
Suatu hari Nadhira terbangun lebih awal dari sebelumnya, kali ini ia terbangun sebelum adzan subuh berkumandang, ia bergegas mandi diatas dinginnya air dipagi hari. Setelah selesai mandi Nadhira pergi menuju kamar ibu angkatnya, dan membuka pintu kamar tersebut, ia menemukan bahwa tempat tidurnya sudah tertata rapi, ternyata ibu angkatnya sudah tidak ada dikamarnya.
Nadhira terus mencarinya diseluruh rumahnya, Masih jam 4 pagi bi Ira sudah meninggalkan kamarnya dan melakukan tugasnya, bagi Nadhira, ia bangun kali ini itu begitu pagi tetapi masih ada yang lebih pagi darinya seperti bi Ira. Nadhira melihat pintu bagasinya sudah dibuka, ia bergegas keluar lewat pintu bagasi tersebut dan menemukan bahwa bi Ira telah selesai membersihkan halaman depan.
"Eh.. tumben sudah bangun nak". Sapa bi Ira.
"Kan ibu kemarin malam janji mau bawa aku melihat panti asuhan, sejak kemarin aku tidak bisa tidur bu, dan hari ini aku berniat bangun lebih awal".
Ketika bi Ira memberitahu bahwa ia akan pergi kepanti asuhan, Nadhira begitu bersemangat untuk ikut pergi kesana, sehingga membuatnya harus begadang semalaman karena ia tidak sabar untuk segera berangkat.
"Iya tapi ini masih terlalu pagi nak, ibu aja belum masak".
"Kalau begitu biar aku bantu masak ya bu, setelah itu kita kepanti".
Keduanya bergegas masuk kedalam dan menutup kembali pintu bagasi tersebut, bi Ira langsung menuju kedapur dan menyiapkan bahan bahan untuk memasaknya. Dikulkas bahan bahan yang ia beli sudah hampir habis, tinggal tersisa beberapa daging ayam, sayuran, dan selalu ada tahu dan tempe.
Nadhira membantu bi Ira memotong sayur dan ayam menjadi potongan kecil kecil sementara bi Ira menyiapkan bumbu bumbu yang dibutuhkan, kali ini bi Ira mau membuat sambal goreng tahu ayam, dan membuat sayur sup.
Setelah semuanya sudah terpotong bi Ira mulai memasak sambal goreng tersebut, tak beberapa lama, bau harum dan sedapnya mulai tercium oleh hidung Nadhira. Bi Ira memasak sayur dan lauk tersebut secara bersamaan sehingga keduanya matang secara bersamaan juga.
Seketika masakan itu membuat perut Nadhira meronta ronta meminta untuk segera diisi, bi Ira mengambilkan piring dan nasi untuk Nadhira, Nadhira menerimanya dengan senang hati, ia segera mengambil lauk dan sayurnya dan memakannya dengan lahap.
Bi Ira meninggalkan Nadhira yang tengah makan dengan lahapnya kekamarnya untuk mandi dan membersihkan diri, setelah selesai makan, Nadhira segera mencuci piringnya dan pergi kekamar ibu angkatnya.
Ia melihat ibu angkatnya membawa dua tas belanja, Nadhira merasa heran mengapa membawa tas belanja bukankah tujuan mereka mau pergi kepanti asuhan. Bi Ira menjelaskan bahwa mereka akan pergi kepasar terlebih dahulu karena persediaan bahan makanan mereka sudah hampir habis.
"Kita akan kepasar dulu, setelah dari pasar baru kita akan kepanti ya nak".
"Baiklah bu kalo seperti itu, aku ikut kepasar"
Nadhira berjalan keluar rumah melewati pintu ruang tamunya dan menunggu bi Ira diluar rumah, sementara bi Ira pergi mengetuk pintu majikannya untuk meminta uang buat belanja, setelah mendapatkan uang untuk belanja bi Ira bergegas keluar rumah dan menghampiri Nadhira.
"Kita kepasar naik apa bu?". Tanya Nadhira, karena tidak ada angkutan umum yang lewat.
"Kita naik becak".
"Naik becak? Aku belum pernah naik becak sebelumnya".
