Apa Salahku Pa

Apa Salahku Pa
Camping 6


__ADS_3

Sore hari diperkemahan tersebut, seluruh siswa yang mengikuti camping sedang melaksanakan acara dimalam kedua yakni renungan malam, untuk mengisi acara selanjutnya.


Seluruh siswa dimintai untuk duduk melingkari sebuah api unggun yang telah mereka susun sebelumnya, api unggun tersebut menyala dengan terangnya dan menerangi seluruh perkemahan.


"Tema kita kali ini adalah 'Kasih sayang kedua orang tua', ibu minta kalian semua menutup mata kalian, ibu akan menceritakan sebuah kisah yang tidak akan pernah ibu lupakan". Ucap salah satu guru yang bernama bu Martha.


"Baik bu".


Seluruh murid yang ada disitu segera menutup kedua matanya menggunakan slayer yang mereka bawa sebelumnya, dan mengikatnya kekepala mereka.


"Dan jadikan kisah ini sebagai sebuah pelajaran bagi kalian, jangan ada yang diam diam pergi dari tempat ini sebelum acara malam ini selesai, karena kalian tidak tau, bahwa disekitar kita banyak yang sedang mengawasi, ibu bukan berniat untuk menakut nakuti kalian, tapi kalian harus tau, bahwa dialam ini tidak hanya dihuni oleh mahluk yang dapat kita lihat saja


tetapi masih banyak mahluk yang lain, ibu harap kalian bisa menghormati mereka bila tidak ingin diganggu oleh mereka". Jelas bu Martha.


Pada suatu hari hiduplah sebuah keluarga yang begitu miskinnya, sampai sampai memakan nasi hanyalah sebuah mimpi bagi mereka, mereka hanya mampu memakan seadanya seperti ubi, daun daun hijau dan ikan yang ada disungai.


"Apa kalian tau? Orang tua akan melakukan apapun untuk anak anaknya tanpa mempedulikan dirinya sendiri". Ucap Bu Martha.


Bu Martha melanjutkan kisahnya, suatu hari sang anak bermimpi untuk menggapai langit, dan ingin membahagiakan kedua orang tuanya.


"Ibu, ketika aku besar nanti, aku ingin membawa kalian kesebuah rumah yang besar dan mewujudkan mimpi kalian untuk berangkat ketanah suci". Ucap sang anak sambil membayangkan ketika hal itu terjadi.


Tok tok tok


"Assalamualaikum". Ucap sang ayah yang baru pulang dari kerjanya.


"Waalaikumussalam". Jawab sang ibu.


"Ayah datang!!". Dengan girangnya anak itu berlarian menyambut ayahnya.


Sang ayah datang membawa sekantung ubi untuk direbus, anak itu dengan senangnya menerimanya dan membawanya masuk kedalam.


Kehidupan mereka berjalan dengan baiknya meskipun mereka selalu kekurangan dalam segala hal, sampai sampai listrik rumahnya dicabut karena mereka tidak sanggup untuk membayarnya.


Pekerjaan sang ayah hanyalah sebagai buruh tani, hanya ketika ada yang membutuhkan ia akan melakukan selebihnya ia akan menghabiskan waktunya untuk mencari ikan buat dijual dan dimakan sehari harinya.


Hingga pada suatu hari, karena prestasi anaknya, anaknya diterima disebuah sekolah yang berada dikota dan mendapatkan beasiswa. Sang anak merasa begitu bahagia mendengar hal itu, ia meminta izin kepada orang tuanya untuk pergi keluar kota.


Dengan berat hati kedua orang tuanya mengizinkan anaknya tersebut untuk melanjutkan pendidikan yang anaknya impikan selama ini.


Karena keberangkatan anak memperluhkan biaya yang tidak sedikit sehingga sang ayah meminjam kepada tetangga rumahnya, dengan senang hati sang tetangga meminjamkan uangnya kepada keluarga itu.


Setelah keberangkatan sang anak, tanpa sang anak sadari bahwa ayahnya telah menjual organ tubuhnya yang disebut sebagai ginjal hanya demi keberangkatan anak itu.


"Apa kalian tau? Bagaimana rasa sakitnya ketika anggota tubuh kita tersayat?" Tanya bu Martha.

