Apa Salahku Pa

Apa Salahku Pa
Desa Mawar Merah 5


__ADS_3

Nimas mengayunkan tangannya dan menancapkan pisau yang ada ditangannya tepat didada Darma, pisau itu menancap pada jantung dan membuatnya tewas seketika. Ketika Darma mulai jatuh ketanah dengan kerasnya, pisau yang ia dipegang sebelumnya ikut tercabut dari perut Nimas. Saat tercabutnya pisau tersebut, membuat masyarakat sekitar berfikir bahwa gadis yang ada didepannya telah terluka parah.


"Ayah aku berhasil".


Nimas merasakan sakit akibat pisau itu sehingga ia memuntahkan darah segar, Nimas tidak boleh merasa lemah dihadapan semua orang, sehingga ia harus terlihat kuat, meskipun darahnya bercucuran ditanah yang ia pijak saat ini. Tangan kanan Nimas memegang pisau yang telah berlumuran darah, karena pakaiannya yang berwarna merah membuat darah yang dikeluarkan dari perutnya tidak terlihat.


Para pemuda mulai kembali bangkit dan memutarinya dengan kuda kuda siap untuk menyerangnya, Nimas mengeluarkan kekuatannya untuk memagari desa tersebut agar tiada orang yang mampu keluar dari dalam desa itu, petarungan itu berlangsung cukup lama dan menewaskan sekitar 70 persen penduduk desa tersebut, disaat konsentrasinya terganggu membuat Nimas terlempar dan wajahnya terseret ketanah membuat separuh wajahnya hancur.


Wajah cantiknya kini berubah menjadi menyeramkan, kulitnya mengelupas dan terlihat bagian dagingnya, sebagian mengeluarkan darah, Nimas bangkit dan hendak melanjutkan perkelahiannya, tiba tiba terdengar suara seorang pemuda dari kejauhan dan menghentikan langkahnya.


"Hentikan Nimas".


"Siapa kau? kau sama sekali tidak berhak untuk menghentikanku".


"Aku menang tidak berhak untuk menghentikanmu, tetapi jika kau membunuh mereka yang tidak bersalah maka hadapi aku terlebih dahulu".


Dari kerumunan orang orang disitu, Nimas tidak mengetahui siapa yang telah menghentikannya, pemuda itu berjalan mendekatinya, orang orang ditempat itu segera memberinya jalan untuk bisa menemui Nimas.


Pemuda itu berpakaian serba putih, memakai serban dikepalanya dan membawa sebuah tasbih ditangan kanannya, pemuda itu berjalan mendekatinya sambil mengucapkan sesuatu yang tidak dapat didengar semua orang, tetapi mampu membuat Nimas bertekuk lutut didepannya.


"Tidak seharusnya kau melakukan hal itu Nimas, lepaskan mereka yang tidak bersalah, mereka hanyalah manusia biasa yang tak luput dari dosa, siapapun bisa berbuat salah dan siapapun bisa untuk bertaubat".


"Maafkan aku".


Nimas membuka kembali pagar yang ia ciptakan didesa tersebut, agar penduduk desa yang selamat bisa segera meninggalkan tempat tersebut. Nimas dibantu oleh pemuda itu untuk membuka kembali pagar gaib tersebut.


"Pergilah kalian, jangan pernah kembali kedesa ini lagi".


Dengan sekuat tenaga, Nimas berteriak kepada warga yang selamat agar segera meninggalkan desa tersebut. Warga yang mendengar teriakan itu segera bergegas untuk menyelamatkan dirinya, dan beberapa orang memapah saudara untuk meninggalkan desa tersebut.


"Seperti halnya kakekku yang keturunannya telah dibunuh habis, begitupun akan terjadi kepadamu Herman". Ucap Nimas kepada orang yang tengah berdiri didepannya.


"Maafkan aku, aku akan menanggung semua konsekuensinya, telah diramalkan dimasa depan sosok seorang gadis akan lahir kedunia ini dengan sebuah simbol dipundaknya, dan kau sendiri tidak akan bisa mengubah takdir, gadis itu akan menjadi penyebab musnahnya rohmu dan keluargamu untuk selamanya dan aku tidak menginginkan hal itu terjadi".


"Apapun yang terjadi dimasa yang akan datang, hal itu sudah ditakdirkan, disaat itu tiba, kita harus mengadapinya bagaimanapun akhirnya".


"Tetapi.... Ini semua terjadi karena keluargaku".


Herman adalah teman masa kecil Nimas, mereka tumbuh secara bersama sama dan bermain bersama dengan penuh canda tawa, ketika dewasa ia mengetahui bahwa temannya tersebut adalah anak dari musuhnya, orang yang pernah membunuh ayahnya dengan tragis.


Saat ia mengetahui semuanya, hubungan antaranya dan Herman menjadi renggang, beberapa kali Nimas selalu melawannya sedangkan Herman hanya diam menerima semua pukulan yang diberikan oleh Nimas. Herman sadar bahwa memang kesalahan keluarganyalah yang membuat gadis yang ia cintai begitu sangat membencinya. Nimas memang tidak bisa membunuhnya karena perasaannya kepada Herman yang membuatnya tidak bisa melakukan hal itu.


