
Theo dan Pak Mun terus mencari keberadaan dari Nadhira yang tiba tiba hilang dari tempat itu, mereka berdua sama sekali tidak menemukan tanda tanda keberadaan dari Nadhira dan bahkan suara Nadhira saja tidak mampu untuk mereka dengar.
Tanpa lelah dan menyerah, mereka terus mencari Nadhira disepanjang sisi yang ada digoa itu, dengan pelan pelan mereka melangkah karena Theo yakin bahwa masih ada anggota penjahat itu yang masih berjaga ditempat itu.
"Kemana lagi kita akan mencari Nadhira, disini sama sekali tidak ada jalan untuk menuju kebawah, bagaimana keadaan Nadhira sekarang, aku juga tidak mengetahuinya, apa yang harus kita lakukan Pak".
"Kita harus berusaha untuk mencarinya, aku juga takut terjadi sesuatu dengan Non Dhira".
Tanpa sengaja Theo bersandar pada sebuah dinding dan menyentuh sebuah tombol kecil yang sengaja disamarkan menjadi sebuah bebatuan, hal itu membuat terciptanya sebuah pintu hingga Theo terjatuh didalamnya.
Pak Mun sama sekali tidak menyadari bahwa Theo juga ikut hilang tiba tiba, Pak Mun terus melangkah maju tanpa memperhatikan belakangnya, setelah sekian lama berjalan ia baru menyadari bahwa Theo sudah tidak ada dibelakangnya.
"Hei dimana kau bocah! Jangan bermain petak umpet disini, ngak ada yang mau mencarinya nanti, bercandamu ngak lucu".
Pak Mun mencoba untuk mencari Theo dibelakangnya akan tetapi dirinya sama sekali tidak menemukan keberadaan dari Theo, karena kegelapan tempat itu membuat jarak pandang Pak Mun tidak terlalu jauh.
"Theo kau dimana, jangan bercanda deh, ini bukan waktunya untuk bercanda!"
Rasa ngeri sekaligus merinding segera menyelimuti tubuh Pak Mun, hal itu membuat Pak Mun bergidik ngeri, dan perlahan lahan Pak Mun mencoba untuk keluar dari tempat itu demi mencari bantuan dari luar goa tersebut.
Ketika Pak Mun sudah sampai diluar, ia begitu terkejut ketika melihat banyak orang yang telah berkumpul ditempat itu, melihat kedatangan Pak Mun membuat Ningsih berlari kearahnya.
"Gimana dengan mereka berdua?" Tanya Ningsih.
"Mereka hilang, aku tidak tau mereka kemana".
"Apa! Bagaimana bisa mereka menghilang tiba tiba seperti itu?" Tanya anak buah Theo kepada Pak Mun.
"Gawat, mereka dalam bahaya sekarang ini" Ucap Ningsih lirih.
"Ada apa?" Tanya Pak Mun keheranan.
"Mereka bilang kalau didalam sana ada sebuah bom yang siap untuk diledakkan saat ini juga, mereka dalam bahaya"
"Apa kenapa kalian baru memberitahukanku!"
"Bagaimana kami bisa memberitahu anda, sedangkan anda saja baru keluar dari sana".
Sementara disatu sisi Theo tengah terperangkap didalam sebuah ruangan yang lebih terang daripada sebelumnya karena begitu banyak obor didalamnya, ia dapat melihat dengan jelas seluruh ruangan yang ada didalamnya.
Theo terjatuh kelantai begitu keras, sehingga dia ingin sekali mengumpat akan tetapi pandangan segera tertuju kepada ruangan itu yang membuatnya tidak jadi mengumpat.
"Eh... Ruangan apa ini, mungkinkah ini ruangan utama ditempat ini".
Theo segera bangkit dan mengibas ngibaskan pakaiannya yang kini tengah berlumuran tanah kering, ia menatap sekeliling ruangan tersebut, ruangan itu terlihat seperti dapur yang penuh dengan makanan dan minuman didalamnya.
"Sepertinya ini ruang makan mereka selama di tempat pemakaman ini, aku harus keluar dari sini dan mencari Nadhira, tapi bagaimana caranya untuk keluar dari tempat ini?"
Theo terus mencari cara agar dirinya mampu untuk keluar dari tempat itu, akan tetapi sebelum dia melangkah dirinya samar samar mendengar suara Nadhira dikejauhan, ia menatap kearah sebuah meja yang ada ditepi ruangan itu.
