
Malam ini Nadhira sedang berdiam diri didalam kamarnya, ia tidak tau lagi dengan apa yang terjadi dengan dirinya, Nadhira merasa bahwa Papanya semakin lama semakin membenci dirinya itu karena kesalahan yang sama sekali tidak ia lakukan.
Dikejauhan terlihat sosok Nimas yang tengah berdiri jauh dari Nadhira, Nimas terus memperhatikan pergerakan yang dilakukan oleh Nadhira, dapat terlihat ada setetes air mata yang sedang terbendung dipelupuk matanya.
Nadhira seakan akan tengah melamun saat ini, tanpa disadari oleh Nimas, Nadhira tengah memegangi sebuah pisau kecil ditangannya, tanpa disadari Nadhira segera mengangkat pisau itu dan akan mengayunkannya kepada dirinya sendiri.
"Dhira apa yang kau lakukan!" Ucap Nimas yang begitu terkejut dan segera menghempaskan tangannya dan seketika itu energi dari permata membuat pisau itu terlempar jauh dari Nadhira.
"Kenapa kau menghentikanku Nimas, hiks.. hiks.. hiks... Biarkan aku mati saja, untuk apa aku tetap hidup didunia ini? Jika semua orang membenci kehadiranku,, huaa.." Tangis Nadhira pecah seketika.
"Aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi Dhira"
"Jangan halangi diriku Nimas! Aku lelah jika terus begini pada akhirnya"
"Jika lelah istirahatlah tapi jangan menyerah begitu saja seperti ini Dhira, kehidupanmu akan jadi seperti apa itu tergantung pada dirimu sendiri Dhira, karena masa depan ada digenggaman tanganmu sendiri bukan orang lain"
Nimas segera melayang diudara dan mendekat kearah Nadhira yang sedang terisak tangis, Nadhira terlihat begitu rapuh saat ini dengan apa yang terjadi kepada dirinya, Nadhira tidak dapat berpikir dengan jernihnya karena yang ada didalam pikirannya hanyalah ada bunuh diri saja.
Nadhira berpikir bahwa bunuh diri adalah jalan terbaik untuk dirinya mencapai sebuah ketenangan yang selama ini ia impikan, dan Nimas tidak akan membiarkan hal itu terjadi kepada Nadhira.
"Apakah hanya dengan cara bunuh diri kau bisa mendapatkan sebuah ketenangan Dhira? Kau salah Dhira, jika kau melakukan itu kau akan menyesalinya suatu masa nanti, jangan rapuh Dhira! Masih banyak orang yang menyayangi dirimu diluar sana, jika aku diberi kesempatan untuk hidup kembali, aku tidak akan pernah menyia nyiakan hidupku nanti".
"Lalu apa yang harus aku lakukan Nimas! Aku lelah jika harus terus bertahan untuk hidup selama ini, dan aku ingin menyerah saat ini Nimas, biarkan saja aku mati, aku sudah tidak ingin hidup lagi hiks.. hiks.. hiks.. jangan halangi aku Nimas hua...".
"Tidak Dhira kau tidak boleh menyerah begitu saja seperti ini! Jika kau menyerah dengan mudah saat ini, maka orang itu akan tertawa dengan bahagianya karena dia akan merasa menang karena tidak perlu repot repot untuk membunuhmu"
Nadhira menatap kearah Nimas dengan isak tangisnya seakan akan dunianya sedang hancur saat ini, dengan berlinangan air mata Nadhira menatap kearah Nimas yang berada disampingnya itu dan wajah Nadhira terlihat begitu memerah karena tangisannya itu.
"Jika itu adalah keinginan mereka, maka biarkan itu terjadi, untuk apa aku terus bertahan hidup Nimas! Untuk apa, semua orang menginginkan aku mati tapi kenapa kau harus menghalangiku untuk membuat keinginan mereka terwujudkan Nimas, aku sudah tidak sanggup lagi untuk bertahan hidup" Suara tangis Nadhira terdengar begitu sangat memilukan.
"Lihat pergelangan tanganmu sekarang Dhira!".
Nadhira mengangkat tangannya dan terlihat sebuah gelang tangan berwarna biru yang tersematkan disana, gelang itu adalah pemberian dari Rifki sebelum Rifki pergi keluar negeri untuk meninggalkan Nadhira waktu itu.
Nadhira menatap kearah gelang yang tengah lilit ditangannya itu dan kearah sosok Nimas secara bergantian, Nadhira tidak mengerti kenapa Nimas menyuruhnya untuk melihat gelang yang ada ditangannya itu.
