
Setalah makanan mereka habis, mereka tidak langsung pulang, Rifki masih memperhatikan anak yang ada dihadapannya saat ini yang sedang meminum coklat panas pesanan Rifki untuknya.
Keduanya menatap indahnya bintang bintang yang bertaburan diangkasa, diantara kegelapan malam mereka tetap bersinar terang membuat siapapun yang melihatnya akan merasakan kedamaian malam nan indah itu.
Hafis mengingat kata kata Rifki mengenai Kakaknya yang sudah berada dilangit dan bermain main dengan para bintang disana, Hafis pun membayangkan bertapa indahnya saat itu.
"Kak, apa benar Kak Ahel ada diantara bintang bintang itu". Ucap Hafis sambil menunjuk kearah bintang yang paling terang bersinar diangkasa sana.
"Iya Dek, dia lagi bahagia disana bersama bidadari surga yang begitu amat cantik jelita".
"Aku pengen kesana Kak, aku ingin bertemu dengan Kakakku disana, sekarang aku sendirian tidak ada Kakak maupun Ayah dan Ibu disini".
"Tapi Adek kan masih punya Kakak disini, anggap saja Kakak adalah Kakaknya adek mulai saat ini".
"Makasih Kak selalu ada buat aku, Kakak baik banget kepadaku".
"Itu sudah kewajiban Kakak, karena Kakak sekarang adalah Kakaknya Adek Hafis, Adek dulu sekolah dimana?".
"Aku belum pernah sekolah Kak, Kak Ahel ngak punya uang buat nyekolahin aku apalagi untuk biaya pengobatan ibu dulu, sebenarnya aku juga ingin sekolah, sama seperti yang lainnya tapi Kak Ahel hanya mengajariku membaca dirumah dan belajar dirumah".
"Oh... Adek sekarang mau ngak sekolah? Nanti Kakak yang biayain sekolah Adek, gimana?".
"Beneran Kak, aku boleh sekolah?".
"Boleh, besok aku akan bilang ke Pak Bram suruh daftarin kamu kesekolah, tapi kamu harus janji kepada Kakak, harus belajar yang sungguh sungguh, jadi anak yang baik dan penurut, dan tidak akan pernah mengecewakan Kakak".
"Aku berjanji pada Kak Rifki, aku tidak akan pernah mengecewakan Kakak untuk selamanya".
"Anak yang baik". Rifki kembali mengusap kepala Hafis dengan pelannya sambil tersenyum kepadanya. "Ya sudah ayo kita kembali kemarkas, sudah malam kamu juga butuh istirahat, kan besok mau pergi kesekolah yang baru".
"Iya Kak".
Rifki mengajak Hafis untuk kembali kemarkasnya, dengan senang hati Hafis mengangguk mengiyakan ajakan tersebut, melihat itu Rifki segera membayar makanan tersebut dan segera melajukan motornya menuju kemarkasnya.
Sesampainya didepan markas besar tersebut, anak buahnya segera membukakan pintu gerbang ketika melihat kedatangan Rifki dimarkas tersebut.
Anak buahnya segera mengambil alih motor tersebut untuk diparkirkan kedalam garasi markas tersebut, sementara Rifki dan Hafis segera masuk kedalam markas menuju ketempat dimana Hafis akan tinggal dimarkas tersebut.
Rifki membawa anak itu masuk kedalam ruangan yang tidak ditempati disebelah kamarnya, anak itu hanya mengikuti Rifki tanpa banyak bicara.
Didalam ruangan tersebut hanya ada kasur yang cukup besar untuk dipakai oleh satu orang, sebuah lemari untuk menyimpan pakaian, meja belajar lengkap dengan buku bukunya, dan beberapa hiasan sudah terpasang rapi dikamar tersebut.
"Nah ini kamar Adek, oh iya Kak Bayu sudah membelikan Adek pakaian juga didalam lemari ini, coba Adek lihat dulu". Ucap Rifki menyuruh anak itu melihat apa yang ada didalam isi lemari.
Dengan ragu anak itu berjalan menuju ketempat dimana lemari pakaian tersebut, setelah lemari dibuka olehnya ekspresi wajah anak tersebut segera berubah menjadi lebih bersemangat lagi daripada sebelumnya.
"Kak ini beneran untukku? Ada seragam sekolah juga, bajunya banyak banget Kak". Ucap Hafis dengan kedua mata yang berbinar binar.
