Apa Salahku Pa

Apa Salahku Pa
Sadar


__ADS_3

Fajar segera duduk disamping Rifki, ia juga menatap kearah Nadhira, Fajar melihatnya secara teliti ia baru menyadari bahwa dalam keadaan tidak sadarkan diri pun Nadhira masih terlihat begitu cantiknya.


Tidak aneh jika Rifki bisa begitu terpikat kepadanya, Nadhira bukan hanya cantik, tetapi dia juga baik walaupun dia terlihat begitu mengerikan apabila ia marah maupun berkelahi, dan sayang sekali Nadhira begitu sulit untuk ditaklukkan apalagi untuk mencuri perhatiannya saja hanya Rifki yang mampu.


Fajar menatap Nadhira begitu lekatnya seakan akan ia tengah melihat seorang bidadari yang jatuh dari kayangan, Rifki segera menggerakkan tangannya untuk menutup mata Fajar agar tidak terus terusan menatap kearah Nadhira yang tidak sadarkan diri.


"Berani menatapnya lebih lama lagi, berkelahi kita". Ucap Rifki sambil berbisik dan memundurkan kepala Fajar yang tengah menatap Nadhira.


Fajar menyengir kepada Rifki sambil memegangi tangan Rifki yang berdarah karena luka yang dimiliki oleh Rifki, begitu pun dengan Rifki yang tengah tersenyum kecil kepada Fajar, seakan akan Rifki tidak rela ketika Nadhira ditatap seperti itu oleh laki laki lain selain dirinya.


"Berisik kau Rif, bukankah kalian berdua hanyalah sahabat? Kenapa aku tidak boleh menjadi kekasihnya, dia begitu cantik".


"Karena dia sahabatku, aku harus menjaganya dengan baik, dari seseorang yang terus memandanginya".


Fajar menampakkan wajah cemberutnya kepada Rifki, Rifki mah masa bodoh dengan hal itu, tak beberapa lama kemudian datanglah Rahma sambil membawakan beberapa obat ditangannya untuk mengobati luka Rifki dan juga minyak kayu putih untuk Nadhira.


Rifki segera mengambil obat itu dari tangan Rahma dan segera mengobati luka yang ada ditangannya, sementara Rahma mengoleskan minyak kayu putih dikening, telinga, dan juga hidung agar Nadhira menciumnya dan sadarkan diri dari pingsannya.


Setelah selesai mengobati luka yang ada ditangannya, Rifki segera memfokuskan dirinya kepada Nadhira yang tak kunjung sadarkan diri, Rifki segera memeriksa denyut nadinya dan juga energi permata yang ada di dalam tubuh Nadhira.


"Detaknya normal, tapi mengapa dia belum bangun". Batin Rifki.


"Kenapa dia masih belum sadar juga Rif?". Tanya Rahma kepada Rifki.


"Sebentar lagi pasti akan bangun". Ucap Rifki dengan yakinnya.


Nimas dan Raka yang melihat Nadhira belum juga sadarkan diri hanya merasa bingung, Nimas memejamkan matanya dan mengalirkan sebuah energi kepada permata itu, Nimas dapat merasakan bahwa energi permata itu begitu lemahnya akibat kejadian yang Nadhira alami siang ini.


Rifki mengusap pipi Nadhira dengan pelannya, tak beberapa lama kemudian terlihat sebuah kerutan di dahi Nadhira, pertanda bahwa Nadhira sudah sadarkan diri.


Nadhira menggerakkan tangannya untuk memegangi kepalanya yang terasa begitu pusing, Rifki lalu membantu Nadhira untuk membangkitkannya dari tidurnya diatas meja.


"Nadhira kamu ngak papa?". Tanya Rifki dengan begitu khawatirnya.


"Apa yang terjadi denganku Rif? Kepalaku begitu pusing saat ini". Nadhira masih memejamkan matanya sambil memegangi kepalanya.


Perlahan lahan Nadhira mulai membuka matanya dan memperhatikan sekelilingnya, semua temannya saat ini sedang memperhatikannya dan pandangan semuanya tertuju kepada Nadhira yang baru saja terbangun dari pingsannya.


