Apa Salahku Pa

Apa Salahku Pa
Kisah Pangeran Kian 7


__ADS_3

Lantas bagaimana jika kita mati karena bertarung dengan begal ataupun preman hanya untuk mempertahankan harta benda yang kita punya? Jika kita yang mati dalam pertarungan itu maka perbuatan kita akan disebut sebagai jihat, akan tetapi jika begal atau preman itu yang mati maka merekalah yang akan masuk neraka karena telah berani merebut harta benda yang kita punya dengan cara paksa.


Jika kita menghadapi begal dimalam hari, seorang begal tidak akan segan segan untuk menghabisi mangsanya hanya untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan karena mereka memiliki prinsip bahwa harta mangsanya adalah sebuah benda yang harus mereka dapatkan bagaimanapun caranya meskipun caranya itu adalah membunuh para korbannya sekalipun.


Kita hanya memiliki dua pilihan dengan cepat tanpa harus berpikir panjang terlebih dahulu untuk dapat berhadapan dengan begal dan lain sebagainya, yakni antara membunuh atau dibunuh.


Jika kau memilih untuk dibunuh maka sama halnya dirimu pasrah dengan keadaan yang akan terjadi kepadamu selanjutnya, akan tetapi Allah sangat membenci hambanya yang pasrah sebelum mencoba untuk bertahan dan lebih memilih untuk dibunuh.


Akan tetapi jika kau memilih untuk membunuh terlebih dahulu, maka kau harus berusaha untuk bertahan hidup dan mempertahankan harta benda yang kau punya, dan juga harus memiliki sikap tegaan untuk membunuh orang yang menjadi begal tersebut.


Latas bagaimana setelah kita membunuh begal karena untuk mempertahankan harta benda yang kita punya kenapa kita yang harus dipenjara karena hal itu? Jawabannya adalah karena hukum yang berjalan dinegara kita sendiri, akan berbeda ceritanya jika itu terjadi di negara Arab.


Panji segera menutupi tubuh kedua orang tuanya dengan kain seadanya tanpa perlu menghilangkan noda darah yang melekat kepada tubuh kedua orang tuanya itu.


Setelah melakukan hal itu, Panji segera memakamkan kedua jenazah orang tuanya itu dengan hati yang begitu ikhlas untuk melakukannya, Panji melakukan hal itu dengan senyum tipis tersirat diwajahnya tanpa adanya air mata yang nampak dipelupuk matanya.


Setiap yang bernyawa pasti akan kembali. Setiap yang bernyawa pasti akan mati. Kalimat tersebut mengingatkan akan hidup yang sesungguhnya. Bahkan, sudah sangat jelas disebutkan dalam Al-Quran.


Namun, banyak juga di antara makhluk hidup yang terkesan tidak terima akan takdir tersebut. Terlebih lagi jika orang yang meninggal adalah orang yang sangat disayangi.


Lantas, bagaimana hukumnya menangisi orang yang telah meninggal?


Bahwa orang yang telah meninggal akan disiksa karena tangisan orang yang masih hidup. Kemudian, ada pertanyaan yang timbul, lantas tangisan yang seperti apa yang tidak dibolehkan dan yang dibolehkan? Sedangkan pada kenyataannya tak bisa dihindarkan rasa sedih dan tangis apabila melihat anggota keluarga meninggal dunia.


Ada sebuah cerita dari Abdullah bin Umar Radhiyallahu ‘Anhuma, bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa sallam pernah menjenguk Sa’ad bin Ubadah ketika sakit. Beliau ketika menjenguk disertai oleh Aburrahman bin Auf, Sa’ad bin Abi Waqqash, Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu ‘Anhum.


Sesampainya di sana, Rasulullah pun menangis. Ketika yang hadir di situ melihat tangisan Rasulullah, maka mereka pun menangis.


Rasulullah kemudian bersabda:


Dengarkan, sesungguhnya Allah tidak mengadzab orang yang meninggal itu lantaran tetesan air mata, dan Allah pun tidak mengadzab jenazah lantaran hati yang sedih, akan tetapi Allah mengadzab atau merahmati mayat tersebut lantaran (lisan). Dan beliau memberi isyarat pada lisannya. (Muttafaqun ‘alaih)


Hadis tersebut menjelaskan bahwa tidak ada larangan untuk menangisi orang yang telah meninggal, dan tidak ada azab bagi mayat atas tangisan orang kepadanya. Tetapi Rasulullah melarang menangis yang disertai dengan ucapan-ucapan yang dilontarkan kepada mayat.