"Jiwaku akan bangkit kembali disaat anak itu akan lahir kedunia ini, dan sebelum itu terjadi jiwaku akan menetap ditempat ini".


"Jika itu kemauanmu, baiklah".


Jiwanya mulai terpisah dengan raganya, jiwa Nimas melayang dan berubah menjadi sebuah cahaya dan tersebar didesa tersebut, tubuh tanpa nyawa tersebut segera tumbang dan dengan sigap Herman menangkap tubuh tersebut.


Tubuh Nimas dimakamkan didepan rumahnya, dan disekitar makam tersebut dibangunkan oleh herman sebuah tembok, agar tidak ada orang yang akan merusaknya. Sejak saat itu desa itu sudah tidak berpenghuni dan menjadi angker, banyak warga sekitar yang mempercayai bahwa desa itu telah menjadi desa alam gaib.

__ADS_1


Banyak para normal yang datang ketempat itu untuk meminta kekuatan dan memberikan tumbal didesa tersebut, karena diyakini bahwa desa itu mampu mengabulkan semua keinginan orang yang datang ketempat itu.


*Flash back off*


"Apa yang terjadi setelah itu kakek?". Tanya Rifki kepada kakek yang ada didepannya.


"Setelah gadis itu lahir, Nimas mulai bangkit kembali, dan disaat hari kebangkitannya seseorang datang untuk meminta bantuan kepadanya, sebagai gantinya orang itu akan memberikan apa yang Nimas mau, hal itu membuat Nimas begitu mudah menemukan gadis yang dimaksudnya".


"Setelah membangun desa ini, kemana perginya Kuswanto? Apakah dia akan kembali".


"Sejak saat itu, aku sendiri tidak mengetahui kemana beliau pergi, tetapi aku mendengar bahwa beliau telah wafat setelah istrinya melahirkan seorang putranya, beliau wafat karena identitasnya terbongkar oleh keluarga bangsawan, banyak yang mengatakan bahwa beliau adalah seorang raja disebuah kerajaan, tetapi karena beberapa orang kepercayaannya berhianat sehingga ia menjadi buronan".


Kakek itu menceritakan semua yang ia ketahui kepada Rifki yang ada didepannya, kakek yang ada didepannya adalah orang yang sama yang menolong Nimas disaat ia masih bayi. Setelah kematian Nimas, kakek itu beserta istrinya tinggal didesa tersebut dan merawat desa itu bersama sama.


Ketika ajal menjemputnya, tak begitu lama sang istri ikut pergi menyusulnya, sehingga ia dan istrinya menjadi penjaga ditempat itu sampai saat ini. Ilmu gaib ditempat itu begitu kentalnya dan mengandung kebencian yang mendalam.


"Sudah saatnya kau pergi dari desa ini, sebentar lagi matahari akan terbit, secepatnya kau tinggalkan desa ini segera mungkin".


"Baik kakek".


Rifki beserta Raka bergegas meninggalkan tempat itu, sementara disatu sisi Nadhira berjalan dengan sempoyongan menjauh i tempat itu, kepalanya begitu sakit sehingga membuatnya terjatuh dan tidak sadarkan diri ditepi sebuah jalan yang cukup sepi.


Ketika Rifki sudah keluar dari desa tersebut, ia menemukan seorang gadis yang telah terbaring ditepi jalanan yang ia lalui sebelumnya, Rifki seperti mengenali gadis tersebut, ia segera bergegas mendatanginya.


"Nadhira, Nadhira bangun". Ia menepuk pipi Nadhira untuk membangunkannya.


Satu jam kemudian Nadhira tidak kunjung bangun, Rifki menelfon anak buahnya untuk membantunya. Beberapa saat bodyguard milik kakeknya datang membawa sebuah mobil untuknya, Rifki mengendong Nadhira dan memasukkannya kedalam mobil tersebut.


"Apa yang sebenarnya terjadi?". Tanya Aryabima kepada Rifki.


"Aku juga tidak tau kek, aku menemukannya dijalan, dan dia sudah seperti ini". Jawab Rifki.


"Denyut nadinya semakin melemah, biarkan dia istirahat beberapa saat, keadaannya akan membaik setelah istirahat yang cukup".


"Baik kek, kalau boleh tau apa kakek mengetahui kisah Kuswanto yang telah mendirikan sebuah desa?".


"Mengapa kau tiba tiba menanyakan hal itu, apa kau pergi ketempat itu? Bukankah ayahmu pernah berkata, jangan pernah mendekati tempat itu?". Aryabima begitu marah ketika mendengar bahwa Rifki menanyakan tentang kisah Kuswanto.


"Maafkan aku kek, aku yang salah, tetapi arwah seorang kakek tua membimbingku ketempat itu, karena adanya kekuatan gaib yang bangkit dari tempat itu".


"APA!! Sudah waktunya peristiwa itu akan terulang lagi, gadis itu benar benar sudah bangkit".


