
Mendengar seorang anak yang berani melakukan public speaking didepan banyak orang seperti yang dilakukan oleh Rifki saat ini membuat mereka mengira bahwa anak yang didepan mereka saat ini bukanlah seperti anak biasanya.
Sehingga tidak ada yang berani untuk menentang kemauan Aryabima untuk segera mengangkat Rifki sebagai penerusnya saat itu juga, Aryabima sangat percaya bahwa selama perusahaan itu ada ditangan Rifki, perusahaan itu akan berkembang daripada sebelumnya.
Setelah kejadian itu, Aryabima segera menobatkan Rifki sebagai penerusnya dan menyerahkan seluruh tanggung jawabnya mengenai perusahaan itu kepada cucu kesayangannya, dengan gagahnya Rifki berdiri tegak disamping kakeknya dan juga Bram sebagai pengganti sosok kakek untuknya.
Setelah itu Aryabima dan Bram menjauh dari Rifki, untuk menguji apakah Rifki akan sanggup berbicara didepan banyak orang tanpa adanya mereka berdua.
Rifki menatap keduanya sesaat dan tatapan itu kini kembali kepada seluruh karyawan yang bekerja di perusahaan itu, Rifki masih tetap berdiri diposisinya seperti seorang pimpinan sesungguhnya.
"Perkenalkan nama saya Ahmad Rifki Chandra Abriyanta selaku pemimpin baru perusahaan ini, dengan amanah yang diberikan kepada saya, saya akan bertanggung jawab sepenuhnya mengenai perusahaan ini mulai saat ini, detik ini dan seterusnya,
Karena saya adalah pemimpin baru didalam perusahaan ini, kalian harus mematuhi apa yang saya ucapkan, jangan coba coba untuk bisa merugikan perusahaan ini, tanpa kalian sadari, saya bisa membaca pikiran kalian". Ucap Rifki dengan suara lantang dan tegasnya mengatakan didepan banyak orang.
"Kakak, lihatlah cucumu saat ini, seperti dirimu yang tidak pernah mengenal rasa takut, sekarang dia tumbuh dengan keberaniannya". Batin Aryabima.
Seluruh karyawan perusahaan itu bertepuk tangan kepada Rifki, sekarang mereka tidak ada yang berani untuk memandang rendah seorang seperti Rifki karena mereka belum mengetahui latar belakangnya seperti apa.
Aryabima dan juga Bram tersenyum mendengar perkataan yang Rifki lontarkan kepada seluruh anggota karyawan, memang tidak salah sikap Rifki sama seperti leluhurnya yang memiliki jiwa kepemimpinan yang kuat.
"Ayah seandainya kau masih dihidup dan melihat apa yang dilakukan oleh keturunanmu saat ini, kau pasti akan sangat bangga kepadanya, dia mengingatkanku kepada mendiang almarhum kakek, yang memiliki sikap seperti seorang pemimpin, semoga kalian bahagia disyurga-Nya". Batin Aryabima ketika melihat Rifki.
"Tuan Besar, cucumu layak disebut sebagai seorang pemimpin". Ucap Bram kepada Aryabima.
"Aku sangat bangga padanya, dengan beraninya dia mampu berbicara didepan banyak orang seperti ini, sayang sekali setelah ini aku tidak dapat melihatnya dengan waktu yang cukup lama, entah sampai kapan masalah ini akan terselesaikan dan keluargaku akan aman untuk selamanya".
"Tuan tidak perlu khawatir soal keselamatannya, saya janji saya akan selalu melindunginya dan selalu membimbingnya untuk memimpin perusahaan ini dengan baik, sehingga perusahaan ini akan mencapai pada puncaknya".
"Aku percaya padamu, kau sudah bekerja ditempat ini puluhan tahun, dan aku sangat mengenal pribadimu".
Bram menundukkan kepalanya kepada Aryabima sebagai penghormatannya atas pujian yang dilontarkannya oleh Aryabima kepadanya, sementara disatu sisi Rifki memancarkan senyumannya kepada semua orang, senyuman itu begitu memukai sehingga membuat karyawan yang masih gadis terpukau karenanya sehingga mereka sulit untuk melepaskan pandangannya dari wajah Rifki.
Seketika Rifki tersadar akan senyuman tersebut yang membuat seluruh karyawan takjub kepadanya, sehingga ia menurunkan senyuman tersebut dan senyuman itu kini lenyap dari wajah Rifki sehingga berubah menjadi muka datar.
