Apa Salahku Pa

Apa Salahku Pa
Camping 8


__ADS_3

Setelah selesai membasuh tubuh dan ganti baju, Rifki kembali kearea perkemahan dan bergegas menuju ketendanya sambil membawa beberapa ikan yang besar ditangannya.


Rifki memberikan ikan itu kepada Nadhira untuk dimasak, untuk beberapa hari ditempat itu membuat persediaan makanannya menipis sehingga Rifki dan teman temannya yang lain banyak yang menangkap ikan.


Setelah itu Nadhira dan teman temannya segera membersihkan ikan yang Rifki dan beberapa teman tang lainnya bawa sebelumnya, dan memasaknya bersama sama. Setelah itu mereka makan bersama sama, karena Rifki tidak ingin bergabung dengan yang lainnya sehingga Nadhira membawakannya dan makan bersama Rifki ditempat yang jauh dari mereka.


"Rif, ini makan dulu". Memberikan nasi dan lauk ikan bakar kepada Rifki.


"Terima kasih".


"Kita sahabat bukan orang lain, jadi jangan ucapkan kata kata minta maaf dan terima kasih".


"Hahaha.... Eih.. kata kata siapa itu yang kau pakai?". Rifki tertawa mendengar ucapan Nadhira.


"Entahlah, aku juga menemukannya dijalan".


Ekspresi wajah Rifki yang tadinya tersenyum kini berubah menjadi datar dan melirik kearah Nadhira, didalam hatinya ia menggerutu menanggapi ucapan Nadhira.


'Emang ada kata kata dijalan yang seperti itu? Kenapa aku baru tau kalo ada yang seperti itu, huh orang orang itu ya sukanya copy paste saja'. Begitulah kira kira yang ia batinkan saat ini.


Keduanya makan dengan beralaskan daun pisang, dengan lahapnya mereka menyantap makanan tersebut, setelah selesai makan Nadhira bergegas mendatangi air terjun untuk mencuci tangannya dan diikuti oleh Rifki.


"Rif, kamu bilang kemarin mau menjelaskan tentang bayangan itu?". Ucap Nadhira tiba tiba.


"Oh iya aku lupa.. hehe". Rifki meringis menjawab ucapan Nadhira.


"Jadi gimana?".


Rifki menatap kesekelilingnya dapat ia melihat berbagai macam mahluk berada ditempat itu, ia juga melihat mahluk yang sempat mengejar Nadhira berada disitu juga saat ini.


Para mahluk gaib tersebut adalah penghuni asli hutan dan air terjun yang ada ditempat itu, selama tidak ada yang menganggu mereka, mereka tidak akan menganggu terlebih dahulu.


"Kamu mau lihat bayangan itu ngak? Dia sekarang berada didekat kita juga saat ini".


"Hah!! Beneran?".


"Iya, kamu lihat pohon besar yang ada disana". Rifki menunjuk kesebuah arah dimana sebuah pohon besar itu berada.


Nadhira segera menoleh kearah yang dimana Rifki menunjukkannya, pohon itu cukup besar dan tua, kanopi pohon tersebut begitu luas dengan akar akar yang menjalar.


Pohon besar itu berdiri dibeberapa meter dari mereka berdua, pohon itu bernama pohon beringin, akar akar yang menjalar membuat siapapun yang melihatnya akan merasa merinding ketakutan karena besarnya pohon tersebut.


Bukan hanya itu Rifki melihat begitu banyak yang menghuni ditempat itu, disetiap cabang pohonnya terdapat beberapa mahluk yang tak kasat mata, karena indranya terbuka sejak kecil membuat hanya melihatnya seperti biasa saja saat ini.


Nadhira tidak melihat apapun disana, ia hanya melihat rimbunnya pepohonan tersebut, soal bayangan yang ia lihat kemarin hari, ia tidak melihatnya untuk saat ini.


"Ngak ada apa apa Rif, hanya sebuah pohon saja". Ucap Nadhira.


"Kamu ingin lihat?".


"Iya". Dengan polosnya Nadhira menjawab.


"Apa kamu yakin ingin melihatnya? Kalo kamu bisa melihatnya maka seluruh penghuni tempat ini juga akan ikut terlihat, apa kamu akan sanggup? Aku masih ragu akan hal itu".


"Maksudmu? Kamu mau membuka indraku begitu?".


"Iya bisa jadi seperti itu, emang kamu mau?".

__ADS_1


"Ngak!!! Bagaimana kalo aku sampai ngak bisa tidur gara gara kamu? Apa kamu mau tanggung jawab?". Nadhira melotot mendengar itu.


