sekarang aku jadi semakin yakin, bahwa nyawaku memang sudah tidak lagi berarti bagi papa".
Nadhira begitu tersiksa dengan luka yang diberikan oleh papanya terhadapnya, isak tangis yang ia keluarkan begitu memilukan hati, Nadhira membalikkan badannya dan menghadapkan wajahnya keatas, seakan akan dunia ini sudah tidak berarti baginya lagi.
Kesedihan itu tidak sanggup ia tahan lebih lama, Nadhira menghadap keatas begitu lama seakan akan ia tidak memiliki semangat untuk hidup lebih lama lagi apalagi ketika ia mendengar ucapan Rendi yang begitu menusuk kehatinya.
Perlahan lahan mulut Nadhira mulai menampakkan sebuah senyuman yang menyedihkan, Nadhira membuka matanya dan tiba tiba tertawa lepas sambil menghadap kearah Rendi, tawa itu mengandung begitu banyak kesedihan yang mendalam.
Tawa itu terlihat begitu menyiksanya bukan hanya pikirannya yang tersiksa melainkan batinnya ikut merasakan sakit yang luar biasa karena ucapan yang diberikan oleh Rendi kepadanya, karena rasa sakit itu sudah tidak mampu Nadhira tahan sehingga ia memilih untuk tertawa dengan kerasnya.
"Hahaha.... Apa papa menginginkan nyawaku? Maka ambillah pa ambil, dengan senang hati aku akan berikan hal itu kepada papa, aku tidak akan menyesalinya pa, karena aku akan mati ditangan seseorang yang pernah begitu berarti bagiku, setidaknya mati ditangan papa itu adalah suatu kehormatan bagiku karena aku bisa meringankan beban yang papa pikul selama ini". Ucap Nadhira sambil berlinangan airmata tetapi mulutnya terus menampakkan tawanya.
Ia merasa begitu sakit hati kepada ucapan papanya, seakan akan papanya menginginkan kematian dari anaknya, tubuh Nadhira bergetar hebat dan bibirnya seakan akan mengutarakan sebuah kekecewaan yang mendalam.
Melihat anaknya seperti itu hatinya juga merasa begitu tersayat apalagi ketika mendengar Nadhira mengucapkan hal seperti itu, isak tangis Nadhira membuatnya merasa begitu pilu sementara airmatanya ikut mengalir tetapi langsung ia tepis dan mengusapnya.
"aku akan ambilkan papa sebuah pisau yang tumpul tetapi sangat kuat agar papa puas untuk menyiksaku, mungkin hal itu akan mampu mengurangi rasa sakit hatiku pa". Ucap Nadhira sambil tertawa.
Nadhira mengenggam tangannya begitu erat, tangan itu terus mengeluarkan keringat dingin, seakan akan situasi itu mempengaruhi kesehatan Nadhira juga.
Tawa itu tetap terpancar diwajah Nadhira, meskipun airmatanya terus mengalir begitu derasnya, Nadhira berjalan menuju dapurnya untuk mengambilkan sebuah pisau untuk Rendi, sesampainya ia didapur itu, ia segera membuka sebuah laci yang didalamnya terdapat beberapa pisau.
Nadhira mengecek satu persatu pisau pisau tersebut dengan ketajamannya, Nadhira memilih sebuah pisau yang sedikit tumpul dan sangat lancip, pisau itu sedikit lebih besar dari yang biasanya bi Ira gunakan untuk memasak.
Karena suara gemerisik didapur membuat bi Ira segera bergegas kedapur untuk memeriksanya, ia menemukan Nadhira berada didapur, sehingga bi Ira berniat untuk mendatanginya
__ADS_1
Melihat Nadhira memegang pisau sambil menangis membuat bi Ira begitu terkejut, bi Ira segera menghentikan langkahnya, ia tidak tau apa yang sebenarnya terjadi kepada anaknya tersebut karena ia tidak mengetahui percakapan antara Nadhira dan papanya.
"Apa yang mau kamu lakukan nak? Kenapa membawa pisau seperti ini? Dan kenapa kamu menangis, apa yang sebenarnya terjadi?". Tanya Bi Ira sambil memegang tangan Nadhira.
"Jangan halangi aku bu". Bentak Nadhira, bentakan itu membuat bi Ira merasa terkejut seketika. "Aku minta maaf untuk yang terakhir kalinya dengan ibu, maafkan aku atas semua kesalahan yang pernah aku lakukan dengan sengaja ataupun tidak". Airmata Nadhira meluncur dengan derasnya.
"Apa yang kau katakan? Jangan bertindak bodoh nak".
Usaha bi Ira benar benar gagal untuk menghentikan langkahnya Nadhira, Nadhira mengenggam erat gagang pisau tersebut dan berjalan menuju kearah papanya berada, dengan isak tangis dari mulut Nadhira, Nadhira memberikan pisau itu kepada papanya.
