
Ada beberapa anak buah Rifki yang Rifki perintahkan untuk memajat pohon yang berada disekitar tempat itu, setiap pohon dipanjat oleh lima orang anak, sehingga disaat Nita membuka cendelanya akan terlihat seperti angin yang mencengkeram apalagi ditambah kipas angin yang sengaja diletakkan atas cendela kamar tersebut.
Tidak lupa mereka telah menyiapkan darah sungguhan juga, darah itu mereka dapatkan dari darah ayam yang tadinya mereka sembelih dan dengan bantuan Susi yang menggunakan alat medis sehingga darah itu tidak mudah membeku.
Sebelum hal itu dimulai, Rifki, Nadhira, Vano, Bayu, Fajar dan juga Hakam berkumpul dikamar milik Hakam untuk membicarakan rencana mereka selanjutnya dan apa tugas mereka.
"Bagaimana semua sudah siap?". Tanya Nadhira kepada kelima orang yang ada disitu.
"Dhir, aku hanya mau bilang, kamu sangat mirip dengan hantu saat ini". Fajar yang begitu kagum dengan riasan wajah Nadhira yang seakan akan seperti hantu sungguhan tanpa rekayasa.
"Hajar Rif!!".
"Ngak ngak, jangan main kekerasan lah disaat seperti ini, aku hanya takut bagaimana kalo hantu itu juga ikut muncul disini?".
"Baguslah, malah makin seru ceritanya kalo mereka benar benar datang". Sela Rifki diantara keduanya.
"Jangan gitulah, aku takut beneran nih".
"Laki laki masak takut hantu, kan ngak lucu, perempuan aja berani masak kamu ngak?". Sekarang giliran Hakam yang menengahi mereka.
Fajar begitu terkejut sekaligus hendak teriak ketika melihat Hakam yang juga telah selesai dengan make upnya dan sosok Hakam lebih menyeramkan daripada Nadhira, sebelum Fajar berteriak Rifki segera menutup mulut itu dengan menggunakan kain dan dimasukkan kedalam mulut Fajar.
"Wek juh,, ngak asik lu Rif". Fajar meludahkan kain tersebut yang telah masuk kedalam mulutnya.
"Berani teriak lagi sekarang, ku pastikan akan menyuapimu dengan darah ayam mau?". Ancam Rifki kepada Fajar.
"Ngak ngak jangan, darahmu saja ngak papa jangan darah ayam ngak enak".
"Beneran mau darahku? Aku ambilkan yang banyak untukmu mau segelas? Dua gelas? Ngak masalah, tapi kuat ngak kamu menerimanya?".
"Kamu ini, bercanda dikit aja ngak bisa apa? Selalu aja dibawa serius, kebanyakan serius hidupnya ngak bakal tahan lama lo".
"Emang pengawet apa tahan lama tahan lama, lama lama juga ku masukkan kau ke borak sekarang juga lo biar tau rasa".
"Nyenyenye". Ejek Fajar.
"Mau ku panggilkan bangsa jin? Biar dirimu dikeroyok olehnya?".
"Emang bener ya, anak indihome ngak bisa di ajak bercanda ya, selalu main panggil panggil aja".
"Indigo kali Jar, emang sinyal wifi apa ha? Jangan uji kesabaranku ya, mau ku pukul kau?". Giliran Nadhira yang menyahuti ucapan Fajar.
"Iya itu maksudku, indigo".
"Sudah, ini sudah jam 12 malam, kapan rencananya akan di jalankan?". Ucap Vano yang sedari tadi diam mendengarkan ocehan mereka.
"Serasa seperti main film beneran".
Mereka semua mengabaikan ucapan Fajar, percuma untuk meladeninya yang ada hanya akan membuat mereka marah dengan sendirinya. Nadhira segera masuk kedalam kamar tersebut melalui cendela yang berhubungan dengan kamar Hakam setelah Rifki memberi darah dikening Nadhira.
Seperti halnya Rahel yang meninggal dengan luka yang ada dikepalanya sehingga Nadhira harus berlumuran darah yang begitu banyak agar mampu terlihat begitu nyata.
"Baiklah kita mulai sekarang, aku yang lebih dulu masuk". Ucap Nadhira kepada semuanya.
"Hati hati, aku akan melindungimu dari sini". Rifki berkata kepada Nadhira dan dibalas anggukan olehnya.