"Kau pernah berjanji kepada pemilik gelang itu Dhira, bahwa apapun yang akan terjadi kau tidak akan pernah menyerah, tapi kenapa saat ini kau ingin menyerah begitu saja, dimana Nadhira yang aku kenal selama ini! Apakah semangat benar benar sudah padam saat ini, bangkitlah Dhira! Bangkit!" Ucap Nimas.
"Arghhhh....." Teriak Nadhira.
"Pemilik gelang itu sangat yakin kepadamu Dhira, bahwa kau bisa melewati semuanya, jangan pernah merusak keyakinannya itu".
"Aku benar benar telah merusak keyakinannya itu Nimas, bahkan aku telah merusak kepercayaan yang telah diberikan kepadaku"
"Jika kau bunuh diri, apa kau sudah siap untuk bertemu dengan Tuhanmu? Apa kau mau bertemu dengan Tuhanmu dengan keadaan seperti ini?"
"Maafkan aku hiks.. hiks.. aku lelah dengan semua ini, untuk apa aku terus hidup sampai saat ini Nimas, semua orang tidak menginginkan kehadiranku, lantas apa yang harus dipertahankan".
Nimas mengarahkan telapak tangannya kepada kening Nadhira dan mengalirkan energinya hal itu membuat Nadhira perlahan lahan mulai tenang dan tiba tiba tertidur dengan pulasnya karena kelelahan menangis dimalam ini.
"Maafkan aku Dhira, malam ini tidurlah dengan nyenyak, kejahatan Sena harus segera dibongkar agar dirimu tidak tersiksa seperti ini Dhira, aku harus melakukan sesuatu malam ini".
Nimas segera menghilang dari tempat itu, entah kemana dirinya pergi saat ini meninggalkan Nadhira yang tertidur seorang diri dikamar itu.
*****
Keesokan paginya Nadhira terbangun dari tidurnya yang nyenyak malam ini, kicauan burung mulai terdengar dari luar rumah Nadhira, Nadhira bangun dari tidurnya dan bergegas menuju kearah cendela rumahnya itu dan perlahan lahan mulai membuka gordennya.
Nadhira menghirup udara pagi dengan dalam dan menghembuskannya secara perlahan lahan, udara pagi ini begitu menyejukkan hati dan pikirannya dan membuat Nadhira merasa damai dipagi hari ini.
__ADS_1
"Kau benar, aku tidak boleh menyerah begitu saja kali ini, maafkan aku".
Dari luar cendela Nadhira dapat melihat sosok Jono sedang membersihkan halaman depan rumahnya, disatu sisi dirinya melihat begitu banyak bunga bunga yang telah ditanam dihalaman itu, bunga itu adalah kesukaan dari Lia.
"Kenapa begitu banyak bunga yang ditanam dihalaman depan rumah?"
Nadhira segera bergegas keluar untuk melihat bunga bunga itu dengan dekatnya, Nadhira berjalan menghampiri bunga bunga yang telah ditanam oleh Jono saat ini, dan bunga itu terlihat begitu subur dan segarnya karena embun pagi.
"Tanaman yang indah" Ucap Nadhira dengan gembiranya ketika melihat bunga bunga itu.
"Non Dhira sudah bangun" Sapa Jono ketika melihat Nadhira berada dihalaman depan.
"Bapak yang menanam bunga ini?" Tanya Nadhira.
"Iya Non, mawar merah akan indah jika ditanam dihalaman rumah, apa Non menyukainya?".
Nadhira mengangguk kepada Jono, Nadhira memang menyukai bunga apalagi bunga itu adalah bunga mawar, bukan hanya kesukaan dari Nadhira saja akan tetapi bunga mawar adalah bunga yang paling disukai oleh Lia.
"Maaf Non, apa boleh aku mengatakan sesuatu kepada Non Dhira?" Ucap Jono dengan ragu.
"Iya Pak, ada apa?" Tanya Nadhira balik.
Nadhira dan Jono mengobrol begitu lamanya, entah apa yang sedang keduanya bicarakan saat itu, dapat dilihat bahwa ekspresi wajah Nadhira terlihat begitu seriusnya saat ini seakan akan keduanya membicarakan sesuatu yang sangat penting.
Setelah sekian lama mengobrol akhirnya Nadhira kembali masuk kedalam rumahnya untuk mengisi perutnya bersama dengan keluarganya, setelah berbincang bincang dengan Jono pagi ini Nadhira terlihat begitu cerahnya pagi ini.
"Apa Papa mau ngadain pesta ulang tahun Manda?" Tanya Nadhira kepada Rendi dimeja makan.
