
Nadhira mulai mengernyitkan dahinya pertanda dirinya akan sadarkan diri, Rendi yang melihat itu nampak terlihat bahagia ketika mengetahui bahwa Nadhira akan sadarkan diri, dengan perlahan lahan dirinya mulai membuka kedua matanya, pandangan yang pertama kali ia lihat adalah sosok Papanya.
"Akh... Kepalaku sangat pusing" Ucap Nadhira.
"Alhamdulillah, kau sudah sadar Nak, Papa sangat mencemaskan dirimu Nak, kau menghilang begitu lama dan sama sekali tidak memberi petunjuk untuk Papa menemukan dirimu, kemana saja kau selama ini Nak? Papa merasa bahagia ketika Papa berhasil menemukan dirimu" Ucap Rendi.
"Dimana aku? Siapa kalian? Kenapa kepalaku begitu pusing?" Tanya Nadhira dengan sedikit histeris ketika melihat Rendi dan yang lainnya sedang berkumpul dan memutarinya dan dirinya memegangi kepalanya dengan erat karena rasa pusing yang ia rasakan saat ini.
"Nadhira apa yang terjadi denganmu? Apa kau tidak mengenaliku Nak? Apakah kau hilang ingatan? Kenapa bisa seperti itu Nak? Apa kau sama sekali tidak mengenali kami?" Rendi begitu terkejut ketika melihat reaksi Nadhira pertama kali.
"Siapa itu Nadhira? Aku tidak kenal dengan dirinya dan kalian siapa? Kenapa aku bisa berada disini sekarang? Kenapa aku sama sekali tidak bisa mengingat tengang siapa diriku, dan apa hubungannya aku dengan kalian, akh.. ". Kepala Nadhira terasa begitu pusing saat ini dan dirinya memegangi kepalanya dengan sangat eratnya.
"Kamu adalah Nadhira Nak, kau adalah anakku, bagaimana bisa kamu tidak mengenali kami? Apa yang terjadi denganmu Nak? Kau menghilang begitu lama membuat Papa sangat khawatir dengan dirimu".
"Aku tidak tau, aku benar benar tidak tau kenapa aku tidak bisa mengingat semuanya, dan kenapa aku bisa berada disini? Tempat apa ini? Aku tidak tau" Ucap Nadhira dengan kebingungan dengan situasi saat ini dan berteriak histeris saat ini.
"Kenapa Nadhira bisa melupakan kita? Apa yang sebenarnya terjadi dengan dirinya?" Tanya Rendi kepada Sena dan Bi Ira.
"Aku tidak tau Mas, entah apa yang sebenarnya terjadi dengan dirinya itu, mungkin mahluk yang telah membawa Nadhira sengaja untuk menghapus semua ingatannya karena mereka tidak ingin Nadhira bercerita mengenai mereka" Jawab Sena.
"Tapi kenapa harus mengapus semuanya!".
Rasa bahagia ketika menemukan Nadhira yang Rendi rasakan kini seketika berubah menjadi kesedihan karena Nadhira sama sekali tidak mengenali dirinya dan bahkan Nadhira menganggap bahwa mereka adalah orang asing bagi Nadhira.
"Arghh......" Teriak Nadhira kesakitan karena kepalanya begitu pusing apalagi ketika mendengar kedua orang yang ada didepannya saling berdebat.
"Nak kau kenapa? Apa yang terjadi?" Tanya Rendi dengan khawatirnya dengan keadaan dari Nadhira.
"Kepalaku pusing!! Arghhhhh....".
Sesekali Nadhira menarik rambutnya karena rasa sakit yang ia rasakan saat ini, seakan akan suara gemuruh yang begitu keras sedang mengitarinya dan begitu banyak suara yang dapat Nadhira dengar saat ini.
Rendi merasa kebingungan harus bagaimana dirinya bertindak saat ini, melihat Nadhira yang kesakitan membuat dirinya begitu panik akan tetapi dirinya tidak tau harus berbuat apa untuk saat ini.
Ketika Haris dan Sena sudah tidak lagi berdebat didepan Nadhira hal itu membuat Nadhira merasa lega dan rasa sakit di kepalanya mulai berkurang setelah itu.
"Aku dimana? Kenapa aku tidak bisa mengingat semuanya saat ini?" Tanya Nadhira lirih dan sambil memegangi kepalanya.