"Dhira apa itu kamu? Kenapa tiba tiba aku mendengar suara Nadhira lirih, apa ditempat ini ada jalan menuju kebawah sana"
Theo segera mendekat kearah meja itu dan melihat bawah meja itu dengan cara memindahkannya dari tempat itu, tanpa sengaja dirinya menemukan sebuah jalan untuk menuju kebawah tempat itu, Theo segera bergegas menuruni tempat tersebut dan sampai di ujungnya.
Ketika dirinya sampai diujung anak tangga itu, ia begitu terkejut ketika melihat hanya ada tembok didepannya saja, tembok itu terlihat begitu kuat dan kokoh tanpa mampu untuk dirobohkan.
"Hanya tembok? Bagaimana bisa? Kenapa mereka membangun tempat ini kalau hanya berujung tembok saja, apa mungkin ini adalah pintu rahasia seperti sebelumnya yang membuatku berada ditempat ini".
Theo mencoba mencari cara agar dirinya mampu membuka pintu rahasia itu, menurutnya tembok itu adalah sebuah pintu yang sengaja disamarkan menjadi sebuah tembok yang sangat kokoh.
Sementara disatu sisi, Nadhira terus mencoba untuk mencari sesuatu yang mampu membebaskan Dwija dari tempat itu tanpa menyerah sedikitpun, ia tidak ingin pergi dari tempat itu hanya seorang diri tanpa adanya Dwija ikut bersama dengannya keluar dari tempat yang sangat mengerikan itu.
"Pasti ada cara untuk dapat membawa anda keluar dari tempat ini Pak".
"Tidak ada cara lain Dhira, sebaiknya kau segera pergi dari tempat ini sebelum mereka mengetahui kehadiranmu ditempat ini".
"Mereka semua talah ditangkap Pak, Bapak tidak perlu khawatir soal itu".
"Sebenarnya masih ada yang belum ditangkap Dhira, dan mereka masih berjaga disekitar sini, jika mereka mengetahuinya maka bom ini akan segera diledakkan oleh mereka secepatnya".
"Aku tidak mungkin meninggalkan anda dalam bahaya seperti ini Pak".
__ADS_1
"Tidak ada waktu lagi Dhira, segeralah keluar dari tempat ini sebelum semuanya terlambat".
Brakk...
Ditengah tengah kebingungannya seketika itu seseorang telah merobohkan sebuah tembok yang diduga sebagai jalan keluar dari tempat itu, suara itu membuat Nadhira memejamkan matanya, tanpa ia duga bahwa pelakunya adalah Theo yang telah datang ketempat itu.
"Akh... Ternyata benar tembok ini adalah sebuah pintu" Ucap Theo sambil menyengir kesakitan karena telah jatuh.
"Theo itu kamu?" Tanya Nadhira ketika mendengar keluhan dari Theo.
Theo segera menoleh kearah dimana suara Nadhira berasal, ia melihat bahwa Nadhira tengah berdiri menatapnya dengan bersimbah darah karena luka yang ada dikepalanya saat ini.
"Dhira, kau tidak apa apa?" Tanya Theo ketika melihat Nadhira dan segera bangkit menghadap kearah Nadhira berada.
"Aku tidak apa apa".
"Kau terluka Dhira, bagaimana bisa itu tidak apa apa? Sebaiknya kita segera keluar dan mengobati lukamu".
"Tidak Theo, kita harus menyelamatkan Pak Dwija terlebih dahulu".
"Pak Dwija?"
Nadhira menunjuk kearah dimana Dwija berada, sementara Theo mengikuti apa yang Nadhira tunjukkan itu, ia begitu terkejut ketika melihat sosok Dwija yang terikat dengan rapat dan terlihat sangat memperihatinkan karena begitu banyak luka yang ada ditubuhnya saat ini.
Ia tidak menyangka bahwa Dwija benar benar masih hidup sampai saat ini, Theo segera bergegas menuju ketempat dimana Dwija berada, Dwija terlihat begitu lemas saat ini seakan akan dirinya sudah tidak mampu lagi untuk bertahan lebih lama ditempat itu.
"Pak Dwija? Kau benar benar masih hidup?"
"Cepat bawa Dhira pergi dari sini!" Ucapnya dengan sangat lemah.
"Ada apa Pak?"
"Tempat ini tidak lama lagi akan meledak, cepat bawa dia pergi dari sini".
"Apa? Theo kita harus secepatnya menyelamatkan Pak Dwija, aku tidak ingin terjadi sesuatu dengan dia, kita sudah menemukannya tidak mungkin kan kita harus meninggalkannya juga".