Niyahah yaitu menangisi mayat dengan mengucapkan kalimat-kalimat ketika menangis dan mengungkapkan perasaan yang ada dalam diri seseorang dengan suara yang keras.


Bahwa Islam tidak melarang seseorang untuk menangisi orang yang telah meninggal dunia, selama masih dalam batas wajar. Karena manusia tidak pernah luput dari rasa sedih akan kehilangan orang yang disayanginya.


"Ayah, Ibu beristirahatlah dengan tenang di syurga-Nya, semoga Allah menerima amal kalian dan menempatkan kalian ditempat yang paling terbaik disisi-Nya, Panji hanya bisa berdoa untuk kalian". Ucap Panji dengan lirih kepada makam kedua orang tuanya itu.


Setelah berdoa cukup lama ditempat itu, Panji segera melanjutkan perjalanan hidupnya dengan mengembara untuk mencari orang orang yang membutuhkan bantuannya, dalam pengembaraannya itu Panji hanya ditemani oleh kucing peliharaannya.


Setelah berbulan bulan dirinya mengembara seorang diri akhirnya Panji menemukan dambaan hatinya, seorang gadis desa yang memiliki rupa seperti bidadari yang begitu sederhana telah berhasil mencuri hatinya.


Pamji selalu menghindarinya karena dirinya tidak ingin terjebak kedalam perasaannya sendiri, bagi Indah akan sangat sulit untuk menggapai sosok seperti Panji begitupun sebalinya.


Kali ini Panji berhenti disebuah desa, Panji berhenti disebuah kedai makan untuk mengisi perutnya yang mulai memberontak untuk diisi begitupun juga dengan hewan peliharaannya itu.


Didalam kedai tersebut Panji mendengar bahwa ada sebuau desa yang tidak jauh dari tempatnya bersinggah ini sedang diserang oleh binatang buas dengan tiba tiba dan korbannya adalah seorang anak yang berusia 5 sampai 15 tahun, Panji ingin melihatnya secara langsung bagaimana serangan itu bisa terjadi di desa tersebut.


"Maaf Pak, kalau boleh saya tau, apa nama desa itu?". Tanya Panji kepada beberapa orang yang sedang membicarakan desa tersebut.


"Kalau ngak salah namanya desanya adalah Warugeni, tapi aku saranin Nak, jangan kesana, itu sangat berbahaya". Ucap salah satu dari mereka.


"Binatang buas seperti apa itu Pak?".


"Menurut kata orang orang sih, binatang buas itu berbentuk seperti serigala akan tetapi matanya berwarna merah terang".

__ADS_1


"Apa kamu mau pergi kesana Nak?". Tanya orang yang lainnya.


"Iya Pak, saya ingin melihatnya secara langsung".


"Tapi itu berbahaya sekali Nak". Ucap si A kepada Panji agar Panji tidak pergi kesana.


"Kenapa kamu malah melarangnya? Terserah dia saja, dia kan yang pergi bukan kita". Sela seseorang yang baru tiba ditempat itu.


Panji segera menghabiskan makanan pesanannya dan tidak mempedulikan mengenai perdebatan orang orang yang ada ditempat itu, setelah makanannya habis Panji segera bergegas dari tepat itu menuju kedesa yang dimaksud oleh orang orang itu.


Panji mendatangi tempat dimana Kepala desa didesa itu tinggal untuk menanyakan hal apa yang terjadi didesa tersebut, karena banyak kasus anak yang hilang didesa itu.


"Maaf Pak, sebenarnya apa yang terjadi didesa ini?". Tanya Panji kepada kepala desa.


"Beberapa hari ini banyak serangan binatang buas ditempat ini Nak, banyak anak yang masih berusia dini tiba tiba menghilang dari rumahnya tanpa jejak sedikitpun". Ucap kepala desa itu.


"Binatang buas? Apa Bapak pernah melihatnya secara langsung, atau mengetahui binatang buas jenis apakah itu?". Tanya Panji.


"Tidak Nak, seluruh warga tidak mengetahui tentang binatang itu, didesa ini juga kadang kala terdengar suara aungan binatang buas yang begitu menakutkan, tapi setelah aungan itu anak anak desa ini tiba tiba menghilang begitu saja".


