Apa Salahku Pa

Apa Salahku Pa
Maafkan Nadhira


__ADS_3

Pemuda itu yang mengaku sebagai Theo, segera mengajak Nadhira untuk duduk disebuah bangku yang tidak jauh dari tempat mereka berdiri saat ini agar mereka dapat mengobrol dengan santainya, Nadhira hanya mengangguk dan mengikutinya tanpa menolaknya sama sekali.


"Bagaimana kamu bisa hilang ingatan Dhira?"


"Kayak ngak kenal aja dengan sikap Nadhira, dia itu keras kepala, ngak bisa dibilangin, bandel, untung saja ada orang yang masih sabar dengan dirinya itu". Gerutu Nimas.


Mendengar omelan Nimas membuat Nadhira menatapnya dengan tajam, untung saja tidak ada yang bisa mendengar ucapan dari Nimas itu kalau tidak mungkin Nadhira akan merasa malu dengan ucapannya itu.


"Aku tidak tau, yang aku ingat hanya aku sudah berada didalam kamarku dan dikelilingi oleh keluargaku waktu itu, dan mereka bilang bahwa aku ditemukan dihalaman depan rumahku".


"Bagaimana itu bisa terjadi Dhira?".


"Aku juga tidak tau, Nadhira seperti apa orangnya?"


"Dia gadis yang baik, penyayang dan ramah terhadap semua orang yang ia temui, kita sering menghabiskan waktu bersama dikelas Dhira, apa kau juga tidak mengingatnya?".


Nadhira hanya menggelengkan kepalanya jangankan waktu SMP, waktu Nadhira sebelum menghilang saja dirinya sudah tidak mengingatnya apalagi waktu yang telah lama berlalu itu.


Nadhira selalu bersikap begitu baik didepan teman temannya sehingga Nadhira dikenal dengan wanita yang baik hati, sehingga ketika Nadhira mabuk hal itu membuat orang yang mengenali dirinya akan tidak mempercayai apa yang mereka dengar ataupun apa yan mereka lihat.


"Kenapa kau bisa melupakan semuanya Dhira, tapi mengapa kau masih mengingat sosok Rifki?". Tanya Theo dengan keheranan.


"Rifki? Kenapa nama itu tidak asing bagiku? Siapa Rifki?"


"Hah? Kau sungguh tidak mengenalinya sama sekali Dhira? Rifki adalah orang yang jahat Dhira, dia tega memisahkan kita berdua waktu itu, kau dan aku begitu dekat hingga Rifki menggunakan sesuatu untuk menarik perhatianmu seperti pelet dan lain sebagainya sehingga kamu bisa begitu terpikat olehnya waktu itu".


Nimas yang selalu berada disamping Nadhira tiba tiba melotot kerika mendengar ucapan Theo yang sedang memutar balikkan fakta dan Theo terlihat seperti sedang menjelek jelekkan Rifki didepan Nadhira saat ini.


"Kalau ada pesawat yang lewat disini, huh pasti sudah ketabrak tuh moncongnya yang tingginya selangit, kesel banget dengernya, bisa bisanya dia menjelek jelekkan nama Rifki dihadapan Nadhira lagi, mungkin ingin ku tabok pake sandal" Gerutu Nimas.


"Benarkah? Apakah aku pernah terkena peletnya?"


"Lebih mengerikan daripada pelet kau ini". Ucap Nimas lagi".


"Diam Nimas! Mulutmu bisa diam ngak sih? Mau nabok pake sandal? Emang kau punya sandal hem?" Batin Nadhira menjerit.


"Eleh,, kau pikir aku tidak punya sandal? Wahai manusia, bagaimana bisa Ratu iblis semiskin itu sampai sampai tidak bisa beli sandal".


"Bukan hanya terkena saja Dhira, tapi kau sudah terpengaruh olehnya juga buktinya kemarin disaat dirimu mabuk, kau terus saja memanggil namanya dan mengatakan bahwa kau merindukan dirinya".


"Memanggil namanya? Aku sama sekali tidak bisa mengingat kejadian malam itu, apa aku telah melakukan sesuatu ketika aku mabuk kemarin? Terakhir kali aku ingat aku sedang berada diclub malam dengan Adikku".


