
Panji juga sudah mengira bahwa Ibu Indah akan mengatakan hal tersebut karena melihat dari pakaian yang ia kenakan sebelumnya dan Ibunya belum mengetahui identitas aslinya sehingga dirinya ditolak dengan perkataan seperti itu.
Selama ini Panji selalu merahasiakan Identitasnya sehingga dirinya mampu berkelana kemanapun yang ia mau tanpa merasa dalam bahaya, karena begitu banyak musuh yang ia miliki, walaupun Panji tidak menganggapnya musuh akan tetapi mereka selalu mengincar nyawa Panji untuk dihabisi.
"Aku benar benar telah menganggap hal itu sudah berlalu Bibi, Bibi tidak perlu minta maaf kepadaku seperti itu, aku pasti juga akan melakukan hal yang sama seperti yang Bibi lakukan itu untuk putriku nantinya karena biar bagaimanapun tidak ada orang tua yang menginginkan anaknya hidup sengsara dengan orang lain".
Jika Panji menjadi seorang orang tua nantinya, dirinya akan melakukan hal yang sama karena dirinya tidak akan mungkin bisa melihat anak anaknya hidup sengsara dengan orang lain yang telah memintanya dari Panji.
Panji sudah menganggap bahwa hal itu sudah berlalu, dan tidak pantas untuk dibicarakan lagi untuk saat yang berbahagia ini bahkan dirinya sendiri sudah lupa dengan apa yang dikatakan oleh Ibu Indah sebelumnya.
Ia hanya memikirkan bagaimana caranya agar dirinya terbebas dari racun yang ada ditubuhnya saat ini, ia tidak akan bisa hidup lebih lama lagi jika masih adanya racun didalam tubuhnya itu.
"Kau benar Nak, Bibi telah salah menilai dirimu sebelumnya, Bibi berharap kau bisa hidup bersama dengan putri Bibi satu satunya ini".
Panji terlihat bingung ketika Ibu Indah menyinggung soal pernikahannya dengan Indah, disatu sisi ada racun yang terus menghantuinya sementara disisi lain ada Indah yang selalu ingin berada didekatnya.
"Soal itu, aku akan memikirkannya lagi Bi". Ucap Panji dengan ragunya.
"Kenapa harus dipikirkan lagi?". Tanya Indah yang salah paham dengan ucapan Panji.
"Menikah bukanlah hal yang mudah Indah, dan kita harus bisa memilih orang yang benar benar mencintai kita apa adanya, dan mampu menghargai kita". Jelas Panji dengan sabarnya kepada Indah.
"Panji benar, tapi bukankah kalian memang sudah terlihat seperti pasangan yang sangat cocok? Bibi yakin bahwa kau adalah pasangan yang tepat untuk Indah". Ibu Indah menambahkan.
"Untuk masalah itu, aku ingin berbicara berdua dengan Panji sekarang". Sela Ayah Indah.
"Apa yang ingin Ayah bicarakan kepada Panji? Kenapa tidak berbicara langsung saja disini?". Tanya Indah kepada Ayahnya ketika Ayahnya mengajak Panji untuk berbicara berdua dengannya.
"Nak, semua orang juga punya rahasia dan tidak semuanya dapat dikatakan kepada orang terdekatnya, biarkan Ayahmu berbicara berdua dengan Panji, mungkin itu adalah hal yang sangat penting". Ucap Ibunya kepada Indah.
"Baiklah Ibu, Ayah tolong jaga Panji, dia belum benar benar sembuh". Ucap Indah kepada Ayahnya.
"Baik Paman". Jawab Panji. "Tenanglah tidak akan terjadi apapun denganku, ada hal penting yang ingin Ayahmu bicarakan denganku, kau tidak perlu khawatir soal itu aku akan baik baik saja, aku sudah sembuh Indah, dan kau tidak perlu mencemaskan hal itu". Ucap Panji kepada Indah.
"Apa kau benar benar sudah sembuh?".
"Iya Indah, seperti yang kamu lihat saat ini".
"Baiklah, tapi aku merasa bahwa kau belum benar benar sembuh".
"Mungkin itu hanya perasaanmu saja".