"Aneh... Apakah saya boleh tinggal disini untuk melihat secara langsung binatang buas itu Pak?". Tanya Panji dengan sedikit ragu.


"Binatang itu sangat menakutkan Nak, apa kau yakin tentang keinginanmu itu?".


"Iya Pak, saya akan berusaha untuk mengatasinya secepat yang saya bisa".


"Apa kau yakin, kau mampu untuk mengatasi binatang binatang buas itu? Bagaimana kalau dirimu yang mati karena mereka?". Kepala desa itu pun ragu dengan jawaban yang diberikan oleh Panji.


"Insya Allah Pak, jika Allah sudah berkehendak jadi maka terjadilah, saya pasti bisa mengatasinya, saya tidak akan mati tanpa membawa para binatang buas itu mati bersama saya". Ucap Panji dengan mantapnya.


"Jika tidak mencobanya, bagaimana bisa mengetahui akhirnya? Bukan begitu Pak?".


"Baiklah jika begitu maumu, ikuti aku, aku akan menyiapkan sebuah kamar untuk dirimu tinggali didesa ini". Ajak kepala desa.


"Baik Pak, terima kasih".


Kepala desa tersebut segera bergegas menuju ketempat dimana Panji akan tinggal didesa itu, Panji dengan sesegera mungkin untuk mengikuti langkah dari lelaki yang ada dihadapannya saat ini.


Setelah lama berjalan, akhirnya mereka sampailah disebuah bangunan yang paling besar daripada yang lainnya, bangunan itu tidak lain adalah rumah dari kepala desa itu sendiri.


"Nak, mulai sekarang kamu boleh tinggal ditempat ini sampai tujuanmu tercapai tanpa dikenakan biaya sedikitpun asal dirimu mampu mengatasi masalah binatang buas itu, tapi jangan salahkan kami jika dirimu tewas karena binatang buas itu karena kami sudah memperingatkan hal ini kepadamu". Ucap kepala desa sambil menunjuk kesebuah pintu.


"Baik Pak terima kasih, saya siap menangung apapun konsekuensinya nanti biarpun nyawa menjadi taruhannya, oh iya Pak, kapan biasanya anak anak itu akan hilang?". Tanya Panji.


"Biasanya anak anak didesa ini akan hilang dimalam hari setiap seminggu sekali Nak, apa kau yakin mampu menghadapi binatang buas itu? Jika Bapak perkirakan serangan binatang buas itu akan terjadi malam ini".


"Iya Pak, kalau begitu malam ini jangan sampai ada yang keluar rumah, aku akan memutari desa ini untuk mencari tau tentang binatang buas itu dengan diam diam, dan lindungi beberapa anak yang ada didesa ini".


"Iya Nak, Bapak akan memberitahukan hal ini kepada seluruh penduduk desa ini".


"Iya Pak".


Malam harinya, Panji melakukan aksinya untuk memutari desa tersebut seperti yang ia katakan sebelumnya, dengan perlahan lahan ia melangkah didalam kegelapan malam untuk mencari tau mengenai binatang buas yang telah menyerang desa tersebut dan mencuri anak anak penduduk.


Auuu.... Auuu....


"Sepertinya sebentar lagi mereka akan datang". Guman Panji ketika mendengar beberapa aungan serigala dari kejauhan dan suara tersebut hampir tidak terdengar akan tetapi Panji dapat mendengarnya dengan jelas.

__ADS_1


Panji segera bersembunyi dibalik semak semak yang menjulang tinggi agar para binatang itu tidak mengetahui keberadaannya, ia juga telah menyamarkan aura yang terpancarkan dari tubuhnya agar para mahluk itu tidak merasakan keberadaan.


Ketika tiba tiba dirinya mulai merasakan adanya pergerakan disampingnya ia segera berdiri dan berniat untuk menyerang apapun yang ia temui disampingnya, akan tetapi....


"Aaa....".


Seorang gadis tiba tiba muncul dibelakangnya, ketika Panji hendak bergerak, gadis itu merinding ketakutan melihat Panji yang tiba tiba muncul dibalik semak semak, sehingga membuat gadis itu berteriak.


Panji segera membungkam mulut gadis tersebut agar tidak berteriak lagi dan membuat seluruh penduduk desa itu terbangun, tatapan keduanya bertemu entah secara kebetulan atau bagaimana gadis itu tidak lain adalah Indah.


"Kamu!!!". Teriak keduanya bersamaan.


