
Diperjalanan Ayu banyak bercerita membuat Rifki kehabisan kata kata untuk menanggapinya sehingga ia hanya mengangguk dan mengangguk mendengarkannya, tak beberapa lama sampailah keduanya disebuah toko.
Ayu segera menuruni sepedah itu dan beegegas masuk kedalamnya, Rifki hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah adik kecilnya itu, Rifki memarkirkan sepedahnya, setelah selesai memarkirkan tiba tiba sebuah tangan kecil menariknya.
"Ayo kakak!!! kakak lama sekali deh".
"Haduh dek, pelan pelan napa, tokonya juga ngak bakal lari".
"Ahh... kakak ngak asik".
"Ya sudah, ngak usah beli".
"Kakak". suara Ayu memelas kepada Rifki dan menarik narik pelan baju Rifki.
"Bilang maaf dulu". Rifki melipat kedua tangannya didepan dadanya.
"Kakak, maafin adek, kakak kan paling tampan dan baik hati, maafin adek ya".
Rifki menarik tangan adiknya untuk masuk kedalam toko tersebut, keduanya bersisipan dengan seorang lelaki yang menggunakan jaket dan slayer untuk menutupi wajahnya, Ayu memperhatikan lelaki itu dengan seksama, sementara Rifki mengabaikannya selama tidak berbuat jahat kepada keduanya.
Ketika bayangan pria itu menghilang, Ayu mengoyang goyangkan baju Rifki, agar Rifki menoleh kepadanya.
"Kak, bukankah itu papa?". Ayu menunjuk kesebuah arah.
"Ha? ngak ada siapapun dek".
Ketika Rifki menoleh kearah dimana adiknya menunjuk, tidak ada seorang pun yang ia lihat, hanya sebuah jalanan setapak yang sepi. Rifki menoleh kekanan dan kekiri untuk memastikan apa yang diucapkan oleh adiknya tersebut.
"Kak beneran tadi aku lihat papa".
"Emang kamu tau wajahnya?".
Ayu menggelengkan kepalanya. "Tapi aku yakin itu papa, kedua matanya mirip seperti foto yang ada dirumah, kak ayo kejar papa, bawa papa pulang, kata teman teman aku tidak punya ayah, padahal aku punya kan kak?".
Ayu berlutut ditepi jalan sambil menangis, beberapa kali ia mengusap airmatanya tetapi airmata itu terus mengalir dari pelupuk matanya. Rifki belutut didepan adik kecilnya itu untuk menenangkannya agar tidak menangis lagi.
"Kak, kenapa papa ngak pernah pulang, apa papa sudah ngak sayang sama aku?".
"adek punya ayah kok, itu bukan papa, papa masih kerja diluar kota, sudah jangan sedih lagi ya, kalau sudah waktunya pasti papa pulang, ayo beli es cream, nanti mama khawatir kalau kita keluarnya lama".
Ayu menganggukkan kepalanya dan berlari masuk kedalam toko tersebut, Ayu ingin membeli es cream yang banyak untuk disimpan dirumahnya. Rifki memandangi adiknya tersebut dengan hati yang begitu lega,
"Jika memang benar itu adalah papa, ku harap papa segera kembali, kami semua merindukan papa".
Rifki bangkit dari duduknya dan segera masuk kedalam toko tersebut untuk menyusul adiknya, beberapa menit kemudian mereka keluar dari toko dengan membawa dua kantong plastik ditangannya. keduanya segera bergegas untuk pulang.
Dijalan Rifki berpesan kepada adiknya untuk tidak memberitahukan hal ini kepada mama mereka, Rifki takut hal ini akan membuat mamanya semakin sedih, sebagai gantinya ia harus memberikan uang tutup mulut kepada adiknya.
*****
Nadhira terbaring sambil menatap langit langit kamarnya, hari sudah semakin sore tetapi sakitnya belum juga mereda, tiba tiba Sena masuk kedalam kamar Nadhira, dan memberikan sebutir pil kepada Nadhira.
"Apa ini ma?".
"Racun untuk membunuhmu".
"Benarkah? baguslah kalau ini racun, apakah aku bisa mati dengan cepat menggunakan pil kecil ini?"
"Kenapa begitu terburu buru, ikuti saja permainannya, kau pasti menyukainya". Sena mengucapkannya dengan begitu manis.
"Permainanmu sungguh bagus mama tiri, sampai sampai aku muak melihatnya".
Nadhira segera meneguk pil kecil itu menggunakan air, tanpa berfikir panjang ia segera menelannya, tanpa tau pil apa itu sebenarnya. setelah lama meminum pil tersebut membuat kepalanya terasa sakit sehingga membuat gelas yang ada ditangannya tiba tiba terjatuh dilantai, hingga menimbulkan bunyi yang begitu nyaring.
Nadhira memegangi kepalanya menggunakan kedua tangannya dan sesekali terlihat ia menggeleng gelengkan kepalanya untuk tetap mempertahankan kesadarannya,
__ADS_1
"Bagaimana apakah enak?". tanya Sena dengan senyum yang menakutkan.