"Iya aku mau, sekalian buat jaga in kamu".


"Emang kau fikir itu mudah??".


Nadhira terus saja mengomel ngomel kepada Rifki karena hal itu, Nadhira memang ingin bisa melihat mahluk yang ada dihadapannya yang berupa bayangan tetapi ia tidak ingin melihat makhluk lainnya.


Bayangan bayangan mengenai mahluk yang selalu dapat dilihat oleh Rifki, seketika terlintas didalam fikiran Nadhira, Rifki sering melihat sosok makhluk dan ia selalu menceritakan mahluk itu secara terperinci kepada Nadhira, sehingga Nadhira sering membayangkan bentuk tubuh mahluk mahluk itu.


"Alamat... Emak emak kumat lagi". Guman Rifki yang melihat Nadhira terus saja mengomel.


"Apa yang kau bilang?".


"Ngak jadi, kembaliannya nanti aja kalo ingat".


"Hah?".


"Sudah selesai ngomongnya? Atau masih ada lagi?".


"Sudah!!!".


"Alhamdulillah... Artinya Allah masih menyayangiku, dan menjauhkanku dari omelan omelan lebah yang meninggalkan sarangnya".


"Maksudmu aku lebah gitu?".


"Bukan tapi sejenisnya".


Nadhira mencubit tangan Rifki dengan geramnya, sementara Rifki hanya bisa meringis kesakitan karena hal itu, tetapi ia sama sekali tidak berusaha untuk melepaskan tangannya dari cubitan tersebut.


Rifki begitu pasrah dengan hal itu, ia tidak ingin membuat Nadhira semakin marah sehingga ia rela jika harus menahan rasa sakit yang diberikan oleh cubitan tersebut.


Melihat Nadhira yang melepaskan cubitan tersebut, Rifki segera menggosok gosok telapak tangannya kebekas cubitan tersebut.


"Maaf". Ucap Nadhira sambil menunduk.


"Sudah? Marahnya sudah hilang? Atau masih mau nyubit lagi, silahkan".


"Ngak, aku sudah ngak sanggup lagi". Nadhira menundukkan kepalanya merasa begitu bersalah kepada Rifki. "Kamu sih, kenapa ngak berusaha ngelepasin cubitanku, kan jadinya bengkak seperti ini".


"Selama kamu senang, aku ngak masalah Dhira, walaupun harus mengorbankan nyawaku ....."


Sebelum Rifki menyelesaikan kata katanya Nadhira segera menggerakkan tangannya untuk menutup mulut Rifki, agar Rifki berhenti untuk berbicara.


"Jangan katakan hal itu, untuk membayangkannya saja aku tidak akan pernah sanggup, hal yang paling aku takutkan adalah kehilangan orang yang aku sayang, sudah cukup aku kehilangan mamaku, aku tidak ingin kehilangan sosok sahabat sepertimu".


"Kau yang terbaik Nadhira".


"Aku mau ambilkan obat untukmu, tetaplah disini, jangan kemana mana". Ucap Nadhira.


Rifki mengangguk kearah Nadhira, Nadhira segera bergegas kembali ketendanya, Nadhira membuka tasnya dan mencari salep untuk kulit yang memar, setelah menemukan salep tersebut dari tumpukan pakaiannya, Nadhira segera kembali menemui Rifki ditepi air terjun.


Sesampainya disana Nadhira segera mengoleskan salep tersebut kepada tangan Rifki yang memar karenanya, dengan pelan Nadhira mengolesnya ia takut menyakiti Rifki lagi. Setelah itu Nadhira duduk disamping Rifki.


"Kamu bilang mau menjelaskan tentang bayangan itu". Ucap Nadhira.


"Kamu masih penasaran tentang hal itu?".

__ADS_1


"Iya, aku ingin tau apa maksudnya mengejarku".


"Baiklah akan ku ceritakan, kemarin malam saat kamu tersesat bayangan itu juga datang kepadaku, bayangan itu adalah mahluk penghuni hutan ini"


*Flash back on*


Rifki dan Fajar terus mencari Nadhira didalam hutan tersebut tetapi tak kunjung menemukan keberadaan Nadhira, akhirnya keduanya bergegas menuju kedesa Mawar Merah untuk mencari Nadhira.


Setelah berbicara dengan kakek kakek penghuni desa tersebut, Rifki segera bergegas mencari Nadhira melalui telepati yang telah diajarkan oleh kakek tersebut dan segera mendatangi tempat dimana Nadhira berada.


