
Sarah membolak balikkan makanan itu menggunakan sendok yang ada ditangannya saat ini, ia merasa sangat tidak yakin dengan makanan yang ada didepannya itu, sementara Nadhira dan Bi Ira sangat menikmatinya, hal itu membuat Sarah hanya menatap kearah keduanya dengan heran.
"Oma cobain deh, ini enak banget lo Oma, sayang banget kalau Oma ngak mau cobain makanan seenak ini sebelumnya".
"Oma jadi ngak mood deh dengan bentuk dari makanan ini, apa kau yakin ini ngak apa apa untuk dikonsumsi Dhira? Apa kau yakin juga bahwa makanan ini ngak berbahaya kalau dimakan? Bentuknya saja sudah tidak meyakinkan bagi Oma apalagi untuk dimakan".
"Kalau Oma ngak yakin ngak apa apa sih, Dhira juga tidak memaksa Oma untuk mencicipinya, awas menyesal nanti lo Oma, sini biar Dhira yang makan".
Nadhira segera mengambil piring dari Sarah, akan tetapi Sarah segera menghentikan Nadhira dan memilih untuk mencicipinya karena ia sedikit penasaran juga dengan makanan itu, bagaimana mungkin hal itu membuat Nadhira dan juga Bi Ira sangat menikmatinya.
"Ini ngak beracun kan?" Tanya Sarah.
"Ngak Oma, kenapa coba Nadhira memberi racun pada makanan itu Oma? Ngak mungkin kan Dhira mau meracuni Oma dengan makanan seperti ini sekarang, lagian Dhira sendiri juga ikut memakannya bersama sama, Ibu Ira juga ikut memakannya".
"Oma hanya takut saja, soalnya kan Oma ngak pernah makan makanan seperti ini sebelumnya, jadi Oma sedikit ragu dengan makanan ini Dhira".
"Awalnya Dhira juga begitu Oma, tapi setelah mencoba sendiri Dhira merasakan bahwa makanan ini sangat enak Oma, manis tapi tidak terlalu manis"
"Ini beneran ngak apa apa kalau dimakan? Makanan ini aman kan Dhira? Ngak ada bahan pengawet yang berbahaya kan?"
"Oma coba in deh biar pertanyaan Oma itu terjawab dengan sendirinya setelah Oma mencobanya, ini enak lo Oma, sayang sekali kalau belum pernah mencobanya".
Sarah pun mulai memasukkan makanan itu perlahan lahan kedalam mulutnya dengan rasa sedikit takut, akan tetapi setelah dirinya mulai mengunyahnya, ia membuka matanya lebar lebar ketika merasakan manisnya makanan itu.
"Enak banget Dhira, ngak terlalu manis juga, cocok banget dilidah Oma juga, Oma juga tidak merasakan kandungan pengawet didalam makanan ini" Ucapnya sambil menikmati makanan itu.
"Sudah ku bilang kan Oma, Oma pasti menyukainya nanti setelah memakannya, tapi ini hanya bisa bertahan sehari saja Oma, kalau besok sudah tidak seenak ini lagi".
"Kau benar Dhira".
Sarah tak henti hentinya untuk makan makanan itu, sesekali dirinya akan menuju enaknya makanan yang terbuat dari ubi kayu itu, melihat itu membuat Nadhira tersenyum tanpa henti kepada Sarah.
"Ibu bisa membuatnya?" Tanya Nadhira kepada Bi Ira yang juga sedang menikmati nakanan itu.
"Bisa Nak, ini bahannya cukup mudah kok tapi prosesnya sangat lama karena harus dijemur dulu".
"Hah.. Ibu bisa membuatnya? Kenapa tidak pernah membuatkanku sih Bu, padahal makanan ini sangat lezat sekali".
"Ibu pikir kau tidak akan menyukainya karena ini adalah makanan desa, kalau Dhira benar benar suka nanti Ibu buatkan khusus untuk Dhira".
"Aku tidak menyangka kalau Ibu bisa membuatnya, kalau tau dari dulu, aku ngak bakal nyuruh Pak Mun untuk belajar membuatnya tadi".
