
Perkelahian itu tidak terelakkan lagi, dihutan ini Kuswanto dan Danuarta sedang beradu kekuatan, karena luka lama yang dialami Kuswanto membuat gerakan yang dilakukan oleh Kuswanto sedikit melambat dari pada sebelumnya.
Karena hal itu membuat Danuarta mampu untuk menghadapinya dengan sepenuh tenaganya, biar bagaimanapun Danuarta tidak mampu untuk mengalahkan kekuatan dari Pangeran Kian, akan tetapi karena luka dalam yang dialami oleh Kuswanto membuat luka tersebut kembali kambuh lagi dan jauh lebih parah daripada sebelumnya.
Bhukk...
Kuswanto mendapatkan sebuah pukulan yang begitu kuat akibat dari pertarungan itu, demi melindungi Panji dan juga Rahayu istrinya itu dari serangan yang tiba tiba diberikan oleh pemuda yang ada didepannya itu, akan tetapi Kuswanto masih mampu untuk menahannya karena tekatnya yang kuat untuk dapat melindungi kedua orang yang ia cintai itu.
"Mas kau tidak apa apa?". Tanya Rahayu dengan begitu khawatirnya kepada suaminya dan segera bergegas kearah suaminya.
"Aku tidak apa apa, Nak bawa Ibumu pergi dari sini!". Perintah Kuswanto kepada Panji.
"Tapi Ayah".
"Sudah tidak ada waktu untuk berpikir lagi Nak, selamatkan nyawa Ibumu". Ucapnya dengan menahan rasa sakit didadanya.
"Aku tidak mau Mas, jangan paksa aku untuk meninggalkanmu". Ucap Rahayu dengan linangan air mata.
"Cepat bawa Ibumu pergi dari sini!!!". Kuswanto segera mendorong tubuh Panji untuk menjauh darinya dan membawa Ibunya pergi dari tempat itu.
"Tidak Mas!! Jika harus ada yang mati disini, aku lah yang harus menjadi korban pertamanya, aku tidak akan bisa hidup tanpa dirimu". Tolak Rahayu.
"Jangan pedulikan aku Panji!! Cepat bawa Ibumu pergi sekarang!". Teriak Kuswanto kepada Panji agar Panji segera membawa istrinya pergi dari tempat itu.
Panji terus berusaha memaksa Ibunya untuk pergi dari tempat itu agar Ibunya selamat dari kejadian seperti itu, akan tetapi Rahayu terus memberontak untuk menolaknya dan memaksakan diri untuk tetap berdiri disamping suaminya yang masih tetap bertarung dengan Danuarta.
Rahayu sama sekali tidak mempedulikan ucapan dari Kuswanto yang menyuruhnya untuk pergi dari tepat itu dan tetap berdiri ditempat itu bersama dengan suami dan juga anaknya untuk melawan kekuatan jahat yang dimiliki oleh Danuarta tersebut.
Karena Rahayu yang tidak mau pergi dari tempat itu membuat perhatian dari Kuswanto terpecahkan antara fokusnya kepada serangan itu dan fokusnya kepada sang istri tercintanya itu.
"Mas!!!".
Duarr... Bhukk....
"Akh.."
Danuarta melontarkan sebuah pukulan gaib lagi kearah Kuswanto akan tetapi Rahayu segera menghalanginya dengan tubuhnya sehingga pukulan tersebut terkena kedadanya dan menghasilkan sebuah ledakan yang cukup nyaring hal itu membuat Rahayu yang hanya manusia biasa itu tewas seketika.
Tubuh Rahayu terpental begitu jauhnya, sehingga Kuswanto segera mengejarnya untuk menangkap tubuh wanita yang paling ia sayangi itu.
"Rahayu... ". Teriak Kuswanto dengan terkejutnya.
"Ibuuu.....". Teriak Panji dengan melebarkan kedua matanya ketika melihat Ibunya sudah tidak bernyawa dihadapannya saat ini.
