
Air mata Panji mengalir begitu saja membasahi pipinya tanpa ia minta sama sekali, melihat Panji yang tengah meneteskan air matanya dengan begitu derasnya membuat Abiyoga segera memegangi erat tangan Panji seakan akan dirinya sedang menguatkan hati Ayahnya karena ucapan yang telah dilontarkan oleh Galih.
Panji merasa begitu terluka ketika anaknya bernada tinggi kepadanya, meskipun itu hanyalah sebuah kata kata saja akan tetapi rasa sakit yang ditimbulkan dari perkataan itu bukanlah main main, rasa sakit itu tidak mampu terlihat oleh mata akan tetapi mampu dirasakan dengan nyata oleh Panji.
"Kenapa Kakak membentak Ayah seperti itu? Kak, jangan pernah berkata kasar seperti itu kepada Ayah, Ayah adalah orang yang telah membesarkan kita selama ini, kenapa Kakak bisa berkata kasar seperti itu kepadanya". Ucap Abiyoga kepada Galih.
"Memang dia yang telah membesarkan kita berdua, tapi dia bersikap begitu tidak adilnya kepada diriku, seharusnya aku yang mendapatkan kekuatan itu bukan dirimu Yoga". Ucap Galih kepada Abiyoga.
"Kekuatan apa yang Kakak maksud? Aku sama sekali tidak memiliki kekuatan".
"Apalagi kalau bukan keris pusaka xingsi".
"Nak, kau salah paham, Yoga sama sekali tidak memiliki kekuatan keris pusaka xingsi". Ucap Panji kepada Galih yang tengah marah saat ini.
"Aku adalah anak pertama Ayah, tapi kenapa Yoga yang mendapatkan semuanya! Kenapa harus Yoga yang mendapatkan kekuatan keris itu? Kenapa Ayah! Ini semua tidak adil". Ucap Galih dengan marahnya.
Galih bergegas meninggalkan tempat itu, ia tidak ingin membuang buang tenaganya ketika berada ditempat itu sehingga dirinya memutuskan untuk pergi dari situ, sudah lama keduanya tidak bertemu akan tetapi Galih sama sekali tidak merindukan mereka, berbeda jauh dari Panji yang terus merindukan anak anaknya.
Panji tidak mampu menghentikan langkah kaki dari anaknya itu, dirinya hanya bisa menangis ketika anaknya meninggalkan dirinya begitu saja ditempat itu, ada perasaan kecewa didalam hatinya karena ucapan Galih kepadanya akan tetapi kekecewaannya itu berubah menjadi rasa sedih ketika Galih meninggalkan dirinya begitu saja.
"Ayah, ucapan Kak Galih jangan dibawa perasaan, mungkin saja dia hanya mengatakan hal itu karena marahnya Ayah, dia tidak akan bisa marah kepada Ayah dalam waktu yang lama". Ucap Abiyoga yang mencoba untuk menenangkan hati Panji.
"Ayah tidak tau sampai kapan dirinya akan marah kepada Ayah, Ayah hanya bisa berharap semoga dirinya baik baik saja". Ucap Panji sambil menatap wajah Abiyoga.
"Ayah masih punya aku, aku tidak akan membiarkan Ayah menangis seperti ini, aku akan berusaha untuk mencari Kakak".
"Tidak Nak, Ayah sangat takut jika nantinya dia akan berbuat nekat kepadamu, dan mencelakai dirimu".
Panji mencegah anaknya untuk pergi mencari keberadaan dari Galih, dirinya tidak ingin membuat anaknya berada dalam bahaya, apalagi ketika ingatan tentang Danuarta yang selalu menggentayanginya selama ini, hal itu membuat Panji merasa begitu takut walau hanya membayangkannya saja.
Panji dan Abiyoga segera kembali kerumahnya untuk mengistirahatkan tubuhnya, ketika dirinya sampai dirumah mereka segera disambut oleh Indah yang sudah berada didepan rumahnya, Indah terlihat begitu panik ketika melihat kedatangan dari dua orang itu, Indah segera bergegas untuk mendatangi keduanya saat ini.
"Ada apa?". Tanya Panji ketika melihat Indah begitu cemas saat ini.
"Galih Mas....". Ucap Indah.
