Apa Salahku Pa

Apa Salahku Pa
Ujian Nasional 2


__ADS_3

Lima pasang suami istri masuk kedalam ruangan dimana Nadhira dirawat, masing masing dari mereka membawa buah tangan untuk Nadhira dan Rifki. Karena bagi mereka Rifki dan Nadhira telah berjasa untuk menyelamatkan putra dan putri mereka, dan rela mengorbankan nyawanya hanya untuk menyelamatkan anak mereka.


"wah ternyata penyelamatan anak kita cantik ya".


"iya, tetapi kita belum melihat yang cowoknya, pasti juga sangat tampan, ah mungkin akan cocok kalo menikah dengan anakku yang nomer satu".


"ngak ah, cocokan sama yang cewek ini, mereka serasi pastinya"


Nadhira hanya tersenyum mendengar ucapan mereka ketika menjodoh jodohkan anak anak mereka kepada Rifki, ingin sekali Nadhira tertawa keras mendengarnya. menurutnya ini adalah hal lucu yang belum pernah ia dengar sebelumnya.


Banyak pujian dan rasa berterimakasih yang mereka lontarkan untuk Nadhira, Nadhira kelihatan kewalahan untuk menyahuti ucapan mereka akhirnya memilih untuk menanggapi dengan senyuman.


Beberapa jam kemudian akhirnya mereka semua berpamitan untuk pulang, Vano dan Reno segera bergegas keluar dari ruangan itu dan kembali ketempat mereka semula berjaga. Kini tinggal tersisa dua orang didalam ruangan tersebut, dengan begitu banyak buket buah dan cemilan ditempat tidur Nadhira.


"Kenapa ibu ngak bilang dari awal kalau ada yang menjaga diluar, kalau tau dari awal...."


"Pasti kamu mau protes kepada Rifki bukan?". Tanya bi Ira mendahului ucapan Nadhira.


Nadhira memandangi satu persatu makanan itu tanpa memakannya Nadhira sudah merasa begitu kenyang, Nadhira mengaruk kepalanya dan menarik nafas dalam dalam.


"Bukan begitu juga kali bu, kan disini banyak makanan mereka pasti bosan diluar tanpa ada cemilan bukan".


"Kamu ngak perluh khawatir, setiap hari ibu sudah beri mereka makanan dan cemilan kok".


"Baguslah kalau begitu bu, ini sebagian ibu antarkan kepada mereka ya, biar mereka bawa kemarkasnya untuk berbagi dengan yang lain, aku sendiri juga tidak mungkin bisa menghabiskan ini sendirian".


"Iya nak".


Bi Ira segera membawa beberapa makanan yang diberikan oleh orang orang itu keluar dan menaruhnya ditempat kedua anak buah Rifki sedang duduk, bi Ira kembali lagi kedalam mengambil makanan lagi dan mengeluarkannya, hal itu ia lakukan berkali kali karena jumblah makanan yang diberikan oleh mereka begitu banyak.


"Ehhh .. bi kenapa dibawa keluar semuanya?". Tanya Reno dengan penasaran.


"Haa... Biarkan bibi duduk dulu dan bernafas". Bi Ira merebahkan tubuhnya ditempat duduk.


Vano dan Reno saling berpandangan mencari jawaban satu sama lain, bukankan ini terlihat aneh, batin mereka apakah bi Ira dari tadi tidak bernafas, sehingga membuat mereka harus membiarkannya bernafas dahulu.


"Emang dari tadi bibi ngak bernafas?". Tanya Vano kebingungan ketika menganalisis perkataan bi Ira


Reno memukul kepala Vano karena pertanyaan yang Vano lontarkan. "Gila lo, bukan gitu juga kali maksudnya".

__ADS_1


"Lalu apa maksudnya, emang kamu tau?". Tanya Vano dengan sombongnya.


"Engak juga sih, bi Ira sih pake bahasa isyarat mulu". Reno tersenyum canggung sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Lah mangkanya itu aku tanya, apa bi Ira memang tidak pernah bernafas". ucap Vano


Bi Ira mengelus dadanya ketika mendengar keduanya saling berdebat, ia mengambil nafas panjang dan berdiri ditengah tengah keduanya.


"Sudahlah kalian berdua! Ini semua kalian bawa pulang kemarkas kalian, dan bagi kepada yang lainnya". Ucap bi Ira kepada mereka berdua.


"Dibawa pulang? Emang ada apa bi?". Tanya Vano.


"Bibi dengar, orang yang banyak tanya umurnya tidak akan panjang lo". Bi Ira memperingatkan keduanya.


Vano dan Reno bergidik ngeri mendengarnya, keduanya membayangkan kalau umur mereka akan berkurang ketika mereka banyak bertanya.


"Apa itu benar bi? Bos Rifki juga sering bertanya, apa umurnya juga tidak akan panjang". ucap Reno sambil mengelus dagunya


"Aaa... Bibi, bibi tau ngak, orang yang terlalu serius nanti penyakitan lo". Giliran Vano yang menakuti bi Ira.


"Kata siapa emang?". Tanya bi Ira sambil melotot.


"Ngak ada permen adanya buah tuh, makan aja". Ucap bi Ira sambil berjalan masuk kedalam ruangan dimana Nadhira dirawat.


