
"Dan bahkan aku sendiri tidak mengetahui dimana keberadaan Burhan, bagaimana bisa aku yang menjadi penyebab kematiannya?". Bantah Darma.
"Burhan kembali kedesa ini setelah kejadian kalian membantai keluargaku, tepat setelah itu, ayahku datang ketempat dimana kalian membuang mayat keluarga besarku".
"Tidak, kalian jangan percaya begitu saja".
Nimas menatap Darma dengan tatapan penuh kemarahan, baginya berdebat dengan orang seperti Darma tidak akan menghasilkan apapun justru ia akan makin terperosok dalam kesalahan, dengan marahnya Nimas menendang Darma dengan kerasnya. Darma terpental begitu jauh dan menabrak beberapa orang yang ada dibelakangnya, akibat tendangan itu membuatnya memuntahkan darah segar dari mulutnya.
"Dia bukan manusia!!!". Teriak Darma.
"Karena jiwa manusiaku telah kau bunuh tanpa rasa belas kasih, ketika kau membunuh kedua orang tuaku, disaat itulah jiwa manusiaku ikut terbunuh disaat itu juga".
Seluruh warga didesa itu segera berjaga jaga dan menjadi sangat waspada kepada seorang gadis yang sedang berada didepannya, bagi mereka itu hal yang mustahil karena kekuatan dari sang gadis begitu besar, tetapi bagi seorang ahli dalam hal gaib kekuatan yang dikeluarkan oleh Nimas adalah hal biasa.
Nimas menatap sekelilingnya, ia baru pertama kali datang ketempat itu, Ia berjalan mengelilingi tempat itu, sesuai dengan pengelihatan yang diberi oleh ayahnya kepadanya, membuatnya begitu mudah mengenali tempat itu.
"Ternyata tempat ini cukup luas juga, pantas saja mereka saling berebutan posisi untuk bisa memiliki harta tersebut". Guman Nimas.
Nimas melewati beberapa rumah yang ada didesa tersebut, ia berhenti tepat didepan rumah yang lebih besar daripada yang lainnya, itu adalah rumah dimana kedua orang tuanya pernah tinggal.
Nimas berjalan menuju kerumah dimana dahulu kala kedua orang tuanya tinggal, dengan mudah ia menghancurkan pintu yang telah tertutup rapat. Langkah demi langkah ia masuk kedalam rumah tersebut, rumah itu sama persis seperti yang ada didalam mimpinya sehingga dengan mudah ia menemukan ruang bawah tanah.
Didalam rumah tersebut dapat ia lihat seluruh barang barangnya telah rusak dan tidak seperti rumah, melainkan seperti hutan, didalamnya juga ditumbuhi oleh beberapa tanaman merambat membuat suasana ditempat itu terasa menakutkan bagi mereka yang memiliki nyali kecil.
Seluruh masyarakat didesa itu yang melihatnya masuk kedalam rumah yang telah lama tertutup rapat mereka sangat terkejut, selama ini tidak ada yang berani memasuki rumah tersebut dikarenakan didalamnya begitu banyak mayat yang dimasukkan kedalam rumah tersebut, sehingga membuat rumah itu tampak begitu menyeramkan.
Nimas memasuki ruangan bawah tanah tersebut, didalamnya ia hanya menemukan tulang tengkorak yang berceceran diruangan itu, ia mendatangi salah satu tengkorak yang ada disitu, yang ia yakini adalah tengkorak milik ibunya, seperti yang ada didalam mimpinya sebelumnya.
__ADS_1
"Ibu, aku datang untuk menemuimu, aku bahkan tidak ingat kapan terakhir kalinya kita bertemu, mungkin hidupku tidak akan lama lagi, cepat atau lambat kita akan bersama kembali, dan biarkan orang orang itu merasakan apa yang aku rasakan, aku tidak akan membiarkan orang yang telah memfitnah keluarga kita hidup bahagia".
Hati Nimas merasa sangat hancur ketika melihat seluruh keluarga besarnya ada ditempat itu, dan ia merasa terpukul ketika melihat tengkorak saudara sepupunya yang masih kecil ikut mati ditempat itu, bagaimana ada orang yang sekejam itu, dia bahkan tidak menyangka kesalahan apa yang telah dilakukan oleh saudara sepupunya.
Nimas mengeluarkan auranya yang mengerikan ditempat itu, aura yang berkumpul menjadi sebuah permata hitam yang mengkilap, lalu ia letakkan disebuah batu besar yang terdapat didalam ruangan tersebut. Energinya terkuras begitu banyak ketika berhasil mengeluarkan permata itu, tubuhnya begitu rapuh tetapi ia harus tetap bangkit untuk menghadapi orang orang yang berada diluar rumah tersebut.
Karena Nimas mengeluarkan auranya membuat rumah itu tiba tiba dilapisi oleh cahaya hitam yang membuat semua orang diluar rumah itu merasa merinding dan sebagian ada yang tidak sadarkan diri, mereka mengepung rumah tersebut.
Setelah itu Nimas berjalan menuju kearah dimana tengkorak ayahnya berada, beberapa tulang rusuknya patah, karena disaat kematiannya pisau pisau yang digunakan oleh Darma berhasil mematahkan beberapa tulang rusuknya.
