
Tatapan mata Nadhira masih terarah kepada Nita dengan tajamnya, dan tanpa disadari oleh Nita bahwa para polisi sedang mengarah tembaknya kepada dirinya saat ini.
Dorr..
Sebuah tembakan meluncur dengan mulusnya dikaki Nita dan dirinya begitu terkejut akan hal itu, keterkejutannya dan juga rasa sakit yang ia alami membuat ia terjatuh didepan Nadhira setelah melepaskan pegangan tali dari tangannya tersebut.
"Akhh...".
Darah bercucuran dikaki Nita sehingga membuatnya menggeram kesakitan, Nimas yang ada ditubuh Nadhira melihat itu tidak mengalami keterkejutan sama sekali, pandangannya masih tertuju kepada Nita dengan tatapan yang tajam.
"Tidak penting kau mengenalku atau tidak, dan aku tidak akan membiarkan pemilik tubuh ini celaka gara gara dirimu!!". Ucap Nimas dengan tegasnya.
"Akh... apa maksudmu?".
Rifki segera menggerakkan tangannya memberi aba aba kepada polisi yang telah menembak kaki Nita agar mereka segera menangkapnya, melihat itu mereka segera menangkapnya.
Para polisi itu segera bergegas untuk memborgol kedua tangan Nita, agar Nita tidak mampu untuk memberontak lagi seperti sebelumnya
"Lepaskan!! Aku tidak bersalah!!".
"Ikut kami kekantor polisi, dan jelaskan semuanya disana!".
"Jika Ibu terus memberontak seperti ini, Ibu akan mendapatkan pasal berlapis, karena bukan hanya pelecehan, pembunuhan, penyekapan anak dibawah umur, tetapi Ibu juga telah menyandera seseorang".
"Tidak!! Itu bukan salahku, itu salah mereka!!".
"Sadar Tante!! siapa lagi yang Tante salahkan untuk saat ini? semuanya sudah jelas Tante! kejahatan tidak akan menang melawan kebaikan meskipun kebaikan terlihat begitu lemah akan tetapi kekuatannya jauh lebih besar daripada kejahatan". Ucap Nimas menggunakan raga Nadhira.
Rifki segera mendatangi tempat dimana Samsul dan Hakam berdiri saat ini, keduanya merasa sedih atas sikap Ibu maupun istri mereka yang menjadi penyebab kematian seseorang.
Tak ada kata kata yang dapat keluar dari mulut keduanya untuk menghentikan tindakan yang akan dilakukan oleh para polisi tersebut yang akan membawa Nita pergi ke penjara sebagai tahanan atas kejahatan kejahatan yang telah ia lakukan kepada keluarga korban.
"Aku serahkan semua keputusan kepada Om dan Kak Hakam, selebihnya kalianlah yang berhak untuk itu". Rifki mengatakan hal itu kepada keduanya dan dibalas anggukan oleh mereka. "Maafkan aku Om, Kak Hakam aku tidak bisa untuk masalah Tante Nita biarkan pengadilan yang akan menentukan hukuman apa yang pantas untuk Tante Nita agar dia tidak akan mengulangi kesalahannya untuk kedua kalinya".
"Iya Nak, Om paham dengan hal itu, Om juga tidak bisa berbuat apa apa, ini semua adalah kesalahan istri Om, maka dia yang harus menanggungnya". Ucap Samsul dengan nada yang mengandung kesedihan dibaliknya.
"Terima kasih atas bantuannya Dek, sehingga aku bisa mengetahui dimana Rahelku dikubur, dan apa yang telah dilakukan oleh Ibuku kepadanya, aku sama sekali tidak menyangka bahwa dalang dibalik hal ini adalah Ibu kandungku sendiri".
"Kak Hakam yang sabar ya, aku turut prihatin dengan masalah yang Kakak alami saat ini, untuk soal Adiknya Rahel Kakak ngak perlu khawatir, dia akan aman bersamaku, jika Kakak ingin bertemu dengannya Kakak bisa datang ketempat ku, dengan senang hati aku akan mempertemukan kalian berdua disaat itu".
"Iya Dek, terima kasih atas semuanya, kalau bukan karena kehadiranmu, aku tidak tau lagi bagaimana nasip anak itu, dan aku tidak akan tau apakah anak itu masih hidup atau tidak".
