
Ditengah malam Nadhira tidur dengan nyenyaknya berbalut selimut yang tebal agar tidak terkena udara dingin dimalam hari. Angin berhembus lembut masuk kedalam kamarnya melalui celah yang ada di cendelanya.
Tiba tiba terdengar suara lonceng dari kejauhan dan perlahan lahan mendekat kekamarnya. Nadhira merasa terganggu akan hal itu, semakin suara itu mendekat semakin sakit juga kepalanya, nafasnya mulai memburu, keringat mulai bercucuran.
Tirai yang ada dicendelanya tertiup angin begitu kencangnya, suasana mencengkeram mulai terasa, hawa dingin mulai menyelimutinya. Suasana benar benar menakutkan, lampu berkedip beberapa kali, sekilas dapat terlihat ada bayangan yang berlarian kesana kemari.
Lonceng itu membuat suasana begitu suram, Nadhira merasakan tubuhnya begitu sakit, tidak hanya kepalanya yang terasa sakit, tetapi jantungnya mulai terasa nyeri yang menjalar. Nadhira tidak bisa membuka matanya, seakan akan ada lem yang begitu kuat, dalam kegelapan ia melihat sosok seorang wanita yang bersimbah darah berjalan kearahnya, sosok itu begitu menyeramkan.
Berambut panjang dan bergelombang, separuh wajahnya seperti membusuk, dan separuhnya mengeluarkan airmata darah, pakaiannya berwarna merah darah, isak tangisnya mulai terdengar begitu menyeramkan. Wanita itu terus berjalan kearah Nadhira, didalam mimpinya Nadhira begitu ketakutan.
Ketika jaraknya mulai dekat, wanita itu mengarahkan tangannya diwajah Nadhira, dan mencekiknya dengan kuat. Nadhira merasa tidak bisa bernafas, tubunya begitu kaku dan sulit digerakkan.
Mata wanita itu memerah dan diikuti dengan berubahnya kedua mata Nadhira menjadi warna merah darah. Nadhira berusaha untuk tetap sadar tetapi itu sangat sulit baginya, ia melihat sebuah bayangan dimana kedua orang tuanya dan saudara saudaranya mati ditangannya dengan tragis
Ia melihat bahwa dirinya akan membunuh saudara kandungnya terlebih dahulu, ia melihat tubuhnya akan mencabik cabik tubuh kakaknya yakni Nandhita.
Nandhita berlarian kesana kemari dikejar oleh Nadhira sambil membawa pisau ditangan kanannya, beberapa kali Nandhita terjatuh dan begitu banyak luka, tetapi ia tidak memperdulikannya. Tubuh Nadhira dibelakangnya terus mengejarnya, dan dapat sesekali Nadhira lihat tubuh itu tersenyum, senyum yang begitu menakutkan.
"Dek tolong jangan lakukan itu dek, kakak mohon". Nandhita terus berlari untuk menjauhi adeknya tersebut, ia begitu ketakutan.
"Sudah saatnya kau mati ditanganku". Ucap seseorang yang mengendalikan tubuhnya.
Ketika Nandhita terjatuh kali ini, kakinya hampir patah sehingga ia sangat sulit untuk bangkit kembali, sementara tubuh Nadhira yang dikendalikan mulai mengayunkan pisau yang ada ditangannya kearah Nandhita.
"Tidakk!! Jangan lakukan itu, kakak". Teriak Nadhira menyaksikan hal itu.
Darahnya muncrat kemana mana, sehingga membasahi tubuh Nadhira yang dikendalikan oleh orang lain. Nadhira begitu histeris melihat hal itu, ia berusaha untuk menggerakkan tubuhnya tetapi tidak bisa.
Kedua kalinya ia melihat papanya akan mengalami kecelakaan tunggal, dan dalang dibalik semua itu adalah dirinya sendiri. Nafas Nadhira semakin cepat melihat dua orang yang ia sayangi akan pergi meninggalkannya, karena perbuatannya yang dikendalikan oleh roh lain.
__ADS_1
Rendi melajukan mobilnya begitu cepat, dibelakangnya mobilnya terdapat tubuh Nadhira yang dikendalikan tengah mengejarnya menggunakan mobil yang lainnya, keduanya melakukan kejar kejaran begitu lama, hingga akhirnya Rendi menyadari bahwa rem mobilnya tidak berfungsi.
Rendi berteriak histeris dan mobilnya menabrak sebuah pohon yang cukup besar, Nadhira melihat hal itu hatinya sungguh tersayat, apa lagi melihat bayangannya mendatangi Rendi sambil tertawa bahagia.
"Tidak ku sangka, kau akan mati begitu cepatnya". Nadhira palsu tertawa begitu puasnya.
Nadhira yang dikendalikan tersebut bergegas pergi dari tempat itu dan meninggalkan Rendi yang tewas ditempatnya, Nadhira berlinang airmata sama sekali tidak bisa berbuat apa apa, bagaimanapun mereka telah tiada ditangannya.
Dan yang terakhir, dia tidak terlalu takut karena disinilah ia akan mati. Nadhira akan mati ditangan orang orang yang ia sayangi, baginya kematiannya tidak begitu menakutkan daripada harus melihat orang orang yang ia sayangi mati karenanya.