"Ini adalah rumahmu Nak, kau tumbuh besar disini bersama dengan kami, apa kau juga telah melupakan semuanya?".
"Rumah? Kenapa aku tidak bisa mengingat semuanya, siapa diriku? Apakah aku telah mengenal kalian sebelumnya?".
"Bagaimana bisa kau tidak mengenal kami? Kami adalah keluargamu Nak" Ucap Rendi dengan sedihnya ketika Nadhira sudah tidak lagi mengenali dirinya, dapat dilihat bahwa sesekali dirinya menghapus air matanya.
Melihat Nadhira yang sama sekali tidak mengenali mereka membuat Rendi dan Bi Ira merasa sedih dengan sikapnya, berbeda jauh dari Sena yang justru merasa lega karena Nadhira tidak ingat dengan siapa sebenarnya dirinya itu.
Nadhira nampak begitu ketakutan ketika berhadapan dengan Rendi dan kedua orang itu, Nadhira benar benar tidak mengingat siapa dirinya dan apa hubungannya dengan orang orang yang ada dihadapannya saat ini.
"Akh... "
Nadhira mencoba untuk menggerakkan kakinya ternyata kakinya masih terasa begitu sakitnya karena Nadhira mengalami patah tulang akan tetapi berkat bantuan Haris dan Aryabima membuat luka yang dialaminya mulai membaik.
"Apa yang terjadi dengan kakiku? Apa yang kalian lakukan kepadaku hiks.. hiks.. hiks.. Kenapa kakiku terasa begitu sakit? Apa yang terjadi denganku?". Nadhira menangis seketika dirinya terlihat begitu shock dengan apa yang terjadi kepadamu kali ini.
__ADS_1
"Kami tidak melakukan apapun kepada dirimu Nak, kami menemukan dirimu sudah dalam kondisi seperti ini, justru kami terkejut kenapa kau bisa melupakan kami semua disini, setelah tiga bulan kau menghilang kau kembali dengan kondisi seperti ini".
"Mas apa ngak sebaiknya kita tinggalkan Nadhira dulu, biar dia bisa beristirahat dan menenangkan dirinya? Jangan terlalu membebankan dirinya dengan pertanyaan pertanyaan yang akan membuatnya kesakitan seperti tadi, aku takut kalau dia berteriak teriak seperti itu" Ucap Sena memberi saran kepada Rendi.
"Tapi bagaimana dengan dirinya? Kenapa dia sama sekali tidak ingat dengan kita? Bahkan dia sama sekali tidak mengenali kita".
"Mungkin dia masih shock Mas, Mas tau sendirikan kalau Nadhira baru saja kembali dari alam gaib? Mungkin bisa jadi gara gara itu dia sampai melupakan kita semua, mungkin dengan seiring berjalan waktu Nadhira akan mengingat semuanya".
"Baiklah biarkan dia istirahat terlebih dahulu, tidurlah Nak, istirahatlah dengan nyenyak".
Dengan berat hati Rendi segera bergegas meninggalkan tempat itu diikuti oleh Sena dibelakangnya, kini hanya tinggal Bi Ira yang masih berada dikamar Nadhira.
"Nak apa kau juga telah melupakan diriku?" Tanya Bi Ira dengan perasaan sedihnya.
"Aku tidak tau siapa anda dan apa hubungannya anda denganku? Aku sama sekali tidak tau, aku sama sekali tidak mengenal anda" Ucap Nadhira sambil menggeleng gelengkan kepalanya.
"Apa yang telah terjadi denganmu Nak? Kenapa kau bisa melupakan diriku, apa kau juga melupakan Lia?" Ucap Bi Ira sambil meneteskan air mata ketika Nadhira sudah tidak lagi mengenali dirinya saat ini.
"Aku tidak kenal dengan anda, aku juga tidak tau siapa itu Lia, siapa itu Nadhira, aku tidak kenal dengan semuanya!" Ucap Nadhira dengan tegasnya.
Nadhira tidak pernah berbicara dengan Bi Ira menggunakan nada seperti itu, hal itu membuat Bi Ira begitu sedihnya karena dirinya merasa bahwa dirinya telah kehilangan sosok Nadhira yang selama ini ia kenali tidak seperti Nadhira yang ada dihadapannya.