"Jangan berterima kasih kepadaku, aku hanya sebuah wayang didalam dunia yang luas ini, selebihnya berterima kasihlah kepada sang pencipta alam semesta karena Beliau lah takdir yang sebenar benarnya, ini adalah jalan takdirku yang harus aku lewati entah itu suka maupun duka, takdir haruslah berjalan sesuai alur yang telah ditentukan sebelum kelahiran kita".
"Kau memang benar soal itu Rif, aku bersyukur karena telah dipertemukan dengan orang sepertimu yang rela membantu sesama manusia dengan ikhlas tanpa membedakan antara miskin dan kaya, kau pemuda yang baik Rif".
"Membantu adalah tugas sebagai sesama manusia, manusia tidak akan pernah bisa hidup tanpa adanya manusia lain kan Kak? Aku harap dimasa yang akan datang Tante Nita akan bertaubat dan menyadari semua kesalahannya".
"Aamiin".
"Ya sudah Kak, aku mau mendatangi Nadhira dulu, dan memeriksa keadaanya". Ucap Rifki kepada kedua orang itu dan dibalas anggukan oleh keduanya.
Para polisi itu pergi dari tempat itu sambil membawa Nita dan tiga orang yang berhasil ditangkap oleh Rifki sebelumnya, diikuti oleh Hakam dan ayahnya yang menuju ketempat dimana Rahel dikubur.
Rifki, Bayu, dan Fajar segera mendekat kearah Nadhira, ketiganya melihat leher Nadhira yang merah karena tali tersebut, ketiganya segera berusaha melepaskan ikatan tali tersebut dari leher Nadhira.
"Syukurlah kau tidak papa Dhira". Ucap Rifki sambil melepaskan ikatan tali dileher Nadhira.
__ADS_1
"Hanya luka kecil". Ucap Nadhira tanpa mengalihkan pandangannya kepada Rifki.
Ekspresi wajah Nadhira sama sekali tidak berubah, pandangan seolah olah sedang kosong, Bayu yang tidak pernah melihat Nadhira seperti itu pun bertanya kepada Rifki.
"Apa yang terjadi dengan dirinya Rif, kenapa dia bisa seperti ini?".
"Kesadarannya sedang diambil alih oleh roh lain".
"Apa? Bagaimana bisa?".
"Kau tidak tau Nadhira kenapa? Bukannya kau sudah kenal lama dengan dua orang ini, kenapa kau tidak mengetahui apa yang terjadi?". Tanya Fajar dengan keheranan mengenai pertanyaan Bayu.
"Rif Rifki bagaimana kau bisa berteman dengan orang seperti ini ha? Dari kemaren kemaren tidak henti hentinya berbicara omong kosong mulu, apa kau tidak bosan terus terusan mendengarkan ocehannya itu, seperti lebah yang kehilangan sarangnya". Gerutu Bayu karena ucapan Fajar.
"Kau!!! Aku kan hanya bertanya, malu bertanya bisa sesat dijalan lo". Fajar memicingkan matanya kepada Bayu.
Bayu menoleh kearah Fajar dan segera memegang pundak Fajar dengan kerasnya, tidak ada eskpresi senyum diwajahnya sama sekali hal itu membuat nyali Fajar menciut dan mengira bahwa memang seluruh anggota Rifki orangnya tidak suka diajak bercanda sama sekali.
"Sepertinya aku pernah bertemu denganmu, tapi aku lupa pernah bertemu dimana". Ucap Bayu.
"Apa yang kau katakan? Aku sama sekali tidak pernah bertemu denganmu sebelumnya". Fajar begitu terkejut dengan ucapan Bayu.
"Siapa namamu tadi?".
"Kenapa dengan namaku? Apakah ada yang aneh dengan namaku?".
"Jawab saja, ngak usah berbelit belit seperti itu juga".
"Iya ya,, namaku Fajar". Ucap Fajar dengan datar dan jengkelnya kepada Bayu.
Bayu memperhatikan lekat lekat wajah sosok yang ia pegang pundaknya, Bayu merasa pernah melihat sosok itu entah dimana, ia terus mengingatnya sampai akhirnya ia mengingat bahwa dirinya pernah bertemu dengan Fajar ditempat latihan gengcobra.
"Hee... Maksudmu apa? Apanya yang murid baru?".
Tanpa memperdulikan keduanya berdebat, Rifki masih tetap fokus kepada Nadhira yang tengah bermuka datar itu, beberapa kali Rifki memanggil nama Nadhira, agar Nadhira tersadarkan diri.