"Jadi Pak Mun belajar membuat makanan ini?" Tanya Bi Ira sambil menahan tawanya.
"Iya Bu, kapan kapan buatkan untukku ya Bu, makanan ini enak banget soalnya".
"Iya Nak, sesuai dengan permintaanmu".
Mereka pun menikmati makanan itu dengan lahapnya, setelah selesai makan mereka segera kembali kekamar masing masing kecuali Bi Ira yang membersihkan meja makan terlebih dahulu sebelum kembali kekamarnya.
Nadhira duduk didepan meja riasnya dan menata kearah wajahnya, ia melepaskan ikatan kain yang ada di kepalanya saat ini, terlihat begitu mengerikan luka tersebut karena daun yang membalutnya sudah menghitam sehingga membuat Nadhira segera membersihkannya dan menggantinya dengan perban.
"Dhira Dhira, kau terlihat begitu menyedihkan kalau seperti ini".
Nadhira segera merekatkan plester dan kain kasa kedalam lukanya itu dengan perlahan lahan, tidak lupa juga ia memberi obat kepada lukanya agar tidak terjadi infeksi yang tidak ia inginkan.
"Baru tau ya kalau wajahmu itu memang sangat menyedihkan untuk dilihat, apalagi dengan lukamu itu, sangat sangat merusak kecantikanmu Dhira, sekarang kau terlihat begitu menakutkan dengan luka yang ada di kepalamu" Cerocos Nimas seperti tidak ada rem nya.
"Biarlah, baru tau ya kalau aku selama ini terlihat begitu cantik? Lagian diriku juga tidak se mengerikan dirimu waktu itu, luka ini juga tidak separah dirimu yang bahkan enggan untuk dilihat".
"Asal kau tau saja, aku adalah mahluk tercantik di duniaku, tidak ada yang bisa menandingi kecantikan diriku ini" Ucap Nimas dengan sombongnya dan dibalas anggukan meremehkan khas dari Nadhira.
"Itu mungkin hanya bagi mereka saja, bukan bagi diriku kan?".
"Terserah dirimu, kau tidak pernah ingin melihat aku bahagia sedikit gitu? Selalu saja aku yang kau bully selama ini, aku hanya heran dengan dirimu saja Dhira".
"Heran? Heran kenapa dengan diriku? Apa ada yang aneh dengan diriku saat ini bagimu Nimas?" Ucap Nadhira sambil mendekat kearah Nimas yang sedang duduk dikasurnya.
"Bagaimana bisa kau direbutkan oleh dua orang laki laki sekaligus, kau begitu dekat dengan Theo sekarang, lalu bagaimana kalau Rifki kembali? Siapa yang akan kau pilih nantinya?".
"Aku tidak tau Nimas, sepertinya aku tidak bisa memilih antara keduanya, Theo sikapnya sedikit pemarah dan mudah terpancing emosi, sementara Rifki aku tidak yakin dia bisa berdamai dengan Theo karena masalalunya, aku juga tidak tau nantinya harus memilih siapa, bagiku keduanya bukanlah sebuah pilihan yang harus dipilih dan menyakiti yang tidak terpilih".
"Ikuti saja kata hatimu Dhira, beberapa hari ini aku melihat bahwa Theo juga berusaha untuk menjadi yang terbaik bagimu, jangan sampai salah memilih nantinya".
"Justru itu yang aku takutkan Nimas, dia rela melakukan itu untukku, tapi aku takut kalau aku tidak mampu untuk memenuhi keinginannya dan menyebabkan dirinya semakin buruk nantinya setelah tau bahwa aku tidak seperti apa yang ia harapkan sebelumnya".
"Sulit sekali pilihanmu itu Dhira".
__ADS_1
"Masa depan tidak ada yang tau Nimas, bisa saja kan Rifki kembali dengan membawa seseorang yang baru karena disana juga pasti dia akan menemukan yang terbaik daripada diriku, tapi aku hanya berharap bahwa aku dapat bertemu kembali dengan dirinya".
"Kau benar, kenapa aku tidak berpikir seperti itu, lagian kenapa juga aku yang ribet dengan urusan cintamu itu, bikin pusing saja".