Kuswanto segera menangkap tubuh istrinya yang hampir terjatuh ketanah dan memeluknya dengan erat, diujung bibir Rahayu terdapat darah yang mengalir keluar dari mulutnya karena pukulan yang begitu keras itu.
Kuswanto mengenggam tangan Rahayu dengan eratnya, ia tidak menyangka bahwa istrinya yang sangat ia cintai itu akan pergi terlebih dahulu daripada dirinya, ia juga tidak menyangka bahwa putra dari sahabat dan orang kepercayaannya telah merenggut nyawa dari istrinya yang paling ia sayangi.
"Mas". Ucap Rahayu dengan lirihnya ketika merasakan tubuh suaminya yang memeluknya dengan eratnya.
"Kenapa kau lakukan hal itu sayang, kenapa kau menghalangi pukulan itu, seharusnya aku yang berada diposisimu sekarang". Ucap Kuswanto dengan berlinangan air mata.
"Ha nya... Ini... Ya ng... A ku.. bisa". Rahayu berusaha untuk mengatakan sesuatu kepada Kuswanto.
Seandainya dirinya bisa berbicara, dia akan mengatakan "Hanya ini yang aku bisa lakukan untukmu Mas, terima kasih atas segalanya yang telah kau berikan kepadaku, terima kasih karena selama ini telah melindungiku, memberikan cinta kepadaku, aku sama sekali tidak menyesalinya karena telah mengorbankan nyawaku hanya untukmu, aku pernah berdoa kepada sang Ilahi agar aku dijemput terlebih dahulu sebelum dirimu, karena aku tidak bisa hidup tanpa adanya dirimu". Begitulah yang ingin Rahayu katakan kepada Kuswanto.
Darah mengalir keluar dari mulut Rahayu karena pukulan yang begitu dahsyat ia terima begitu saja, seiring dengan dibacanya kalimat syahadat yang dibimbing oleh Kuswanto, Rahayu mulai memejamkan matanya untuk selama lamanya.
"Sayang, bagunlah, jangan tinggalkan aku sendirian seperti ini aku mohon padamu, maafkan aku yang tidak bisa melindungi dirimu, bertahanlah sayang aku akan segera menyusulmu". Kuswanto meneteskan air matanya hingga jatuh kekening Rahayu.
"Ibu jangan tinggalkan aku". Tangis Panji pecah dan segera menabrakkan tubuhnya ketubuh Ibunya.
__ADS_1
Pertarungan untuk pembunuhan itu telah merenggut nyawa Rahayu dengan begitu tragisnya, melihat istrinya yang sudah tidak bernyawa lagi membuat Kuswanto begitu murka dengan hal itu sampai akhinya pikirannya tidak mampu berpikir dengan jernihnya karena orang yang paling ia sayangi telah tiada untuk selama lamanya.
"DANUARTA.... Arghhhh......". Teriak Kuswanto dengan murkanya.
Kuswanto segera menyerang kearah Danuarta dengan serangan yang sangat fatal, akan tetapi Danuarta masih mampu untuk menghindarinya keduanya sama sama terluka begitu dalamnya akibat dari pertarungan itu.
Akan tetapi luka yang dialami oleh Kuswanto lebih parah daripada yang dialami oleh Danuarta, sehingga membuat Kuswanto tidak berdaya dengan hal itu, ketika menyadari bahwa Ayahnya sudah tidak mampu lagi untuk melawan membuat Panji ikut serta melawan Danuarta.
Ketika dirinya sudah tidak mampu lagi untuk melawan membuat Panji segera membawa Kuswanto pergi dari tempat itu, Panji berfikir bahwa nyawa Ayahnya lebih penting saat ini, dirinya akan mengambil kembali jenazah Ibunya nanti setelah dirinya dan Ayahnya telah aman.
"Ayah, bertahanlah". Ucap Panji dengan membantu Ayahnya untuk berdiri.