Rifki segera membuka tas milik Nadhira dan mengambilkan botol minum milik Nadhira agar Nadhira segera meminumnya untuk menenangkan pikirannya yang sedang kacau saat ini.


"Minum dulu Dhira, jangan lupa baca bismillah".


Nadhira menuruti apa yang dikatakan oleh Rifki, Nadhira meminumnya perlahan lahan dengan bantuan Rifki yang memegangi botol minumnya tersebut.


Setelah itu Rifki memijat tangan dan kening Nadhira untuk mengurangi rasa sakit kepala yang Nadhira rasakan saat ini, Nadhira tidak mengetahui apa yang terjadi kepadanya, terakhir kali yang ia ingat ia masih berbincang bincang bersama dengan Fajar tiba tiba dadanya terasa begitu nyeri.


Ia menatap kearah Rahma yang sedang menatapnya dengan tatapan yang mencurigakan, Rahma yang ditatap oleh Nadhira segera duduk didepan bangku Nadhira dan menghadapkan wajahnya kearah Nadhira.


"Apakah kau adalah Nadhira yang asli?". Tanya Rahma yang langsung membuat Nadhira terkejut.


"Shuttt....". Rifki menyuruh Rahma untuk diam sambil menempelkan jarinya diujung bibirnya, pertanyaan seperti itu sebaiknya tidak dipertanyakan terlebih dahulu apalagi Nadhira baru saja sadar.


"Apa yang kau katakan, Ma?". Tanya Nadhira.


Melihat kode yang diberikan oleh Rifki membuat Rahma memutuskan untuk kembali kebangkunya daripada harus berhadapan dengan kedua orang itu, dengan segera mungkin Rahma menjauh.


"Sudah jangan dipikirkan, tenangkan dirimu dulu, setelah tenang aku akan menceritakan segalanya kepadamu nanti". Sela Rifki.

__ADS_1


Nadhira mengangguk mengiyakan apa yang dikatakan oleh Rifki, pandangan Nadhira tertuju kepada kedua tangan Rifki yang masih terlihat sebuah bercak darah yang hampir menetes, luka itu sudah diobati oleh Rifki tetapi bercaknya tidak akan mudah hilang dalam waktu yang cepat.


Ketika Rifki menyadari tatapan Nadhira yang tertuju kepada kedua tangan, Rifki segera menyembunyikan tangannya dibalik punggungnya agar Nadhira tidak menatap luka itu terlalu lama.


"Apa yang terjadi denganmu Rif?". Tanya Nadhira ketika tak sengaja melihat tangan Rifki yang terluka.


"Em... ini .. Tidak papa kok Dhir". Jawab Rifki beralasan.


"Jujur!!".


"Luka kecil seperti ini sudah biasa Nadhira, nanti juga bakal sembuh sendiri, lagian sudah aku obati juga".


"Apa itu disebabkan olehku?".


"Tidak, jangan pikirkan hal seperti itu, itu juga bukan atas kemauanmu sendiri, tubuhmu dirasuki jadi itu bukan salahmu, jangan salahkan dirimu sendiri".


Wajah Nadhira nampak begitu lesu mendengar perkataan Rifki, biar bagaimanapun juga luka itu tercipta karena tubuhnya, meskipun dalam keadaan tidak sadarkan diri sekalipun tetapi luka itu tetaplah Nadhira yang lakukan.


Rifki menarik dagu Nadhira agar Nadhira menoleh kepadanya, karena wajah Nadhira yang terlihat begitu kusut dan rasa bersalah yang mendalam kepada Rifki, sehingga Rifki menyuruhnya untuk menatap kedua matanya.


"Sudah, kamu ngak salah kok Dhira, lagian ini juga ngak sakit kok, kan aku laki laki yang kuat.. hehe". Rifki tertawa kepada Nadhira agar Nadhira ikut tertawa karenanya.


"Ngak usah bercanda deh Rif".


"Siapa juga yang bercanda!! Kan aku cuma pengennya kamu senyum, udah itu aja".


Nadhira tersenyum dengan tidak ikhlasnya kepada Rifki, melinat itu Rifki tertawa balik kepada Nadhira, tetapi tawa itu tidak berlangsung lama karena Rifki tiba tiba merasakan sebuah denyutan didadanya.