Indah hanya bisa pasrah dengan ucapan Panji kepadanya, mungkin hal itu benar benar pentingnya sehingga keduanya hanya bisa berbicara berdua tanpa kehadiran dari Indah maupun Ibunya.
Ayah Indah segera mengajak Panji untuk menjauh dari rumah mereka, dia membawa Panji kesuatu tempat yang lumayan jauh, tempat itu sebelumnya belum pernah Panji lihat ketika dirinya sedang berkelana seorang diri, setelah berjalan cukup lama, akhirnya keduanya sampailah di suatu tempat yang cukup asing bagi Panji.
Akan tetapi Panji tidak banyak bicara melainkan mengikuti langkah dari Ayah Indah tanpa banyak bertanya hingga keduanya sampailah disuatu tempat yang cukup indah.
"Tempat apa ini Paman?". Tanya Panji.
__ADS_1
"Disinilah diriku dan Kuswanto sering bermain bersama sebelumnya, Kuswanto adalah seorang pangeran sementara diriku hanyalah rakyat biasa, Kuswanto begitu baik kepadaku sehingga aku masih bisa bernafas sampai sekarang".
"Ayah adalah orang yang baik, akan tetapi dirinya tidak diperlakukan dengan baik oleh orang orang yang ada didekatnya selama ini, aku masih teringat dengan jelas saat saat terakhir bersama dengan dirinya waktu itu, saat itu aku benar benar tidak menginginkan kehidupanku Paman, diriku begitu hancur tak tersisa sedikitpun, entah bagaimana diriku bisa menikmati sebuah pembunuhan".
"Apa kau tau, apa yang dia katakan waktu itu kepadaku Nak?".
"Apa itu Paman?".
"Dia berpesan kepada Paman, ketika nyawaku sudah diabang batasnya ku harap kau mampu menjaga anakku untuk diriku nantinya, begitulah pesannya kepadaku Nak, dia sudah tau bahwa hal ini akan terjadi kepadanya dan juga keluarga, sehingga dirinya mengatakan hal seperti itu kepada Paman".
Sebelumnya Kuswanto sudah merasakan bahwa dirinya tidak akan hidup begitu lama setelah anak anaknya dewasa, karena dirinya sudah mengetahui bahwa anak dari Birawa akan datang kepadanya untuk membalaskan dendamnya atas kematian dari Ayahnya itu.
Sejak Danuarta masih kecil dan saat itu Panji tengah dilahirkan ke dunia ini, Kuswanto dapat merasakan bahwa Danuarta sedang berusaha untuk mengumpulkan energi jahat didalam tubuhnya bertujuan untuk mengalahkan Kuswanto beserta keluarganya atas kematian dari Ayahnya.
Kuswanto tidak menduga bahwa dendam dari anak itu akan berujung dengan kematian dari dirinya beserta dengan orang yang paling ia sayangi itu, kematian Kuswanto juga telah merubah kepribadian dari Panji sehingga membuat Panji bersikap berbeda selama ini dan sangat menikmati pembunuhan.
"Ternyata Ayah sudah mengetahui semuanya sebelumnya sehingga dirinya masih sempat untuk berpesan sedemikian rupanya, akan tetapi Ayah tidak bisa menghentikan tindakan yang akan dilakukan oleh Danuarta saat itu terjadi, dirinya tidak akan bisa melawan seorang anak kecil waktu itu karena dirinya tidak ingin merusak masa depan anak tersebut karena tindakannya, tapi anak itu tidak pernah menyerah untuk melukai Ayahku". Ucap Panji dengan sedihnya.
Panji menceritakan kepada Ayah Indah tentang apa yang ia alami selama ini kepada Ayah Indah, dirinya juga menceritakan kepada Ayah Indah detik detik disaat Kuswanto pergi meninggalkannya untuk selama lamanya itu.
Ayah Indah begitu terkejut setelah mengetahui kematian dari Kuswanto melalui cerita yang disampaikan oleh Panji kepadanya, selama ini dirinya hanya mendengar bagaimana kejadian itu dari orang orang yang mengetahui kejadian itu sesungguhnya.