Kuswanto dan Panji berada dalam pelarian karena kejaran dari Danuarta yang menginginkan nyawa keduanya sebagai pengganti nyawa Ayahnya yang telah tiada karena Kuswanto.
Danuarta memendam dendam begitu dalam kepada keluarga Kuswanto dan menduduh Kuswanto lah yang telah merenggut nyawa Ayahnya dari dirinya.
"Kuswanto!! Jangan lari". Teriak Danuarta kepada Kuswanto yang sedang berlari bersama dengan Panji.
Danuarta telah menyembah mahluk gaib bertahun tahun lamanya sehingga kekuatannya menjadi berlipat ganda daripada sebelumnya sehingga kekuatan keduanya menjadi seimbang, akan tetapi karena kekuatan khodam dari Kuswanto melemah dan juga luka dalamnya membuat Kuswanto tidak mampu menghadapi kekuatan dari Danuarta.
Didalam pelarian itu, Panji berusaha semaksimal mungkin untuk membawa Ayahnya pergi dari tempat itu karena dirinya tidak mampu menghadapi sosok Danuarta seorang diri dalam keadaan seperti ini.
"Ayah, kemana lagi kita harus berlari sekarang?". Ucap Panji dengan nafas yang mulai memburu.
"Tinggalkan saja Ayah disini Nak, selamatkanlah dirimu, jangan khawatirkan soal keselamatan Ayah". Ucap Kuswanto pelan sambil memegangi dadanya.
"Tidak Ayah, aku tidak bisa melakukan itu, hanya Ayah yang aku punya saat ini, aku tidak ingin kehilanganmu juga, aku akan berusaha untuk menyelamatkan Ayah".
"Tapi Nak, jika kau terus bersama Ayah, maka kau juga akan ikut celaka... Uhuk... Uhukk...". Ucap Kuswanto sampai terbatuk batuk.
"Tidak Ayah, kita harus hadapi bersama sama, aku sama sekali tidak mempedulikan nyawaku nantinya, asalkan aku bisa menyelamatkan Ayah aku akan melakukan apapun itu, bertahanlah Ayah".
Dengan susah payah, Panji terus berlari sambil memapah tubuh Ayahnya yang begitu lemas itu, luka yang dialami oleh Danuarta membuat Danuarta berlari mengejar keduanya sedikit lebih pelan karena rasa sakit yang ia alami akan tetapi hal itu tidak menghentikan ambisinya untuk menghabisi nyawa dari pembunuh Ayahnya.
Malam hari ini, Panji terus berlarian untuk membawa Ayahnya pergi dari tempat itu, Kuswanto sudah tidak tahan lagi dengan rasa sakit yang ia alami saat ini.
"Bawa aku masuk kedalam goa yang ada diujung sana, hanya kita yang dapat masuk kedalamnya". Ucap Kuswanto lirih sambil menunjuk kesuatu arah.
"Baik Ayah".
Tak beberapa lama kemudian Panji dan Kuswanto telah sampailah didalam sebuah goa yang ditunjukkan oleh Kuswanto, dimana tempat itu adalah tempat dirinya dahulu kala telah menyembunyikan keris pusaka xingsi didalamnya, bersama dengan anak satu satunya itu.
Panji menyandarkan tubuh Ayahnya didinding dinding goa tersebut dengan perlahan, Panji yang mulai mempelajari ilmu kekuatan yang dia miliki perlahan lahan mengarahkan tangannya untuk membantu menyembuhkan luka dalam Ayahnya.
"Ayah harus bertahan demi aku". Ucap Panji mengalirkan tenaga dalamnya kepada Kuswanto.
"Hentikan Nak, hidup Ayah sudah tidak lama lagi". Ucap Kuswanto sambil menahan rasa sakitnya.
"Apa yang Ayah katakan! Jangan tinggalkan aku Ayah, Ayah pasti sembuh, Panji mohon jangan tinggalkan aku Ayah".