Nadhira menyuruh Rendi untuk menggenggam erat pisau tersebut, sementara Rendi hanya diam tidak bergerak sama sekali dan bahkan tidak mengenggam erat pisau itu sehingga membuat Nadhira berteriak.
"Pegang pa!!".
Rendi segera mengenggam pisau itu dengan eratnya, Nadhira tersenyum melihat hal itu. Tanpa Nadhira sadari bahwa bi Ira mengikutinya sampai dihadapan keduanya, bi Ira merasa begitu khawatir dengan apa yang akan dilakukan oleh Nadhira hingga kekhawatirannya berujung membawanya kehadapan Rendi.
Melihat tangan Rendi yang tidak bergerak membuat Nadhira segera menggerakkan tangannya untuk mengerakkan tangan Rendi yang tengah memegang sebuah pisau yang ia ambil sebelumnya, Nadhira menempelkan pisau yang ada ditangan Rendi tersebut kearah lehernya.
"Nadhira!!". Teriak bi Ira dan Rendi bersamaan.
Tanpa sengaja rambut Nadhira terbuka karena terkena gerakan Nadhira dan menampakkan bekas sayatan dilehernya yang belum mengering atau lebih tepatnya karena terkena keringat Nadhira sehingga membuat luka yang tadinya mengering kini kembali mengeluarkan setitik darah, Nadhira memejamkan matanya dan bersiap untuk merasakan sayatan yang akan diberikan oleh Rendi kepadanya.
Nadhira sama sekali tidak mengetahui ekspresi wajah papanya yang begitu terkejut melihat sebuah luka sayatan dileher anaknya tersebut, luka itu seakan akan masih terlihat baru.
Karena luka itu terbuka sehingga rasa perih yang Nadhira rasakan mulai bertambah tidak seperti saat pertama kali Nadhira terkena luka sayatan tersebut, Nadhira melepaskan pegangan tangannya dari tangan papanya dengan lemasnya.
"Jika aku adalah beban untuk papa, maka aku mohon hilangkan beban itu sekarang pa!! Biarkan aku mati dengan bahagia karena aku bisa mengurangi beban yang papa tanggung selama ini, aku siap memberikan nyawaku kepada papa". Ucap Nadhira sambil terisak tangis tetapi bibirnya terus menampakkan senyuman. "Jika memang kematianku yang papa tunggu selama ini, maka lakukanlah pa, jangan biarkan papa menunggu terlalu lama".
Tubuh Nadhira begitu lemasnya karena tangisan yang ia keluarkan begitu lama sehingga membuat tubuhnya tidak sanggup lagi menahan kesedihan itu, Nadhira hanya bisa pasrah dengan hal itu.
Tangan Rendi yang memegang pisau itu tiba tiba bergetar, ia tidak akan sanggup untuk melakukan itu tetapi Nadhira dengan pasrahnya ia akan memberikan nyawanya dengan suka rela kepada sang papa, lebih baik Nadhira mati ditangan papanya daripada ia harus bunuh diri.
Rendi hanya diam membisu dengan keadaan itu, ia memang marah dengan Nadhira karena sikap Nadhira yang berubah kepadanya, tetapi dihatinya ia tidak ingin kehilangan sosok seorang anak seperti Nadhira untuk selamanya.
Tiba tiba ia teringat mengenai bagaimana Nadhira tertusuk pisau karena menyelamatkan Rifki yang akan menyelamatkan Amanda dari penculikan, Nadhira adalah anak pemberani, bahkan ia begitu rela kehilangan nyawanya hanya karena ingin menolong sahabatnya.
"Tuan tolong jangan merenggut nyawa Nadhira, saya mohon Tuan". Bi Ira mencoba untuk meminta Rendi memaafkan Nadhira.
"Bu Ira sebaiknya anda tidak usah ikut campur mengenai urusan ayah dan anak, biarkanlah yang terjadi harusnya terjadi". Tegas Nadhira meskipun ia masih memejamkan matanya.
Mendengar perkataan yang Nadhira lontarkan kepadanya seketika membuat bi Ira menangis karena hal itu, bi Ira tidak ingin kehilangan Nadhira untuk selamanya, bi Ira sudah pernah merasakan kehilangan ketika suami dan anaknya mati bersamaan karena sebuah kecelakaan tunggal sehingga ia tidak ingin kehilangan lagi untuk yang kedua kalinya.
__ADS_1
"Tuan aku mohon!! Jika Nadhira Tuan anggap hanya sebagai beban, biarkan saya yang akan merawatnya, jangan renggut Nadhira dari saya Tuan, saya sangat menyayangi Nadhira". Bi Ira terus memohon kepada Rendi agar pisau yang Rendi pegang segera Rendi lepaskan.
Setelah sekian lama Nadhira menunggu Rendi menggerakkan tangannya untuk membunuhnya, tetapi tangan itu tak kunjung bergerak, Nadhira merasakan bahwa pisau tersebut masih tetap berada disamping lehernya.