Ketika bi Ira masuk kedalam ruangan, ia menemukan bahwa Nadhira sudah terlelap dalam tidurnya. Ia bergegas membereskan meja yang penuh dengan makanan, dan duduk ditepi tempat tidur Nadhira.


Nadhira terbangun ketika jam menunjukkan pukul 4 sore, ketika Rifki, Bayu dan Susi datang menjenguknya. Ketiga temannya terkejut ketika melihat begitu banyak buah dan cemilan ditempat Nadhira dirawat.


Ketika ketiganya memasuki ruangan dimana Nadhira dirawat, Nadhira masih tertidur dengan nyenyaknya. Nadhira sekilas mendengar teman temannya sedang ada diruangan tersebut, ia segera membuka matanya.


Bi Ira menjelaskan kepada ketiganya bahwa semua makanan yang ada diruang ini diberikan oleh para orang tua yang anaknya mereka selamatkan, ini sebagai ucapan terima kasih.


"Sampe sigitunya bi". Ucap Susi sambil membuka lebar lebar kedua matanya.


"Bukankah mereka berdua sudah ku bilangi, kenapa masih aja membiarkan orang lain masuk kemari". Ucap Rifki ketika selesai mendengar penjelasan dari Bi Ira.


"Sudah Rif jangan salahkan mereka, aku yang maksa agar mereka mengizinkan para orang tua itu datang kemari". Nadhira sedikit takut ketika melihat wajah Rifki yang sedikit tidak bersahabat.


"Bibi kenapa bilang sih kepada Nadhira". Keluh Rifki.

__ADS_1


"Maaf mas Rifki, bukan bibi yang bilang, tapi gurunya yang bilang". Ucap bi Ira menjelaskan.


"Ehem... Kenapa? Apa aku ngak boleh tau?". Tanya Nadhira dengan penasaran.


"Bukan begitu Dhir, ya sudahlah semuanya juga sudah terjadi". Ucap Rifki.


Keempat sahabat itu saling bercanda dan tertawa bersama, sementara bi Ira kembali pulang untuk mandi dan sebagainya. Ketika adzan mulai berkumandang, ketiganya segera berpamitan untuk pulang.


Susi mengeluarkan sebuah buku dari dalam tasnya dan memberikannya kepada Nadhira untuk dipelajari olehnya. Nadhira menerima buku itu dengan senang hati dan segera membacanya ketika bayangan ketiga sahabatnya mulai menghilang dikejauhan.


Nadhira membaca buku tersebut dengan teliti, dan sesekali memasukkan cemilan kedalam mulutnya. Tiba tiba luka diperutnya terasa sakit, ia kembali merebahkan tubuhnya agar rasa sakitnya mulai berkurang.


"Kenapa tiba tiba sakit, ah... Ibu juga belum datang".


Nadhira berteriak memanggil Reno, keringat mulai membanjiri tubuhnya. Setelah lama ia berteriak akhirnya Reno dan Vano segera berlari masuk kedalam dan menemukan bahwa Nadhira sedang meringis kesakitan.


"Kamu kenapa Dhira?". Tanya Reno cemas.


"Tolong panggilkan dokter, sakit banget". Ucapnya terbata bata sambil memegangi lukanya.


Reno segera berlari untuk memanggil dokter, untuk segera memeriksa keadaan Nadhira. Tak lama kemudian dokter berlarian untuk masuk kedalam ruang inap Nadhira, ia menyuntikkan beberapa obat diselang infusnya. Perlahan lahan rasa sakit itu berkurang, membuat Nadhira merasa lega.


"Apa yang terjadi dok?". Tanya bi Ira yang baru datang setelah dokter itu selesai menangani Nadhira.


"Pasien terlalu lama untuk duduk dan bersandar, ini membuat lukanya tertekan dan menimbulkan rasa nyeri".


Dokter juga menyarankan Nadhira untuk beristirahat lebih awal, agar ketika Nadhira mengerjakan ujian tenaganya sudah terisi kembali. Setelah mengatakan hal itu, dokter tersebut segera bergegas meninggalkan ruangan tersebut.


"Istirahatlah nak, besok masih ada ujian".


Nadhira mengambil kembali buku yang ia taruh sebelumnya dan memandangi sampul buku tersebut dengan teliti, buku itu begitu tebal dan terdapat puluhan halaman.


"Iya bu, tapi aku belum belajar bagaimana aku bisa mengerjakannya?".


"Bayangkan saja, apa yang dulu kamu pelajari dikelas sambil mengingat-ingat, sambil memejamkan mata, ibu dengar apa yang kita fikirkan sebelum tidur bisa jadi muncul didalam mimpi".


"Emang bisa begitu bu? Aku baru mendengarnya".


"Coba aja, siapa tau apa yang kamu fikirkan saat ini adalah soal diesok hari".

__ADS_1


Nadhira mengingat ingat tentang hal apa saja yang ia pelajari selama dikelas 7 sampai kelas 9, sambil memejamkan kedua matanya. Ia terus menghafalkannya sampai sampai ia tidak menyadari bahwa dirinya sudah tertidur, apa yang kita fikirkan sebelum tidur bisa jadi masuk kedalam alam mimpi.


__ADS_2