"Tidak masalah kamu melupakan diriku Nak, ku harap cepat atau lambat kau segera mengingatku"
"Aku juga berharap ingatanku cepat kembali" Suara Nadhira mulai merendah ketika melihat Bi Ira meneteskan air mata begitu derasnya.
"Ya sudah kamu istirahat dulu, aku masih banyak pekerjaan diluar".
Nadhira menatap kearah Bi Ira sekilas dan langsung membaringkan tubuhnya kembali untuk beristirahat karena dirinya merasa begitu lelah hari ini entah kenapa dirinya begitu mengantuk.
Nadhira kembali terlelap dalam tidurnya, Nadhira tidur dengan nyenyaknya setelah sekian lama dirinya tidur diatas batu yang ada digoa dan kini dirinya bisa kembali tidur diatas kasur yang empuk. Ketika waktu menunjukkan pukul 12 siang tiba tiba Nadhira terbangun dari tidurnya karena dirinya teringat bahwa sudah waktunya untuk melaksanakan sholat dhuhur dan dirinya belum melakukannya.
"Sudah waktunya sholat".
Setelah selesai melaksanakan sholat Nadhira hendak kembali membaringkan tubuhnya diatas ranjang, akan tetapi tiba tiba Sena masuk kedalam kamar Nadhira untuk memastikan bahwa Nadhira benar benar telah hilang ingatan saat ini.
"Ada apa Tante kemari?" Tanya Nadhira ketika melihat Sena masuk kedalam kamarnya.
"Apa kamu melupakan diriku Dhira?" Tanya Sena.
"Aku tidak tau, aku tidak mengingat apapun, apakah benar namaku adalah Nadhira? Kenapa sedari tadi banyak yang memanggilku Nadhira".
"Karena kau adalah Nadhira".
"Lalu Tante siapa? Dan wanita yang bersama dengan Tante tadi siapa? Terus lelaki itu siapa? Aku tidak mengenal mereka sama sekali" Ucap Nadhira dengan kebingungan saat ini.
"Anak ini benar benar hilang ingatan, sebaiknya aku memanfaatkan kesempatan ini untuk dapat membalaskan dendamku, kau boleh menghianatiku Ratu iblis tapi aku tidak akan menyerah untuk dapat membalaskan dendamku" Batin Sena.
Sena mengusap kepala Nadhira pelan dan menyuruh Nadhira untuk duduk diatas ranjangnya dan diikuti oleh Sena yang duduk disamping Nadhira. Sebelumnya Sena tidak pernah memperlakukan Nadhira seperti ini berhubungan Nadhira hilang ingatan hal itu membuat Sena bersikap begitu baik kepadanya seperti saat ini.
"Apa kau melupakan diriku Dhira?" Tanya Sena.
"Aku sama sekali tidak bisa mengingat apapun Tante, aku juga tida tau siapa diriku" Jawab Nadhira, Nadhira sangat bingung dengan situasinya saat ini kenapa dia bisa melupakan semuanya bahkan Nadhira juga telah melupakan keluarganya sendiri.
__ADS_1
"Aku adalah Mamamu Dhira, kenapa kamu memanggilku Tante?" Ucap Sena yang berpura pura sedih dihadapan Nadhira.
"Kamu adalah Mamaku?".
"Iya sayang, kenapa bisa kau melupakan diriku, maafkan Mama karena tidak bisa menjagamu, apa kau juga telah melupakan perlakuan Papamu yang jahat terhadapmu Nak?".
"Mama tidak salah, aku yang salah kenapa aku bisa melupakan Mama orang yang telah melahirkanku, aku anak yang durhaka Ma, bagaimana bisa aku melupakan Mamaku sendiri, perlakuan apa yang Papa lakukan kepadaku? Siapa Papaku?".
"Papamu adalah orang laki laki yang kau maksud tadi itu, dia begitu jahat kepada kita sayang, dia bukanlah Papa kandungmu, Papa kandungmu telah dibunuh olehnya, dia hanya bersikap baik kepadamu jika didepanmu tapi dia sering membuatmu celaka tanpa sepengetahuan dirimu Dhira".
"Kenapa dia bisa sejahat itu kepadaku Ma? Apa kita pernah melakukan sesuatu kepadanya sehingga dia dengan tega membunuh Papa kandungku? Tapi kenapa saat pertama kali aku terbangun dia terlihat begitu baik kepadaku?" Tanya Nadhira dengan sedihnya.