Pandangan keduanya segera kembali terarah kepada sosok Nadhira, Nadhira perlahan lahan jatuh pingsan dan segera ditangkap oleh Rifki, Rifki segera mengangkat tubuh Nadhira yang tidak sadarkan itu dan membawanya kemobil yang mereka tumpangi sebelumnya diikuti oleh seluruh anak buahnya.
"Tolong carikan orang seseorang untuk membantu kita memakamkan jenazah Rahel dengan layak".
"Baik Tuan Muda". Jawab mereka serempak.
Sebagian dari anak buah Rifki segera mencari ustadz dan orang orang yang mampu menguburkan jenazah Rahel dengan layak, sebagian lagi menjaga Rifki disekitar mobil yang dinaiki oleh Rifki.
Rifki memijat kening Nadhira untuk menyadarkannya, dan memberi minyak kayu putih pada hidung Nadhira agar Nadhira segera sadarkan diri.
Rifki juga mengoleskan salep kepada leher Nadhira yang merah akibat dari tali tersebut dengan hati hati, Rifki begitu sedih ketika melihat bekas yang memerah dileher Nadhira, akan tetapi dirinya juga bahagia karena Nadhira selamat dari kejadian itu.
"Nadhira sadarlah, semuanya sudah baik baik saja sekarang, dan sebentar lagi kita akan memakamkan jenazah Rahel dengan layaknya".
Disatu sisi Bayu dan lainnya segera menggali tanah tempat dimana jenazah Rahel dimakamkan, ketika menggali tanah makam tersebut mereka mencium bau yang begitu wangi dari tubuh Rahel.
Ketika wajah Rahel sudah kelihatan mereka begitu terkejut seketika karena wajah itu nampak begitu bersih dan bersinar juga dapat terlihat sebuah senyuman diwajah itu.
"Maafkan aku Ael, sekarang kau bisa istirahat dengan tenang, meskipun kita tidak bisa bersama didunia ini, aku akan meminta kepada Tuhan agar menyatukan kita berdua disyurga-Nya, maafkan semua kesalahan yang telah Ibuku perbuat kepadamu, kau adalah gadis yang baik yang pernah ku temukan dibumi ini, beristirahatlah dengan tenang, suatu saat aku juga pasti akan segera menyusulmu". Hakam berlinangan air mata ketika jenazah Rahel berhasil digali.
Bayu segera memberitahukan hal itu kepada Rifki yang tengah menjaga Nadhira dimobil tersebut, Rifki yang mendengar itu segera bergegas menuju ketempat dimana Rahel dikubur dan ia memerintahkan kepada anak buahnya untuk tetap menjaga Nadhira dimobilnya.
__ADS_1
Melihat senyum yang ada diwajah Rahel membuat Rifki ikut tersenyum bahagia, jenazah Rahel masih utuh dan begitu bersih berseri seakan akan wajah itu sering dibasuh dengan air wudhu.
"Kak Rahel, meskipun dibumi ini kau begitu sangat menderita akan tetapi Allah telah menghadiahkan syurga tanpa hisap kepadamu diakhirat, semoga Allah menempatkan dirimu diposisi yang terindah disyurga-Nya, kau jangan khawatirkan soal Adikmu, ia akan aman bersama kami, pergilah Kak, pergi dengan damainya, aku berjanji kepadamu bahwa aku akan selalu menjaganya dan membimbingnya". Ucap Rifki dengan senyum haru dan terdapat sebuah kesedihan dibalik kata kata yang ia lontarkan kepada jenazah tersebut.
Sementara ditempat yang begitu gelap Nadhira menoleh kesekelilingnya mencari sebuah cahaya, tiba tiba matanya begitu silau ketika ia melihat setitik cahaya dari kejauhan, cahaya tersebut perlahan lahan mendekatinya dan berubah menjadi cahaya yang begitu terangnya.
Dapat dilihat ada sosok diantara cahaya yang terang itu, sosok itu adalah sosok seorang gadis yang tidak Nadhira kenali sebelumnya, gadis itu mendekat kearah dimana Nadhira berdiri saat ini.
"Dhira". Panggil wanita itu.
"Siapa kamu?". Tanya Nadhira dengan terkejutnya.
"Aku adalah Rahel, aku ingin berterima kasih kepadamu, berkat dirimu dan juga teman temanmu aku bisa tenang sekarang, terima kasih atas semuanya, semoga Allah membalas kebaikan kalian dengan berjuta juta kali lipatnya".
"Kak Rahel, aku senang bisa membantu dirimu".
"Aku ingin meminjam tubuhmu sebentar, aku ingin bertemu dengan Kak Hakam, bolehkah aku melakukan itu? Aku akan memberitahumu sesuatu".