Nimas mengusap kepala tengkorak itu dengan pelannya, ia memejamkan kedua matanya dan merasakan energi lain yang datang mendekatinya, ketika energi itu sudah berada didekatnya, Nimas membuka matanya.
Ia menemukan sosok laki laki tengah berdiri dihadapannya, lelaki itu selalu datang didalam mimpinya yang tidak lain adalah ayah kandungnya, Burhan.
"Ayah". Panggilnya.
"Ayah, ayah sama sekali tidak salah dalam hal ini, Nimas mengerti ayah, kakek telah menjelaskan semuanya kepada Nimas, ayah adalah ayah yang terbaik untuk Nimas saat ini dan selamanya".
"Maafkan ayah Nimas, jikalau dulu ayah tidak meninggalkanmu dan juga ibumu mungkin kita masih bersama saat ini, waktu itu fikiran ayah begitu kacau, ayah mendatangi rumah ini dan ternyata itu adalah jebakan untuk membunuh ayah, maafkan ayah nak, maafkan ayah, ketika mendengar dirimu hilang membuat ayah tidak bisa berfikir dengan tenang sehingga mereka berhasil membunuh ayah".
"Ayah".
Sosok ayahnya berjalan mendekat kearah dimana permata yang Nimas taruh berada, ia memandangi permata hitam itu bergantian dengan wajah sang anak yang ada dibelakangnya.
"Ayah akan menyatu dengan permata ini, agar kau selalu ingat tentang ayah, jaga dirimu baik baik nak".
Sosok Burhan mulai lenyap menjadi sebuah cahaya putih yang terang dan bergerak menyatu dengan permata yang ada didepannya, permata itu berwarna hitam pekat dan mengeluarkan cahaya putih yang begitu kuat.
__ADS_1
Nimas memegangi dadanya yang terasa nyeri karena dengan paksaan ia mengeluarkan auranya dan membentuk sebuah permata, ia tidak mempedulikan hal itu, selama hidupnya rasa sakit sudah menjadi bagian dari tubuhnya.
Nimas bangkit dari duduknya, ia berjalan menaiki tangga untuk mencapai lantai selanjutnya, entah apa yang ada difikirannya saat ini, ia mendengar beberapa orang telah berada didepan pintu rumah tersebut dengan berbagai macam senjata yang mereka bawa.
"Kalian harus menanggung akibatnya".
Ia mengeluarkan sisa energi yang ia punya dan mengarahkannya kepada pintu rumah itu, dengan sekejab pintu itu roboh dan mengenai beberapa orang sehingga membuat mereka mengalami luka luka yang lumayan parah.
Nimas berjalan diantara mereka dengan anggunnya, pakaiannya berkibas karena terkena angin, wajahnya yang cantik membuat beberapa orang menjadi waspada, Nimas menatap sekelilingnya, dapat ia lihat seluruh warga ditempat itu tengah menatapnya.
****"Aku tidak boleh terlihat lemah diantara mereka, meskipun energiku terkuras begitu banyak, itu tidak masalah karena kakek telah mengajariku ilmu beladiri yang hebat". Ucap Nimas dalam hati.
Nimas terus berjalan diantara mereka, hingga akhirnya ia dikepung oleh masyarakat yang ada disitu, pandangannya tertuju pada sosok lelaki yang tengah membawa pisau kecil ditangannya, didalam ingatannya pisau itulah yang dipakai oleh seseorang untuk membunuh ayahnya.
Lelaki yang ditatapnya hanya diam membisu dan bersiaga karena gadis yang ada didepannya sama sekali tidak bisa diremehkan kekuatannya, Nimas berhenti tepat didepan sosok laki laki yang telah menjadi kepala desa tersebut.
"Aku adalah penjaga dari bukit itu, mulai sekarang siapapun tidak diizinkan untuk memasuki wilayah itu dan sekitarnya".
Selesai mengatakan hal tersebut, Nimas bergerak dengan lincahnya membunuh orang orang disekitarnya, hampir 20 persen orang disitu telah meninggal, sekitar 40 persen mengalami cidera yang serius, dan sisanya mengalami luka ringan.
Nimas berhasil merebut pisau tersebut dan mengarahkannya kepada leher lelaki yang bernama Darma, tanpa banyak orang yang mengetahui bahwa Darma telah berhasil menusuk Nimas dari belakang. Ekspresi Nimas sama sekali tidak menunjukkan bahwa ia kesakitan karena hal itu, dapat ia rasakan bahwa pisau itu telah menembus perutnya dan menyayat dagingnya.
"Kenapa? Sakit?". Tanya Darma ketika merasakan bahwa Nimas tengah terdiam.
"Aku hanya memperingatkanmu, suatu saat aku akan kembali kedunia ini, dan membalaskan dendamku, seluruh keturunanmu akan ku bantai secara perlahan, seperti halnya desa ini akan berakhir saat ini, haha... Aku sama sekali tidak takut akan hal mengenai kematian, yang aku takutkan adalah ketika aku tidak bisa membalaskan dendam ini".
"Kau tidak akan mampu untuk melakukan hal itu, lihatlah sekarang, siapa yang akan mati terlebih dahulu".
__ADS_1
"Tentu saja kau".