"Mama juga tidak tau Dhira, kenapa dia tega melakukan itu kepada Kita, dia hanya ingin memanfaatkamu saja Dhira, jadi jangan pernah mempercayai ucapannya, mungkin dia hanya bersikap manis didepanmu saja"
"Dia sudah membunuh Papaku, aku tidak bisa membiarkannya begitu saja Ma, lelaki itu sangat jahat" Ucap Nadhira sambil mengepalkan kedua tangannya mendengar ucapan Sena.
"Sudah Dhira, lupakan saja soal balas dendam itu, kita tidak akan pernah bisa berbuat apa apa".
Sena merasa senang ketika Nadhira yang hilang ingatan mampu terpengaruh oleh ucapan ucapannya, dan perlahan lahan Nadhira membenci Ayah kandungnya sendiri itulah yang menjadi tujuan Sena untuk menghasut Nadhira.
"Aku tidak akan membiarkan orang yang telah merusak kebahagiaan keluargaku hidup bahagia Ma! Selama aku masih hidup, aku akan melakukan apapun asalkan orang itu merasakan apa yang aku rasakan Ma! Mama tenang saja, aku tidak akan pernah melepaskan laki laki itu, dia harus bertanggung jawab dengan apa yang telah dia lakukan kepada kita" Ucap Nadhira dengan tegasnya.
"Mama merasa senang karena kau dapat kembali Nak, tidak ada kebahagiaan lain selain dirimu yang sudah ditemukan" Ucap Sena.
Sena merasa bahagia ketika melihat Nadhira membenci Papa kandungnya sendiri seperti ini, dan ketika Nadhira tidak melihat keadahnya Sena tersenyum dengan liciknya akan tetapi ketika Nadhira menoleh kearah wajah liciknya seketika berubah menjadi senyuman kebahagiaan.
Begitu banyak ingatan yang telah ia lupakan mengenai keluarganya, Nadhira tidak menyangka orang yang pertama kali ia lihat adalah orang yang telah memisahkan dirinya dari Papa kandungnya, dari ucapan Sena, rasa benci kepada Rendi didalam hati Nadhira mulai tumbuh.
"Ma, boleh aku bertanya sesuatu?".
"Boleh Dhira, Dhira mau bertanya tentang apa kepada Mama?".
"Siapa wanita yang masuk kedalam kamar ini tadi?".
"Maksud kamu Bi Ira? Dia adalah pembantu rumah tangga kita Dhira, tidak penting kau mengingatnya atau tidak dia bukan orang yang baik, dia bersikap seperti itu hanya ketika berada didepanmu saja".
"Tapi kenapa orang itu merasa dekat denganku?".
"Dia hanya berpura pura dekat denganmu Dhira, dan memanfaatkanmu saja Dhira, dia bersikap seperti itu supaya kau memberikan apa yang ia inginkan dari dirimu, kau kan anak orang kaya jadi dia berusaha untuk mendekatimu saja".
"Tapi kenapa hati kecilku merasa bahwa aku begitu dekat dengannya Ma? Aku merasa pernah dekat dengan orang itu, tapi aku lupa semuanya, apakah dulu aku pernah begitu dekat dengannya Ma?" Tanya Nadhira dengan ekspresi sedihnya.
"Dulu kau memang begitu dekat dengannya, karena kau terperangkap oleh rayuannya, tetapi dia memanfaatkan kebaikanmu itu, sebelum kau menghilang waktu itu, kau sempat berselisih dengannya dan kau sangat marah kepadanya, jangan sampai hilangnya ingatanmu itu membuatmu kembali masuk dalam rayuannya".
"Pembantu itu kurang ajar sekali ya Ma! Aku tidak akan terjebak dalam rayuannya lagi, pantas saja dia berkata seperti itu kepadaku, ternyata dia hanya memanfaatkan kesempatan ini saja karena aku telah melupakan tentang apa yang terjadi pada diriku selama ini".
"Untunglah kau cepat sadar Dhira".
Sena berhasil menghasut Nadhira dan memutar balikkan semua fakta yang ada, Sena merasa bahwa Nadhira akan menjadi kaki tangannya untuk melakukan sesuatu yang ia inginkan, dan Sena bisa memanfaatkan kesempatan ini untuk membalaskan dendamnya.
...Jangan lupa like dan dukungannya 🥰...
...Terima kasih ...
__ADS_1