Melihat perubahan ekspresi Rifki yang tiba tiba menjadi datar membuat Aryabima tertawa kecil melihat tingkah laku cucunya tersebut, setelah itu Rifki menyuruh semuanya untuk kembali bekerja seperti sebelumnya.
Aryabima dan Bram membawa Rifki untuk menjelajahi seluruh seluk beluk perusahaan tersebut, agar ketika Rifki berada di perusahaan ia tidak tersesat. Mereka juga membawa Rifki ketempat dimana ruangannya akan bekerja, dan hal apa saja yang harus dilakukan oleh Rifki.
Memang Rifki sekarang masih duduk dibangku SMA kelas 1, tetapi Rifki masih diperbolehkan untuk melanjutkan sekolahnya, ia akan berlatih menjadi pemimpin yang baik setelah pulang sekolah dengan bimbingan dari Bram.
"Jangan lupakan latihanmu nak". Ucap Aryabima setelah selesai menjelaskan bagian bagian dalam kantor.
"Iya kek, Rifki akan selalu mengingat itu".
"Musuh sebelumnya belum muncul nak, tetapi musuh yang paling kuat adalah diri sendiri, kamu harus bisa mengendalikan dirimu sendiri terlebih dahulu"..
"Maksud kakek apa?".
"Perlahan kau akan mengetahuinya seperti halnya kau mengetahui mengenai desa Mawar Merah dan sebuah kisah mengenai Kuswanto".
"Apakah itu ada hubungannya dengan diriku kek? Siapa sebenarnya Kuswanto itu?".
__ADS_1
"Kuswanto adalah seorang pendekar yang telah menyelamatkan keluarga kita, dia orang yang tegas, baik hati, memiliki jiwa kepemimpinan yang kuat, karena penghianatan dari keluarganya membuatnya tewas seketika".
"Jadi Kuswanto dibunuh oleh keluarganya sendiri?".
"Iya".
Setelah kepergian Kuswanto dari desa tersebut, ia segera menikahi Rahayu, pernikahan itu begitu sederhana, setelah dua tahun pernikahan mereka dikaruniai seorang anak laki laki yang diberi nama Panji.
Beberapa tahun kemudian, Panji sudah berumur 19 tahun, ia menikah dengan seorang gadis yang ia temukan didesa tersebut, gadis itu bernama Dania.
Setelah mengetahui kebenarannya bahwa kuswanto bukanlah orang biasa sekaligus penghianat besar, saudara kandung dari Rahayu berencana untuk melakukan pembunuhan kepada Kuswanto, saat itu kekuatan Kuswanto begitu lemahnya karena memberikan seluruh kekuatannya untuk melindungi sebuah pusaka.
"Setelah itu apakah Kuswanto berhasil dibunuh kek? Lalu bagaimana dengan Panji?".
"Tidak semudah yang dibayangkan nak, Kuswanto mengetahui bahwa anaknya juga akan ikut dibunuh oleh kakak adik iparnya membuatnya begitu murka...".
Dengan keadaan lemahnya, Kuswanto melihat bahwa anak satu satunya akan dibunuh juga bersamanya, sehingga ia mengeluarkan seluruh kekuatannya yang tersisa sehingga menewaskan adik ipar dan istri adik iparnya demi menyematkan Panji, karena kejadian itu jugalah yang membuatnya tewas.
Melihat suaminya yang tidak bernafas lagi membuat Rahayu ikut mengakhiri hidupnya, karena ia tidak bisa hidup tanpa adanya sosok seperti suaminya. Panji begitu terpukul karena kejadian yang menimpa keluarganya dan kematian kedua orang tuanya dan juga paman dan bibinya.
"Lalu apa yang terjadi kek?".
"Panji dan istrinya mengadopsi anak dari pamannya yang saat itu masih berusia 4 bulan, setelah kejadian itu ia juga ikut menghilang".
"Maksud kakek, sekarang keturunan dari Kuswanto tidak bisa ditemukan?".
"Bisa dikatakan seperti itu, dan bisa dikatakan tidak seperti itu, sekarang sudah saatnya kakek pergi".
"Jaga diri baik baik ya nak, Bram aku titipkan dia kepadamu".
"Baik Tuan".
Rifki memeluk Aryabima dengan eratnya, seakan ia tidak ingin kakeknya pergi meninggalkannya, isak tangis dapat terdengar dari mulutnya, Aryabima menghapus air mata tersebut yang akan menetes di pipi Rifki.
Dengan berat hati ia meninggalkan Rifki di perusahaannya, diantar langsung oleh salah satu karyawannya menuju luar tersebut. Rifki berusaha untuk mengejar Aryabima tetapi hal itu segera dihentikan oleh Bram.