"Luka dalam Ayah semakin parah Nak".
Kuswanto merasakan nyeri yang bergitu dalam dijantungnya karena serangan energi gaib yang telah mengenai jantungnya dengan dalamnya.
"Ayah jangan tinggalkan aku, beritahu Panji apa yang harus Panji lakukan Ayah, Panji mohon jangan tinggalkan Panji".
Dengan linangan air mata, Panji mengalirkan tenaga dalamnya kepada Kuswanto, sudah cukup dirinya kehilangan Ibunya, Panji tidak ingin kehilangan Ayahnya juga untuk saat ini.
Panji sangat khawatir mengenai kondisi yang dialami oleh Kuswanto saat ini, melihat Ayahnya yang sudah tidak berdaya saat ini membuat hatinya merasa sangat perih dan sakit.
"Hentikan Nak! Sia sia kau berikan tenaga dalammu kepadaku Nak, sebaiknya kau menghemat tenaga dalammu, jangan lakukan hal yang sia sia". Ucapnya dengan menahan rasa sakit yang ia rasakan karena pukulan tersebut mengenai tepat dijantungnya.
__ADS_1
"Tidak Ayah, jangan katakan seperti itu, Panji tidak mau kehilangan Ayah". Air mata Panji berjatuhan mengenai tangan Ayahnya.
Dengan lemasnya Kuswanto menggerakkan tangannya kearah dimana dirinya menyembunyikan keris pusaka xingsi didalam goa tersebut, dengan beberapa gerakan tangan keris tersebut segera melayang kearahnya.
Keris tersebut melayang menuju kearahnya dan tak beberapa lama kemudian keris pusaka xingsi tersebut menancap tepat dijantung anaknya, Panji sama sekali tidak merasakan sakit akibat keris itu yang menancap didadanya dirinya hanya merasakan bahwa kekuatannya meningkat begitu pesat.
Keris tersebut diselimuti oleh cahaya putih yang begitu terang, cahaya tersebut perlahan lahan masuk kedalam tubuh Panji, Panji merasakan seperti adanya sebuah energi yang mengalir kedalam tubuhnya dengan perlahan dan diiringi dengan rasa dingin yang begitu menyejukkan.
"Apa yang Ayah lakukan kepadaku?". Tanya Panji dengan terkejut.
Kuswanto merasakan nyeri yang bergitu dalam dijantungnya karena serangan energi gaib yang telah mengenai jantungnya dengan dalamnya.
"Ayah jangan tinggalkan aku, beritahu Panji apa yang harus Panji lakukan Ayah, Panji mohon jangan tinggalkan Panji".
Dengan linangan air mata, Panji mengalirkan tenaga dalamnya kepada Kuswanto, sudah cukup dirinya kehilangan Ibunya, Panji tidak ingin kehilangan Ayahnya juga untuk saat ini.
Panji sangat khawatir mengenai kondisi yang dialami oleh Kuswanto saat ini, melihat Ayahnya yang sudah tidak berdaya saat ini membuat hatinya merasa sangat perih dan sakit.
"Hentikan Nak! Sia sia kau berikan tenaga dalammu kepadaku Nak, sebaiknya kau menghemat tenaga dalammu, jangan lakukan hal yang sia sia". Ucapnya dengan menahan rasa sakit yang ia rasakan karena pukulan tersebut mengenai tepat dijantungnya.
"Tidak Ayah, jangan katakan seperti itu, Panji tidak mau kehilangan Ayah". Air mata Panji berjatuhan mengenai tangan Ayahnya.
Dengan lemasnya Kuswanto menggerakkan tangannya kearah dimana dirinya menyembunyikan keris pusaka xingsi didalam goa tersebut, dengan beberapa gerakan tangan keris tersebut segera melayang kearahnya.
