Apa Salahku Pa

Apa Salahku Pa
Jangan pergi Dhira


__ADS_3

Ayah Sena sadar bahwa Sena lebih bahagia ketika bersama dengan Rendi daripada pemuda yang telah dijodohkan dan menikah dengan Sena, sehingga dirinya datang menemui Rendi seraya meminta Rendi untuk kembali kepada Sena.


Karena telat mendapatkan pertolongan sehingga menyebabkan Ayahnya meninggal dunia dan dirinya bertekat untuk membalaskan semuanya kepada Rendi, akan tetapi Nadhira justru yang menjadi korbannya dalam hal ini.


"Jika kau dendam kepadaku, kenapa kau harus melampirkan kepada orang lain!" Teriak Rendi.


"Aku tidak melampiaskannya kepada orang lain, hanya saja Nadhira mu itu selalu ikut campur dengan urusanku dan selalu ada untuk melindungimu, berulang ulang kali dirinya terus menyelamatkanmu, jadi apa salahnya jika aku melakukan sesuatu padanya waktu itu!".


"Kau sungguh kejam Sena! Aku menyesal karena telah mencintaimu".


"Hampir saja aku bisa membunuhmu, tapi anak itu selalu saja menghalangiku untuk mencapai tujuanku, biarkan dia mati sekalipun aku tidak peduli".


"Cepat bawa wanita ini kekantor polisi! Sebelum kemarahanku melupakan bahwa dirinya adalah manusia" Ucap Bayu memerintahkan kepada Angga beserta anak buah Rifki yang lainnya.


"Baik Tuan" Jawab Angga.


"Tidak! Jangan bawa Mamaku, tolong lepaskan Mamaku, jangan penjarakan dia aku mohon" Amanda berusaha untuk menghentikan kepergian dari Sena.


"Minggir! Jangan halangi langkahku" Ucap Angga seraya mendorong tubuh Amanda agar menjauh dari mereka.


Amanda mendadak terjatuh karena dorongan dari Angga yang membuatnya tidak bisa menyeimbangkan kekuatan kedua kakinya sehingga membuatnya terjatuh duduk dilantai, melihat itu Rendi segera mendatangi Amanda yang tengah terjatuh saat ini.


"Pa, jangan biarkan mereka membawa Mama Pa, aku mohon, hiks.. hiks.. hiks.."


"Maafkan Papa, Papa tidak bisa menghentikan mereka membawa Sena dari sini" Rendi menyandarkan kepala Amanda kedada bidangnya.


Melihat Sena yang sudah dibawa pergi dari tempat itu diikuti oleh Bayu dari belakangnya, mereka akan membawa Sena kepenjara kerena kejahatannya selama ini, kepergian mereka membuat David ikut serta bergegas pergi dari tempat itu, akan tetapi langkahnya segera dihentikan oleh Bi Ira.


"Kenapa Kakak menghentikan diriku?" Tanya David kepada Bi Ira.


"Kakak?" Begong Bi Ira.


"Kau adalah sahabat Kakak kandungku, jadi lebih pantas aku memanggilmu Kakak, siapapun yang telah memperlakukan Kakakku dengan baik, maka aku akan menghormati dirinya apapun kedudukannya aku tidak mempedulikan hal itu".


"Apa kau akan menemui Nadhira? Tolong izinkan aku ikut bersamamu, aku ingin melihat kondisi Nadhira dan memastikan bahwa Nadhira akan baik baik saja" Dengan bercucuran air mata Bi Ira mengucapkan kata kata tersebut.


"Baiklah Kak, kau boleh ikut denganku"


"Terima kasih".


David dan Bi Ira segera bergegas pergi meninggalkan tempat tersebut, kini suasana gedung itu seketika terasa sunyi dan sepi, hanya tinggal dua orang saja yakni Rendi dan Amanda yang masih berada ditempat itu meratapi nasib mereka.


Disaat hari bahagia tiba tiba berujung pada hari kesedihannya karena Sena dibawa paksa pergi dari tempat itu, Amanda tidak pernah tau tentang apa yang pernah dilakukan oleh Sena selama ini, yang ia tau hanya apa yang dilakukan oleh Sena adalah hal yang terbaik untuk dirinya.


"Pa, bawa Mama pulang kembali, aku mohon".


"Papa tidak bisa berbuat apa apa Nak, maafkan Papa karena tidak bisa mencegah mereka untuk membawa Mamamu pergi".


Rendi mengajak Amanda untuk kembali pulang kerumahnya karena hari sudah sangat larut, untuk mengejar kepergian dari Nadhira pun dirinya tidak bisa karena dia tidak tau Nadhira akan dibawa kemana oleh mereka.