"Apa itu Kak?".
Tanpa menjawab pertanyaan dari Nadhira, Rahel segera masuk kedalam tubuh Nadhira, Nadhira yang sedang tidak sadarkan diri tiba tiba mulai membuka matanya akan tetapi itu bukanlah kesadaran Nadhira.
Rahel menggerakkan tubuh Nadhira untuk bangkit dari pingsannya, Rahel segera keluar dari dalam mobil tersebut hal itu menyita perhatian dari anak buah Rifki yang sedang berjaga ditempat itu.
"Mbak Dhira sudah sadar?". Tanya seseorang yang mendekat kearah Nadhira.
Tanpa menjawab ucapan tersebut Nadhira segera meninggalkan tempat itu, hal itu membuat anak buah Rifki segera mengejarnya atas perintah dari Rifki sebelumnya.
"Mbak Dhira tunggu! Tuan Muda memerintahkan kami untuk menjaga dirimu".
Nadhira terus berjalan menuju ketempat dimana Rifki dan yang lainnya berkumpul saat ini dan diikuti oleh beberapa anak buah milik Rifki dari belakangnya, kedatangan Nadhira yang tiba tiba membuat semuanya yang ada disitu begitu terkejut dan segera menoleh kearah dimana Nadhira berasal sebelumnya.
Rifki segera mendekat kearah Nadhira yang sedang dikendalikan tersebut, Rifki lah yang pertama kali menyadari ada yang tidak beres dengan Nadhira sehingga Rifki segera mendekat kearah Nadhira.
"Kamu mau apa?". Tanya Rifki kepada Nadhira.
Nadhira menatap kearah Rifki dengan tatapan yang berbeda, ada secuil senyuman diwajah Nadhira yang digerakkan oleh Rahel ketika menatap kearah dimana Rifki berada saat ini.
"Aku Rahel, aku ingin berterima kasih kepadamu karena kau telah menolongku". Ucap Rahel dengan tubuh Nadhira.
"Bukan masalah, selama aku bisa membantu aku akan berusaha untuk melakukan hal itu dengan sebisaku, aku akan menjaga Adikmu semampuku, mungkin membutuhkan beberapa waktu untuk menghilangkan traumanya, tapi kau tidak perlu khawatir soal itu, sekarang pergilah dengan tenang".
"Apa yang kau katakan kepada Nadhira Rif?". Tanya Hakam yang tanpa sengaja dirinya mendengar perkataan itu.
"Tubuhnya dirasuki oleh arwah Rahel sekarang, dan didepanmu adalah sosok dari Rahel yang masuk kedalam tubuh Nadhira".
"Kak Hakam, aku berhadap agar dirimu hidup dengan baiknya mulai sekarang, ikhlaskan kepergianku.... Aku tau itu sangat berat bagimu begitupun bagiku, itu adalah keputusanku, biar bagaimanapun juga Tante Nita adalah Ibumu sendiri kau tidak boleh dendam kepadanya apalagi marah kepadanya".
"Rahel". Guman Hakam pelan.
"Kak Hakam, maafkan diriku telah membuatmu menderita, pertemuan kita memang begitu singkat terima kasih telah mewarnai kehidupanku selama ini, terima kasih telah hadir dan selalu menemaniku disaat suka maupun duka".
"Ael, kenapa kau berlari begitu cepatnya, sampai sampai aku tidak dapat menggapai dirimu dan mengejarmu lagi, maafkan aku, dan bahkan aku tidak dapat menerima kenyataan begitu pahitnya yang terjadi kepadamu, maafkan aku".
"Rahel selalu milik Hakam, semoga kau menemukan sosok pengganti diriku".
"Tidak ada yang bisa menggantikan posisimu dihatiku Ael, sekarang ataupun selamanya, meskipun ada sosok yang baru, kau tetap akan selalu ada didalamnya".
__ADS_1
"Maafkan aku, terima kasih untuk kalian semua, aku akan pergi dengan tenang mulai saat ini, dan aku titipkan Adikku pada kalian, lindungilah dirinya, jangan buat ia menyimpan dendam karena kejadian ini, aku tidak ingin adanya dendam lagi diantara mereka dan aku tidak ingin adanya pertumpahan darah lagi".
"Kau bisa mempercayakan hal ini kepadaku Kak Rahel, aku tidak akan mengecewakanmu, aku akan terus berusaha untuk menjaga Adikmu". Ucap Rifki meyakinkan sosok Rahel.