Apa Salahku Pa

Apa Salahku Pa
Kisah Pangeran Kian 23


__ADS_3

Titik lemah seorang lelaki terletak pada orang yang paling ia cintai, seberapa kuatnya mereka, mereka tetaplah manusia yang masih mampu untuk meneteskan air mata ketika mereka terluka.


Panji merasa gagal menjadi Kakak yang baik untuk Nimas karena disaat terakhirnya, Panji tidak mampu untuk menolongnya dalam keadaan seperti itu, perasaan Panji terasa campur aduk untuk saat ini.


Disatu sisi Panji merasa bahagia karena dapat menikah dengan seseorang yang ia sayangi itu, sementara disisi lain dirinya kehilangan seorang gadis yang telah ia anggap sebagai Adiknya sendiri.


"Kamu yang sabar ya sayang, kita doakan saja yang terbaik untuknya, ikhlaskan kepergiannya". Ucap Indah dan sesekali mengusap kepala Panji dengan pelannya agar Panji merasa tenang.


"Apakah ini yang dinamakan antara baju pernikahan dengan kain kafan, disini aku dapat bahagia karena berada diposisi baju pernikahan, sementara Adik angkatku sudah tiada". Ucap Panji dengan lirihnya.


Panji tidak pernah terlihat begitu rapuhnya seperti saat ini dihadapan dengan Indah, sejak Indah telah menjadi istrinya, Panji telah menganggap bahwa Indah adalah segalanya sehingga dirinya mencurahkan segala isi hatinya kepada Indah.


Panji terlihat lebih terbuka kepada Indah daripada sebelumnya, tidak ada tempat yang lebih nyaman untuk bercerita selain kepada pasangan kita sendiri, ia mencoba lebih terbuka kepada Indah daripada sebelumnya karena ia tidak ingin adanya kesalah pahaman diantara keduanya.


"Tenanglah sayang, kita tidak akan tau kapan dan dimana kita akan dipanggil oleh sang pencipta, ikhlaskan saja kepergiannya, dan doakan yang terbaik untuk dirinya semoga dirinya tenang disyurga-Nya".


Panji merasa begitu tenang ketika berada didalam pelukan Indah, Panji bersandar didada Indah dengan isak tangis yang masih terdengar dengan jelas oleh Indah, Panji juga membalas pelukannya tersebut.


Panji tertidur didalam pelukan Indah, dirinya begitu lelah untuk saat ini, apalagi dirinya mampu merasakan bahwa adik angkatnya itu telah tiada meninggalkannya untuk selama lamanya.


Untuk kali ini Panji dapat tertidur dengan nyenyak seperti ini, selama ini dirinya tidak mampu tertidur dengan nyenyak ketika dirinya berada dalam pengelanaan karena dirinya harus siap siaga dimanapun dan kapanpun ia berada.


Indah dapat merasakan apa yang dirasakan oleh Panji saat ini, Panji akan selalu terlihat baik baik saja didepan semua orang, akan tetapi dirinya akan terlihat begitu rapuh jika dihadapan orang yang paling ia sayangi itu untuk mengutarakan seluruh isi hatinya, dan orang itulah yang paling memahaminya.


Dengan perlahan lahan, Indah membaringkan tubuh Panji disampingnya, Indah melihat pergelangan tangan Panji yang uratnya menghitam itu karena racun yang ada didalam tubuhnya saat ini, Indah memandangi pergelangan tangan itu dengan perasaan sedihnya ketika melihatnya.


Dengan energi yang dimiliki oleh khodam milik Panji sehingga membuat racun yang ada didalam tubuh Panji terkumpul menjadi satu dan diarahkan kepada urat syaraf yang ada ditangannya itu.


Bukan tanpa rasa sakit dengan apa yang dialami oleh Panji, Panji rela melakukan apapun yang ia bisa lakukan agar dirinya mampu untuk menemani Indah meskipun dirinya harus menanggung segala rasa sakit yang ada didalam tubuhnya.


"Sampai kapan kau akan menderita seperti ini Panjiku sayang, aku tidak sanggup jika harus melihatmu seperti ini, pasti ini sangat sakit bukan? Tapi kau tidak mau mengatakannya kepadaku dengan jujur, karena kau tidak ingin melihatku begitu menghawatirkan dirimu bukan? Seandainya ada cara untuk dapat menghilangkan rasa sakit itu, aku akan melakukannya untukmu Panji". Ucap Indah dengan sedihnya.