"Tidak ada waktu lagi Dhira, kau harus pergi secepatnya dari tempat ini, jangan bertindak konyol untuk tetap ditempat ini" Ucap Dwija dengan susah payahnya menyuruh Nadhira untuk pergi.
Dwija menoleh kearah benda itu dan dapat terlihat bahwa adanya detikan dibenda tersebut yang berjalan mundur, itu artinya bom tersebut sudah dinyalakan dari jarak jauh.
"Gawat! Kalian harus meninggalkan tempat ini" Ucap Dwija dengan paniknya.
"Tapi Pak..."
"Dhira tidak ada waktu lagi untuk berdebat disini, selamatkan dirimu Dhira, jangan pedulikan aku".
"Aku tidak mungkin meninggalkan anda disini".
"Kau! Cepat bawa Dhira keluar dari tempat ini, selamatkan dia" Ucap Dwija sambil menatap tajam kearah Theo yang ada disamping Nadhira.
Theo yang juga melihat detikan itu hanya bisa berdiam diri, hanya ada waktu 5 menit sebelum bom itu akan meledak, sementara Dwija terus berteriak menyuruh keduanya untuk segera pergi meninggalkan tempat itu sebelum semuanya terlambat untuk disesali nantinya.
"Dhira, maafkan aku" Ucap Theo.
"Apa yang kau katakan Theo, kita harus menyelamatkan nyawa Pak Dwija".
"Tidak untuk saat ini Dhira, nyawamu lebih berarti saat ini, kita harus keluar".
"Tidak Theo, meskipun harus mati ditempat ini aku tidak masalah, asalkan aku sudah berusaha untuk menyelamatkan Pak Dwija".
"Jangan bertindak bodoh Dhira, kau sama saja dengan bunuh diri ditempat ini!" Ucap Dwija.
"Pak Dwija, maafkan aku, karena aku sama sekali tidak bisa menolong dirimu, mungkin ini adalah terakhir kalinya kita akan bertemu, tidurlah dengan tenang Pak, aku akan membawa Nadhira pergi dari tempat ini segera" Ucap Theo dengan sedihnya.
"Terima kasih, tolong jaga Nadhira"
"Baik Pak, sekali lagi aku minta maaf kepada anda".
"Theo, apa yang kau katakan? Kita harus menolong Pak Dwija" Ucap Nadhira dengan berlinang air mata.
"Maafkan aku Dhira".
__ADS_1
Tanpa basa basi Theo segera mengangkat tubuh Nadhira dan membawanya pergi dari tempat itu, Nadhira terus mencoba untuk melepaskan dirinya dari gendongan Theo akan tetapi Theo sama sekali tidak mempedulikan Nadhira yang terus memaksa untuk turun dari gendongannya.
"Theo apa yang kau lakukan! Lepaskan aku sekarang juga! Kau tidak bisa berbuat seperti ini kepadaku Theo, lepaskan aku!"
"Maafkan aku Dhira, aku tidak bisa melihatmu hancur ditempat ini".
"Theo aku mohon, selamatkan Pak Dwija"
"Aku tidak bisa melakukan itu Dhira, maafkan aku".
Nadhira mencoba untuk memukul dada Theo akan tetapi Theo sama sekali tidak melepaskan Nadhira dari gendongannya meskipun pukulan pukulan Nadhira itu begitu sangat menyakitinya.
Dwija merasa senang ketika Theo sudah membawa Nadhira pergi dari tempat itu, Dwija terasa begitu tenang saat ini meskipun detikan waktu itu terus berjalan mundur, Dwija sama sekali tidak takut untuk kehilangan nyawanya saat ini, ia merasa damai karena penyiksaannya akan berakhir sebentar lagi.
"Lia aku akan pergi menyusulmu, kau pasti akan senang ketika aku datang dengan membawakanmu sebuah kabar tentang Nadhira kepadamu, Dhira maafkan aku karena tidak mengatakan kepadamu yang sebenarnya, biarkan saja semuanya akan menjadi rahasia selamanya, Asyhadu an laa ilaaha illallaahu, wa asyhaduanna muhammadar rasuulullah".
Sebelum bom itu meledak, Allah berbaik hati sehingga Bliau mematikan Dwija terlebih dahulu, belum sempat ia merasakan sakitnya ledakan itu, Dwija sudah tiada dan menghembuskan nafas terakhirnya ditempat itu.
Setelah kepergian Nadhira dari tempat itu, Dwija mulai tidak sadarkan diri dan menghembuskan nafas terakhirnya ketika detikan itu menunjukkan dimenit ke 3 dari 5 menit terakhir.
