Apa Salahku Pa

Apa Salahku Pa
Tidak terpengaruh


__ADS_3

Nadhira masih terbaring dengan lemasnya diatas bangkar ruang kesehatan yang ada dibandara itu, Bayu dan Putri tetap berdiri disampingnya untuk menunggu Nadhira sadarkan diri.


"Apa yang terjadi dengan Dhira?". Tanya Nimas yang baru saja muncul disitu kepada Raka.


"Kau sih meninggalkan dia tiba tiba, kan jadinya dia tidak sadarkan diri seperti ini".


"Kenapa jadi aku yang kau salahkan? Kan aku hanya bertanya kenapa Nadhira tiba tiba pingsan seperti ini? Apakah ada mahluk lain yang menganggunya? Atau dirimu yang melakukan itu". Ucap Nimas dengan wajah terasa begitu curiga kepada Raka.


Mendengar suara Nimas yang terasa begitu menggema ditelinga Nadhira membuat Nadhira mulai mengernyitkan dahinya, melihat Nadhira yang mengernyitkan dahinya membuat fokus Putri dan Bayu terarah kepadanya seketika itu juga.


Nadhira memegangi kepalanya yang terasa begitu pusing, perlahan lahan dirinya mulai membuka matanya dan Nadhira mendapati dirinya tengah berada didalam ruangan yang cukup asing baginya karena sebelumnya dirinya tidak pernah berada didalamnya.


"Dimana aku?". Tanya Nadhira dengan lirih dan masih mengedip kedipkan matanya agar pandangannya kembali terlihat jelas.


"Dhira kamu ngak apa apa kan? Apa masih ada yang terasa sakit?". Tanya Bayu dengan cemasnya.


"Rifki dimana? Kemana dia?".


"Rifki sudah berangkat Dhira, kamu yang tenang ya, mari aku antar pulang Dhira".


"Iya". Jawab Nadhira pelan.


Nadhira segera bangkit dari bangkar itu, dengan perlahan lahan dirinya berjalan meninggalkan tempat itu menuju ketempat parkiran yang ada di bandara untuk melanjutkan perjalanan pulang dari tempat itu, diperjalanan Nadhira terus berdiam diri tanpa banyak bicara sedikitpun dirinya hanya menjawab iya dan tidak atau bahkan dirinya hanya melamun saja.


Disatu sisi, Rifki yang sudah berada didalam pesawat hanya mampu melihat bumi melalui cendela yang ada di pesawat tersebut, dirinya melihat bahwa perlahan lahan pesawat itu membawanya terbang jauh meninggalkan bandara dan juga kampung halamannya.


"Dhira maafkan aku, kita tidak bisa bersama untuk saat ini, biar bagaimanapun aku tidak ingin melihatmu meninggal dihadapanku, aku tidak ingin kehilanganmu untuk selama lamanya Dhira, hanya inilah yang aku bisa untuk saat ini, aku tau ini pasti berat bagimu tapi ini juga demi kebaikanmu Dhira". Ucap Rifki pelan sambil menatap keluar cendela.


Pesawat itu terus melaju meninggalkan segalanya, ia terbang begitu jauh sampai Rifki tidak mampu untuk melihat kampung halamannya lagi, dirinya merasa begitu kesepian untuk saat ini, tiada teman untuk bercanda gurau dan tiada Nadhira yang sering membuatnya tertawa lepas.


Sekarang seakan akan terasa begitu sunyi dan sepi, tiba tiba seorang gadis datang mendekatinya, gadis itu terlihat begitu cantik dengan pakaian feminimnya, gadis itu tiba tiba duduk disamping Rifki, Rifki hanya melihatnya sekilas dan langsung mengalihkan pandangannya menuju kecendela.


"Hay, boleh aku duduk disini?". Ucap gadis itu.


"Tidak, cari tempat duduk lainnya". Jawab Rifki singkat tanpa mengalihkan pandangannya.


"Tapi hanya disini yang masih kosong, boleh ya? Kamu kesepian ya, boleh aku temani biar ngak kesepian".


Rifki melihat sekitarnya dan memang benar dirinya tidak menemukan kursi kosong lainnya, dirinya merasa heran kenapa ada wanita yang tidak ia kenal di pesawat itu dan bahkan wanita itu tidak memiliki bangku untuk melakukan perjalanan ini.