"Sempurna, seperti melayang". Nadhira memejamkan matanya terlihat sebuah senyuman dibibirnya.
Tiba tiba Nadhira terjatuh tidak sadarkan diri, terlihat setetes darah diujung bibirnya, melihat Nadhira yang langsung terjatuh tidak sadarkan diri, membuat Sena merasa sedikit cemas, takut kalau Nadhira benar benar mati dihadapannya, ia tidak ingin tujuannya gagal.
Sena melambaikan tangannya didepan wajah Nadhira, tetapi tidak ada respon yang ditimbulkan oleh Nadhira, akhirnya ia memeriksa denyut nadi Nadhira, denyutan itu perlahan lahan kembali normal dan suhu tubuhnya Nadhira mulai menurun.
"Oh jadi seperti ini efeknya". Guman Sena.
Ia mengusap darah yang ada dibibir Nadhira, dan membaringkannya dengan benar, setelah itu ia bergegas keluar dari kamar tersebut sebelum ada orang yang melihatnya.
Keesokan paginya Nadhira mulai membuka matanya, perlahan lahan ia melihat sekelilingnya, ia sudah tidak lagi merasakan sakit ditubuhnya.
"Kenapa aku ada dikamar? apakah akhirat seperti kamarku? bukankah aku sudah mati gara gara pil itu?".
Nadhira bangkit dari tidurnya dan berjalan menuju cendela kamarnya dan membuka tirai kamarnya, pancaran sinar itu jatuh mengenai tubuh Nadhira, membuat Nadhira harus menutup mata karena silaunya cahaya tersebut.
"Nak, kau sudah bangun?".
Tiba tiba seseorang masuk kedalam kamar Nadhira, membuat Nadhira sedikit terkejut karenanya, Nadhira merasa bingung kenapa ada ibu angkatnya, apakah ibu angkatnya ikut kealam akhirat bersamanya.
"Nak, kamu ngak papa kan?".
Bi Ira segera bergegas mendatangi Nadhira dan memeriksa suhu tubuhnya, Nadhira dapat merasakan sentuhan itu, ia hanya mengedipkan matanya beberapa kali dan ia semakin merasa bingung.
Sentuhan itu terasa seperti dialam dunia, Nadhira berfikir mungkin semua orang berada dialam akhirat, sehingga ia ingin mencari mamanya, ia sangat merindukan mamanya.
"Mama dimana bu?".
"Ha?".
Mendengar pertanyaan itu membuat bi Ira merasa bingung apa yang sebenarnya terjadi kepada anak angkatnya itu, melihat bi Ira hanya diam membisu membuat Nadhira mengerutkan dahinya menunggu jawaban dari ibu angkatnya.
"Bu?? ibu ngak papa kan?".
"Ngak panas".
Bi Ira menyentuh kening Nadhira untuk memeriksa suhu tubuhnya, ia merasa aneh mengenai pertanyaan yang dilontarkan oleh Nadhira. justru sebaliknya Nadhira menjadi waspada mengenai ibu angkatnya tersebut.
"Bu??....... mama dimana?".
"Nak apakah kamu mengigau?".
"Maksud ibu apa? bukankah aku sudah mati, dan ini adalah alam akhirat?".
"Nak kamu belum meninggal, ini masih didunia, sadar nak sadar".
"Didunia.....". Nadhira merenung sejenak mengingat kembali apa yang telah terjadi kepadanya sebelum ini. "apakah pil itu bukan racun? dan pil itu membuatku sembuh dengan cepat, jika benar hal itu, kenapa mama tiri memberikannya kepadaku? bukankah dia ingin aku segera mati?". Batin Nadhira.
"Nak?". Karena Nadhira masih melamun membuat bi Ira memanggil berulang ulang kali.
"Maaf bu, kepalaku sedikit pusing, sehingga aku berfikir ini akhirat, oh iya sekarang jam berapa?".
"Jam 8 siang".
Nadhira menatap langit dari cendelanya, memang matahari sudah naik, ia tidak menyangka bahwa ia bangun kesiangan, ia terlambat untuk pergi kesekolah, tak lama kemudian bi Ira menarik tangan Nadhira dan mengajaknya untuk sarapan pagi.
"Rifki tadi menjemputmu, ibu bilang aja kalau Nadhira masih sakit".
"Apa!!! Kenapa ibu tidak membangunkanku? kasihan Rifki yang malang".
"Ibu fikir Nadhira masih sakit, ada apa dengannya?".
"Ibu tau, Rifki sangat takut dengan para gadis, bahkan sampai gemetaran kalau melihat gadis gadis sedang berkerumun".
__ADS_1
"Benarkah?".
"Iya bu, dia selalu berlindung dibelakangku bu, takut digoda in, lucu kan dia?".
"Sangat lucu, sudah sudah, ayo makan dulu".
Nadhira menatap masakan tersebut begitu lama, dan sesekali mengedipkan matanya ia takut salah melihat lauk yang ada dipiring tersebut. Nadhira menatap piring itu dan wajah ibu angkatnya secara bergantian.