__ADS_1


3 tahun kemudian sang anak akan segera melaksanakan wisuda, tetapi ia tidak ingin mengabari kedua orang tuanya yang berada didesa, ia malu karena memiliki orang tua yang kampungan sementara orang tua dari teman temannya adalah orang kaya.


Tanpa sang anak mengetahui bahwa biaya yang ia keluarkan selama ini adalah nyawa dari sang ayah, seorang ayah bahkan sanggup menjual seluruh organ tubuhnya yang berharga hanya demi pendidikan anak yang ia sayangi. Hingga akhirnya sang ayah meninggal tanpa sepengetahuan dari anaknya, karena seluruh organ tubuhnya telah habis tak tersisa.


"Kenapa? Sang ayah melakukan hal itu? Perlu kalian renungkan, bagaimana perjuangan seorang ayah hanya untuk kebahagiaan anaknya". Ucap bu Martha dengan airmata yang berlinang membasahi kedua pipinya.


Beberapa isak tangis dapat terdengar dimalam yang sunyi diperkemahan tersebut, suasana disekitar situ begitu mendukung akan kisah yang bu Martha ceritakan.


"Nakkk, kau dimana? Beberapa tahun kau tidak mengabari kami, apa kau tau? Ayahmu sudah tiada, pulang lah nak, ibu menunggu kedatanganmu". Rintihan sang ibu yang menanti kedatangan dari anaknya.


Hingga suatu hari sang ibu pergi kekota untuk bertemu dengan anaknya dengan pakaian yang begitu kumuh dan kusut, sesampainya diperumahan milik anaknya, ibu itu segera diusir oleh anaknya karena pakaiannya dan ia tidak mengakui bahwa itu adalah ibunya.


"Maaf, saya tidak punya uang, sebaiknya anda segera pergi dari tempat ini". Ucap sang anak.


"Tapi nak, aku adalah ibumu, orang yang mengandung dan membesarkanmu, bagaimana bisa kamu melupakan ibumu dengan mudahnya"


"Aku ngak peduli, saya tidak mengenal anda, sebaiknya anda segera pergi dari sini, sebelum saya panggilan satpam untuk mengusir anda keluar".


Dengan sakit hari sang ibu segera meninggalkan tempat itu sebelum kata kata kasar mampu terucapkan kepada sang anak, ia tidak ingin ucapannya akan terkabulkan.


Sebelum sang ibu meninggalkan tempat itu, ia melemparkan sebuah surat kepada sang anak, sang ibu pergi begitu saja dari tempat itu. Sementara sang anak hanya diam membisu, dan mengambil surat yang dilemparkan oleh wanita tersebut.


Didepan surat tersebut tertulis sebuah bait kata yang bertuliskan 'Untuk anakku tersayang, dari ayah'.


*Isi surat*.


Ayah minta sayangilah ibumu, sebelum kamu kehilangannya untuk selamanya, hanya dialah orang satu satunya yang masih berada didunia ini, hanya dialah satu satunya pintu surga yang dapat kau masuki.


Kau ingat waktu kecil nak? Ketika kau menangis, siapa orang pertama yang datang untuk menenangkan dan memelukmu? Itu adalah ibumu nak, ketika kau terluka siapa yang pertama kali merasa khawatir? Dia adalah ibumu nak.


Bahagiakan ibumu nak, ayah minta jangan pernah sakiti dirinya, kau tau? Setiap hari ulang tahunmu? Selama kau berada dikota, ibumu selalu menyanyikan lagu ulang tahun didepan fotomu, ia begitu merindukanmu.


Ayah ingin sekali memelukmu dan menciummu seperti dahulu, dan sayangnya waktu ayah sudah habis, ayah harap uang dari organ tubuh ayah berguna bagi masa depanmu, salam cinta dari ayah.


*Akhir surat*.


"Ayah sudah tiada? Dan uang yang selama ini adalah, tidak tidak".


Surat itulah yang membuatnya tersadar bahwa orang tuanya sampai mengorbankan nyawanya hanya demi dirinya yang selalu ingin hidup dengan mewahnya.


Brak!!!


Dari kejauhan terdengar suara tabrakan yang begitu nyaringnya, membuat seluruh masyarakat terdekat dari lokasi itu segera keluar dan melihat apa yang terjadi.