"Ada apa dengan Galih? Katakan kepadaku Indah, kenapa dengan dia?". Tanya Panji yang ikut cemas ketika mendengar nama Galih diucapkan oleh Indah.
"Galih tadi datang kemari Mas dan mengatakan ancaman kepadaku, dia bilang akan membunuh seluruh keturunan kita nantinya karena kita begitu tidak adil kepadanya". Ucap Indah dengan berlinangan air mata.
"Anak ini! Dia benar benar memiliki ambisi yang begitu besar untuk mendapatkan kekuatan dari keris pusaka xingsi itu". Ucap Panji dengan kecewanya.
"Ayah, apa yang harus kita lakukan sekarang?". Tanya Abiyoga kepada Ayahnya dengan nada bingungnya.
"Ibu mohon kepadamu Nak, jangan pernah melawan Kakakmu sendiri, Ibu tidak ingin melihat kedua anak Ibu saling serang dan menyerang nantinya". Ucap Indah kepada Abiyoga.
"Iya Ibu, aku janji kepada Ibu bahwa aku tidak akan pernah menjadi lawan dari Kakakku sendiri".
__ADS_1
Dengan mantapnya Abiyoga mengatakan hal itu kepada Ibunya tanpa berpikir panjang terlebih dahulu, Abiyoga tidak memperhatikan resiko dan konsekuensi apa yang akan ia dapatkan dengan janji yang ia lontarkan kepada Ibunya itu.
*Flash back off*
Rifki dan Ayahnya kini sedang berada didalam goa, berhari hari mereka tinggal disana, Ayahnya menceritakan kisah Pangeran Kian kepada dirinya sementara Rifki mendengarkan dengan seksama sehingga tidak ada kisah sedikitpun yang terlewatkan oleh Rifki.
"Janji itulah yang menjadi puncak kehancuran keluarga kita Nak". Ucap Haris kepada Rifki.
Janji yang telah diucapkan oleh Abiyoga tanpa berpikir panjang itu membuat keluarga besar Rifki harus bersembunyi untuk selama ini agar keturunan dari Galih tidak dapat menemukannya.
Bagi keluarga Rifki mengingkari sebuah janji adalah pantangan, sehingga apapun yang terjadi janji itu haruslah ditepati, karena janji bukan hanya diucapkan lewat kata kata akan tetapi juga telah disaksikan langsung oleh sang pencipta alam semesta.
Janji adalah sebuah kontrak psikologis yang menandakan transaksi antara 2 orang atau lebih di mana orang pertama mengatakan pada orang kedua untuk memberikan layanan maupun pemberian yang berharga baginya sekarang dan akan digunakan maupun tidak, Janji juga bisa berupa sumpah untuk menepatinya atau jaminan.
Rifki yang mendengar kisah yang telah disampaikan oleh Haris hanya mampu menahan emosinya karena disetiap kisah itu membuat Rifki merasa begitu marahnya dengan tindakan yang telah dilakukan oleh Danuarta kepada keluarganya dahulu.
Meskipun begitu kadang kala, air mata Rifki juga ikut terjatuh ketika membayangkan perasaan Panji kala itu ketika dirinya kehilangan sosok kedua orang tuanya dan juga apa yang dilakukan oleh Galih kepada dirinya sehingga membuat Panji menangis.
"Galih beserta anak anaknya terus mencari tau tentang keberadaan kita Nak, saat itu keturunan dari Galih terus memburu anak anak dari Panji sehingga membuat Ayahku yakni Candra tewas begitu saja hanya demi menyelamatkan diriku, dan disaat itu juga Kakekmu Aryabima yang telah menggantikan Ayah Candra untuk melindungi kita".
Haris juga menceritakan tentang bagaimana saat kematian dari Candra, Candra tewas begitu saja karena perbuatan dari Galih beserta anak anaknya ketika Haris masih berusia anak anak saat itu, karena Haris yang belum mampu untuk melindungi dirinya sendiri membuat Aryabima harus turun tangan untuk melindungi anak dari Kakaknya itu.
"Saat itu, aku tidak bisa berbuat apa apa untuk bisa melindungi Ayah, aku tidak tau lagi harus berbuat apa saat itu, sehingga Kakekmu datang untuk membawaku pergi dari tempat itu". Ucap Haris sambil membayangkan apa yang terjadi kala itu.