"Iya, untuk siapa lagi kalo bukan untuk Adekku ini".
"Makasih Kak".
"Iya sama sama, ya udah kamu tidur dulu gih, Kakak juga mau tidur, besok Kakak juga masuk sekolah".
"Iya kak".
Rifki segera bergegas menuju kekamarnya untuk mengistirahatkan tubuhnya yang mulai terasa sedikit kelelahan, setelah membersihkan tubuhnya dan menunaikan ibadahnya, Rifki segera membaringkan tubuhnya dan tertidur dengan lelapnya.
****
Keesokan harinya Hafis dibangunkan oleh anak buah Rifki dari tidur lelapnya, setelah itu Hafis membersihkan dirinya dan memakai pakaian sekolah dibantu oleh anak buah Rifki.
Setelah selesai merapikan pakaiannya, Hafis segera dibimbing oleh anak buah Rifki menuju kemeja makan untuk mengisi perutnya sebelum berangkat kesekolah.
"Pagi Kak". Ucap Hafis ketika melihat Rifki yang tengah mengisi perutnya.
"Pagi juga, eh sudah siap untuk sekolah ya".
__ADS_1
"Iya Kak".
"Kalo disekolah jangan nakal nakal, dengerin apa kata ibu guru, kalo ada apa apa bilang kepada Bapak ibu guru yang mengajar disana".
"Iya Kak".
"Ya sudah makan dulu gih".
Hafis langsung duduk disebelah Rifki, Rifki segera menyodorkan piring didepan Hafis dan mengambilkan nasi dan lauk untuk Hafis, setelah itu Rifki melanjutkan makannya.
Setelah selesai makan, keduanya segera bergegas kehalaman depan, Rifki memerintahkan anak buahnya untuk menyiapkan sepedahnya, dan memerintahkan anak buah lainnya untuk mengantarkan Hafis kesekolah barunya.
"Adek berangkat kesekolah bareng Kakak ini ya, Kakak ngak bisa nganterin".
"Iya Kak, ngak papa kok".
"Nanti kalo pulangnya di jemput kok Dek, ya sudah Kakak berangkat dulu ya, Assalamualaikum".
"Iya Kak, Waalaikumussalam".
Rifki segera pergi meninggalkan tempat itu, sementara Hafis dan anak buah Rifki segera naik kesepedah motor yang akan mereka pakai, anak buah Rifki tersebut segera berangkat ke sekolah yang akan digunakan oleh Hafis untuk menimba ilmu.
Tak beberapa lama kemudian akhirnya mereka sampailah ditujuan mereka, anak buah Rifki segera mengajak Hafis untuk masuk kesekolah tersebut akan tetapi Hafis merasa begitu takut untuk masuk.
"Ada apa Dek? Ayo masuk".
"Aku takut Kak".
"Takut kenapa? Adek ngak sendirian Kok, Kakak juga ikut masuk kedalam sekolah bersama Adek".
"Apa Kakak juga mau sekolah lagi?".
"Mau lah, tapi umur Kakak sudah ketuaan disekolah dasar, masak iya Kakak nanti jadi yang paling tua disini, kan ngak lucu, lagian Kakak juga sudah lulus sekolah dasar dari dulu".
"Kira in Kakak juga mau daftar disini juga, biar aku ada temannya disini".
"Ngak lah, ya sudah ayo masuk, Kakak juga mau bicara dengan kepala sekolah disini".
"Nama Kakak? Panggil aja Kak Yogi, kalo nama panjang nanti Adek manggilnya kepanjangan, soalnya nama Kakak panjangnya hampir 5 meter". Ucapnya dan dibalas anggukan oleh Hafis.
Keduanya segera berjalan didalam area sekolahan tersebut, penampilan Hafis yang baru pertama kali menginjakkan kakinya disekolah tersebut membuat pandangan seluruh siswa terarah kepadanya.
Karena pandangan tersebut membuat Hafis merasa begitu gugup dan akhirnya ia menggenggam erat lengan dari Yogi anak buahnya Rifki karena Hafis merasa takut dengan pandangan yang tertuju kepadanya saat ini.