Denyutan itu perlahan lahan terasa seperti kesemutan diarea jantungnya, yang menciptakan sebuah rasa sakit yang semakin lama semakin terasa, tetapi Rifki menciptakan kembali senyuman diwajahnya yang tadinya hilang.


"Kamu kenapa Rif?". Nadhira yang menyadari perubahan diwajah Rifki.


"Tapi Rif!!!".


"Apa kamu mau ikut kekamar mandi cowok? Kalo mau ayo". Ajak Rifki.


"Ngak deh, yaudah cepat pergi!!".


Nadhira segera mengusir Rifki pergi dari kelas itu, Rifki yang diusir seperti itu hanya bisa tersenyum sambil menahan sakitnya, wajah Nadhira yang sedang cemberut membuat Rifki mampu mengeluarkan senyumannya.


Rifki tersenyum kepada Nadhira yang sedang cemberut saat ini, setelah membalikkan badannya senyum diwajah Rifki mulai memudar kembali dan berubah menjadi ekspresi wajah kesakitan. Rifki memegangi dadanya yang terasa sakit, rasanya ia ingin sekali muntah, hal itu membuat Rifki segera bergegas pergi.


Setelah keluar dari kelasnya, Rifki segera berlari menuju kekamar mandi yang jaraknya lumayan jauh dari kelasnya, diikuti oleh Raka yang juga berada dibelakangnya saat ini.


Setelah sampai didepan kamar mandi, Rifki segera mendobrak pintu tersebut dan menguncinya dari dalam, siswa laki laki yang melihat kejadian itu hanya bisa terkejut dengan apa yang dilakukan oleh Rifki, mereka memilih untuk kembali kekelas mereka masing masing.


Huek.. Huek..


Tiba tiba Rifki termuntah darah didalam kamar mandi itu, darah yang warnanya begitu pekat kehitaman keluar dari mulutnya, dapat terlihat setetes darah yang mengalir diujung bibirnya, tubuhnya penuh dengan keringat dingin yang terus mengalir, Rifki mengusap darah yang ada dibibirnya menggunakan ibu jarinya, setelah itu ia membasuh mukanya.


"Akh... Energi permata itu benar benar kuat, bagaimana bisa ada energi seperti itu, benar benar membahayakan". Guman Rifki.


"Kamu ngak papa Rif?". Ucap Raka yang tiba tiba muncul disamping Rifki.


"Ngak papa, hanya saja perlu mengeluarkan energi permata itu yang berhasil masuk kedalam tubuhku". Ucap Rifki sambil menahan rasa sakitnya.


"Tapi mengapa energi itu langsung hilang ketika aku membantumu tadi? Apakah energi itu tidak ngaruh kepadaku?".

__ADS_1


"Kau kan mahluk gaib, bagaimana mungkin itu berpengaruh kepadamu!!!". Ucap Rifki dengan geramnya kepasa Raka.


"Yayaya... Jangan marah marah gitu juga kali, nanti tenagamu makin berkurang baru tau rasa".


Raka segera membantu Rifki untuk mengeluarkan sisa energi permata yang ada didalam tubuh Rifki, Rifki memejamkan matanya karena merasakan sebuah energi yang dicabut dari dalam dirinya.


"Rif, apa kau merasakan apa yang aku rasakan?". Tanya Raka tiba tiba ketika ia berusaha untuk menghilangkan energi permata.


"Tidak!!".


"Aku merasakan bahwa khodam penjagamu tidak mengizinkan diriku untuk melakukan ini, aku merasakan sebuah energi yang menolak apa yang aku lakukan... ".


Belum selesai Raka mengucapkan hal itu, rohnya segera terpental dari tubuh Rifki dengan tiba tiba, Rifki mulai membuka matanya ketika ia merasakan sesuatu dalam dirinya, tiba tiba sosok macan putih mengitari tubuh Rifki.


*****


Nadhira sedang duduk dibangkunya sambil membaca buku milik Rifki, melihat Rifki yang pergi meninggalkan Nadhira, membuat Rahma segera mendatanginya, meskipun dirinya agak takut karena Nadhira habis kerasukan tadi tetapi bagi Rahma, Nadhira adalah sahabat yang baik untuknya.


Melihat Rahma yang datang mendekatinya ia segera menaruh bukunya kembali, Rahma langsung duduk disebelahnya.