Keduanya berjalan keluar rumah lumayan jauh, hingga akhirnya mereka menemukan pangkalan becak. Nadhira merasa ragu untuk naik becak, ketika bi Ira sudah naik diatasnya Nadhira masih terdiam ditempatnya.
__ADS_1
Bi Ira menyuruhnya untuk segera naik, Nadhira mengangkat kaki kanannya dan mulai menaikinya, awalnya ia begitu terkejut karena becak yang ia naiki tiba tiba bergoyang ketika Nadhira naik. Nadhira berpegang kuat pada bi Ira, karena becaknya tiba tiba goyang.
"Kayak naik kereta kuda ya bu".
Melihat tingkah Nadhira membuat bi Ira tertawa, bukan hanya bi Ira yang menertawakannya melainkan orang yang menyopir becak tersebut juga ikut tertawa. Karena baru pertama kali Nadhira menaiki becak sebelumnya, Nadhira tidak memperdulikan bahwa dirinya sedang ditertawakan oleh orang orang disekitarnya.
Nadhira sangat menikmati rasanya naik becak, menurutnya naik becak begitu menyenangkan. Becak tersebut berjalan menelusuri jalanan menuju kepasar, Nadhira juga belum pernah pergi kepasar apalagi untuk belanja, dulu ketika mamanya masih hidup ketika mamanya pergi kepasar Nadhira tidak mau ikut.
Jalanan dekat pasar begitu ramai, membuat becak tersebut berjalan dengan lambatnya. Becak itu bergenti tepat disebelah pintu masuk pasar yang mereka datangi, keduanya segera turun, bi Ira segera membayar becak tersebut.
"Sangat ramai ya bu, apa setiap hari seperti ini?".
"Iya nak, ayo masuk".
Nadhira memegangi tangan bi Ira dengan erat, ia juga meminta bi Ira untuk memberikan satu tas yang dibawa oleh bi Ira kepadanya. Sekarang Nadhira dan ibu angkatnya masing masing membawa satu tas yang sama, didalam pasar tersebut terdapat banyak sekali pedagang dan pengemis.
Nadhira bergegas mendatangi beberapa pengemis yang ia temui didalam pasar tersebut dan memberikan beberapa uang kepadanya. Meskipun keadaan pasar tersebut cukup becek tetapi hal itu tidak menghalangi kaki Nadhira untuk terus melangkah.
Meskipun bau menyengat menyerang hidungnya, itu tidak menjadi masalah bagi Nadhira. Nadhira terus melangkah meskipun beban didalam tas yang ia bawa mulai bertambah, Nadhira sama sekali tidak mengeluh tentang hal ini.
"Copet!!! Copet!!!".
Tiba tiba terdengar suara seorang ibu yang berteriak histeris karena dompetnya telah diambil oleh copet, Nadhira menoleh kekanan dan kekiri mencari sumber suara itu berasal. Nadhira memberikan tas yang ia bawa kepada ibu angkatnya, sedangkan dia segera berlari menuju kesumber suara tadi.
Nadhira berlari mendatangi seorang ibu yang tengah berteriak histeris tersebut, Nadhira melihat sekelilingnya tetapi tak ada seorangpun yang mau menolong sang ibu tersebut.
"Apa yang sebenarnya terjadi bu". Tanya Nadhira kepada ibu ibu yang kehilangan dompetnya.
"Dia mengambil dompet ibu nak".
"Baiklah ibu tunggu disini, biar aku yang mengejarnya".
Setelah mengatakan hal itu Nadhira segera berlari untuk mengejar sang pencopet tersebut, pasar itu begitu luas sehingga sangat sulit untuk dapat mengejarnya. Nadhira terus berlari sekuat tenaganya sehingga jarak keduanya hampir menipis.
Ketika Nadhira mengejar pencopet itu, Bi Ira juga bergegas mendatangi dimana ibu yang kecopetan berada. Dipasar itu memang terkenal dengan adanya pencopet, pencopet itu begitu ahli sehingga tidak ada yang berani untuk melawannya.
Dengan nekat dan tanpa mengetahui tentang pencopet itu Nadhira nekat untuk mengejarnya, bi Ira terus berdoa agar anak angkatnya baik baik saja. Bi Ira membantu ibu ibu tersebut dan menenangkan padahal dirinya sendiri tidak tenang karena kekhawatirannya kepada Nadhira.