"Emang siapa suruh dirimu untuk memikirkan hal itu? Lebih baik tidur saja, aku lelah Nimas".
"Tidurlah, aku ingin jalan jalan saja".
"Jangan jauh jauh, dan segeralah kembali setelah kau lelah jalan jalan".
"Kenapa emang? Tidak biasanya kau berkata seperti itu kepadaku".
"Entah kenapa aku tiba tiba memiliki firasat yang buruk saat ini".
"Tidurlah, aku akan berjaga diluar, mungkin itu hanya firasatmu saja karena kau kecapekan setelah beberapa hari tidak pulang kerumah".
"Baiklah, hati hati juga diluar sana, banyak yang menginginkan dirimu untuk ditundukkan".
"Nyatanya kau lebih cerewet daripada Oma mu itu, kalian memang sama, sama sama banyak bicara, tidak akan ada yang bisa menundukkan Ratu iblis seperti diriku, kau tenang saja".
"Aku hanya khawatir dengan dirimu saja Nimas, kapan lagi kau akan melihatku menghawatirkan dirimu seperti ini".
"Iyayaya... Terserah dirimu saja Dhira".
Nimas segera menghilang dari tempat itu, hal itu membuat Nadhira tersenyum sebentar setelah itu ia memutuskan untuk mengistirahatkan tubuhnya yang kelelahan itu diatas kasur yang begitu emuk dan terasa begitu nyaman baginya.
Nadhira masih kepikiran dengan apa yang dikatakan oleh Nimas soal Theo dan juga Rifki, bagaimana kalau keduanya bertemu nantinya, Theo tidak akan membiarkan Nadhira bersama dengan Rifki begitupun dengan Rifki nantinya.
Hingga pada akhirnya Nadhira tertidur dengan nyenyaknya, sementara Nimas sedang berkeliling diluar rumah Nadhira untuk memastikan keamanan lingkungan itu, Nimas memutuskan untuk duduk diatas pohon sambil memandang kearah kamar Nadhira yang berada didekatnya.
"Begini lebih baik daripada harus mendengarkan orang yang sangat cerewet itu, bisa bisa jiwaku menghilang begitu saja nantinya" Ucap Nimas.
Nimas terlihat begitu santainya diatas pohon, tak terasa waktu berlalu begitu cepatnya hingga matahari pagi mulai menyinari bumi nan indah itu, Nadhira mulai terbang dari tidurnya yang nyenyak dan dirinya segera bergegas kehalaman rumahnya untuk pemanasan pagi hari.
"Sampai kapan kau akan tidur diatas pohon seperti itu Nimas? Apa kau tidak bosan terus berada disana semalaman yang panjang itu" Ucap Nadhira yang melihat Nimas sedang begitu malasnya diatas pohon.
"Biarkan aku istirahat sejenak Dhira, aku lelah"
"Apa kau demam Nimas?"
"Kan aku hanya tanya saja, ngak biasanya kamu ngeluh lelah seperti itu".
Nimas mulai duduk ditempatnya saat ini, sementara Nadhira segera melakukan pemanasan sebelum dirinya melakukan gerakan untuk memperdalam ilmu tongkatnya, dikejauhan terlihat seseorang sedang mengawasi setiap pergerakan yang tengah dilakukan oleh Nadhira.
Nadhira merasakan bahwa ada yang tengah mengawasi dirinya dari kejauhan akan tetapi dirinya tidak melihat siapapun yang sedang menatap kearahnya, Nadhira merasa sangat tidak nyaman ketika merasakan bahwa ada seseorang yang sedang mengintai dirinya saat ini.
Ketika Nadhira merasakan bahwa adanya seseorang yang mendekat kearahnya, dia segera mengarahkan tongkat miliknya kepada orang itu, orang itu adalah Pak Santo yang tak sengaja lewat didekat Nadhira, ia begitu terkejut ketika Nadhira tiba tiba mengarah tongkatnya kepada dirinya.
"Aaa... Ada apa Non?" Tanya Pak Santo dengan terkejutnya karena tongkat yang dipegang oleh Nadhira saat ini sedang diarahkan kepadanya.
"Kenapa Pak Santo tiba tiba ada dibelakangku dengan diam diam seperti itu? Untung saja anda tidak terkena seranganku tadi".