Keris tersebut melayang menuju kearahnya dan tak beberapa lama kemudian keris pusaka xingsi tersebut menancap tepat dijantung anaknya, Panji sama sekali tidak merasakan sakit akibat keris itu menancap didadanya dirinya hanya merasakan bahwa kekuatannya meningkat begitu pesat.
"Apa yang Ayah lakukan kepadaku?". Tanya Panji dengan terkejut.
Dengan sisa tenaganya Kuswanto memberikan seluruh kekuatannya kepada Panji anaknya, dengan cara memasukkan keris pusaka xingsi kedalam tubuh Panji dengan perlahan lahan sambil diselaputi tenaga dalamnya agar Panji tidak merasakan sakitnya.
Setelah keris itu masuk kedalam tubuh Panji, Kuswanto memuntahkan darah yang sangat banyak dan berwarna begitu hitam pekat dari mulutnya hal itu membuat Panji segera menangkap tubuhnya yang hampir jatuh itu.
"Ayah apa yang terjadi kepadamu?". Tanya Panji dengan khawatirnya kepada Ayahnya.
"Keris itu akan melindungi dirimu Nak, karena mulai saat ini, aku tidak bisa melindungimu lagi".
"Ayah harus baik baik saja, jangan tinggalkan aku Ayah, aku mohon kepada Ayah, hanya Ayah yang aku punya saat ini". Ucap Panji sambil memeluk tubuh Ayahnya itu.
"To.. long makam.. kan di.. ri.. ku di.. da.. lam goa ini nanti.. nya Nak, san.. ding.. kan liang lahat.. ku de.. ngan is.. tri.. ku, ha.. nya itu ke.. inginan Ayah". Ucap Kuswanto dengan terbata bata.
"Jangan tinggalkan Panji Ayah, Panji mohon".
"Keris itu sudah berada didalam tubuhmu Nak, jaga dirimu baik baik, jangan sampai keris itu bertemu dengan permata yang telah dibawa oleh Nimas, itu akan menimbulkan sebuah bencana yang besar dimasa yang akan datang". Ucap Kuswanto dengan pelannya.
Uhuk uhuk
Kuswanto terbatuk batuk karena tersedak nafas dan darah yang ada didalam mulutnya sehingga dirinya sudah tidak mampu lagi untuk berbicara kepada Anaknya, Kuswanto merasa tenang ketika keris tersebut sudah masuk kedalam tubuh anaknya sehingga dirinya bisa meninggalkan anaknya dengan tenang saat ini.
Dengan lemasnya Kuswanto masih memaksakan diri agar tetap tersadarkan, dirinya tidak bisa meninggalkan anaknya dalam keadaan seperti ini, melihat tangis anaknya membuat dirinya tidak rela meninggalkannya akan tetapi tubuhnya sudah tidak mampu lagi untuk bertahan lebih lama.
"Ayah... Istirahatlah dengan tenang, Panji janji akan menuruti apa keinginan terakhir Ayah". Ucap Panji dengan lirihnya.
"Laa illah ha illallah". Ucap Panji membimbing Ayahnya untuk membaca syahadat.
"A... Illah.. ha... Illalah". Ucap Kuswanto dengan terbata bata.
Setelah selesai mengatakan kalimat syahadat, Kuswanto perlahan lahan mulai memejamkan kedua matanya dan menghembuskan nafas terakhirnya dipangkuan anaknya, kepergian Kuswanto memberikan kesedihan yang begitu dalam kepada Panji, hal itu membuat Panji yang tengah memeluk tubuh Ayahnya menangis dengan histerisnya.
Dihari yang sama, dirinya kehilangan kedua orang tuanya dengan tiba tiba, keduanya meninggal dikarenakan oleh orang yang sama, sebelum Nimas pergi dari rumah tersebut Kuswanto telah mengatakan kepada Nimas dan juga Panji mengenai permata iblis itu.
"Ayah.....". Teriak Panji.
__ADS_1