Dan akhirnya dirinya hanya menghela nafas berat untuk membiarkan wanita itu duduk disampingnya, setelah itu Rifki mengalihkan pandangannya menuju kearah cendela itu kembali tanpa mempedulikan wanita itu.


"Usia kamu berapa?". Tanya wanita itu.


"19 tahun". Jawab Rifki singkat.


"Eh masih 19 tahun ya, kalau aku sudah 23 tahun, tapi kalau dilihat lihat kamu seperti udah dewasa banget ya, masak sih kamu masih berusia 19 tahun, atau jangan jangan usia kita sama". Ucap wanita itu.


Mendengar ucapan itu membuat Rifki tidak menjawabnya, Rifki justru mengabaikan wanita itu, ia tidak peduli tentangnya meskipun wanita itu mencoba untuk lebih dekat dengannya akan tetapi Rifki sama sekali tidak memperhatikannya.


"Boleh aku tau namamu?". Tanya wanita itu lagi kepada Rifki, karena Rifki tidak meresponnya sehingga dirinya harus mencari topik agar Rifki meresponnya.


Sejak dirinya naik ke pesawat, dirinya begitu terpesona dengan ketampanan Rifki, karena tanpa Rifki sadari bahwa aura ke karismaannya merembes keluar tanpa sepengetahuannya sehingga hal itu membuat para gadis ataupun wanita yang sudah menikah sekalipun akan terpana dengan wajah Rifki.

__ADS_1


"Tidak penting jika kau mengetahui namaku atau tidak".


"Itu sangat penting, biar kita makin akrab saja". Jawab wanita itu dengan tersenyum kepada Rifki.


"Itu hanya penting bagimu, bukan bagiku".


Wanita itu tidak bisa berkata kata lagi karena perkataan Rifki seketika membuatnya down dan memutuskan untuk tidak memberi harapan kepada Rifki, karena Rifki sangat sulit untuk didekati apalagi Rifki begitu singkat untuk menjawabnya.


Rifki tidak mempedulikan perasaan wanita yang ada disampingnya, meskipun pakaian wanita itu terlihat begitu menggoda bagi laki laki akan tetapi Rifki sama sekali tidak tergoda dengan pakaian yang dikenakannya karena terlihat lekuk tubuhnya dan terlihat dua buah dadanya itu.


"Apa kau sama sekali tidak tertarik denganku?".Tanya wanita itu dengan menggembungkan kedua pipinya kepada Rifki.


"Tidak, jika anda punya etika setidaknya aku bisa menghargai anda, tapi nyatanya anda sama sekali tidak punya etika, apakah kedua orang tua anda tidak pernah mengajari etika kepada anda?". Tanya Rifki tanpa mengalihkan pandangannya dari cendela.


"Bagaimana bisa kau mengatakan itu? Padahal kau sendiri tidak menatap kearahku".


Rifki mampu menebak karakter seseorang tanpa perlu melihatnya, Rifki dapat mengetahui bahwa kedatangan wanita disampingnya itu hanyalah untuk menjebaknya dalam rayuan dari wanita itu, agar wanita itu bisa leluasa untuk memanfaatkan dirinya.


Wanita itu ahli dalam hal hal yang berbau pelet dan lain sebagainya, sehingga Rifki mendapatkan insting dari khodamnya tentang kepribadian dari wanita itu, Rifki dilindungi oleh khodam penjaganya agar pelet dari wanita itu tidak berhasil mengikat Rifki sehingga wanita itu terlihat begitu kesalnya kepada Rifki.


"Sial bagaimana ini tidak berhasil? Pemuda ini sama sekali tidak menatap kearahku". Batin wanita itu.


Tanpa wanita itu sadari bahwa Rifki sekarang telah larut dalam pikirannya, dirinya terus saja memikirkan tentang Nadhira, Rifki hanya takut terjadi sesuatu dengan Nadhira karena adanya permata iblis yang ada didalam tubuhnya itu.


"Tidak perlu menatap wajah untuk mengetahui sikapmu, dari perkataanmu saja sudah dapat ditebak kau orang seperti apa".


"Ayolah, sekali saja melihat wajahku". Pikir wanita itu ketika Rifki melihat wajahnya, Rifki akan tertarik kepadanya.


"Lalu apakah hanya dengan menatap wajahmu aku akan tertarik karena peletmu".