Indah terus memandangi pergelangan tangan suaminya itu cukup lama, tanpa sengaja dirinya dapat melihat bahwa urat syaraf tersebut mulai menyebarkan darah yang mulai menghitam karena racun yang ada didalamnya.


"Apakah aku akan kehilangan dirimu seperti yang kau katakan kepadaku? Aku berharap hal itu tidak akan pernah terjadi Panji, jangan pernah tinggalkan diriku". Batin Indah.


"Aku tau kekhawatiranmu itu Indah, tapi aku tidak berdaya saat ini, tenagaku seakan akan tengah terkuras begitu derasnya, hingga untuk membuka mata saja aku tidak mampu, pusing sekali". Batin Panji yang saat ini sedang memejamkan matanya.


Indah mengenggam erat tangan suaminya itu, ia begitu sangat berharap bahwa Panji dan dirinya akan hidup bersama sampai dihari tua mereka, Indah tidak ingin kehilangan Panji dengan cara seperti ini.


Indah yang melihat tubuh suaminya yang terlelap dalam tidurnya seperti ini ada rasa ketakutan yang mendalam karena racun yang ada didalam tubuh Panji yang mampu merenggut nyawa Panji dengan begitu saja.


Racun yang ada didalam tubuh Panji perlahan lahan mulai bertambah banyak, sehingga urat syaraf yang menghitam itu mulai sampai disiku Panji, tangan kiri Panji mulai terlihat sedikit membiru karena efek racun tersebut sehingga membuat tangannya terlihat seperti sedang mengalami memar.


Indah merasa cemas dengan hal itu, akan tetapi berbeda jauh dari Panji yang masih mengabaikan hal itu karena bagi Panji itu tidaklah penting baginya, asalkan dirinya masih bisa bernafas, dirinya tidak akan keberatan dengan adanya racun tersebut yang masih berada didalamnya.


"Sayang, ada apa dengan dirimu? Kenapa racun ini bisa bertambah banyak seperti ini?". Ucap Indah dengan paniknya sambil beberapa kali menepuk pipi Panji dengan pelannya.


Panji yang masih setengah sadar tersebut segera menggerakkan tangannya yang terdapat noda racun itu untuk menjauh dari Indah, Panji segera memasukkan tangannya kedalam selimut terdekatnya agar Indah tidak terus terusan memperhatikan tangannya tersebut.


Meskipun tanpa melihat kearah tangannya, Panji dapat mengetahui tentang racun tersebut karena dirinya mampu merasakan aliran darahnya yang membawa racun itu tengah mengalir hampir mengenai sikunya.

__ADS_1


"Tidurlah Indah, ini sudah malam, jangan terlalu menghawatirkan tentang racun ini, racun ini masih berada disiku belum masuk kedalam jantung, sehingga kau tidak perlu menghawatirkannya". Ucap Panji pelan dan menyuruh Indah untuk tidur.


Panji dapat merasakan tangannya sedang mati rasa karena racun tersebut yang mulai membiru ditangan Panji, disekitar tangan tersebut Panji dapat merasakan rasa nyeri yang menyelimuti tangannya itu, seakan akan aliran darah telah berhenti disana.


Panji dapat bersikap seperti biasa ketika dihadapan Indah, akan tetapi dirinya akan berwajah kesakitan ketika dibalik Indah, Panji tidak ingin menunjukkan penderitaan kepada wanita yang ia cintai itu sehingga dirinya lebih memutuskan untuk menyembunyikannya agar Indah tidak mengetahuinya.


"Apakah itu sakit? Kenapa kau bisa sesantai ini menghadapi racun itu? Bagaimana kalau itu sangat menyakitkan bagimu?".


"Untuk apa menghawatirkannya sayang? Kalau hanya dengan khawatir saja itu tidak akan mampu untuk mengobatinya, sudah tidurlah Indah, ini sudah malam, aku sangat ngantuk".


"Tapi....".


"Apa kau ingin melakukannya malam ini denganku? Aku sangat lelah Indah".


Panji menahan efek dari racun yang ia rasakan agar Indah tidak terlalu menghawatirkannya, racun tersebut mampu melemahkan detak jantungnya sehingga nafasnya sering tidak beraturan karena racun yang ada di tubuhnya itu dan juga rasa pusing di kepalanya terasa begitu menyiksa dirinya.