Yogi yang merasakan pegangan tangan tersebut segera menoleh kearah Hafis, lalu ia menoleh kesekelilingnya mencari hal apa yang ditakuti oleh anak itu, Yogi melihat beberapa anak yang sedang memandang kearah keduanya, ketika anak anak itu mengetahui bahwa tatapan sosok seorang lelaki dewasa terarah kepada mereka, membuat mereka segera mengalihkan pandangan mereka.
"Sudah, jangan takut, mereka menatap kearah Adek karena Adek sangat tampan".
"Benarkah Kak?".
"Iya".
Tak beberapa lama kemudian akhirnya mereka sampai juga dikantor kepala sekolah yang ada disekolah itu, setelah berbincang bincang cukup lama akhirnya pihak sekolah memutuskan untuk menguji kemampuan Hafis.
Karena usia Hafis yang cukup tua untuk dapat masuk kekelas 1 membuat pihak sekolah sedikit kerepotan dengan masalah itu, apabila Hafis mampu melewati beberapa ujian, Hafis akan dimasukkan kekelas 3 sekolah dasar.
Hafis yang lumayan pandai dalam membaca dan menghitung karena ajaran dari Kakaknya selama ini membuatnya mampu lolos dalam ujian tersebut, akhirnya Hafis mampu masuk kekelas.
"Karena nilainya sedikit baik, pihak sekolah hanya bisa menaikkannya kekelas 3 SD Mas".
"Iya Pak ngak papa, asal dia bisa sekolah, nanti aku akan bilang kepada Tuan Muda, terima kasih Pak karena sudah menerima anak ini bersekolah disini".
"Iya sama sama Mas, tolong sampaikan juga salam saya kepada Bos anda, Pak Arya".
"Iya Pak, nanti saya sampaikan, saya nitip anak ini pada Bapak, saya mau tugas dulu, nanti kabari saya kalau sudah pulang".
Yogi hanya bisa berbohong kepada orang tersebut mengenai hal yang bersangkutan dengan Aryabima, karena kepergiannya sangat dirahasiakan, tidak seorangpun tau kemana perginya dan tidak seorangpun diizinkan untuk memberitahukan hal itu kepada orang luar, meskipun itu adalah sahabat dari Aryabima sendiri.
__ADS_1
Seluruh anak buah Rifki dan juga orang orang yang ada di perusahaan yang dipimpin oleh Rifki saat ini, dilarang keras untuk mengatakan atau membicarakan hal yang berhubungan dengan Aryabima dan alasan kepergiannya.
Kepergian Aryabima telah ditutup dengan rapatnya sehingga tidak ada yang mengetahui hal tersebut atas perintah dari Rifki sendiri, dan bahkan sampai sekarang pun Rifki sendiri tidak mengetahui apa alasannya kakeknya pergi meninggalkannya dan menyerahkan semua tanggung jawab yang begitu besar kepadanya saat ini.
"Iya Mas, Ayo Nak ikut Bapak kekelas yang baru". Ajak guru tersebut kepada Hafis.
Hafis sama sekali tidak mau melepaskan pegangan tangannya dari Yogi, ia begitu takut untuk pergi seorang diri tanpa adanya Yogi atau Rifki yang ada disampingnya.
"Maaf Pak, anak ini mengalami trauma, jadi mohon dimaklumi ya Pak". Ucap Yogi kepada guru tersebut.
Yogi menjelaskan keadaan yang dialami oleh Hafis yang terjadi kepadanya belakang ini kepada guru tersebut, guru tersebut hanya mengangguk mengerti dengan penjelasan yang diberitahukan oleh Yogi kepadanya saat ini.
Yogi memegangi tangan Hafis dan sedikit menunduk kepada anak kecil itu, ia memberikan sebuah senyuman tipis diwajahnya kepada anak kecil itu.
"Jangan takut ya, Hafis kan anak yang pemberani, katanya Hafis ingin sekolah dan meraih cita citanya, jadi jangan takut lagi". Ucap Yogi dengan senyuman yang terarah kepada Hafis.
"Tapi Kak...".
"Semangat!! Hafis pasti bisa".
Hafis mengangguk kepada Yogi dengan berat hati, ia tidak ingin ditinggalkan oleh Yogi saat ini, akan tetapi Guru tersebut segera membujuk Hafis agar Hafis segera masuk kedalam kelasnya dan melangkah dengan beraninya.
Melihat itu, Yogi segera berpamitan kepada guru tersebut dan pergi meninggalkan Hafis ditempat itu bersama Guru tersebut, Hafis terus memandangi bayangan dari Yogi yang perlahan lahan menghilang dari pandangannya.