"Bapak hanya tidak sengaja lewat saja Non, kenapa serangan Non Dhira sangat agresif sih hari ini? Apa ada yang sedang Non pikirkan?".
"Aku tiba tiba merasa tidak nyaman Pak, seperti ada yang tengah mengawasi diriku sejak tadi Pak, tapi entah dimana orang itu sekarang, aku berulang ulang kali mencarinya akan tetapi tidak ketemu juga".
"Mungkin hanya firasat Non Dhira saja kali, disini tidak ada siapa siapa kok Non".
"Entahlah Pak, sebaiknya Bapak periksa dulu, siapa tau ada orang yang ingin berniat jahat disekitar tempat ini, kita kan tidak tau nantinya akan terjadi seperti apa?".
"Baik Non, saya akan periksa lagi setelah ini".
Nadhira segera melanjutkan latihannya sementara Pak Santo segera berkeliling kembali dihalaman rumah Nadhira karena perintah dari atasannya itu, ia juga tidak ingin terjadi sesuatu dengan penghuni rumah tersebut atas keteledorannya sendiri.
Setelah beberapa gerakan dilakukan oleh Nadhira, Nadhira kembali berhenti karena merasa ada sesuatu yang tidak beres disekitarnya karena dirinya terus merasa ada seseorang yang tengah menatap kearahnya begitu lama akan tetapi dirinya sama sekali tidak melihat keberadaan dari orang lain ditempat itu sekarang ini.
"Ada apa Dhira? Kenapa kamu seperti tidak fokus untuk berlatih seperti itu? Apa ada yang sedang kau pikirkan sekarang?" Tanya Sarah ketika melihat Nadhira seperti sedang tidak fokus.
"Oma, sejak kapan Oma ada disini? Kenapa Oma tiba tiba datang kemari?" Tanya Nadhira ketika melihat Sarah berjalan kearahnya.
"Baru saja lewat, kenapa?" Tanya Sarah balik.
"Ngak apa apa kok Oma, hanya terkejut saja tiba tiba Oma datang kemari, ngak biasanya Oma ingin melihat aku berlatih".
"Ngak apa apa, Oma hanya ingin melihat cucu Oma berlatih beladiri saja, siapa tau Oma bisa beladiri seperti dirimu walau hanya melihat saja".
"Oma ingin belajar juga? Ayo Oma belajar bersama dengan diriku".
__ADS_1
"Ngak! Nanti encok Oma kambuh lagi".
"Ya sudah, Oma duduk saja".
Sarah segera duduk disebuah gazebo yang tidak jauh dari tempat dimana Nadhira sedang berlatih saat ini untuk melihat cucu kesayangannya yang sedang berlatih sebuah tongkat, melihat itu Nadhira segera melanjutkan latihannya kembali.
"Kenapa aku merasa ada yang sedang mengawasi diriku sekarang? Tapi siapa? Aku merasa sangat tidak nyaman jika terus terusan seperti ini" Batin Nadhira menjerit gelisah.
Nadhira tetap melanjutkan gerakannya meskipun dengan rasa yang tidak nyaman, hal itu membuat Sarah merasa heran dengan gerakan yang dilakukan oleh Nadhira yang baginya sedikit tidak lincah itu, hal itu membuat Sarah berdiri dari tempat duduknya.
"Ada apa dengan dirimu Dhira? Kenapa tidak selincah biasanya? Apa kamu sakit?".
"Aku ngak apa apa kok Oma, Oma ngak perlu begitu khawatir soal Dhira".
"Yakin kamu ngak apa apa? Kenapa Oma merasa ada yang berbeda darimu".
"Mungkin hanya perasaan Oma saja".
Nadhira kembali melanjutkan gerakannya dan hal itu membuat Sarah kembali duduk ditempatnya sebelumnya yakni disebuah gazebo yang tidak jauh dari tempat dimana Nadhira berlatih.
Tak beberapa lama kemudian Pak Santo mendatangi Nadhira yang sedang berlatih tongkat saat ini, melihat Pak Santo yang datang mendekatinya membuat Nadhira menghentikan latihannya lagi.