Melihat Nadhira yang sudah masuk kedalam kamar, membuat Reno yang berada dibawah ranjang segera menarik selimutnya, sementara Rifki berjaga jaga.
__ADS_1
Jika dilihat dengan mata batinnya, begitu banyak mahluk yang ikut menyaksikan hal itu, akan tetapi Rifki tidak mengatakan kepada teman ataupun anak buahnya karena hal itu akan menyebabkan kegagalan dalam hal yang telah mereka rencanakan begitu sangat lama itu.
Sebelum masuk kedalam kamar itu, Nadhira tidak lupa menyalakan mikrofon kecil yang ada dibajunya agar suaranya terdengar begitu keras meskipun Nadhira mengucapkannya dengan pelan.
Setelah adegan pertama telah dilaksanakan Nadhira segera keluar dari kamar tersebut ketika melihat pergerakan dari Samsul yang memberi pertanda untuknya agar bergegas keluar dari kamar tersebut.
Setelah itu Nadhira lewat seliweran didepan cendela kaca kamar Nita, ketika Nita hendak bergegas menuju cendela Rifki segera memberi tanda kepada Nadhira untuk masuk kedalam kamar Hakam.
Setelah itu ketika Nita membuka cendelanya Rifki segera menyalakan kipas angin dan juga melemparkan kucing hitam kepada Nita, ia juga memerintahkan anak buahnya untuk menggerakkan pohon yang telah disiapkan.
Samsul berpura pura untuk mengejar seseorang yang dimaksud oleh istrinya itu, akan tetapi Samsul ikut bergabung dikamar anaknya untuk membicarakan rencana selanjutnya.
"Kematian Rahel ada hubungannya dengan Ibu, Pak". Ucap Hakam begitu sedihnya.
"Bapak juga tidak menyangka kalo Ibumu dengan teganya melakukan hal sekeji itu, aku berdoa semoga Ibumu tidak terlibat dalam hal ini, tetapi ucapan pemuda itu terus mengatakan bahwa Ibumu bersalah, dan kita sebentar lagi akan segera mengetahui kebenarannya".
"Pak, seandainya Ibu memang telah benar benar terbukti bersalah, apa yang akan Bapak lakukan selanjutnya? Aku takut sulit mengendalikan emosiku, apalagi hal ini menyangkut dengan Rahel dan Adiknya, biar bagaimanapun Rahel begitu berarti bagiku Pak".
"Yang bersalah harus tetap dihukum, jika memang benar itu ada hubungannya dengan Ibumu maka Bapak juga merasa gagal dalam mendidik Ibumu".
Ada banyak kebimbangan didalam hati keduanya, disatu sisi Nita memang bersalah tetapi disisi lain Nita adalah keluarga mereka, Rifki sangat memahami hal itu karena memang sulit memutuskan apa yang harus keduanya lakukan setelah mengetahui kebenarannya.
Semua sudah direncanakan dengan matang, Rifki juga menuangkan darah ayam dipunggung Hakam, mengapa mereka memakai darah asli? Agar suasana seakan akan menjadi nyata dengan bau anyir darah yang memenuhi ruangan itu.
Nita seakan akan melihat bayangan yang begitu banyak berkelebatan dihadapannya, bayangan itu sebenarnya adalah anak buah Rifki yang diperintahkan oleh Rifki berkeliling tempat itu.
Akan tetapi ketika lampu berkedap kedip tidak ada yang merencanakan hal itu, itu adalah murni dari mahluk yang mengitari mereka, mereka mengira bahwa ada anak buah Rifki yang mengotak atik saklar lampu sehingga mereka sama sekali tidak merasa takut akan hal tersebut.
"Ternyata hal ini juga mampu mengundang banyak perhatian dari makhluk astral". Batin Rifki menjerit ketika melihat banyaknya mahluk yang datang ketempat itu.
Rifki merasa terkejut dengan hal itu, akan tetapi dirinya tidak mengatakan apapun kepada mereka semuanya, Rifki hanya tidak ingin bahwa rencana yang mereka susun rapi tiba tiba rusak ditengah jalan yang menyebabkan mereka harus mengulang lagi.
Sementara itu Nadhira mengganti pakaiannya dikamar mandi milik Hakam dan membersihkan darah ayam yang ada dikeningnya setelah itu Nadhira keluar dari kamar mandi menuju ketempat mereka berkumpul sebelumnya yakni kamar Hakam.