"Maaf, ku pikir kau tadi adalah binatang buas yang berkeliaran didesa ini, kenapa dimalam malam seperti ini ada seorang gadis berkeliaran seorang diri?". Ucap Panji yang tidak menyangka bahwa apa yang akan dia serang adalah seorang gadis.


"Sebenarnya aku mencari Adikku, sejak tadi sore belum juga kembali dari mainnya, aku sangat menghawatirkan dirinya, apalagi didesa ini ada serangan binatang buas seperti yang kau dengar saat ini". Ucap Indah sambil kebingungan karena belum juga menemukan keberadaan Adiknya tersebut.


"Apa kau sudah mencarinya dirumah teman temannya?". Tanya Panji.


"Sudah, tapi semua teman temannya sudah ada dirumahnya masing masing, mereka bilang bahwa Adikku sudah pulang sejak tadi sore, tapi sampai sekarang belum juga sampai dirumah, aku takut terjadi sesuatu kepadanya".


"Sebaiknya kau sesegera mungkin untuk meninggalkan tempat ini".


"Kenapa? Aku saja belum menemukan Adikku, kenapa aku harus pergi?


"Apakah dirimu tadi mendengar aungan serigala?".


"Iya aku mendengarnya, itulah kenapa aku berteriak tadi ketika melihatmu muncul tiba tiba, aku pikir dirimu adalah serigalanya".


"Kalau begitu sebaiknya kamu kembali kerumah, biarkan aku yang akan mencari Adikmu itu, aku akan berusaha untuk menyelamatkannya jika dirinya dalam bahaya".


"Tapi bagaimana bisa aku kembali kerumah? Sementara Adikku belum juga ditemukan, aku tidak bisa jika hanya berdiam diri saja".


"Dengarkan aku, kembalilah kerumahmu dulu, jangan membuat dirimu sendiri dalam bahaya, aku akan mencari anak anak yang hilang itu sampai ketemu".


"Tapi....".


Auu.... Auu....


Sebelum Indah melanjutkan perkataannya, tiba tiba terdengar kembali suara aungan serigala tetapi kali ini aungan itu jauh lebih dekat daripada sebelumnya, seakan akan sudah ada serigala dibelakangnya.


Indah dengan ketakutannya segera berpegang dengan erat kepada baju Panji, dan langsung bersembunyi dibalik punggung Panji dengan ketakutannya, Indah tidak berani untuk melihat disekelilingnya sehingga dirinya hanya bisa memejamkan kedua matanya.


"Tolong!!". Ucap Indah yang ketakutan dengan pelannya sambil mengenggam erat baju Panji.


Panji segera menoleh ke sembarangan arah untuk mencari sesuatu yang mencurigakan disekelilingnya, akan tetapi dirinya tidak melihat apapun disana, yang dia lihat hanyalah beberapa mahluk gaib biasa yang terus berseliweran didepannya.


Setelah keris pusaka xingsi menancap didalam jantungnya membuat Panji dengan mudah melihat hal hal gaib yang ada disekitarnya, dan khodam penjaga miliknya jauh lebih kuat daripada sebelumnya begitupun dengan instingnya karena khodam tersebut adalah khodam turunan dari Kuswanto.


Instingnya mengatakan bahwa hewan buas tersebut adalah sejenis bangsa jin sehingga hewan hewan tersebut akan keluar dimalam hari dan tidak sembarang orang dapat melihat hewan hewan tersebut sehingga mereka hanya mampu mendengarkan suaranya yang menyeramkan saja.


Panji menggunakan mata batinnya untuk melihat hewan hewan tersebut, dirinya dapat mengetahui bahwa jarak binatang itu cukup jauh darinya akan tetapi suaranya yang keras membuatnya seakan akan berada didekat keduanya.


Panji fokus kepada lingkungan sekitarnya untuk mencari tau tentang keberadaan hewan hewan tersebut, akan tetapi fokusnya tiba tiba terarah kepada sosok gadis yang tengah bersembunyi dibalik punggungnya dengan ketakutan.


Detak jantung seakan akan berhenti berdetak ketika merasakan seorang gadis memegangi bajunya dengan bergitu eratnya, selama ini tidak ada yang pernah melakukan hal itu kepadanya kecuali Adik angkatan yang sudah pegi sejak lama itu.


......Beri semangat author dengan vote, like, dan komen ya......

__ADS_1


__ADS_2