Apa Salahku Pa

Apa Salahku Pa
Kisah Pangeran Kian 20


__ADS_3

Indah segera meninggalkan tempat itu karena dirinya ingin menaruh piring bekas makanan Panji kedapur untuk dicuci, dengan cemberut Panji menatap kepergian Indah dari kamar tersebut.


"Kau mau kemana? Lepaskan aku dulu Indah! Jangan pergi meninggalkan aku seperti ini disini Indah!". Ucap Panji dengan paniknya karena Indah yang bergegas pergi dari situ.


"Sudah tidur saja disitu, jangan banyak gerak atau aku tidak akan pernah melepaskan dirimu lagi".


"Tapi Indah! Jangan tinggalkan aku seperti ini? Bagaimana kalau aku kenapa kenapa disini".


"Tidak akan terjadi sesuatu denganmu disitu, rumahku ini meskipun kecil akan tetapi akan sangat aman untuk menjagamu".


"Bagaimana kalau ada hewan berbisa yang masuk kedalamnya sementara aku tidak bisa berlari?".


"Dirimu bahkan cukup berbisa dengan kata katamu itu Panji, untuk apa kamu takut dengan hewan yang berbisa disini?".


"Tapikan itu berbeda Indah".


"Apa mau aku beri kain untuk menutup mulutmu itu?". Tanya Indah dengan nada yang begitu menyeramkan bagi Panji.


Hal itu membuat Panji seketika mengunci mulutnya, hal itu bahkan jauh lebih mengerikan daripada apa yang Indah lakukan kepadanya saat ini, jika Indah juga mengikat mulutnya, Panji tidak akan bisa berbicara lagi.


"Bagaimana kalau aku ingin buang air kecil lagi? Apakah aku harus membuangnya disini".


"Terserah apa maumu, jangan lepaskan tali itu, awas saja kalau kamu berani melepaskannya tanpa seizin dariku Panji!". Ancam Indah kepada Panji.


"Tapi...".


"Tidak ada tapi tapian, diam disitu dan istirahatlah".


Indah segera bergegas meninggalkan tempat itu tanpa mempedulikan Panji yang terus memprotesnya dengan apa yang ia lakukan kepadanya, Panji hanya mampu menatap kepergian Indah tanpa bisa berbuat apa apa karena kakinya yang masih diikat oleh Indah.


Panji benar benar tidak bisa berbuat apa apa untuk saat ini karena dirinya tidak bisa melepaskan diri dari ikatan tersebut tanpa seizin dari Indah, akhirnya Panji memutuskan untuk memejamkan matanya diatas ranjang tersebut untuk menghilangkan rasa pusing yang ia rasakan saat ini dengan tiba tiba.


"Kenapa kepalaku kembali pusing? Apa yang sebenarnya terjadi kepadaku?".


Racun yang ada didalam tubuhnya kembali bereaksi sehingga membuat Panji merasakan sakit kepala yang cukup parah yang ia rasakan saat ini, sehingga dirinya memutuskan untuk tidur demi menghilangkan rasa sakit yang ia rasakan.


Panji sudah tidak mempedulikan bahwa dirinya sedang diikat oleh Indah, ia hanya ingin menghilangkan nyeri kepala yang ia rasakan itu, sehingga dirinya memutuskan untuk tertidur dengan lelapnya, hal itu membuat Panji dapat mengatasi nyeri yang ia rasakan dengan cara tertidur.


Beberapa jam kemudian, Indah kembali masuk kedalam kamar tersebut ketika dirinya tidak lagi mendengar suara Panji untuk meminta dilepaskan itu, Indah berpikir bahwa Panji telah kabur dari kamar tersebut.


Indah segera memeriksa kamar tersebut dan menemukan Panji yang sedang tertidur dengan pulasnya sehingga tidak mengetahui kedatangan Indah dengan salah satu kakinya yang masih terikat dengan rapat dikamar tersebut.


Indah tersenyum melihat itu, Panji benar benar tidak melepaskan ikatan tali tersebut meskipun Indah tidak bersamanya dalam waktu yang cukup lama, itu artinya Panji benar benar tidak bisa melepaskan ikatan tali itu tanpa persetujuan dari Indah.