Setelah memastikan bahwa Rendi sudah mati, tubuh Nadhira tersebut segera pergi ketepi danau dimana ia dan teman temannya selalu datang bersama untuk menikmati matahari tenggelam.
"Akhirnya kau datang juga!".
"Tidak ku sangka kau akan berani menampakkan dirimu disini".
"Nadhira, aku sangat membencimu!".
Satu demi satu teman temannya memarahinya, tiba tiba seluruh anak buah Rifki datang dan memutarinya tidak membiarkan adanya sedikit celah pun untuk dia kabur dari tempat itu.
Nadhira yabg dikendalikan itu segera mengeluarkan pisau yang digunakan untuk membunuh Nandhita sebelumnya, ia tersenyum kepada Rifki.
"Nadhira tidak ku sangka akan tibanya hari ini, dimana kau akan mati ditanganku, dengan kejinya kau membunuh keluargamu sendiri, kau bahkan tega membunuh ayu, adik kandungku, aku tidak akan pernah memaafkan mu". Teriak Rifki kepadanya.
Rifki mengeluarkan pisau yang sama, ia segera menyerang kearah Nadhira, dengan kekuatannya Nadhira palsu tersebut mampu membuat anak buah Rifki terpental dan terluka cukup parah.
"Jangankan adikmu, semua orang yang membuat masalah kepadaku tidak akan aku biarkan mereka hidup hidup". Jawab Nadhira yang dikendalikan.
Perkelahian itu begitu sengit, seluruh teman temannya menyerangnya dengan ganas dan niat membunuh yang besar, Nadhira yang menyaksikan itu merasa hatinya tersayat sayat, ia menangis ketika melihat Rifki terluka begitu parah akibatnya.
__ADS_1
Setelah lama perkelahian itu terjadi, akhirnya Nadhira itu tewas ditangan Rifki, begitupun sebaliknya Rifki juga tewas ditangan Nadhira seketika. Susi dan Bayu berteriak keras dan mendatangi tubuh Rifki, ia menatap tubuh Nadhira dengan marahnya.
"Kau sungguh berdosa Nadhira, bahkan kau tidak layak untuk dikuburkan dengan baik".
Bayu berdiri sambil mengepalkan kedua tangannya, ia berjalan kearah tubuh Nadhira yang terbaring, ia mengangkatnya dan melemparkannya kearah danau tersebut. Tubuh Nadhira perlahan lahan mulai tenggelam dan hanyut karena arus dibawa air danau.
Nadhira menangis melihat hal itu, sebelum itu semua terjadi, Nadhira bertekat dalam hatinya untuk merubah semuanya, ia tidak ingin kedua tangannya bersimbah darah, darah orang yang ia sayangi.
"Itulah yang akan terjadi kau tidak akan bisa menyelamatkannya, aku akan merebut tubuhmu darimu, cepat atau lambat". Suara wanita itu berdengung begitu menyeramkan.
"Siapa kamu, apa salah keluargaku, apa yang kau inginkan dari kami". Batin Nadhira yang mampu didengar oleh wanita itu.
Wanita itu tertawa begitu menyeramkan sehingga membuatnya bergidik ketakutan melihat hal itu, lehernya terasa begitu panas dan jantungnya berdetak begitu kencangnya.
"Aku ingin menghancurkannya beserta keturunannya".
"Tidak!! Tidak akan ku biarkan hal itu terjadi, meskipun akhirnya dirikulah yang akan mati terlebih dahulu".
"Tenang, kau pasti akan mati, setelah keluargamu semuanya mati ditanganmu sendiri".
Cekikannya semakin diperkuat oleh wanita yang ada didepannya, membuat Nadhira terbatuk batuk. Nadhira memejamkan matanya dan merasakan sakit yang ia rasakan, wajah mamanya terlihat tersenyum kepadanya.
Bayangan mamanya perlahan lahan berubah, wajah yang cantik berubah menjadi menyeramkan karena darah. Nadhira menangis melihat hal itu, ia juga melihat sosok yang berlawanan dari mamanya, ia menemukan tubuhnya tengah berdiri sambil membawa senjata, senjata itu berlumuran darah.
"Kamu tahu, ketika kematian menjemput mamamu, dia begitu terpuruk, kesunyian menyelimuti hatinya, dia berteriak memanggil anak anaknya, ia melihat sekilas bayangan dirimu sehingga membuatnya terguling kedalam jurang, dan kaulah penyebabnya". Wanita itu menunjuk kearah Nadhira.
"Tidak!!! Itu tidak mungkin!!!TIDAKKKKK!!!"
perlahan lahan ia mulai membukanya kembali dan menemukan bahwa ia sudah berada dikamarnya. Airmatanya terus mengalir ketika membayangkan apa yang sebenarnya terjadi terhadap mamanya nafasnya begitu berat, keringat membasahi tubuhnya, Nadhira mengelap keringatnya dengan kedua telapak tangannya.
__ADS_1
"Bagaimana jika hal itu benar benar terjadi".
Nadhira mengigit jarinya, bayangan kematian keluarganya selalu menggentayangi fikirannya, yang menjadi penyebabnya adalah dirinya sendiri. Nadhira begitu ketakutan jika membayangkan hal itu benar benar terjadi, apa yang akan ia lakukan untuk selanjutnya, bagaimana ia bisa menghentikannya.