Amanda dengan terpaksa mengikuti perintah dari Rendi, keduanya segera bergegas pergi meninggalkan tempat itu dan masuk kedalam mobil mereka untuk memecah kesunyian malam pada malam yang panjang ini.


Setelah membawa Nadhira keluar dari gedung tempat pesta ulang tahun Amanda tersebut, Reno segera mengangkat tubuh Nadhira masuk kedalam mobil yang ia naiki sebelumnya, Reno segera membawa Nadhira kerumah sakit terdekat sesuai arahan dari David.


Reno membawa Nadhira kerumah sakit dengan perasaan cemasnya mengenai kondisi Nadhira saat ini, sesampainya dirinya dirumah sakit para perawat segera berhamburan keluar dari rumah sakit tersebut untuk segera memberikan pertolongan kepada Nadhira yang sudah tidak sadarkan diri.


Mereka segera membawa Nadhira masuk kedalam ruangan ICU untuk mendapatkan pertolongan, mereka segera memasang peralatan rumah sakit ditubuh Nadhira agar dapat menyelamatkan nyawa Nadhira dari racun tersebut dan memberikan beberapa suntikan kepada Nadhira.


Reno hanya mampu menyaksikan Nadhira diluar ruangan tersebut dengan perasaan yang campur aduk, setelah sekian lama ditangani akan tetapi belum ada pertanda bahwa Nadhira akan sadar, tak beberapa lama kemudian David dan Bi Ira telah sampai ditempat itu.

__ADS_1


"Bagaimana kondisi Dhira?" Tanya Bi Ira.


"Masih dalam tahap penanganan, kita hanya bisa berdoa Bi, semoga Nadhira baik baik saja dan racun itu segera bisa dinetralkan".


"Nadhira pasti akan baik baik saja kan? Dia tidak akan meninggalkanku lagi kan? Tolong jangan pisahkan aku lagi darinya"


"Dokter masih berusaha untuk menyelamatkan Bi, Nadhira pasti baik baik saja".


"Ini semua salahku karena telah memberitahu hal ini kepada Nadhira, andai saja aku tidak memberitahunya tentang racun itu mungkin bukan Nadhira yang terbaring saat ini" Ucap David.


"Jangan menyalahkan diri sendiri Om, Nadhira melakukan ini hanya karena semata mata untuk menyelamatkan nyawa Papanya yang sangat ia sayangi, jika seandainya ini juga terjadi padaku waktu itu, aku pasti akan melakukan hal yang sama untuk dapat menyelamatkan nyawa kedua orang tuaku yang telah lama pergi meninggalkan diriku waktu itu"


Reno adalah anak yatim yang kedua orang tuanya telah lama pergi meninggalkan dirinya, Reno masih mengingat dengan jelas wajah dari kedua orang tuanya, seandainya waktu bisa diputar kembali, Reno sangat ingin kembali kemasa lalunya dan bahagia bersama kedua orang tuanya.


Akan tetapi sekarang, kenyataannya adalah waktu terus berjalan dengan cepatnya dan hanya berhenti untuk orang orang yang susah bertemu dengan ajal mereka masing masing, tanpa mereka sadari bahwa ada malaikat yang sedang mengincar nyawa mereka setiap hari.


"Apa yang terjadi dengan orang tuamu Nak?" Tanya David kepada Reno.


"Keduanya telah meninggal disaat aku masih berusia anak anak, mereka telah pergi meninggalkan diriku untuk selama lamanya dan tidak akan pernah kembali meskipun aku menangis darah sekipun itu" Ucap Reno sambil tersenyum pahit.


"Maafkan Om karena telah mengingatkan masa lalumu itu"


"Om tidak salah, aku merasa semuanya sudah berlalu dengan cepatnya, aku yakin bahwa Ayah dan Ibuku sudah bahagia disyurga-Nya dengan tenang".


David tidak mengetahui bahwa Reno adalah bagian dari Gengcobra, yang David ketahui hanyalah Reno adalah anak dari orang kaya sehingga Reno memiliki anak buah yang selalu berada disampingnya yang mana anak buahnya itu adalah anak buah dari Rifki.


Tiba tiba ruangan ICU terbuka dengan menampakkan sosok seorang wanita dengan pakaian serba putih sambil membawa beberapa peralatan medis muncul dari dalam ruangan tersebut dan terlihat begitu paniknya, David segera menghentikan orang itu dan bertanya mengenai kondisi Nadhira.


"Suster bagaimana kondisi Nadhira?" Tanya David.