"Semua sudah berubah Paman, tidak sama seperti dulu lagi begitupun diriku yang penuh dengan dosa ini, dan terlalu banyak nyawa yang mati ditanganku, tanganku pun sudah tidak sebersih seperti dulu".
"Paman sangat mengenalimu Nak, dan Paman tau tentang apa yang kau lakukan itu, seandainya Paman adalah dirimu, Paman pasti akan melakukan hal yang sama, Paman juga tidak akan sanggup melihat kedua orang tua Paman yang dibunuh didepan Paman sendiri, hal itu pasti sangat menyakitkan bagi dirimu".
"Kau benar Nak, Allah masih baik kepadamu saat ini, apa kau benar benar sudah memikirkan tentang apa yang Paman katakan kepadamu sebelumnya mengenai Indah".
"Aku sudah memikirkannya Paman, setiap manusia pasti akan merasakan yang namanya kematian, kita tidak akan tau kapan hal itu akan datang kepada kita, yang perlu kita lakukan saat ini hanyalah pasrah dengan takdir yang telah ditentukan kepada kita".
"Apakah yang kau ucapkan itu adalah kau telah siap menikahi putriku, Nak?".
"Insya Allah Paman, aku akan mencari cara agar racun yang ada ditubuhku segera keluar sehingga diriku bisa hidup lebih lama daripada sebelumnya agar dapat membahagiakan putri Paman".
"Kau benar benar anak dari Kuswanto Nak, sikapmu begitu mirip dengannya, kau mengingatku kepada dirinya Nak, Paman sangat merindukan dirinya".
"Benarkah Paman?".
"Tentu saja, kau adalah anak dari Pangeran Kian, dan sikap yang kau ambil sama persis seperti dirinya yang tidak takut akan kematian".
"Pangeran Kian? Apa Paman juga mengetahui bahwa Ayahku adalah Pangeran Kian?". Tanya Panji yang terkejut ketika mendengar nama Pangeran Kian disebutkan oleh Ayah Indah.
"Bagaimana bisa aku tidak mengetahuinya Nak? Karena isaat pelarian itu, aku ikut serta untuk membantunya menghindari pasukan yang tengah mengejarnya dan kita berdua juga pernah tinggal didesa yang sama, desa Mawar Merah yang tengah dibangun olehnya dulu".
Panji hanya mampu tersenyum mengagumi sosok Ayahnya, Ayahnya mampu bersikap baik kepada semua orang meskipun dirinya tidak pernah diperlakukan baik oleh banyak orang, akan tetapi Ayahnya juga mempunyai orang orang terdekat yang begitu baik kepadanya.
"Paman akan terus berusaha untuk membantumu mencari obat penawar racun itu agar kau bisa terbebas dari racun yang mematikan itu, sekarang kau akan tinggal dimana Nak?".
"Terima kasih Paman, mungkin aku akan kembali kegoa Paman, karena aku tidak bisa kembali ke kampung halamanku lagi agar orang itu tidak mencurigai diriku yang masih hidup".
__ADS_1
Panji berniat untuk kembali kedalam goa tempat dimana Ayah dan Ibunya dimakamkan disana, ia tidak punya tempat lain untuk ia tinggali selain goa tersebut, goa itu begitu aman baginya karena tidak ada yang bisa masuk kedalamnya kecuali orang yang memiliki darah keturunan dari Pangeran Kian.
Goa tersebut terdapat pelindung gaib yang sengaja diciptakan oleh Kuswanto sebelumnya, untuk melindungi keris pusaka xingsi, akan tetapi keris pusaka xingsi itu kini tengah berada didalam tubuh Panji yang tidak diketahui oleh semua orang.
Panji sudah berniat untuk menikah dengan Indah dibeberapa bulan kedepannya, kedua orang tua Indah sangat menyetujui niat baik Panji itu, sementara Indah merasa begitu senang karena dia akan memiliki Panji seutuhnya.
Beberapa bulan berlalu, Panji datang kerumah Indah dengan niatan untuk memperistri Indah, sebelum meminta restu kepada kedua orang tua Indah, Panji berniat untuk bertemu dengan Indah terlebih dahulu.