"Dhira, bagaimana selanjutnya?". Tanya Fajar dengan antusias.
"Ada minum ngak? Aku haus".
"Ada, darah ayam kamu mau?".
Bhukk....
"Emang kau pikir aku adalah hantu beneran apa ha? Sembarangan aja kalo mau ngomong itu".
Dengan geramnya Nadhira sampai melontarkan sebuah pukulan didada Fajar, sehingga membuat Fajar menggeram kesakitan karena pukulan tersebut.
Reno dan Vano menertawakan Fajar, biar bagaimanapun mereka baru saja berkenalan dengan Fajar, Sementara Hakam mengambilkan minumam untuk Nadhira, dan menyodorkan minuman tersebut.
"Jika cara ini juga tidak berhasil, kita harus memikirkan bagaimana caranya agar Tante Nita memberikan Adeknya Kak Rahel". Ucap Nadhira setelah meminum air tersebut hingga tandas.
"Iya, kasihan anak itu, aku bisa merasakan bahwa anak itu berada diantara kegelapan, seperti sedang dikurung". Tambah Rifki.
"Aku tau".
Hakam mengutarakan pendapatnya kepada mereka, Hakam ingin segera mengetahui keberadaan Adik dari kekasihnya yang telah lama pergi meninggalkan dirinya.
Dalam pengelihatan mata batin Rifki, Adik Rahel telah mengalami kekerasan fisik dan mental, ia berada ditempat yang cukup gelap, kedua tangan dan kakinya telah diikat sehingga dirinya tidak bisa keluar dari tempat itu.
__ADS_1
"Aku serahkan hal itu kepadamu Kak, sekarang sudah mau setengah 3, Nadhira juga butuh istirahat, tapi kamu ngak usah khawatir, beberapa anak buahku akan tetap menjaga disini".
"Aku juga harus pulang Kak, sebelum orang rumah pada bangun". Fajar juga berpamitan pulang.
"Baiklah, terima kasih atas bantuan kalian, jika bukan karena kalian, maafkan kami juga karena telah merepotkan kalian semua".
"Tidak perlu sungkan kepada kami seperti itu, ya kan Rif". Fajar menyenggol lengan Rifki seakan akan meminta jawaban.
"Iya Kak, lagian sosok Rahel juga memintaku untuk menemukan Adeknya, oh iya, sosok Rahel juga ada disini saat ini, dia berdiri disampingmu". Rifki menunjuk kearah dimana sosok itu tengah berdiri. "Dia tersenyum kepada Kak Hakam sekarang".
"Ael ada disini?". Hakam begitu senang mendengarnya akan tetapi dirinya tidak mampu untuk melihatnya, karena dirinya bukan anak indigo seperti Rifki.
Rifki menanggapi ucapan tersebut dengan menganggukkan kepalanya kepada Hakam, Hakam begitu sangat merindukan sosok yang ia panggil dengan nama Ael.
Rahel adalah orang yang baik, akan tetapi selama hidupnya ia tidak diperlakukan dengan baik oleh orang orang yang ada disekitarnya, akan tetapi Rahel sama sekali tidak mempermasalahkan akan hal itu.
Karena kebaikannya sama sekali tidak dianggap penting oleh orang orang yang ada didekatnya, mereka hanya memandang tinggi kearah orang orang yang memiliki banyak harta.
Ketika dirinya meninggal, jiwanya masih tetap bergentayangan untuk mencari Adiknya yang telah disembunyikan oleh Nita, ia tidak akan bisa tenang selama sosok Adiknya belum jua ditemukan dan juga dirinya yang dimakamkan dengan tidak layak.
"Kami pulang duku Kak, jaga diri baik baik, jangan sampai dirimu kehilangan fokus". Rifki memperingatkan kepada Hakam, biar bagaimanapun ditempat itu tadinya dipenuhi dengan arwah penasaran akan tetapi kini telah diusir oleh Rifki.
"Iya, kamu ngak perlu khawatir, terima kasih atas semuanya".
"Jangan berterima kasih dulu Kak, ini semuanya belum selesai sampai disini saja, berterima kasihnya lain kali saja".
"Iya".