"Gimana Pak? Apa ada hal yang sangat mencurigakan disekitar sini yang Bapak temukan sebelumnya?" Tanya Nadhira.
"Ngak ada yang mencurigakan kok Non, ngak ada siapa siapa juga, saya sudah memutari halaman ini berkali kali tapi tidak menemukan apapun".
"Apa Bapak sudah memastikannya dengan baik baik Pak? Aku merasa tidak tenang Pak jika tidak menemukan orang itu Pak, sejak pagi tadi aku merasa ada yang sedang mengawasiku".
"Sudah saya priksa dengan sangat teliti halaman ini Non, tapi saya tidak menemukan apapun disekitar sini yang sangat mencurigakan".
"Baiklah, Bapak bisa kembali berjaga didepan, jangan katakan apapun kalau semisal Oma bertanya tentang aku yang merasa diawasi Pak, aku hanya takut Oma menjadi cemas karena ini".
"Baik Non".
"Oh iya Pak, tolong sekalian bawa kemari panahan yang telah aku beli sebelumnya Pak, aku taruh diruang keluarga".
"Baik Non".
Pak Santo segera bergegas kembali ketempatnya setelah selesai melapor kepada Nadhira tentang lingkungan disekitarnya, melihat itu membuat Sarah segera mendekat kearah Nadhira yang sedang berdiri dengan tegaknya saat ini.
"Kenapa Santo datang kemari?" Tanya Sarah.
"Ngak ada apa apa kok Oma, hanya aku suruh untuk mengambilkan busur dan anak panah yang ada didalam rumah saja Oma".
"Tapi kenapa dia terlihat begitu serius seperti itu? Apa ada yang kalian sembunyikan dariku?".
"Entahlah Oma, aku juga tidak tau soal itu Oma, mungkin Pak Santo hanya ingin buang air besar kali Oma jadi wajahnya terlihat begitu serius seperti itu".
"Bisa jadi, tapi aneh saja gitu lo".
"Aneh kenapa sih Oma? Nanti kalau Pak Santo datang kemari lagi, Oma tanya in deh kedia kenapa wajahnya berekreasi seserius itu".
"Iya nanti aku tanyakan kedia".
Tak beberapa lama kemudian datanglah Pak Santo sambil membawa benda yang diinginkan oleh Nadhira, hal itu membuat kecurigaan Sarah perlahan lahan menyusut dan dirinya tidak jadi menanyakan apa yang ingin ia ketahui itu, ia lebih memutuskan untuk kembali masuk kedalam rumah membiarkan Nadhira untuk berlatih bersama dengan Pak Santo.
Nadhira hanya tersenyum saja ketika melihat Omanya kembali masuk kedalam, hal itu membuatnya begitu leluasa untuk berlatih dihalaman luar rumahnya itu.
Nadhira mencoba untuk merasakan keberadaan dari orang yang saat ini sedang mengawasi dirinya itu, Nadhira sangat yakin bahwa orang itu berada di sekitar gerbang utama rumah tersebut.
"Pak bisa pasangkan sasaran kearah utara? Sepertinya anginnya bergerak ke utara"
"Bisa Non, ini mau dipasang dimana Non".
"Arah gerbang Pak".
Rumah Nadhira menghadap kearah utara sehingga Nadhira menyuruh Pak Santo untuk memasang sasaran anak panahnya disudut utara dan bertepatan dengan gerbang rumah Nadhira, Nadhira merasa bahwa orang yang sedang mengawasinya berada didepan gerbang rumahnya.
Pak Santo yang mengerti maksud dari Nadhira segera mengangguk dan segera memasang sasaran itu sesuai dengan keinginan dari Nadhira itu sendiri, tidak biasanya dia akan merasakan hal seperti itu sebelumnya sehingga dirinya harus bersiaga untuk sewaktu waktu ada orang yang berniat jahat kepada dirinya dan keluarganya itu.
"Sudah Non!" Ucap Pak Santo setelah selesai memasang sasaran itu.
"Baik Pak, Bapak bisa kembali ketempat Bapak".
"Iya Non".
...Jangan lupa like, coment dan dukungannya 🥰 Terima kasih ...
__ADS_1