Tanpa kata kata wanita itu segera menggerakkan tangannya dan menolehkan wajah Rifki kearahnya, ketika Rifki menatap kearah wanita itu seketika Rifki memandang kearah wanita itu dengan tatapan kosong, melihat hal itu membuat senyum diwajah wanita itu seketika mengembang begitu cerahnya.


"Sudah ku duga, sekali kau melihat wajahku kau akan terpanah kepadaku sayang". Ucap wanita itu kepada Rifki yang tengah menatap kearah wanita itu dengan tatapan kosongnya.


Wanita itu begitu senang ketika melihat Rifki mulai terpengaruh dengan peletnya, hingga hal itu membuat Rifki tak henti hentinya menatap kearah wanita itu, sesekali terlihat senyum tipis dibibir Rifki yang terarah kepada wanita itu.


"Siapa namamu?". Tanya wanita itu kepada Rifki.


"Rifki". Jawab Rifki pelan tanpa mengedipkan matanya sama sekali.


"Rifki? Nama yang bagus seperti wajahnya, beruntung sekali aku bisa bertemu denganmu tampan, lalu apa tujuanmu keluar negeri?".


"Aku hanya ingin melanjutkan pendidikanku karena mendapat beasiswa".


"Ouhh seperti itu pintar juga ya dirimu, tapi sayang sekali kau sudah berada dibawah kendaliku, apa kau adalah anak orang kaya?".


"Tidak, Ibuku hanyalah seorang ibu rumah tangga, sementara Ayahku pergi entah kemana".


"Tapi dari penampilanmu kau seperti seorang yang begitu berkarisma dan berwibawa seperti seorang pemimpin diperusahan yang sangat besar, apa kau bohong soal ini?".


"Tidak, aku tidak berbohong, aku hanyalah seorang pemuda biasa".


"Kau benar juga, orang yang ada dalam pengaruh peletku tidak akan mengatakan hal hal yang diluar kata jujur, mungkin aku hanya salah menebaknya, tapi.... Ngak masalah sih, wajahmu terlihat begitu tampan juga". Ucap wanita itu sambil meraba pipi Rifki yang terlihat begitu halus dan bercahaya.

__ADS_1


"Apakah pemuda ini benar benar terkena peletku, tapi kenapa dia begitu aneh dan tidak seperti yang lainnya yang pernah terkena hipnotisku". Batin wanita itu.


Rifki sama sekali tidak mengalihkan pandangannya dari wajah wanita itu, entah apa yang terjadi kepadanya saat ini, entah apa yang dilihat oleh Rifki dari wanita itu.


"Apa kau sudah terpengaruh dengan peletku?". Tanya wanita itu dengan penasarannya kepada Rifki.


"Iya, aku milikmu Nona".


"Hem... benarkah, biar aku coba, serahkan semuanya yang kamu punya kepadaku". Ucap wanita itu memberi perintah kepada Rifki untuk menyerahkan apapun yang ia punya.


Rifki segera melepaskan gelang jam miliknya dan menyerahkannya kepada wanita itu, Rifki juga mengeluarkan dompet dari sakunya yang berisi begitu banyak lembar uang yang berwarna merah kepada wanita itu tanpa adanya beban sedikitpun, Rifki juga menyerahkan hpnya kepada wanita itu.


Seketika itu juga membuat wanita itu terlihat begitu sangat bahagia apalagi ketika melihat isi dompet milik Rifki yang tidak sedikit isinya, wanita itu segera memasukkan dompet dan barang barang lainnya kedalam tasnya tanpa rasa takut sedikitpun.


Hal yang dialami oleh Rifki bisa disebut dengan gendam, karena hal itu menyangkut dalam kesadaran yang dimiliki oleh Rifki.


Gendam adalah ilmu yang memengaruhi psikis manusia, pikiran manusia, dan alam bawah sadar manusia dengan mantra dan dengan ilmu magic. Gendam sendiri hampir menyerupai hipnotis. Namun, bedanya jika hipnotis menggunakan teknik tertentu untuk memberikan sugesti alam bawa sadar seseorang, gendam menggunakan mantra magis.


Padahal secara teknis gendam merupakan salah satu atau gabungan dari teknik shock induction, Ericksonian Hypnosis, dan Mind Control (telepati, magnetism) dan termasuk dalam metode hypnosis modern yang sudah dikenal di dunia barat.