Rifki memejamkan kedua matanya ketika melihat Haris meneteskan air mata, Rifki juga terlihat begitu sedih dan menyesali perbuatannya kepada Haris sebelumnya, ia tidak menyangka kebenaran ini begitu sangat menyiksa dirinya apalagi ketika ia tau bahwa dirinya dan Nadhira tidak akan mampu untuk bersatu karena adanya keris pusaka xingsi yang ada didalam tubuh Rifki dan juga permata iblis yang ada didalam tubuh Nadhira saat ini.
Karena Rifki adalah keturunan dari Kuswanto sehingga keris pusaka xingsi itu kini berada didalam tubunya, tetapi Rifki sama sekali tidak merasakan tentang keberadaannya karena dirinya tidak merasakan apa yang dirasakan oleh Abiyoga sebelumnya.
"Ayah, dimana keris pusaka xingsi itu saat ini?". Tanya Rifki dengan rasa penasarannya.
"Sebenarnya keris pusaka xingsi itu ada didalam tubuhmu Nak, akan tetapi kekuatannya begitu lemah untuk saat ini sehingga kita tidak mampu untuk merasakan keberadaannya".
Ucapan Haris itu seketika membuat Rifki mendapatkan semua jawabannya kenapa dirinya tidak mampu untuk merasakan keberadaannya dan juga dirinya tidak merasakan sakit sama sekali ketika perpindahan keris itu seperti apa yang dialami oleh Abiyoga sebelumnya.
Sampai kapanpun itu sebuah dendam tidak akan mampu untuk berakhir dengan baiknya, dendam itu akan berlangsung begitu lama jika tidak mampu diatasi dengan segera.
"Maafkan aku Ayah, selama ini aku telah salah menilai Ayah, aku pikir Ayah sangat tidak peduli denganku". Ucap Rifki dan langsung memeluk tubuh Ayahnya itu.
"Kau tidak salah Nak, yang salah adalah Ayah karena tidak dapat menemanimu untuk tumbuh dewasa selama ini karena kelemahan Ayah". Ucap Haris sambil mengusap kepala Rifki dengan sayang.
Rifki merasa begitu damai ketika berada didalam pelukan Ayahnya, ia begitu rindu dengan sosok itu karena keduanya tidak pernah bertemu dalam waktu yang begitu lama dan bahkan Rifki sudah melupakan kehangatan dari pelukan Ayahnya selama ini.
Sekarang Rifki mengetahui kenapa Ayah dan Kakeknya pergi begitu saja meninggalkan dirinya tanpa menemaninya untuk tumbuh dewasa, karena ini adalah alasannya kenapa keduanya pergi dan meninggalkan Rifki dengan tanggung jawab yang begitu besarnya.
"Ayah, apakah ada cara agar diriku mampu bersatu dengan Nadhira? Aku tidak bisa jika harus berpisah dengan dirinya". Rifki teringat kembali tentang apa yang diucapkan oleh Ayahnya.
"Untuk saat ini Ayah belum mengetahuinya Nak, dan untuk sementara ini, menjauhlah dari Nadhira, setelah kamu mengetahui semuanya segeralah pergi keluar negeri untuk sementara waktu sampai Ayah benar benar mengetahui tentang solusinya".
__ADS_1
"Tapi Ayah, aku tidak bisa melakukan itu, aku tidak bisa meninggalkan dia dalam keadaan seperti ini, apalagi permata itu saat ini sedang menjadi incaran orang orang jahat yang ingin memilikinya". Ucap Rifki dengan khawatirnya.
"Kau tidak perlu mencemaskan hal itu Nak, karena Ayah akan berusaha untuk melindunginya dengan diam diam". Ucap Haris menenangkan hati Rifki.
"Apakah Ayah serius dengan itu?".
"Kenapa tidak? Bukankah kau sangat mencintai dirinya? Ayah janji Ayah akan berusaha sebisa Ayah untuk dapat melindunginya".
"Tapi Ayah...".
"Jangan khawatirkan soal itu Nak, Nadhira akan baik baik saja, justru kau lah yang dalam bahaya sekarang ini, pergilah Nak, Ayah tau ini begitu berat bagimu tapi ketahuilah Nak bahwa inilah yang terbaik".