Aryabima menghela nafasnya, untuk saat ini ia tidak bisa berbuat apa apa, Rifki yang ada ditempat itu merasa bingung tentang apa yang sebenarnya terjadi, rahasia apa yang disembunyikan oleh kakeknya.


"Apa yang sebenarnya terjadi kek?".


"Belum saatnya kau mengetahui semuanya, mulai saat ini kau harus berhati hati untuk bertindak".


"Baik kek".

__ADS_1


*****


Rifki sedang duduk disebuah kursi yang cukup jauh dari ranjang dimana Nadhira tengah terbaring tidak sadarkan diri, ia melihat sedikit bergerakan ditubuh Nadhira, sehingga ia memutuskan untuk keluar dari kamar itu.


Nadhira mengerutkan dahinya pertanda bahwa ia mulai sadar dari pingsannya, setelah membuka matanya Nadhira segera bangkit dari tempat itu, ia begitu terkejut karena tempat itu begitu asing baginya.


Tiba tiba seseorang membuka pintu kamar tersebut, orang itu membawakan nampan yang berisi beberapa makanan dan segelas minuman hangat untuknya, orang itu tidak lain adalah Rifki, ia begitu senang karena Nadhira sudah sadarkan diri.


"Syukurlah kamu sudah bangun Nadhira, ini aku bawakan minuman untukmu".


"Rifki! Dimana aku?".


"Kamu ngak usah khawatir, kamu ada dikamarku saat ini, kita ada dimarkas, kalau aku boleh tau kenapa kamu bisa pingsan dijalanan yang jauh dari rumahmu?".


Rifki mengatakan kepadanya bahwa, ia menemukannya sedang terbaring lemas dijalanan yang jauh dari rumahnya, ia menemukannya diwaktu adzhan subuh, dan disaat ia menemukannya kondisinya sangat buruk, sehingga ia meminta bantuan kepada kakeknya, dahulunya kakeknya lumayan faham masalah medis.


"Bagaimana caraku untuk menjelaskannya, sedangkan aku sendiri tidak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi, jika permata itu sudah ada didalam tubuhku entah apakah semuanya akan baik baik saja". Batin Nadhira menjerit.


Nadhira bingung harus menjelaskan seperti apa kepada Rifki, ia tidak tau sebenarnya apa yang terjadi pada dirinya, Rifki yang hanya melihat Nadhira terbengong begitu lama, membuatnya harus berberapa kali memanggil Nadhira.


"Aku tidak tau Rif, dan bahkan aku juga tidak tau, apa yang sebenarnya terjadi, kenapa aku bisa berada dikamarmu saat ini, yang aku ingat aku sedang tidur dikamarku waktu itu".


"Sudahlah, ayo makan dulu, setelah itu aku akan antar kamu pulang, keluargamu pasti sedang mencarimu, aku tau kamu pasti juga sulit untuk menjelaskannya sekarang, kalau ada apa apa ceritakan saja kepadaku, siapa tau aku bisa membantumu".


"Iya, terima kasih".


"Sudah beberapa kali aku katakan Nadhira, kita adalah sahabat, dan sahabat tidak perlu mengatakan hal itu".


"Kalau bukan karenamu, mungkin entahlah apa yang akan terjadi kepadaku".


"Sudah jangan difikirankan yang tidak tidak".


Dapat Rifki rasakan energi yang dahulu ia temui sekarang muncul kembali dari dalam tubuh Nadhira, energi itu seolah olah menghalangi sesuatu yang ada ditubuhnya.


"Rif, sepertinya ada dua energi didalam tubuhnya, apa kau merasakan itu?". Tanya Raka.


Mendengar pertanyaan Raka, membuatnya terdiam dan mencoba merasakan sesuatu yang ada disekitarnya, perlahan lahan dapat ia rasakan dengan jelas bahwa memang benar apa yang dikatakan oleh Raka sebelumnya.


"Kamu kenapa Rif?". Tanya Nadhira ketika melihat Rifki terdiam dan sesekali memejamkan matanya.


"Sulit untuk dijelaskan Dhir, kamu lanjutkan makannya aku mau keluar sebentar".


"Baiklah".


Rifki meninggalkannya seorang diri dikamar tersebut, Nadhira memandangi sekelilingnya, baru pertama kali ia datang ketempat ini, biasanya ia hanya berada dilapangan markas untuk berlatih beladiri bersama kakeknya Rifki.


Ditempat itu terdapat beberapa buku yang menurutnya menambah rasa penasarannya, buku buku yang ada disitu kebanyakan menjelaskan tentang berbagai macam mahluk gaib, dan memperdalam ilmu batin.


"Apa aku harus cerita saja kepadanya, siapa tau dia bisa membantu, tapi bagaimana caraku untuk menceritakannya sedangkan aku sendiri tidak tau apa yang terjadi kepadaku".

__ADS_1


Setelah selesai makan, Nadhira mengambil salah satu buku yang membuatnya tertarik, dan ia membacanya ditempat duduk yang sering Rifki gunakan untuk bersantai setiap kali ia merasa lelah.


__ADS_2