Guru tersebut segera menarik tangan Hafis menuju kekelas dimana Hafis tempati nantinya untuk menimba ilmu nantinya, sesampainya dikelas itu Hafis segera duduk dibangku kosong yang berada tidak jauh dari papan tulis dan meja guru.
Tak beberapa lama kemudian bel masuk berbunyi, seluruh siswa segera berlari keluar kelas untuk baris didepan kelas sambil menyambut guru pelajaran yang akan mengisi jam pagi dikelas mereka.
Hafis pun mengikuti mereka untuk berbaris didepan kelas, setelah seorang guru wanita datang mereka segera masuk kedalam kelas dengan bergantian sambil mencium tangan guru tersebut.
Setelah seluruh murid duduk dibangkunya masing masing, guru tersebut segera meminta Hafis untuk berdiri didepan kelas untuk memperkenalkan namanya karena Hafis adalah murid baru dikelas itu.
"Silahkan memperkenalkan namamu Nak, biar teman teman tau". Ucap guru wanita yang ada dikelas itu.
"Per... Perkenalkan Namaku Hafis Abdillah, biasanya dipanggil Hafis". Ucap Hafis dengan pelannya.
"Anak anak teman baru kalian bernama Hafis, Ibu harap kalian bisa berteman dengan baik ya, Hafis silahkan duduk kembali, kita akan memulai pelajaran kita hari ini".
"Iya Bu". Hafis menundukkan kepalanya kepada guru tersebut dan segera bergegas kembali kebangkunya.
"Baik anak anak, sebelum memulai pelajaran kita berdoa terlebih dahulu ya".
Setelah itu mereka segera membuka buku mereka masing masing, sebelumnya Rifki telah membelikan beberapa buku tulis, buku BKS, dan juga buku paket untuk Hafis gunakan disekolah tersebut.
Setelah beberapa lama mempelajari buku tersebut akhirnya jam pelajaran pertama dan kedua berhasil mereka lalui dengan lancar tanpa ada hambatan.
"Hay... Kenalkan namaku Edo". Tanya salah satu anak yang memiliki tubuh cukup gendut dikelas itu kepada Hafis yang berada disampingnya.
"Hafis". Hafis menjawab ucapan tersebut dengan singkat, padat, dan jelas.
"Kamu dulu sekolah dimana Fis?".
"Aku belum pernah sekolah sebelumnya, untung aku bertemu dengan Kakak yang baik hati, jadi aku bisa kesekolah".
"Ouhh.. seperti itu".
Waktu pun berjalan begitu sangat cepatnya hingga bel pulang sekolah pun tiba, Yogi sedang menunggu kepulangan Hafis diluar gerbang sekolah tersebut.
Tak beberapa lama kemudian akhirnya Hafis mulai berlarian keluar dari sekolah tersebut dengan berlinangan airmata dipelupuk matanya, ia berlari kearah dimana Yogi berada saat ini, dan segera memeluk lengan Yogi dengan eratnya.
"Kakak.. hiks.. hiks.. huaa". Tangis Hafis pecah seketika setelah bertemu dengan Yogi.
"Loh ada apa Dek? Kenapa menangis? Siapa yang menganggu dirimu disekolah ini?". Tanya Yogi dengan paniknya ketika melihat sosok anak kecil yang manangis sambil memeluk tangannya.
"Me.. reka.. jahat". Ucap Hafis sambil terisak tangisnya disamping Yogi.
"Sudah jangan nangis dong, jelaskan kepada Kakak pelan pelan, biar Kakak tau, kalo Adek masih nangis seperti ini, Kakak jadi ngak tau apa yang akan Adek katakan kepada Kakak".
__ADS_1
Hafis mencoba untuk menghentikan tangisannya sesuai permintaan dari anak buah Rifki, dengan susah payah Hafis melakukan hal itu meskipun dengan waktu yang cukup lama untuk dapat menghilangkan tangisan yang ada diwajahnya itu.
Yogi setia menunggu cerita yang akan disampaikan oleh Hafis kepadanya, ia tidak ingin membuat Tuan Mudanya marah kepada dirinya hanya karena Hafis yang menangis disekolah tersebut tanpa sepengetahuannya yang akan menyebabkan masalah besar bagi dirinya sendiri.