"Pasien dalam masa kritisnya Pak, kami akan berusaha semaksimal mungkin untuk dapat menyelamatkan nyawa pasien, berdoalah semoga pasien dapat diselamatkan, hanya doa kalian lah yang mampu menyelamatkan nyawa pasien, saya permisi Pak".


"Tidak mungkin! Nadhira pasti baik baik saja, Nadhira tidak mungkin meninggalkan diriku, jangan pergi Dhira, aku mohon hiks.. hiks.. aku mohon Dhira, aku tidak mau kehilangan dirimu, jangan pergi Dhira, aku mohon" Tangis Bi Ira pecah.


Reno dan David hanya mampu menatap kepergian suster tersebut dalam diamnya, keduanya tidak mampu berkata kata karena rasa sedihnya, melihat Bi Ira yang menangis seperti itu membuat David meneteskan airmatanya dalam diam.


Tiba tiba kesadaran Bi Ira mulai memudar dan perlahan lahan tubuhnya mulai terbaring tidak sadarkan diri dilantai rumah sakit itu.


"Bi Ira!" Teriak Reno terkejut.


Reno segera bergegas untuk mendatangi Bi Ira, dan memeriksa keadaannya, Reno menduga bahwa Bi Ira sedang kelelahan untuk hari ini sehingga hal itu membuatnya tidak sadarkan diri seperti ini, akhirnya Reno membawa Bi Ira menuju ruang perawatan agar mendapatkan penanganan.


"Dhira jangan pergi" Ucap Bi Ira lirih dalam alam bawah sadarnya.


"Om apa yang harus kita lakukan sekarang? Aku tidak tega melihat Bi Ira seperti ini, aku juga tidak ingin kehilangan temanku Om" Ucap Reno kepada David ketika melihat Bi Ira mengigau.


"Kita tidak bisa berbuat apa apa sekarang, kita hanya bisa meminta kepada Allah semoga Nadhira bisa diselamatkan dan kembali berkumpul bersama kita hanya Allah yang dapat menolong kita".


"Tolong jaga Bi Ira, Aku mau sholat witir dulu Om".


"Iya Nak, kau tenang saja".


Reno segera bergegas pergi dari tempat itu, beberapa kali Bi Ira terus memanggil nama Nadhira dengan nada sedihnya, hal itu membuat David merasa kalau keponakannya itu terlalu berharga bagi orang yang ada disekitarnya.


"Dhira jangan tinggalkan aku" Ucap Bi Ira lagi lagi dan masih tetap berada dibawah alam sadarnya.


"Kak tenanglah, kamu bisa mendengar suaraku kan? Dhira pasti akan baik baik saja, aku yakin itu".


"Jangan bawa Dhira pergi, kembalikan Dhira".

__ADS_1


Melihat Bi Ira yang terus mengigau dan seakan akan ketakutan seperti itu membuat David membacakan sesuatu ditelinga Bi Ira dan dirinya juga membacakan sholawat nabi agar membuat Bi Ira merasa tenang.


*****


Setelah pulang dari gedung tempat dimana pesta diadakan, Rendi segera masuk kedalam kamarnya begitupun dengan Amanda yang terus menangis meminta agar mereka mengembalikan Mamanya kepada dirinya.


Rendi sedang berkutik dengan ponselnya dan tanpa terasa dirinya tertidur dikamarnya dengan sangat lelapnya sehingga dirinya tidak mengetahui apa yang ada disekitarnya saat ini.


Rendi mendengar bahwa ada seseorang yang sedang mengaduk sesuatu dalam gelas, dentingan antara sendok dan gelas dapat didengar sangat jelas olehnya, tiba tiba dirinya mencium aroma kopi yang sangat harum nan wangi yang semerbak.


Bukan hanya hal itu saja, akan tetapi tiba tiba dirinya mendengar suara Nadhira memanggilnya dengan begitu halusnya dan dirinya segera membuka matanya dan menemukan Nadhira tengah tersenyum kepadanya saat ini.


"Pa, Dhira sudah membuatkan kopi untuk Papa, Dhira tau bahwa Papa pasti kelelahan karena terus bekerja siang malam demi menghidupi Dhira selama ini, terima kasih Pa" Ucap Nadhira.


Nadhira mengatakan itu seraya menaruh kopi yang ada ditangannya ke meja yang dekat dengan tempat dimana Rendi terbaring saat ini, Rendi tersenyum kearah Nadhira.


Rendi sangat bahagia ketika mengetahui bahwa Nadhira baik baik saja, Rendi sangat yakin bahwa racun yang telah diminum oleh Nadhira tidak akan mampu membuat Nadhira celaka.