Melihat Panji yang tertidur pulas seperti ini membuat Indah merasa tenang, tak henti hentinya dirinya tersenyum sambil menatap kearah Panji, wajah Panji yang sedang tertidur seperti ini membuat siapapun yang melihatnya akan merasa tenang.


"Maafkan aku". Ucap Indah pelan.


Panji mulai mengerutkan dahinya ketika merasakan ada seseorang yang mendekat kearahnya, Panji mulai bergerak untuk merenggangkan otot ototnya setelah bangun dari tidurnya.


Panji tidak tau, sejak kapan dirinya tertidur dengan lelapnya disini, selama ini dirinya tidak pernah tidur dengan lelap karena selalu siaga dimanapun ia tertidur akan tetapi berbeda untuk saat ini, Panji merasa begitu nyenyak.


"Indah sejak kapan kau ada disini?". Tanya Panji ketika melihat Indah sudah duduk disampingnya.

__ADS_1


"Masih beberapa menit yang lalu, bagaimana keadaanmu saat ini? Apakah masih ada yang sakit?".


"Aku sudah membaik, hanya saja aku tidak bisa berbuat apa apa". Ucap Panji yang lagi lagi menatap kearah kakinya yang sedang diikat itu.


Indah tersenyum melihat kaki Panji yang masih terikat dengan rapinya, Panji sama sekali tidak berusaha untuk melepaskan ikatan tersebut, Indah dapat mengetahui karena dirinya melihat lilitan tali yang sama seperti dirinya mengikatnya sebelumnya tanpa ada perubahan sedikitpun.


"Benar benar anak yang patuh". Batin Indah.


Indah tidak menduga bahwa Panji sama sekali tidak berusaha untuk melepaskan diri ketika diluar pengawasannya, justru Panji mampu tertidur dengan lelapnya meskipun tanpa melepaskan diri dari ikatan tali itu.


Seandainya Indah mengetahui apa yang sedang terjadi kepada Panji saat ini, mungkin Indah tidak akan pernah melepaskan tali tersebut dan terus menerus menyuruh Panji untuk beristirahat dengan totalnya karena efek dari racun yang ada didalam tubuh Panji.


Jika sekali lihat saja, mereka akan mengetahui bahwa Panji baik baik saja dan dalam keadaan sehat, akan tetapi jika dilihat oleh pihak medis, Panji akan terlihat seakan akan begitu lemah dan kesakitan.


"Aku mohon lepaskan aku, aku janji tidak akan pergi ataupun kabur dari sini setelah dirimu melepaskanku dari ikatan ini, kakiku terasa begitu kebas karena diikat seperti ini begitu lama". Ucap Panji dengan seriusnya kepada Indah.


Sebenarnya Panji bisa dengan mudahnya untuk melepaskan ikatan tali tersebut, akan tetapi dirinya tidak mau melakukan itu tanpa persetujuan dari Indah karena Indah yang telah mengikatkannya seperti ini sebelumnya.


"Janji? Kau sendiri tidak bisa menepati janjimu waktu itu, bagaimana bisa kau menepati janjimu kali ini Panji? Apakah diriku bisa yakin dengan janjimu itu?".


Indah kembali mengingat ingat tentang apa yang pernah dikatakan oleh Panji kepadanya sebelumnya, Panji berjanji kepadanya bahwa ketika dirinya dewasa nanti, Panji akan datang menemuinya dan menikah dengannya ketika keduanya sudah siap untuk menghadapi kehidupan baru.


"Kenapa tidak? Aku tidak akan meninggalkanmu Indah, Ayahmu benar, seharusnya kita hadapai bersama sama bukan malah pergi menghindar seperti ini".


Panji merasa bersalah ketika meninggalkan Indah begitu saja seperti apa yang dikatakan oleh Ayah Indah kepada dirinya bahwa Indah benar benar memiliki perasaan kepadanya, jika dirinya merasa takut kepada orang itu maka dirinya harus melawannya bukan malah bersembunyi dan menyiksa diri seperti ini.


Panji merasa yakin bahwa keputusannya kali ini adalah yang terbaik untuk dirinya dan juga Indah, ia pasti mampu untuk melewati semuanya, untuk tinggal diluar memang begitu berbahaya baginya karena adanya racun yang ada didalam tubuhnya saat ini yang masih mampu untuk kambuh kapanpun dan di manapun itu.