"Ayam kecap??". mata Nadhira berbinar seketika.
"Itu kesukaan Nadhira kan? ibu masakin kusus buat Nadhira, pasti Nadhira sangat lapar kan, dari kemarin belum makan".
Tiba tiba Nadhira teringat tentang kenangannya bersama mamanya, ia teringat ketika mamanya masih hidup, ia selalu membuatkannya ayam kecap agar Nadhira mau makan, sewaktu kecil Nadhira tidak suka makan nasi, dan ketika makan ia harus bertengkar dulu dengan mamanya.
Tetapi mamanya tidak habis ide, ia terus membuat masakan masakan yang jarang Nadhira makan sebelum, ketika ia membuat ayam kecap, ***** makan Nadhira bertambah sehingga ia sering membuatkan Nadhira makanan itu.
Airmata Nadhira menetes ketika ia mengingat hal itu, ia sangat merindukan mamanya, melihat Nadhira menetes membuat bi Ira merasa sedih. Bi Ira segera mengusap airmata tersebut dan tidak membiarkannya jatuh lebih banyak.
"Ada apa nak?".
"Ngak papa bu, hanya teringat mama". Nadhira tersenyum kepadanya.
"Jangan sedih lagi ya, Nadhira kan masih punya papa dan mama tiri, Nadhira juga punya ibu sekarang".
"Nadhira ngak sedih kok bu, hanya terharu saja".
"Ya sudah buruan dimakan, ibu mau ngambil minum dulu".
"Iya bu".
Bi Ira bergegas keluar dari kamar Nadhira, Nadhira mengambil sendok yang berada dipiring tersebut dan mulai memotong ayamnya, perlahan lahan ia memasukkannya kedalam mulutnya.
"Enak!! hampir mirip buatan mama".
Nadhira mengunyahnya perlahan-lahan hingga nasi dan lauk yang ada dipiringnya tandas tak tersisa, ketika ia mengunyah suapan terakhir bi Ira datang sambil membawakan segelas air putih untuk Nadhira.
Setelah meminumnya Nadhira berjalan kearah meja belajarnya, ia tidak ingin tertinggal pelajaran, karena sudah dua hari ia tidak masuk kedalam kelasnya, beberapa jam ia terus duduk dikursi tersebut hingga akhirnya ia memilih untuk tidur siang.
"Aneh, apakah ada racun yang seperti itu? sebenarnya apa sih yang direncanakan olehnya, kenapa coba harus bawa bawa alam gaib segala, apa mungkin dia keturunan psikopat".
*****
Ketika Rifki masuk kedalam kelasnya, ia menjadi pusat perhatian seluruh siswa siswi yang ada dikelasnya, salah seorang siswa mendatanginya dan memberi tahukannya bahwa Rifki dipanggil keruangan BK ketika bel masuk sekolah berbunyi.
Rifki faham mengenai hal itu, karena kemarin sepulang sekolah, ia dan anggota geng yang ada disekolah berkelahi sehingga membuat satu barang barang yang ada disatu kelas hancur lebur.
Rifki segera bergegas keruang BK ketika mendengar bunyi bel masuk kelas, ia ingin menjelaskan kepada gurunya tentang peristiwa yang ia alami kemarin sepulang dari sekolah.
"Rifki kamu itu murid baru disini, kenapa harus pake berantem segala?". Tegur guru BK kepada Rifki.
"Bu, harus berapa kali sih aku jelaskan kepada ibu, bukan aku yang memulai, mereka duluan yang membuat keributan, kalau ibu berada diposisiku apakah ibu harus diam saja ketika dikeroyok?".
"Varel bilang kamu penyebabnya, kenapa harus pake kekerasan ha, mereka itu kakak kelasmu, pokoknya ibu ngak mau tau, ganti seluruh kerusakan yang ada dikelas yang diakibatkan olehmu".
"Bu, ngak bisa begitu dong bu, disini saya yang menjadi korbannya, kenapa harus saya juga yang menggantinya, kenapa ibu tidak bisa adil?".
"Karena kamu membuat dua orang masuk kedalam rumah sakit, ibu ngak mau tau pokoknya kamu harus menggantinya".
"Baiklah jika itu kemauan ibu, jika ibu tidak mempedulikan hal yang sebenarnya terjadi, kenapa ibu harus memintaku untuk menjelaskannya? kenapa ngak langsung aja minta uang untuk menggantinya".
"Maksudmu apa? kamu murid baru disini, ibu bisa memberimu point karena kenakalanmu, biar mendapatkan teguran dari kepala sekolah".
"Silahkan bu, jika itu keadilan menurut ibu, tapi bagi saya itu beda bu, itu bukan keadilan tetapi ketidakadilan".
Rifki segera berdiri dari duduknya, dengan marah ia segera meninggalkan ruangan BK tersebut, ia tidak mempedulikan panggilan gurunya itu, baginya berdebat dengan guru BK hanyalah membuang waktunya saja..
__ADS_1