"Entah sampai kapan diriku akan bertahan, aku tidak ingin membuatmu semakin khawatir kepadaku Indah, tetaplah tersenyum untuk diriku, melihatmu tersenyum membuat hatiku merasa tenang". Batin Panji.


"Bukan begitu, tapi bagaimana dengan racun itu? Kenapa racun itu bertambah banyak seperti itu?".


"Ini adalah takdirku Indah, dan aku tidak bisa berbuat apa apa untuk saat ini, aku pernah bilang kepadamu bukan? bahwa aku adalah pemuda yang berumur pendek sebelumnya, racun ini belum pernah ada penawarnya sebelumnya sehingga sia sia saja untuk mencemaskannya".


"Aku pasti akan menemukan penawarnya untukmu Panji, aku akan berusaha untuk mendapatkannya, aku tidak ingin kehilangan dirimu".


"Hidup dan matiku hanya untukmu Indah, takdir tidak pernah bisa ditebak akhirnya akan seperti apa, Jangan memikirkan hal itu, ayo tidur ini sudah malam, kita akan melakukannya besok pagi saja".


Panji segera menarik tubuh Indah dan menidurkannya dalam pelukannya, tak beberapa lama kemudian Indah pun akhirnya ikut tertidur dimalam itu, karena keduanya sangat kelelahan setelah mengadakan acara pernikahan itu.


Kali ini Indah mampu tertidur dengan lelapnya ketika berada didalam pelukan Panji, Indah mampu tertidur dengan lelapnya didalam pelukan Panji yang terasa hangat dan nyaman bagi dirinya.


"Kau sudah bangun Nak?". Sapa Ibu Indah kepada Panji yang baru saja keluar dari kamarnya.


"Indah kemana Bu?". Tanya Panji.


"Eh masih pagi pagi begini sudah nyariin Indah aja, gimana acara semalam dengan Indah?". Tiba tiba Ayah Indah berjalan mendekat kearah Panji.


"Yang pasti sudah membuat cicit untuk kita lah Mas, bukan begitu menantuku?". Ucap Ibu Indah dengan semangatnya kepada Panji.


Panji hanya bisa mengaruk kepalanya yang tidak gatal mendengar ucapan kedua mertuanya itu, ia sama sekali tidak mengerti kenapa justru merekalah yang bersemangat untuk hal itu daripada dirinya maupun Indah.


Kemarin malam bahkan Panji sama sekali belum melakukan apapun kepada Indah, karena rasa lelah yang ia rasakan dan juga kesedihannya atas kematian dari Adik angkatnya itu.


"Aku belum melakukan apapun dengan Indah Bu, semalam kami sangat kelelahan setelah acara pernikahan itu". Ucap Panji dengan jujurnya kepada kedua mertuanya itu.


"APA!!". Teriak keduanya secara bersamaan setelah mendengar jawaban dari Panji.


"Aku berniat melakukannya pagi ini Bu, tapi Indah sudah tidak ada didalam kamar".


"Kembalilah kekamarmu, biar Ibu yang akan mencarinya". Ucap Ibu Indah menyuruh Panji untuk kembali masuk kedalam kamarnya.


Panji hanya bisa pasrah dengan perintah wanita itu, ia tidak ingin membuat dirinya kecewa, akhirnya Panji kembali masuk kedalam kamarnya untuk menunggu kedatangan Indah kekamar tersebut.

__ADS_1


Setelah 2 jam menunggu kedatangan Indah, akhirnya Indah datang juga, Indah segera masuk kedalam kamarnya sesuai dengan perintah dari Ibunya, sebelum masuk kedalam kamar, Ibunya telah meriasi wajah Indah dengan make up tipis, sebenarnya Indah menolak untuk melakukannya akan tetapi karena paksaan dari Ibunya membuat Indah mau diberi make up seperti itu.


"Maaf telah membuatmu lama menunggu". Ucap Indah sambil menundukkan kepalanya.


"Tidak apa apa, duduklah". Ucap Panji menyuruh Indah duduk disebelahnya.


Indah hanya bisa pasrah dengan perintah dari suaminya itu, Indah merasa begitu gugup ketika berada didekat Panji seperti ini, Indah bahkan tidak berani untuk menatap suaminya itu.


"Apakah aku terlihat begitu menakutkan sayang?". Tanya Panji kepada Indah yang terus melihat kelantai.