"Iya kenapa?" Jawab Rendi.
"Ngak apa apa kok Pa, Dhira hanya bertanya saja"
"Kenapa? Apa kau iri denganku karena hanya ulang tahunku yang dirayakan?" Tanya Amanda dengan sinisnya kepada Nadhira.
"Untuk apa kami memberitahukan hal ini kepadamu? Apa untungnya kami memberitahumu" Sela Sena.
"Tidak ada gunanya juga buat diriku".
Nadhira menghela nafasnya perlahan lahan dirinya tidak ingin terlihat lemah dihadapan keluarganya saat ini, Nadhira sangat mengetahui kenapa Rendi sangat marah kepadanya saat ini, ini semua adalah karena hasutan dari Sena yang selalu memojokkannya dan mengatakan kepada Rendi bahwa Nadhira ingin sekali mencelakai dirinya.
Karena perbuatan dari Nadhira malam itu membuat Sena ingin sekali menyingkirkan Nadhira malam itu akan tetapi ia batalkan karena dirinya mengingat bawah Nadhira berada dipihaknya waktu itu.
Tetapi kali ini Nadhira terlihat membangkang ucapannya sehingga Sena berusaha untuk membuat Rendi membenci Nadhira dengan terus menghasutnya dan mengatakan hal hal yang buruk yang dilakukan oleh Nadhira.
Nadhira memutuskan untuk mengakhiri pembicaraan itu karena dirinya tidak ingin salah bicara sehingga menyebabkan Rendi bertambah marah kepada dirinya, Nadhira segera menghabiskan makanannya dan bergegas pergi dari ruang makan itu tanpa sepatah katapun yang keluar dari mulutnya.
Nadhira masuk kedalam kamarnya dan mengunci diri didalamnya, beberapa kali dirinya menghela nafas untuk kembali memenangkan pikirannya yang sedang kacau saat ini.
"Aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi!"
Nadhira mendapatkan informasi bahwa pesta ulang tahun Amanda akan diadakan disebuah gedung dengan dekorasi yang cukup mewah, Nadhira juga mendapat informasi bahwa Sena akan mencelakakan Rendi dalam pesta tersebut.
Pesta itu diadakan dimalam hari ini dan Nadhira berniat untuk menghentikan Rendi yang akan menghadiri acara itu, tak terasa waktu berjalan begitu cepatnya dan saat ini sudah pukul 4 sore, Amanda dan Sena sudah berangkat terlebih dahulu ke lokasi kini hanya tinggal Nadhira dan Rendi yang belum berangkat.
"Pa" Ucap Nadhira memanggil Rendi.
"Ada apa?"
"Apa Papa mau pergi keacara pesta ulang tahun Manda itu?".
__ADS_1
"Iya kenapa?"
"Dhira mohon jangan pergi, Mama telah merencanakan sesuatu untuk mencelakakan Papa".
"Sudah cukup Dhira! Papa tidak mau mendengar omong kosongmu itu lagi, justru dirimulah yang ingin membuat Papa celaka selama ini Dhira! Lalu kenapa kau harus menyalahkan Sena yang sama sekali berniat mencelakakan diriku".
"Itu tidak seperti apa yang Papa pikirkan, Dhira berani bersumpah bahwa Dhira tidak memiliki niatan untuk mencelakakan Papa apalagi membahayakan nyawa Papa, percayalah kepadaku Pa, Dhira mohon kali ini aja Pa, dengarkan ucapan Dhira".
"Sudah cukup Dhira! Ini hanya sebuah pesta ulang tahun untuk anakku, jika kamu tidak mau berangkat kesana, tidak usah berangkat! Dan jangan pernah melarang Papa untuk pergi"
"Tidak Pa! Dhira mohon jangan pergi".
Rendi dengan emosinya segera meninggalkan Nadhira ditempat itu dan segera melajukan mobilnya meninggalkan rumah itu, Bi Ira dan juga Jono sudah berangkat terlebih dahulu ditempat itu untuk menyiapkan segala keperluan acara, kini hanya tinggal Nadhira seorang yang berada dirumah itu.
"Aku tidak akan membiarkan Papa dalam bahaya, aku harus menghentikannya sebelum semuanya terjadi begitu saja dihadapanku"
Nadhira segera berlari meninggalkan rumahnya untuk mencari tumpangan agar dirinya bisa sampai diacara tersebut tepat waktu, dengan nafas yang memburu dan kakinya merasa sakit karena cidera yang ia alami, hal itu tidak mampu menghentikan Nadhira untuk terus berlari menyelamatkan nyawa Papanya.