Pemuda yang mengaku bernama Theo itu begitu terkejut ketika mendengar bahwa gadis yang semalam membawa Nadhira masuk kedalam sebuah mobil adalah Adik dari Nadhira.


"Adikmu? Kau tidak melakukan sesuatu kok Dhir, untung saja aku bertemu dengan dirimu kemarin malam, mareka ingin membawamu kehotel dan menyerahkan dirimu kepada lelaki baj**ngan untuk dilecehkan, seandainya aku terlambat datang mungkin kau tidak akan bisa mempertahankan kesucianmu itu karena dalam keadaan mabuk".


"Apa yang kau katakan! Manda tidak akan melakukan itu, apa kau bisa membuktikan bahwa dirinya mau melakukan itu kepadaku?" Tanya Nadhira yang terlihat begitu terkejutnya.


"Yang kau sebut sebagai Adik, dia bukan orang yang baik, bagaimana bisa seorang Adik tega untuk menghancurkan masa depan dari Kakaknya dan memberikan Kakaknya kepada lelaki baj**gan".


"Manda tidak seperti itu".

__ADS_1


"Kau boleh tidak mempercayai diriku, tapi aku mengatakan hal yang sebenarnya terjadi malam itu, disaat kau sudah kehilangan kesadaran mereka mau membawamu pergi, tanpa sengaja aku mendengar semuanya dan aku langsung berusaha untuk membawamu pergi".


menceritakan tentang apa yang telah dilakukan oleh Clara dan juga Amanda kepada Nadhira, ketika Theo berada didalam sebuah cafe' dia tidak sengaja mendengar seseorang menyebutkan nama Nadhira. Theo segera menoleh kearah orang itu dan mendapati Clara sedang berbicara mengenai Nadhira yang ingin mereka jebak dan menghancurkan harta berharga seorang wanita.


Theo mendengarkan dengan teliti tentang rencana yang akan mereka buat untuk Nadhira, Theo bertekat untuk menggagalkan rencana itu, dan Theo juga terkejut ketika mendengar bahwa Nadhira telah hilang ingatan. Itu salah satu rencana yang sangat tepat untuk menghancurkan Nadhira karena Nadhira sendiri tidak bisa mengingat apa apa tentang jati dirinya yang sesungguhnya.


Setelah rencana selesai disusun dengan rapinya, mereka segera pergi dari cafe' itu meninggalkan Theo seorang diri yang masih berada disana, dan syukurlah mereka tidak mengetahui keberadaannya saat itu sehingga tidak ada yang mencurigai bahwa rencana mereka akan ada yang menggagalkannya.


"Aku hanya tidak mau, ada korban lagi dari kejahatan Clara, apalagi korban itu adalah dirimu Dhira, aku menolongmu hanya untuk meminta maaf kepadamu karena aku pernah melukai dirimu".


Mendengar cerita dari Theo seketika itu juga membuat Nadhira mengepalkan tangannya dengan begitu eratnya dan dapat dilihat bahwa beberapa kali Nadhira menghela nafasnya ketika mendengar cerita yang disampaikan oleh Theo.


"Aku hanya tidak menyangka bahwa Manda akan melakukan hal seperti itu kepadaku" Ucap Nadhira dengan mata yang sudah berair.


"Jika kau memiliki masalah, ceritakan kepadaku Dhira, aku akan membantu dirimu".


"Tidak apa apa, sebaiknya aku harus pulang, aku tidak ingin membuat Papa khawatir dengan diriku karena sejak kemarin aku belum pulang juga".


"Baiklah, mari aku antarkan kamu pulang".


"Tidak usah repot repot, aku hanya bisa mengucapkan terima kasih kepadamu Theo karena telah menolong diriku, dan aku juga minta maaf karena telah membuatmu kerepotan".


"Tidak masalah Dhira, apa kau serius mau pulang sendiri? Biar aku antarkan ya".


Nadhira segera berpamitan untuk pulang kepada Theo, ia tidak ingin merepotkan dirinya hanya untuk mengantarnya pulang, karena Nadhira masih mampu untuk berjalan pulang sendiri.


Theo hanya bisa pasrah dengan keinginan dari Nadhira yang tidak bisa ia bantah saat ini, Nadhira berjalan sangat jauh untuk dapat bertemu jalan raya, setelah sampai ditepi jalan raya Nadhira segera bergegas menghentikan sebuah angkutan umum dan segera naik ke angkutan umum tersebut menuju kearah rumahnya.