Panji mengajak Indah kesuatu tempat yang belum pernah Indah kunjungi sebelumnya, Panji membawa Indah kesebuah tempat yang cukup indah dengan bertaburkan bunga bunga yang sangat wangi dan sejuknya udara didekat danau.
"Indah, sebelum aku menikahimu, apa kau keberatan dengan hal itu?". Tanya Panji dengan ragu.
"Aku sama sekali tidak keberatan jika kaulah yang menjadi suamiku nantinya Panji". Jawab Indah dengan tegasnya kepada Panji.
"Apa kau mau menikahi seseorang yang berumur pendek seperti diriku Indah? Aku tidak yakin kau akan mampu untuk menerima diriku".
"Maksudmu apa Panji? Aku sama sekali tidak mengerti dengan perkataanmu itu".
"Hidupku sudah tidak lama lagi Indah, aku tidak ingin membuatmu kecewa dengan diriku".
Panji segera melipat lengan bajunya dan menampakkan urat syaraf yang ada ditangannya kepada Indah, tepat dibagian nadinya tercipta seperti sebuah cabang cabang syaraf yang ada dipergelangan tangan Panji yang sudah berubah menjadi hitam yang awalnya berwarna biru keunguan sekarang menjadi hitam legam.
"Apa ini Panji? Kenapa terlihat begitu mengerikan seperti ini". Tanya Indah yang melihat garis garis itu.
"Ini adalah racun Indah, didalam darahku masih terdapat racun yang begitu ganasnya, aku masih mampu bertahan karena kekuatan Ayahku yang melindungiku sampai sekarang, aku tidak tau sampai kapan diriku akan bertahan, dan aku tidak ingin kau merasa kecewa dengan pernikahan ini nantinya".
"Bagaimana bisa masih ada racun didalam tubuhmu Panji? Bukankah racun itu sudah keluar dari dalam tubuhmu?". Tanya Indah dengan sedihnya.
"Racun ini tidak akan bisa hilang dengan mudah Indah, sebelum racun ini dapat membunuh korbannya itu, semakin bertambahnya hari semakin membuatku dekat dengan kematian, aku tidak ingin kau kecewa denganku karena telah menikahi seorang lelaki yang berumur pendek sepertiku".
"Aku tidak akan keberatan dengan hal itu Panji, kita akan berusaha untuk mencari penawarannya agar dirimu terbebas dari racun itu, aku tidak ingin kehilangan dirimu Panji".
Indah terus menatap kearah pergelangan lengan Panji, racun itu mulai mengakar dilengannya, Indah tidak pernah melihat racun seperti itu sebelumnya sehingga membuatnya begitu ngeri ketika melihat racun yang ada ditangan Panji.
Racun itu telah lama berada ditangan Panji, karena kekuatan khodamnya tidak mampu untuk menghilangkannya racun tersebut sehingga khodamnya menggerakkan racun tersebut menuju ketangan Panji dan menghentikan darah yang akan mengalir ditangan tersebut.
"Apakah ini sakit Panji?". Tanya Indah yang terus menerus meniup tangan Panji, Indha mengira bahwa hal itu akan menyebabkan Panji kesakitan.
"Ini sama sekali tidak sakit Indah, kau tidak perlu menghawatirkannya, aku sudah terbiasa dengan hal seperti ini sebelumnya".
"Semua ini gara gara diriku Panji, seandainya...".
Sebelum Indah melanjutkan perkataannya itu, Panji segera menggerakkan tangannya untuk menghentikan ucapan yang akan diucapkan oleh Indah kepadanya sebelumnya, Panji tersenyum lembut kepada Indah mengenai kondisinya itu.
"Tidak, jangan salahkan dirimu sendiri Indah, kau sama sekali tidak bersalah dalam hal ini, ini adalah kemauanku sendiri, tidak ada yang perlu disalahkan dalam hal seperti ini, aku sendiri tidak akan membiarkan dirimu dalam bahaya".
Panji tidak ingin melihat Indah dalam bahaya sehingga dirinya akan mengorbankan nyawanya hanya untuk Indah agar Indah tetap dalam keadaan aman meskipun nyawanya yang terancam.
...Jangan lupa like dan dukungannya 😊🙏...
__ADS_1