Rifki adalah satu satunya pemilik keris pusaka xingsi yang telah ditinggalkan oleh Kuswanto, karena seluruh keturunannya sudah dibantai habis oleh anak dari Danuarta, dan Rifki adalah keturunan Kuswanto yang terakhir kalinya, karena hanya keturunan lelaki lah yang mampu memiliki kekuatan dari keris pusaka xingsi.
Keturunan dari Galih sudah mengenali wajah dari Aryabima maupun Haris, akan tetapi mereka belum mengenali anak dari Haris karena sejak kecil Haris sudah meninggalkan mereka, kehadiran Haris sama halnya seperti orang misterius yang dengan diam diam bertindak.
"Kakekmu sudah memesankan tiket pesawat untukmu Nak, dan lusa kau harus berangkat keluar negeri secepatnya". Ucap Haris.
"Kenapa begitu cepat Ayah, aku masih belum siap untuk meninggalkan semuanya".
"Jangan membantah ucapan Ayah, Ayah sangat tidak menyukai itu, ini semua demi kebaikanmu Nak".
"Aku tau Ayah, Rifki tidak berniat untuk membantah ucapan Ayah, hanya saja Rifki belum siap".
"Tenang saja Nak, Ayah akan mencoba mencari cara untuk mengeluarkan permata itu dari tubuh Nadhira selama kau pergi".
"Jika itu kemauan Ayah, Rifki tidak akan pernah bisa membantahnya, aku ingin bertemu dengan Nadhira untuk terakhir kalinya sebelum aku berangkat".
Haris tersebut kepada Rifki karena Rifki mau menuruti keinginan untuk segera pergi dari negara itu, hanya itu yang Haris bisa untuk saat ini demi menyelamatkan nyawa anaknya agar tidak menjadi buruan keturunan dari Galih.
Rifki segera bergegas pergi dari goa itu, Rifki melihat bahwa diluar goa itu sudah hampir menjelang pagi, setelah memastikan keadaan begitu aman, Rifki dengan perlahan lahan keluar dari hutan itu menuju kerumah Nadhira.
Sementara didalam goa itu, Haris memandangi makam kedua leluhurnya dengan perasaan sedihnya, makam itu adalah makam dari Kuswanto dan juga Istrinya yakni Rahayu, ia tidak tau lagi harus berbuat apa untuk saat ini, karena Rifki telah jatuh hati kepada perempuan yang telah ditakdirkan untuk menghancurkan permata iblis.
"Ayah, aku tidak tau lagi, apa yang harus aku lakukan setelah ini, jika aku memisahkan keduanya dengan paksa sama halnya aku menyakiti hati anakku sendiri, sedangkan jika aku membiarkan mereka bersama, aku tidak siap jika harus kehilangan anakku". Ucap Haris dengan berlinangan air mata.
"Takdir memang benar benar telah mempermainkan kita, Rifki kita begitu sangat mencintai Nadhira, sebelum cinta keduanya begitu erat, kita harus bisa memisahkan keduanya Nak".
Tiba tiba suara seseorang terdengar oleh Haris, Haris segera berdiri dan menghadap orang yang tengah berbicara itu, orang itu tidak lain adalah Aryabima, ketika melihat Rifki bergegas pergi meninggalkan goa itu, Aryabima segera masuk kedalamnya.
"Apakah tidak ada cara lain Ayah? Aku tidak bisa melihat Rifki sedih". Ucap Haris kepada Aryabima.
Sejak kepergian dari Candra, Aryabima bagaikan sosok Ayah bagi Haris, Aryabima rela melakukan apapun asalkan dapat menyelamatkan anak dan cucu dari Kakak kandungnya itu, Aryabima memutuskan untuk tidak menikah dan lebih fokus untuk melindungi keluarganya yang masih tersisa.
Begitu banyak nyawa keluarganya yang telah tiada ditangan Galih dan anaknya, dan keduanya tidak ingin Rifki mengalami hal yang sama seperti apa yang tengah dialami oleh para keluarganya sebelumnya sehingga mereka meninggal sebelum waktunya.
Aryabima tidak menginginkan hal itu terjadi kepada Haris maupun Rifki, begitupun dengan Haris yang tidak menginginkan Rifki kenapa kenapa karena dendam yang begitu mendalam dan berlarut larut itu.
__ADS_1
...Jangan lupa like dan dukungannya 🥰...