Detak jantung Nadhira perlahan lahan bertambah kencangnya ketika melihat bahwa posisinya saat ini semakin dekat dengan tempat tujuannya yakni rumahnya sendiri itu.


Nadhira begitu bingung dengan apa yang harus ia lakukan selanjutnya, Nadhira benar benar telah lalai malam ini dan dengan mudahnya ia meminum minuman beralkohol seperti itu. Ini adalah hari terberatnya karena ia telah melanggar aturan agama dan juga kepercayaan orang orang terdekatnya.


Angkutan umum yang telah ia naiki saat ini terdapat beberapa orang penumpang yang ada didalamnya, melihat Nadhira yang seakan akan tengah bersedih membuat penumpang yang ada didalamnya berpikir bahwa Nadhira tengah kabur dari rumah.


Bagaimana tidak mereka berpikir seperti itu, pakaian yang Nadhira gunakan tidak cocok dengan wajah polos tanpa makeup nya dan juga mereka dapat melihat sebuah kesedihan diwajah Nadhira dengan tubuhnya yang terus bergetar pelan.


Tak beberapa lama kemudian akhinya Nadhira sampai didepan rumahnya, Nadhira segera membayar ongkos angkutan umum tersebut, rumahnya itu nampak begitu sepi hingga Nadhira bergegas untuk masuk kedalam rumahnya.


Ketika dirinya berjalan dihalaman depan rumahnya, Nadhira seketika merasa takut untuk masuk kedalamnya, dirinya mengetahui bahwa Papanya tidak berangkat bekerja kali ini karena mobil yang digunakan oleh Papanya bekerja masih terparkir rapi ditempatnya itu artinya Rendi tidak pergi bekerja.


"Papa ada dirumah"


Dengan ragunya Nadhira segera mendekat kearah rumahnya, Nadhira perlahan lahan membuka pintu rumahnya dan mendapati sosok lelaki yang ia kenali sedang duduk dikursi ruang tamunya sambil menatap kearah Nadhira.


"Dari mana saja kamu!" Tanya Rendi ketika melihat Nadhira masuk kedalam rumah.


"A... Aku"


"Jawab Papa Dhira! Kemana kamu semalam pergi? Kenapa tidak pulang? Kamu mabuk?".


"Aku bisa jelaskan semuanya Pa".

__ADS_1


"Apa yang perlu kamu jelaskan kepada Papa? Pergi tanpa pamit apalagi kamu perginya ke club malam seperti itu dengan seorang lelaki pula, Papa sudah tau semuanya Dhira! Manda telah menceritakan semuanya kepada Papa dengan sangat jelas".


Ucapan Rendi seketika membuat Nadhira tidak mampu berkata kata lagi dihadapan Papanya, untuk beralasan saja dirinya sudah tidak mampu karena untuk membuktikan dirinya tidak bersalah perlu bukti bukti yang kuat.


"Dhira bisa menjelaskan semuanya Pa, Dhira benar benar tidak tau dengan apa yang terjadi, malam itu Manda datang menemuiku dan mengajakku untuk pergi diam diam, dia bilang bahwa temannya sedang mengadakan acara ulan tahun tapi Papa sama sekali tidak mengizinkan dia untuk pergi keacara itu".


"Manda bilang kamu yang mengajaknya keluar tapi Manda tidak mau, akhirnya kamu keluar sendiri dan Manda mengikutimu dengan diam diam".


"Tidak seperti itu Pa kejadiannya kemarin, Nadhira benar benar tidak ada niatan untuk pergi ketempat seperti itu".


"Entah siapa yang harus Papa percaya saat ini, Manda mengatakan bahwa Dhira pergi diam diam dari rumah dan dirinya mengikutinya tanpa sepengetahuan dirimu, tapi semua bukti bukti ini sudah jelas Dhira dan mengarah kepadamu".


"Bukti? Bukti apa yang Papa maksud itu?".


Rendi menyerahkan sebuah hp kepada Nadhira dan menyuruhnya untuk melihat gambar gambar yang ada dilayar hp itu, Nadhira menerima hp itu dengan tangan yang sedikit bergemetaran, Nadhira melihat gambar yang tertera dilayar hp itu.


"Ini".