"Tuan Muda, jangan mengejarnya".
"Kakek jangan pergi, jangan tinggalin aku, aku mohon".
"Maafkan aku nak, aku terpaksa melakukan ini, aku akan melindungimu dari jauh". Batin Aryabima.
Tangis Rifki seketika pecah diruangan tersebut, tak ada kata kata yang mampu keluar dari mulutnya hanya saja airmata yang menetes disetiap pipinya, menyadari bahwa airmatanya jatuh ia segera mengusapnya dan menarik nafas dalam dalam, ia tidak ingin terlihat lemah dihadapan seluruh karyawan.
"Pak bisa tinggalkan aku sendirian". Ucap Rifki kepada Bram.
"Baik Tuan muda, jika butuh apa apa beritahukan kepadaku".
"Iya pak".
Rifki berjalan menuju kecendela kaca yang berada diruangannya, karena gedung tersebut cukup tinggi dan ruangan Rifki berada dipaling atas membuat pemandangan dari atas terlihat begitu indah.
__ADS_1
Rifki mampu melihat seluruh kota hanya dengan menatapnya lewat cendela kaca tersebut, Rifki memejamkan matanya dengan kesedihan yang mendalam.
"Biar bagaimanapun kehidupan harus berjalan, entah itu suka maupun duka, aku harus bisa!! Ayo Rifki bangkit!! Ini adalah awal kisah yang baru".
Setelah memenangkan dirinya dan ia berjalan menuju kearah tempat yang akan ia duduki di perusahaannya dan mulai membaca berkas yang terdapat dimeja tersebut, meskipun Rifki masih tidak mengerti mengenai hal itu, tetapi Rifki tidak berhenti untuk membacanya.
****
Pagi itu Nadhira keluar dari rumahnya seperti biasa, ia akan menunggu Rifki didepan rumahnya untuk berangkat kesekolah bersama sama. Setelah lama ia menunggu tetapi Rifki tak kunjung datang, tak beberapa lama kemudian salah satu anggota geng Rifki datang kearahnya.
"Maafkan aku karena ketelatanku Nadhira". Ucap orang itu sambil membuka helmnya.
"Kamu!! Bukankah kamu adalah anak buah Rifki yang kemarin ikut perkelahian?".
"Iya Nadhira, aku diperintahkan oleh Tuan Muda untuk mengantarkanmu kesekolah".
"Dimana Rifki? Apa dia sakit? Apa lukanya tambah parah?".
Nadhira merasa begitu cemas ketika mengetahui bahwa Rifki tidak bisa masuk kesekolah hari ini, ia sangat menghawatirkan keadaan Rifki karena Rifki tidak memberinya kabar mengenai cidera yang ia alami.
"Jangan khawatir soal itu Nadhira, Tuan Muda tidak sakit, dia diajak oleh Tuan Besar ke perusahaannya untuk mengenalkan kepada seluruh karyawan disana".
"Oh seperti itu, kenapa sekarang kamu manggilnya Tuan Muda? Bukankah biasa manggilnya bos?".
"Atas perintah Tuan Besar".
Setelah mengatakan hal itu kepada Nadhira, ia segera mengajak Nadhira untuk naik kemotornya dan mengantarkannya kesekolah hari ini.
Sesampainya disekolah tersebut Nadhira segera turun dari motornya, dia berterima kasih kepada orang tersebut dan hendak bergegas menuju gerbang sekolah.
"Tunggu Nadhira!!".
Nadhira segera menghentikan langkahnya dan berbalik kearah anak buah Rifki tersebut. "Ada apa?".
"Tuan Muda bilang, jangan lupa mengobati lukamu biar tidak infeksi".
"Iya,, sudah ku obati kok".
Nadhira kembali berbalik dan bersiap untuk memasuki wilayah sekolahannya, tetapi langkah itu segera dihentikan oleh anak buah Rifki kembali, dan Nadhira kembali menoleh dan berjalan kearahnya.
"Ada apa lagi?".
"Tuan Muda juga berpesan, jangan lupa makan siang".
"Iya".
Nadhira kembali berbalik dan melangkahkan kakinya kembali untuk memasuki wilayah sekolahannya, ketiga kalinya langkah itu segera dihentikan oleh anak buah Rifki kembali, dan Nadhira lagi lagi menoleh dan berjalan kembali kearahnya.
"Ada apa lagi sih?".
"Tuan Muda juga bilang, jangan lupa kendalikan diri".
__ADS_1
"Iya".