Sang anak tersebut segera bergegas untuk melihatnya, ia teringat bahwa ibunya baru saja keluar dari kompleks perumahan tersebut. Dari kejauhan terlihat seorang wanita paruh baya yang tidur terlentang ditengah jalan.

__ADS_1


Ya, wanita paruh baya tersebut adalah ibu dari anak itu, dengan terburu burunya anak itu segera menghampiri sang ibu, tangsi anak itu pecah seketika ketika keluarganya satu satunya tengah tertabrak oleh sebuah mobil yang melintas.


"Ibu!!". Teriak anak tersebut.


Anak itu segera mengangkat kepala sang ibu yang penuh darah dan menidurkannya didalam pangkuannya, sang ibu yang merasa seseorang sedang memeluknya membuatnya membuka kedua matanya.


"Ibu bertahanlah, aku akan membawa ibu kerumah sakit". Ucap sang anak dengan linangan air mata.


"Nak, waktu ibu sudah tidak lama lagi, maafkan ibu". Ucap sang ibu sambil terbatah batah.


"Jangan katakan itu ibu, aku sudah kehilangan ayah aku tidak ingin kehilangan ibu juga".


"Maafkan ibu, biarkan ibu tidur dipangkuanmu saat ini, itu lebih dari cukup untuk ibu".


"Ibu".


Sang ibu tiba tiba memejamkan matanya, darah terus mengalir dari kepalanya hingga membasahi baju yang anaknya kenakkan saat ini. Tanpa anaknya sadari bahwa sang ibu sudah tiada, karena Allah lebih menyayanginya.


Kembali keperkemahan.


"Sekarang ibu tanya kepada kalian, apa yang akan kalian lakukan jika anak tersebut adalah kalian?". Tanya bu Martha.


Pertanyaan itu hanyalah dibalas dengan airmata yang membasahi slayer yang mereka gunakan, tanpa ada seorangpun yang berani angkat bicara menanggapi cerita tersebut.


"Bagi siapapun yang ibu pegang, kalian harus jawab pertanyaan dari ibu".


Bu Martha segera berjalan mengitari mereka,ia berhenti tepat didepan seorang gadis, ia memegang pundak gadis tersebut.


"Apa yang telah kamu berikan kepada kedua orang tuamu selama ini?". Tanya bu Martha kepada gadis itu.


Mendengar pertanyaan itu, sang gadis tidak bisa menjawabnya, memang selama ini ia tidak pernah memberikan apapun kepada orang tuanya, justru ia sering melakukan kesalahan kepada mereka.


"Tidak bisa menjawab? Mengapa?".


Bu Martha terus berjalan mengelilingi para peserta didik yang berada disekitar api unggun, ia terus melangkah sambil bertanya kepada muridnya mengenai hal apa yang pernah mereka berikan kepada orang tua, tak seorangpun yang bisa menjawabnya.


Kini giliran seorang lelaki yang bu Martha pegang pundaknya, lelaki yang dipegang tersebut terasa seakan akan tubuhnya gemetaran.


"Apa yang akan kamu lakukan untuk membalas kebaikan orang tuamu? Apakah hanya jawaban yang mampu kamu berikan ataukah tindakan yang akan kamu lakukan?". Tanya bu Martha.


Lelaki itu hanya berdiam diri, tidak mampu untuk menjawab pertanyaan tersebut, memang selama ini ia selalu marah kepada orang tuanya, hanya karena permintaannya tidak dikabulkan oleh orang tuanya.


"Begitu banyak anak ditempat ini, kenapa tidak ada satupun yang mampu menjawab pertanyaan ibu?". Tanya bu Martha.


Bu Martha terus mengelilingi tempat tersebut, ia hanya mampu mendengar isak tangis dari murid muridnya tersebut tetapi tak seorangpun yang mampu menjawab setiap pertanyaan yang ia lontarkan sebelumnya.

__ADS_1


"Nak ini ibumu, pulanglah nak, ibu menunggumu dirumah, ketika kecil ibumulah yang mengantarkanmu kesekolah, menemanimu belajar dan selalu tersenyum kepadamu


Ketika rambut ibu sudah memutih, ibu semakin tua, dan tidak bisa turun dari tempat tidur dan bahkan mengompol diranjang, tolong jangan marahi ibu nak, ibu tidak ingin kau berdosa karena itu". Ucap bu Martha kepada murid muridnya.


__ADS_2