Nadhira terlihat begitu cantik dengan gaun putih yang melekat pada tubuhnya, senyuman yang ada diwajahnya seakan akan tidak pernah luntur dari wajah cantiknya.


Nadhira terlihat begitu bercahaya dan seakan akan sinar rembulan malam jatuh kepada wajahnya sehingga wajah cantiknya tak kalah indah dengan rembulan dimalam hari.


"Dhira kamu baik baik saja Nak" Tanya Rendi dan langsung bangkit dari tidurnya.


"Ngak ada yang bisa menyakiti Nadhira lagi sekarang Pa, Dhira baik baik saja kok, Papa tidak perlu menghawatirkan Dhira lagi".


"Bagaimana Papa bisa tidak khawatir dengan dirimu Dhira, kamu telah meminum racun itu, Kenapa kamu harus melakukan hal itu untukku Nak, kenapa kamu meminumnya, kamu tau bahwa itu adalah racun tapi kenapa kamu masih meminumnya juga" Ucap Rendi dengan air mata yang terus mengalir dihadapan Nadhira.


"Karena Dhira sangat menyayangi Papa, Dhira sudah membuktikan ucapan Dhira sendiri, Dhira tidak akan membiarkan Papa dalam bahaya, Papa adalah orang yang sangat berarti bagi Dhira, Dhira tidak menyesal karena Dhira mampu menyelamatkan nyawa Papa, itu adalah hal yang harus aku lakukan dan kewajibanku sebagai seorang anak untuk Papa".


Nadhira tersenyum kearah Rendi, melihat Nadhira yang tersenyum membuat Rendi merasa lega bahwa Nadhira sudah baik baik saja didepannya saat ini karena Nadhira sangat menyayangi Rendi.


"Papa pikir Papa akan mampu melihatmu lagi Nak, Papa tidak ingin kehilangan dirimu, Papa tidak ingin berpisah lagi dengan dirimu".


"Papa sama sekali tidak pernah kehilangan Dhira selama ini, hanya saja Dhira yang kehilangan kasih sayang Papa, hah" Nadhira menghela nafasnya dan melanjutkan perkataannya. "Itu semua sudah terjadi, tidak ada yang perlu untuk disesali. Pa, Dhira sangat bahagia ketika mengetahui bahwa Papa masih menyayangi Dhira".


"Maafkan sikap Papa selama ini kepadamu Nak, Papa telah jahat kepada Dhira".


Nadhira menggelengkan kepalanya pelan kepada Rendi, "Papa tidak salah sama sekali kepada Dhira, karena Dhira lah yang salah karena Dhira telah membuat Papa sangat marah kepada Dhira".


"Maafkan Papa karena Papa tidak mengetahui apa yang telah dilakukan oleh Mama tirimu selama ini Dhira, tanpa sepengetahuan Papa, dia telah menyakitimu Nak".


"Soal itu.... Dhira sudah tidak mempermasalahkannya lagi, semua orang pasti bisa melakukan kesalahan, dan selalu ada hikmah dibalik setiap tindakan yang dilakukan oleh seseorang kepada kita, Dhira sudah memaafkan kesalahannya Pa, Dhira tidak ingin ada setitik kebencian didalam hati Dhira".


"Kamu anak yang baik Nak, biarkan Papa memelukmu, Papa sangat bersalah kepadamu".


Rendi segera bangkit untuk memeluk Nadhira, akan tetapi dirinya sama sekali tidak bisa menyentuh tubuh Nadhira seakan akan Nadhira menjadi transparan, Nadhira tersenyum lembut kepada Rendi.


"Kenapa? Kenapa Papa tidak bisa menyentuhmu Nak, apa yang terjadi?" Tanya Rendi dengan paniknya.


Rendi terus berusaha untuk menyentuh Nadhira akan tetapi dirinya sama sekali tidak bisa melakukan hal itu, melihat itu Nadhira hanya tersenyum kearah Rendi dan dapat dilihat bahwa ada setetes air mata yang lolos dari pelupuk mata Nadhira.


"Karena dunia kita sudah berbeda Pa, Dhira sudah bahagia sekarang, karena Dhira sudah bisa bertemu dengan Mama Lia kembali, Papa jaga diri baik baik ya karena Dhira sudah tidak bisa melindungi Papa lagi, Dhira minta maaf kepada Papa, karena Dhira sering menyusahkan Papa selama ini".


"Tidak, tidak mungkin, kau pasti baik baik saja, jangan pergi Dhira, jangan tinggalkan Papa".


......Terima kasih......


...Jangan lupa saran dan kritiknya...

__ADS_1


__ADS_2