Ketika keduanya berhasil menemukan Nadhira, Rifki dapat melihat bayangan tersebut yang merupakan seorang mahluk yang masih berusia remaja, mahluk itu berada disemak semak terdekat dari Nadhira yang tengah terbaring tidak sadarkan diri.


Melihat Rifki dan Fajar yang mendekat kearah Nadhira, mahluk itu segera mengadang keduanya, melihat bahwa keduanya tidak memiliki niat jahat kepada Nadhira membuat mahluk itu mengizinkan keduanya untuk mendekat kepada Nadhira.


"Siapa kau?". Tanya Rifki kepada mahluk tersebut.


"Aku adalah penghuni hutan ini sekaligus penjaga hutan ini, aku tidak sengaja membuatnya ketakutan sampai akhirnya tidak sadarkan diri". Jawab mahluk tersebut.


"Apa tujuanmu sebenarnya?".


"Aku tidak memiliki maksud lain, tetapi permata itu terus mengarahkanku untuk melindunginya, seakan akan ia akan dalam bahaya kalau sampai masuk kedalam desa Mawar Merah".


Mahluk tersebut terus menceritakan sejak pertama kali ia bertemu dengan sosok Nadhira yang memiliki aura dari permata yang selama ini dijaga oleh mahluk gaib, sampai akhirnya teman temannya meninggalkannya didalam hutan ini sendirian.


"Aku tidak berniat mengejarnya, hanya saja aku lupa bahwa ia tidak bisa melihatku sehingga ia begitu ketakutan ketika melihatku hanya berupa sebuah bayangan".


Waktu itu Nadhira terus berlari menghindari bayangan tersebut, ia mengira bahwa bayangan tersebut adalah mahluk jahat yang sama seperti yang ia lihat sebelumnya yakni sosok Nimas.


Tanpa sengaja Nadhira terus berlari hingga hampir mendekati desa tersebut, karena fokusnya terus membimbingnya untuk berlari sehingga tanpa sadar Nadhira terjatuh hingga membuatnya terluka.


Melihat hal itu mahluk itu segera bertindak untuk menghentikan Nadhira yang terus berlari mendekat kearah desa terlarang itu, mahluk itu yang berupa bayangan segera mendekat kearah Nadhira.


Ia dapat merasakan bahwa ada sebuah energi yang telah melapisi permata yang ada didalam tubuhnya, energi itu dapat bereaksi ketika ada energi lain yang akan menyerangnya.


Sehingga ia menggunakan cara untuk menyerang energi tersebut, karena serangan tersebut membuat Nadhira tidak sadarkan diri, melihat itu ia segera bergegas bersembunyi dibalik semak semak dan menjaganya dari kejauhan.


"Lalu aku melihat kalian mendekat, awalnya aku kira kalian adalah orang orang jahat itu, tetapi dapat aku rasakan bahwa tidak ada energi jahat didalam tubuh kalian".


"Orang jahat? Apakah ada seseorang yang datang sebelum kami ketempat itu?".


"Iya, orang orang itu berusaha untuk merebut permata itu, berbagai macam cara mereka akan lakukan asalkan mendapatkan permata itu".


"Apa maksudmu?".


"Beberapa hari ini, desa Mawar Merah sering didatangi oleh orang orang itu, mereka berusaha untuk masuk kedalam desa dan mengambil permata, berbagai macam cara mereka selalu gagal karena penghuni desa itu selalu mengambil nyawa mereka tanpa ampun, hanya orang orang tertentu yang dapat keluar masuk dari desa itu, begitupun dengan gadis yang memiliki permata itu". Makhluk itu menunjuk ke arah Nadhira.


"Sebenarnya apa itu permata iblis, dan bagaimana caranya untuk mengatasinya?".


"Apa yang kau katakan Rif". Tanya Fajar yang mendengarkan ucapan Rifki.


"Hanya sebuah benda yang dijaga didesa Mawar Merah, sehingga warga disana akan membunuh dengan tragisnya".


"Aku tidak bisa memberitahumu soal permata itu, untuk solusinya aku sendiri tidak mengetahuinya, tapi kamu jangan khawatir soal itu karena akan ada seorang pemuda yang mampu meluluhkan iblis wanita itu, untuk saat ini sebaiknya kalian bawa gadis ini dari tempat ini".


"Baiklah, terima kasih atas bantuannya".


"Tidak perlu sungkan, sudah tugasku untuk melindungi gadis dan permata itu".

__ADS_1


Setelah percakapan antara Rifki dan makhluk itu berakhir, Rifki segera membawa Nadhira pergi dari tempat itu dengan bantuan Fajar, keduanya menembus gelapnya malam tanpa rasa takut.


*Flash back off*


__ADS_2