"Kau yakin dengan apa yang kau katakan itu? Lalu bagaimana kalau kau juga yang mengingkarinya? Aku sama sekali tidak mempercayai janjimu itu Ji".


Akan tetapi setelah dipikir pikir menghindari mereka itu tidak ada gunanya, Panji haruslah siap dan siaga untuk menghadapi mereka yang tiba tiba menyerang kearahnya sewaktu waktu tanpa dirinya sadari, meskipun dengan menghindari mereka bukan berarti mereka tidak akan pernah menyerangnya.


"Kau harus percaya dengan diriku, jika aku sampai melanggar janjiku maka kau berhak untuk menghukum diriku, dengan hukuman yang kau pilihkan nantinya untuk diriku, dan aku tidak akan mengeluh untuk menghadapi hukuman itu".


"Baiklah aku setuju".


Indah segera mendekat kearah dimana Panji ia ikat saat ini, perlahan lahan dirinya mulai membuka ikatan tersebut akan tetapi dirinya tidak berhasil juga, karena eratnya ikatan tersebut.


Melihat Indah yang kesusahan membuat Panji tersenyum tipis, ia segera mengibaskan kakinya hingga membuat tali tersebut putus dengan sendirinya, Indah terkejut ketika melihat tali yang sangat susah untuk dibuka itu mendadak terputus begitu mudahnya.


"Bagaimana tali ini bisa terputus begitu saja dengan mudahnya?".


"Kenapa kau begitu terkejut Indah? Bukankah kau telah mengizinkan tali ini untuk lepas dari tubuku?".


Hal yang dilakukan oleh Panji saat ini benar benar membuat Indah tidak mampu berkata kata, Panji mampu memutuskan tali itu dengan mudah lantas kenapa dirinya harus bersusah payah untuk meminta dilepaskan oleh Indah sebelumnya.


"Apa kau bisa memutuskan tali ini dengan mudah sebelumnya? Lalu kenapa kau harus meminta diriku untuk melepaskan dirimu itu?".


"Bagaimana bisa aku melepaskan diri tanpa izin darimu Indah? Bukankah itu akan terlihat tidak sopan jika aku melakukannya?".


"Kau sebenarnya orang yang begitu banyak berbicara dan sangat cerewet Panji, berbeda jauh dari apa yang dikatakan oleh orang orang tentang dirimu sebelumnya".


"Benarkah? Apa yang orang orang itu katakan tentang diriku? Mungkin mereka hanya akan memuji diriku, bukan begitu Nona?". Goda Panji kepada Indah, sedangkan Indah hanya bisa bersimpuh malu.

__ADS_1


"Berhentilah berkata dengan nada seperti itu, kau bahkan lebih menyebalkan daripada sebelumnya".


Indah merasa malu ketika Panji mengatakan hal seperti itu kepadanya, karena selama ini tidak ada seorang pria yang mengatakan dengan nada menggoda seperti Panji.


Panji memiliki hobi baru untuk saat ini, yakni menggoda Indah yang berada didepannya, Panji akan merasa puas ketika melihat wajah Indah yang memerah karena ucapannya tersebut, bagi Panji ekspresi seperti itulah yang membuatnya senang.


"Kenapa dengan perkataanku? Apa kau begitu menyukai perkataanku yang seperti itu? Sehingga wajahmu terlihat begitu memerah".


Seketika itu juga, Indah merasa panas diwajahnya mendengar ucapan Panji, hal itu membuat pipinya bersemu kemerahan karena ucapan yang dilontarkan oleh Panji kepadanya itu.


"Tidak". Jawab Indah singkat.


"Jadi kau tidak menyukainya? Baiklah aku akan pergi dari sini sekarang juga".


"Pergi? Bukankah kau sudah berjanji kepadaku bahwa kau tidak akan pergi dari sini?".


"Aku sudah lama tinggal disini Indah, sebaiknya aku segera pergi dari sini, tidak baik bagi seorang lelaki tinggal dirumah seorang perempuan yang tidak ada hubungan saudara begitu lama, apa kata para tetangga ketika melihatku masih ada disini?".