Rifki dan yang lainnya segera pamit untuk pulang dan mengistirahatkan tubuh mereka, meskipun hanya sebentar, Rifki mengantarkan Nadhira pulang kerumahnya setelah itu Nadhira masuk kedalam kamarnya melalui cendelanya seperti biasanya.
****Flash back off****
Situasi saat ini begitu mendesak bagi Nita, ia pun terlihat begitu sangat marah ketika mengetahui bahwa kejadian malam itu adalah sebuah rekayasa yang dibuat untuk menakut nakuti dirinya.
"Ibu aku mohon, akuilah semua yang telah Ibu lakukan, biarkan Rahel tenang disana". Ucap Hakam sambil memegangi tangan Ibunya dengan erat.
"Tidak!! Bukan aku yang membunuh dia!! Tidak!! Dia melakukan bunuh diri sendiri!! Itu kemauannya, bukan salahku!!". Teriak Nita dengan histeris.
"Semuanya sudah jelas disini Ibu, apa salah Ael kepada Ibu, kenapa Ibu tega melakukan hal keji seperti itu kepada Ael, Ibu adalah seorang wanita bagaimana bisa Ibu memerintahkan seseorang untuk merenggut kesucian wanita lain dengan cara seperti itu, dan Ibu juga tega membuat anakmu seperti ini".
Hakam menjelaskan kepada Ibunya mengenai minuman yang telah diberikan olehnya kepada Hakam sehingga membuat Hakam seperti ini jika bukan karena Rifki ia tidak akan sadar seperti sekarang ini.
"Aku tidak menduga bahwa Ibu akan melakukan hal seperti itu, apalagi dengan anak yatim piatu yang masih berusia 10 tahun, kenapa Ibu kenapa? Kenapa kau melakukan hal seperti ini Bu, kemana hati nurani Ibu? Bu kesucian seorang wanita adalah harta berharga yang mereka miliki, bagaimana bisa Ibu memerintahkan seseorang untuk mengotorinya dengan hal semacam itu". Tangis Hakam pernah seketika, ia terus mencurahkan semua perasaannya.
"Aku tidak melakukan itu Hakam!! Kau tidak memiliki bukti bagaimana bisa kau mengatakan hal seperti itu kepada Ibumu ini, apa kau lebih percaya dengan ucapan anak ingusan itu daripada Ibumu sendiri". Nita masih membantah akan hal itu.
"Tante masih mau mengelak tentang hal ini? Bawa mereka kemari!!". Perintah Rifki kepada anak buahnya, yang segera ditanggapi dengan anggukan.
Reno dan yang lainnya segera membawa 3 orang yang pernah menjadi suruhan Nita, Nita begitu terkejut ketika mengenali ketiganya, karena ketiganya juga lah yang telah membantu Nita untuk menguburkan jenazah Rahel ditempat itu.
"Jelaskan kepadaku sekarang Bu, siapa mereka? Kenapa Ibu menyuruh mereka untuk menghancurkan hidup Ael, Ael tidak bersalah dalam hal ini".
"Aku tidak mengenalinya Hakam, emang siapa mereka, kenapa mereka dibawa kemari? Apa hubungannya denganku?". Tanya Nita dengan tubuh bergetar hebat mencoba menyembunyikan sesuatu.
"Apa perlu aku menjelaskan disini kepada Tante? Agar Tante ingat semuanya mengenenai waktu itu? Bagaimana bisa seorang gadis tewas dengan berlinangan darah dan airmata?". Tanya Reno kepada Nita sambil mengunci tangan pemimpin dari ketiga orang itu agar ia tidak bisa bergerak melawan Reno.
"Aku tidak tau!! Apa yang sebenarnya terjadi waktu itu!! Bagaimana gadis sialan itu tewas!! Aku tidak tau!! Aku benar benar tidak tau!!".
__ADS_1
"Hentikan ucapan Tante!! Rahel bukan orang seperti itu, Rahel bukanlah gadis sialan seperti yang Tante bilang, dia wanita yang terhormat, dan bahkan rela mengorbankan nyawanya, hanya karena ingin dilecehkan oleh orang yang tidak tau malu seperti itu". Kini giliran Nadhira yang tidak terima ketika nama Rahel dijelekkan didepan semuanya.
Mendengar perdebatan itu membuat Nadhira bangkit dari duduknya dan berkata dengan tegasnya kepada Nita, ia tidak menyukai ketika Nita mengatakan apapun mengenai Rahel.