Theo berusaha sebisa mungkin untuk membawa Nadhira pergi dari tempat itu, Nadhira terus menangis meminta untuk dilepaskan oleh Theo dan memukul Theo berkali kali, akan tetapi Theo sama sekali tidak menyerah dan tetap membawa Nadhira pergi dari tempat itu.
Theo segera membawa Nadhira keluar dari tempat itu, karena kelelahannya membuat tubuh Nadhira terlihat begitu lemah saat ini, ia hanya menatap kearah wajah Theo yang saat ini penuh dengan keringat demi dapat membawa Nadhira keluar dari tempat itu sebelum bom yang ada ditempat itu meledak begitu saja.
Duarr.....
Seketika itu juga terlihat sebuah ledakan begitu besar terjadi dimakam itu, seluruh penduduk begitu terkejut melihat ledakan itu, kepulan asap hitam mulai menyelimuti tempat itu akan tetapi tidak ada tanda tanda Nadhira dan Theo keluar dari tempat itu.
"Tidak! Jangan! Mereka belum keluar!" Teriak Ningsih dengan histerisnya.
"Ya Allah, Astaghfirullah hal azim".
Seluruh warga merasa terkejut dengan adanya ledakan yang sangat besar itu, mereka sangat cemas dengan keadaan Theo dan Nadhira yang masih berada didalam sana, ditengah tengah kepulan asap hitam itu, Theo keluar dengan Nadhira yang ada didalam gendongannya saat ini.
"Mereka selamat!" Teriak penduduk kegirangan ketika melihat Theo dan Nadhira.
Dengan perlahan lahan Theo mulai menurunkan Nadhira dari gendongannya, Nadhira melihat kearah pemakaman itu dengan berlinangan air mata, ledakan yang luar biasa itu pastilah dapat menghancurkan tubuh Dwija dalam sekejap.
"Pak Dwija! Tidak mungkin!" Teriak Nadhira.
"Dhira tenanglah" Ucap Theo yang juga menatap kearah pemakaman itu.
"Theo, bom itu sudah meledak, aku tidak bisa menyelamatkan nyawanya Theo hiks.. hiks.. hiks.."
"Kita doakan saja semoga Pak Dwija tenang dialam sana, dan ditempatkan ditempat terbaik disisi-Nya".
"Maafkan aku Pak, karena aku tidak bisa menyelamatkan dirimu dari ledakan ini" Tangis Nadhira terdengar sangat memilukan dan ia merasa sangat kehilangan.
Melihat Nadhira keluar dari tempat itu membuat Ningsih segera berlari kearah Nadhira untuk melihat keadaannya, Ningsih begitu terkejut ketika melihat Nadhira yang bersimbah darah dan air mata saat ini.
Luka yang ada dikening Nadhira belum mengering sepenuhnya, dan masih ada darah yang menetes keluar dari luka tersebut, Nadhira terlihat begitu lemah saat ini karena banyaknya darah yang keluar dari tubuhnya membuat wajah Nadhira terlihat begitu pucat pasih.
"Mbak Dhira, apa yang terjadi kepadamu?".
Melihat rasa khawatirnya Ningsih, hal itu membuat Nadhira menatap kearah Ningsih dengan tatapan kesedihan yang begitu mendalam, beberapa detik setelah menatap wajah Ningsih, Nadhira mulai tidak sadarkan diri didalam pelukan Theo.
"Dhira! Apa yang terjadi kepadamu, Dhira bangunlah! Dhira!" Theo menepuk pelan pipi Nadhira untuk menyadarkannya.
"Non, apa yang terjadi dengan dia, kenapa dia tidak sadarkan diri?" Tanya Pak Mun.
"Mbak Dhira, kau kenapa" Ucap Ningsih yang ada didekat Nadhira dan juga Theo.
"Tolong bantu aku mengangkat Nadhira".
"Bawa dia kerumah saya saja" Ucap Ningsih.
Beberapa orang langsung mengangkat tubuh Nadhira dan membawanya pergi menuju rumah Ningsih dan beberapa orang juga memapah tubuh Theo yang terlihat cukup kelelahan itu.
Mereka segera membawa Theo dan Nadhira menuju kerumah Ningsih, setelah sampai disana mereka segera membaringkan tubuh Nadhira ditempat tidur Ningsih sementara Theo dikasur ruang keluarga mereka.
...Jangan lupa like, coment dan dukungannya 🥰 Terima kasih...
__ADS_1