Panji merasa tidak pantas untuk tinggal berlama lama ditempat itu, apalagi dirinya adalah seorang laki laki, tidak akan baik jika dirinya tinggal ditempat seorang gadis dengan waktu yang cukup lama, apa kata orang orang jika Panji tetap tinggal disana.


"Bukankah kau sudah berjanji kepadaku sebelumnya bahwa kau tidak akan pergi meninggalkanku setelah aku melepaskan ikatan ini darimu? Dimana janjimu itu Panji kenapa kau ingin sekali untuk mengingkarinya".


"Memang aku tidak akan pergi darimu Indah setelah kita menikah nantinya, akan tetapi untuk saat ini aku tidak punya pilihan lain selain pergi, karena saat ini kita bukanlah mahram, tidak baik seorang lelaki tinggal terlalu lama dirumah seorang perempuan sedangkan keadaanku sudah lebih baik saat ini".


"Lalu kau akan tinggal dimana dalam keadaan seperti ini Panji? Kau sendiri tidak memiliki rumah untuk kau tinggali nantinya".


"Kau tidak perlu khawatir dengan itu Indah, aku bisa tinggal dimanapun aku berada untuk saat ini, jangan terlalu mencemaskanku untuk itu".


Selama ini Panji memang mampu tidur dengan pulasnya dimanapun dia berada tanpa perlu rasa cemas didalam dirinya, Panji akan dengan mudah terlelap diatas pohon dan lain sebagainya.


Panji merasa bahwa menghindari sosok Indah adalah hal yang mustahil baginya karena Indah akan melakukan apapun agar dapat selalu bersama dengan dirinya meskipun dengan mengorbankan nyawanya sekalipun itu, begitupun dengan Panji, dia akan melakukan apapun asalkan Indah selamat.


Panji memandangi wajah Indah yang ada didepannya saat ini dengan berbagai macam perasaan, entah seperti apa sosok Indah itu bagi dirinya, Panji akan merasa nyaman ketika berada didekat Indah, begitupun dengan sebaliknya, sehingga keduanya takut untuk kehilangan satu sama lain.


Bruk


Tiba tiba terdengar seperti suara benda jatuh berada diluar kamar tersebut, Panji dan Indah segera bergegas untuk memeriksanya, keduanya begitu terkejut ketika mendapati kedua orang tua Indah sedang menguping pembicaraan keduanya, dan sedang bersiap siap untuk pergi dari tempat itu.


"Ayah, Ibu, apa yang kalian lakukan disini?". Tanya Indah yang keheranan dengan sikap kedua orang tuanya itu.


Pertanyaan Indah seketika membuat keduanya hanya bisa berdiam diri ditempatnya, perlaha lahan keduanya menoleh kearah Indah dan Panji secara bersamaan dengan ekspresi seperti maling yang telah kepergok sedang melakukan aksinya.


"Maafkan kami karena telah mengganggu kalian berdua, lanjutkan saja pembicaraan kalian, kami tidak akan menganggunya". Ucap Ayahnya sambil menyuruh keduanya kembali melanjutkan pembicaraan mereka.


"Apa kalian berdua sengaja mendengarkan apa yang kami bicarakan sebelumnya?".


"Tidak tidak, kami berdua hanya lewat saja, tanpa sengaja menganggu kalian berdua, baiklah kami akan pergi dan tidak akan menganggu kalian berdua nantinya kalian tenang saja, sekarang kembalilah melanjutkan pembicaraan kalian".


"Tidak masalah Paman, aku juga ingin berpamitan kepada kalian berdua dan terima kasih atas kebaikan kalian yang telah sudi merawatku selama aku tidak sadarkan diri". Sela Panji.


"Nak, Bibi minta maaf kepadamu sebelumnya, karena telah menolak niat baikmu kepada anak Bibi, apakah kita bisa memulainya dari awal lagi?". Tanya Ibu Indah dengan ragunya karena ia takut Panji akan menolaknya untuk kali ini.


Panji tidak pernah mempermasalahkan hal itu, karena dirinya mengetahui alasan apa yang membuat Ibu Indah mengatakan hal seperti itu kepadanya, Ibunya begitu khawatir kalau Indah akan ikut sengsara ketika hidup bersama dengan Panji karena Panji hanyalah seorang pemuda tanpa keluarga.

__ADS_1


...Jangan lupa like dan dukungannya ya 🥰...


__ADS_2