Pelaku gendam biasanya menyasar korban yang sedang sendirian, karena jelas tidak ada yang mampu mengingatkan sang korban.


Dalam kondisi bingung karena tidak ada teman, maka pikiran bawah sadar sang korban akan terbuka lebih lama. Kemudian pelaku pun lebih mudah memberikan sugesti terus menerus, alias banjir informasi, sehingga korban benar-benar dibuat tak berdaya.


"Kau bilang kau bukan anak orang kaya, tapi barang barangmu sungguh mewah, jika dijual pasti untungnya sangat besar apalagi jam tanganmu ini". Guman wanita itu.


Rifki sama sekali tidak beraksi ketika wanita itu mengatakan hal itu kepadanya, memang dirinya bukan anak orang kaya akan tetapi sekarang dirinya adalah orang kaya itu sendiri, sehingga dirinya mampu membeli barang barang yang ia inginkan dengan mudahnya.


Wanita itu begitu gembira karena mendapat begitu banyak harta ketika dirinya berhasil memasukkan Rifki kedalam alam bawah sadarnya sehingga dengan mudahnya dirinya mendapatkan harta benda yang dimiliki oleh Rifki saat ini.


Wanita itu tidak mengetahui bahwa Rifki adalah seorang pemimpin diperusahan yang sangat besar didua negara sekaligus, akan tetapi jarang ada yang mengenalnya karena kepribadiannya yang sangat tertutup kepada semua orang.


"Serahkan lagi kepadaku apa yang kau punya, aku yakin kau masih memiliki barang barang yang sangat berharga". Ucap wanita itu memerintahkan kepada Rifki.


"Aku hanya punya satu nyawa Nona, bahkan nyawa itu hanyalah sebuah titipan yang diberikan oleh Tuhan kepadaku, apa kau ingin mengambilnya dari Tuhanku? Jika kau ingin memisahkanku dari Tuhanku, kau tidak akan bisa melakukan itu". Tanya Rifki yang seketika itu juga memperlihatkan senyuman yang menakutkan.


"Apa yang kau katakan? Apakah kau berpura pura terpengaruh olehku? Sehingga kau begitu leluasa untuk menjebakku". Tanya wanita itu dengan terkejutnya ketika mendengar perkataan Rifki.


"Haha... Trik murahan seperti itu tidak akan mudah untuk mempengaruhiku, kau bukan hanya berhadapan dengan sosok diriku tapi kau juga berhadapan dengan khodam milikku". Rifki tertawa melihat wajah panik dan terkejut dari wanita yang ada dihadapannya saat ini. "Ambil saja dompet itu dan barang barang lainnya, anggap saja itu sebagai sedekah dariku". Ucap Rifki menambahkan.


"Siapa kau sebenarnya, kenapa kau bisa lolos dari pengaruh mantraku". Ucap wanita itu kepada Rifki.


"Bukankah kau sudah mengetahui siapa namaku sebelumnya Nona? Bukankah tadi sudah ku katakan kepadamu tadi, apa perlu aku ingatkan sekali lagi? Baiklah aku akan katakan kepadamu bahwa mengetahui identitasku itu tidaklan penting bagiku, mungkin itu akan menjadi penting bagimu tapi tidak denganku, lalu apa untungnya diriku jika aku mengatakan siapa sebenarnya diriku kepadamu?".


"Jika kau mengatakannya maka kita bisa menjadi teman bukan?".


"Teman? Kau tidak pantas menjadi temanku Nona, tidak ada namanya teman yang merebut sesuatu dari temannya dengan cara paksa seperti ini, jika aku tidak bisa lolos dari mantramu sebelumnya apa kau akan mengatakan bahwa kau ingin menjadi temanku sebelumnya Nona? Apakah kau paham dengan apa yang aku ucapkan saat ini Nona?".


"Kau begitu licik".


"Ini kau sebut licik? Aku akan tunjukkan kepadamu apa itu licik yang sebenarnya". Ucap Rifki sambil menyeringai lebar.


Plok.. Plok.. Plok...

__ADS_1


Rifki menepuk tangannya beberapa kali dan seketika itu juga keenam orang lelaki segera datang menemuinya, iya keenam orang itu tidak lain adalah tim keamanan yang ada didalam pesawat, dan dua orang dari mereka adalah anak buah Rifki.


...Jangan lupa like dan dukungannya 🥰...


__ADS_2