"Nadhira kenapa kamu tadi bisa kerasukan seperti itu?". Tanya Rahma.


"Aku ngak tau, emang tadi apa saja yang telah aku lakukan?".


"Kamu berteriak histeris Dhira, kamu juga menantang berkelahi dengan Rifki, sampai sampai membuat para guru kerepotan karenamu yang terus memberontak".


Rahma menceritakan mengenai Nadhira selama dirinya tidak sadarkan diri, sampai sampai sifat Nadhira berubah tiba tiba.


"Rifki bilang, itu bukan dirimu, tetapi ada mahluk lain yang mengendalikanmu dan mengatakan bahwa dirimu baik baik saja".


"Itu aku Nadhira". Ucap Nimas yang dapat didengarkan oleh Nadhira seorang.


Nadhira menoleh mencari sumber suara tersebut, hal itu membuat Rahma bertanya tanya mengenai apa yang dilakukan oleh Nadhira, Nadhira masih saja tidak bisa melihat sosok yang terus saja berbicara kepadanya yang tanpa rupa itu.


"Dan Rifki beberapa kali berteriak memanggil nama Nimas, emang kamu tau siapa itu Nimas?".


"Aku tau, tapi aku tidak bisa melihat sosok itu, dan aku hanya bisa mendengarnya ketika ia berbicara denganku disampingku".


"Jadi yang dikatakan Rifki itu benar?". Rahma bertanya sambil membuka matanya lebar lebar ketika mendengar jawaban dari Nadhira.


"Emang apa yang dia katakan?".


"Dia bilang, dia mampu melihat hal hal gaib, ya seperti indra keenamnya terbuka".


"Iya, Rifki memang mampu melihat hal hal yang diluar nalar manusia biasa, sejak kecil dia sudah mampu melihat hal hal seperti itu, dia juga bisa melihat kebohongan seseorang dengan begitu jelasnya tanpa harus mengetahui kebenarannya".


Mendengar kebenaran itu membuat Rahma harus berpikir ulang ketika ia berhadapan dengan sosok seperti Rifki, orang yang pandai dalam hal seperti itu biasanya adalah orang yang paling ditakuti karena bisa saja dia menyuruh mahluk gaib untuk mencelakai orang yang membuatnya marah dan sebagainya.


Tanpa Rahma ketahui bahwa orang yang seperti itu tidak akan mampu mengendalikan mahluk halus untuk melakukan apapun kemauannya tanpa ada konsekuensi yang harus mereka tanggung selanjutnya, bukan hal mudah untuk bisa menaklukkan mereka karena membutuhkan tumbal dan sebagainya.


Rifki memang mampu melihatnya tetapi bukan berarti Rifki mampu untuk mengendalikannya, karena setiap mahluk gaib memiliki pantangannya tersendiri, memiliki karakternya masing masing, sama halnya seperti watak manusia ada yang jahat, ada yang pemarah, ada yang keras kepala, ada yang baik, dan bahkan ada yang suka jahil.


Fajar yang mendengar penjelasan dari Nadhira kepada Rahma segera merapatkan dirinya kepada Nadhira agar tidak terlewat satu kebenaran pun mengenai orang seperti Rifki.


"Menjadi sosok seperti Rifki itu tidak mudah, ia harus bisa beradaptasi dengan sekitarnya karena perbedaan antara dirinya dan yang lainnya, orang seperti itu bukan untuk ditakuti tetapi didukung dan disemangati biar bagaimanapun itu adalah takdirnya bukan kemauannya sendiri".


"Kamu benar Dhira, selama aku berada didekat Rifki, aku tidak pernah merasa khawatir, ya meskipun aku sedikit takut ketika melihatnya berbicara sendiri, tapi jujur pasti berat baginya ketika ia kemana mana harus melihat sosok yang mengerikan dan berbagai macam wujud". Tambah Fajar.

__ADS_1


Nimas yang juga ikut serta mendengarkan apa yang dikatakan Nadhira hanya bisa tersenyum dengan sendirinya, nampaknya pengalamannya beberapa hari terakhir ini berhasil membuatnya bertambah pintar sedikit meskipun tidak terlalu banyak menurut Nimas.


__ADS_2