Ditengah tengah sepinya jalanan itu, Nadhira berlarian tanpa mempedulikan lingkungan sekitarnya tempat dimana dirinya tengah berlari saat ini, yang ada dipikirannya hanyalah bagaimana caranya dirinya sampai diacara itu tepat waktu dan sebelum semuanya terlambat untuk disesali.
Tanpa sengaja dirinya bertemu dengan Reno yang sedang lewat didepan Nadhira yang tengah berlari saat ini sedangkan Reno segera menghentikan mobil yang ia kendarai untuk menghampiri Nadhira yang tengah berlari ditepi jalan.
"Dhira" Panggil Reno.
"Kamu" Ucap Nadhira ketika melihat Reno.
"Iya, kenapa kamu berlarian dijalanan seperti ini? Dan kenapa kau terlihat begitu kesakitan seperti itu"
Nadhira mulai mengatur pernafasannya yang telah memburu itu, dan mengatakan kepada Reno, "Tolong antarkan aku ke gedung xxxx, Papa berada dalam bahaya sekarang"
"Apa! Baiklah ayo masuk, biar aku antarkan dirimu kesana segera".
"Terima kasih"
Reno segera mengajak Nadhira untuk masuk kedalam mobil tersebut, dirinya juga menghubungi seseorang lewat telfonnya untuk dapat menggantikan tugas Reno saat ini di Gengcobra karena dirinya sedang mengantarkan Nadhira.
Dijalan Nadhira tak henti hentinya terus meneteskan air mata ketika membayangkan apa yang akan terjadi dengan Papanya dipesta tersebut, tubuhnya bergetar menandakan kegelisahannya.
"Dhira tenanglah, yakinlah bahwa Om Rendi tidak akan kenapa kenapa, dia akan selamat dari bahaya itu secepatnya".
"Bagaimana aku bisa tenang Ren, nyawa Papaku dalam bahaya saat ini, jika kau jadi diriku kau tidak akan bisa setenang seperti ini".
"Aku tau itu Dhira, aku akan menambah kecepatan mobil ini, berpeganganlah yang erat, kita akan secepatnya sampai ditempat itu".
Reno menyodorkan sebotol minuman untuk Nadhira agar Nadhira dapat merasa sedikit tenang, akan tetapi Nadhira menolaknya karena pikirannya yang terus memikirkan tentang Rendi.
Disatu sisi Sena telah merencanakan semuanya didalam gedung tersebut, Sena ingin melenyapkan nyawa Rendi kali ini menggunakan sebuah racun yang mematikan, setelah Rendi lenyap Sena juga berniat untuk melenyapkan nyawa Nadhira juga agar balas dendamnya terlaksana.
Bi Ira dengan diam diam terus mengintai apa yang tengah dilakukan oleh Sena, ia tidak ingin ketinggalan satu informasi pun mengenai hal yang akan dilakukan oleh Sena kepada keluarganya sendiri, entah dendam apa yang ada diantara mereka.
"Racun, aku harus memberitahu hal ini kepada Dhira, kemana dia kenapa dia tak kunjung datang ketempat ini, apakah telah tejadi sesuatu dengan dirinya, semoga dia baik baik saja" Batin Bi Ira.
Tanpa Sena sadari bahwa Bi Ira tengah mendengarkan setiap hal yang direncanakan oleh Sena, Bi Ira juga ikut cemas ketika mengetahui tentang rencana tersebut dan dirinya berharap bahwa Nadhira mampu berbuat sesuatu untuk menghentikan tindakan yang akan dilakukan oleh Sena malam ini.
Bi Ira juga melihat Sena sedang menuangkan sebuah serbuk kedalam segelas minuman yang sengaja dipisahkan dari yang lainnya, akan tetapi Bi Ira sama sekali tidak memiliki celah untuk menukar minuman itu karena Sena terus mengawasi minuman tersebut.
Para tamu undangan mulai berdatangan didalam gedung tersebut, dan gedung itu nampak begitu ramainya saat ini, Sena melakukan rencananya dalam pesta ini karena didalam keramaian tidak akan ada yang mencurigai dirinya ketika dirinya berhasil untuk merenggut nyawa Rendi.
"Dimana dia, kenapa belum datang juga" Ucap Bi Ira pelan ketika melihat Rendi mulai memasuki gedung tersebut tanpa adanya Nadhira yang mengikutinya.
__ADS_1
...Jangan lupa like, coment, dan dukungannya 🥰...
...Terima kasih ...