"Kenapa kau seakan akan sangat menikmatinya Dhira? Katakan kepada Papa! Siapa yang harus Papa percayai kali ini Dhira".


Nadhira begitu terkejut ketika melihat setiap gambar yang ada dilayar hp itu, itu adalah foto dirinya yang berada di club malam dan sedang menari nari dengan para lelaki, tidak hanya itu saja akan tetapi foto selanjutnya membuat hampir lupa untuk bernafas, foto kedua adalah dimana dirinya sedang digendong oleh seorang pemuda dan pemuda itu membawa masuk kedalam mobil.


Semua bukti bukti yang diberikan oleh Amanda terlalu kuat untuk dibantah oleh Nadhira, tanpa Nadhira sadari bahwa Amanda dengan diam diam telah mengambil gambarnya dan memberikan foto foto itu kepada Rendi.


Amanda mengarang sebuah cerita yang dimana Nadhira lah yang menjadi pelakunya, Nadhira tidak memiliki bukti apapun untuk dapat membela dirinya sendiri saat ini. Sehingga Nadhira mengakui bahwa dirinya benar benar melakukan kesalahan dimalam itu, Papanya tidak akan dengan mudah untuk mempercayai ucapannya jadi Nadhira tidak bisa mengelak lagi.


"Jelaskan kepada Papa tentang semua ini Dhira! Apa yang telah kamu lakukan semalaman Dhira! Kenapa juga kamu tidak pulang malam ini?" Teriak Rendi kepada Nadhira.


Mendengar teriakan Rendi seketika membuat Nadhira menjatuhkan sebuah benda pipih yang ada ditangannya itu, Amanda benar benar telah menjebaknya kali ini akan tetapi Nadhira masih beruntung karena ada seseorang yang telah menyelamatkannya saat itu.


Nadhira tidak mampu mengeluarkan suaranya untuk menjawab ucapan dari Papanya karena disinilah Nadhira telah terbukti bersalah soal ini karena dengan bodohnya dirinya menari nari dengan riangnya ditempat seperti itu.


"Nadhira apa yang kamu pikirkan saat itu ha? Jawab pertanyaan Papa! Kenapa kamu bisa melakukan hal menjijikkan seperti itu, kenapa Dhira kenapa!".


Dapat terlihat Nadhira tengah menangis saat ini, dirinya tidak mampu mengatakan sesuatu kepada Rendi, karena ini adalah kesalahannya juga kenapa dirinya bisa melakukan hal seperti itu sebelumnya. Jika pun Nadhira membantah ucapan itu sekalipun dirinya tidak akan mampu lolos dari masalah yang ada dihadapannya sekarang karena Amanda memiliki bukti bukti yang jelas.


Rendi merasa begitu terpukul ketika mengetahui bahwa anak gadisnya melakukan hal seperti itu, apalagi sampai mabuk mabukan dan berjoget joget dengan banyak laki laki diluar sana.


Deraian air mata menghiasi wajah cantik Nadhira, Nadhira merasa begitu bersalah karena telah membuat seseorang merasa kecewa kepada dirinya dengan apa yang ia lakukan kemarin malam dan bahkan dirinya sama sekali tidak menyadarinya karena pengaruh dari minumam minuman itu.


"Ini tidak seperti apa yang Papa lihat" Ucap Nadhira pelan dan bahkan hampir tidak didengar.


"Katakan Dhira! Kenapa kamu melakukan itu, Kenapa Dhira kenapa? Jelaskan kepada Papa tentang semua ini Nak, jelaskan" Ucap Rendi dengan kedua mata yang mulai memerah.


"Maafkan Dhira Pa, Dhira salah".


"Dengan cara apa lagi Papa harus mendidikmu Nak, katakan apa yang harus Papa lakukan, katakan apa yang harus Papa lakukan untuk mendidikmu".


"Dhira minta maaf Pa, Dhira telah melakukan kesalahan".


Rendi memejamkan matanya ketika mendengar maaf yang Nadhira ucapkan saat ini, Rendi sama sekali tidak mengerti harus berbuat apa saat ini kepada anaknya itu, biar bagaimanapun Nadhira telah melakukan sebuah kesalahan yang sangat besar.

__ADS_1


...Jangan lupa like, coment, dan dukungannya 🥰...


...Terima kasih...


__ADS_2