"Tidak, bukan seperti itu". Jawab Indah dengan gugupnya karena ditatap oleh Panji seperti itu.


"Lalu kenapa kau tidak berani untuk menatap wajahku ketika sedang berbicara denganku? Aku adalah milikmu untuk saat ini dan selamanya, tataplah wajahku ketika sedang berbicara denganku Indah, aku tidak suka jika melihatmu menunduk seperti ini jika sedang berbicara denganku".


"Aku hanya takut melakukan itu denganmu". Jawab Indah dengan ragunya, dirinya takut membuat Panji marah karena ucapannya.


"Kenapa takut? Bukankah kita sudah menikah sayang? Kita juga tidak melakukan dosa, aku hanya meminta hakku itu saja". Ucap Panji dengan nada yang begitu lembut kepada Indah.


"Bukan begitu".


"Aku tidak akan memaksa dirimu Indah, beberapa hari kedepan kita akan pergi dari sini untuk melanjutkan perjalananku, kita akan melakukannya nanti ketika dirimu benar benar sudah siap".


"Kenapa tidak? Aku siap menikah denganmu itu artinya aku siap melakukan apapun demi dirimu, kau adalah suamiku, kau berhak melakukan apapun kepada diriku sayang".


Indah segera mendorong tubuh Panji untuk membaringkannya, Panji merasa begitu ngeri sekaligus kebingungan dengan apa yang dilakukan oleh Indah kepadanya saat ini, Panji hanya bisa tertawa ketika melihat sikap Indah seperti ini kepadanya saat ini.


Indah sendiri ikut membaringkan tubuhnya disamping Panji dengan menggunakan lengan Panji sebagai bantalnya, Panji hanya bisa menggelengkan gelengkan kepalanya melihat kelakuan Indah, Panji sama sekali tidak mempedulikan tangan satunya yang terasa begitu nyeri ketika sedang bersama dengan Indah seperti saat ini.


"Kenapa kamu ngak jadi melakukan hal itu kepadaku Indah? Aku sudah menunggunya sedari tadi". Tanya Panji ditelinga Indah sambil memejamkan matanya ketika merasakan Indah sedang membaringkan tubuhnya dengan nyaman.


"Boleh?".


"Bolehlah, kan aku sudah menjadi suamimu sekarang, bukan orang lain lagi saat ini Indah, jika melakukan itu dengan orang lain, aku akan sangat marah kepadamu Indahku".


"Iya ya aku tau itu".


"Indah istriku, bolehlah aku mengatakan sesuatu kepadamu? Tapi jangan marah dengan hal itu". Ucap Panji dengan ragunya kepada Indah.


"Apa yang ingin Tuan katakan kepada saya? Kenapa terlihat begitu seriusnya?".


"Sebenarnya". Panji menatap kearah tangannya yang membiru itu. "Jika aku sudah tiada terlebih dahulu nantinya, apa kau akan mencari pengganti diriku Indah? Entah mengapa aku sangat takut untuk membayangkannya saja, apalagi saat ini, racun yang ada ditubuhku sudah berkumpul ditangan kiriku".


Panji merasakan sesuatu bahwa hidupnya sudah tidak lama lagi karena adanya racun ular gaib yang ada didalam tubuhnya itu, sehingga dirinya tiba tiba bertanya kepada Indah seperti itu.


Dirinya merasa sangat khawatir ketika racun yang ada didalam tubuhnya yang hampir semakin menyebar keseluruhan tubuhnya itu, sementara sampai sekarang dirinya belum menemukan solusi untuk menawarkan racun tersebut.


Tidak ada hal yang lain yang mampu ia lakukan selain menyerahkan seluruh hidup dan matinya kepada sang pencipta alam semesta, bagi dirinya kematian tidak begitu menakutkan, akan tetapi dirinya hanya takut Indah menangis karena kepergiannya.


"Aku tidak akan melakukan itu sayang, bagiku menikah hanya untuk sekali dalam seumur hidup, aku akan berdoa kepada Illahi semoga kau akan secepatnya terbebas dari racun itu".


"Aku sangat menyayangimu Indah, terima kasih telah hadir dalam hidupku".

__ADS_1


Panji menciumi kening Indah, Indah begitu sangat bahagia ketika mendapatkan sosok seorang suami seperti Panji yang begitu sabar kepadanya dan keduanya tengah larut dalam hubungan suami istri.


...Jangan lupa like dan dukungannya 🥰...


__ADS_2