"Copet itu begitu ganas apa bisa seorang gadis melawannya".
__ADS_1
"Ku dengar siapapun yang melawannya akan berakhir tidak baik".
"Semoga saja gadis itu baik baik saja, dan kembali dengan selamat"
Seluruh orang yang berada disitu merasa terkejut ketika seorang gadis berani mengejar copet tersebut, mereka berkumpul mengitari bi Ira dan ibu ibu tersebut. Mereka menatap arah dimana Nadhira sebelumnya berlari mengejar copet itu.
Sementara Nadhira masih mengejar sang copet, ketika copet yang ia kejar mengetahui bahwa dirinya tengah dikejar oleh seorang gadis membuatnya menambah kecepatannya menjauhi keramaian, ia terus berlari tanpa memperdulikan seorang gadis yang juga berlari untuk mengejarnya.
Beberapa menit pencopet tersebut berlari dan Nadhira mengejarnya dari belakang, akhirnya mereka sampai disebuah jalan setapak yang jauh dari keramaian. Ketika copet itu menghentikan langkahnya Nadhira juga ikut menghentikan langkahnya.
"Ternyata cantik juga nih gadis". Ucap copet tersebut.
"Kembalikan dompet ibu itu". Nadhira menunjuk kearah dompet.
"Ambil aja kalau bisa, aku akan memberikannya jika kamu mau menemaniku semalam".
"Baiklah jika kau menginginkan cara kekerasan untuk menyelesaikan hal ini".
Nadhira mulai memasang kuda kudanya, menurut sang copet gadis yang ada didepannya cukup menarik. Bukan hanya gadis itu mampu menyamai kecepatannya untuk berlari, tetapi gadis didepannya tidak memiliki rasa takut sama sekali.
Nadhira menyerangnya lebih dahulu untuk merebut kembali dompet yang telah diambil oleh pencopet itu, copet itu juga tidak tinggal diam ia juga ikut menyerang. Terjadilah perkelahian antara keduanya, Nadhira yang sudah terlatih dalam beladiri membuatnya mampu mengimbangi kekuatan dari copet itu.
Copet itu berhasil memukul wajah Nadhira sehingga membuat tepi bibirnya sobek dan mengeluarkan darah segar, Nadhira tidak menghiraukan hal itu, ia terus menyerang copet yang ada didepannya.
Tanpa copet tersebut sadari bahwa Nadhira tengah tersenyum ketika sedang berhadapan dengannya, Nadhira terus memukul mundur copet tersebut sehingga membuat copet itu terjatuh menimpa beberapa tumpukan bebatuan.
Akibat tendangan Nadhira membuat perut copet tersebut kesakitan, dan akibat tubuh copet itu terjatuh ketumpukan batu membuat kepalanya mengeluarkan darah segar juga. Melihat lawannya sudah tidak berdaya Nadhira mengambil dompet tersebut dan bergegas meninggalkan tempat itu.
Ditengah perjalanan kepalanya begitu pusing dan akhirnya ia terduduk ditanah beberapa saat, setelah sakit kepalanya mulai meredah ia kembali bangkit berdiri.
"Apa yang sebenarnya terjadi, bukankah tadi aku sedang melawan copet itu, bahkan dompetnya sudah berada ditanganku sekarang".
Nadhira memegangi kepalanya yang masih terasa begitu pusing, ia berjalan dengan berhati hati agar tidak menabrak sesuatu yang bisa membuatnya terjatuh. Ketika ia sampai didalam pasar tersebut, banyak mata yang memandangnya.
Melihat ada bekas darah ditepi bibir Nadhira, membuat semua orang menatapnya dengan tatapan yang tidak percaya, gadis itu bisa kembali dengan selamat adalah sebuah keberuntungan.
Nadhira tidak memperdulikan apa yang orang orang itu katakan, ia hanya peduli dengan sakit kepala yang telah melandanya. Nadhira terus berjalan menyusuri lorong lorong yang ada di pasar itu, banyak pedagang dan pembeli menghentikan aktivitasnya hanya karena memandang Nadhira yang melewatinya.
"Apa ada yang salah denganku?". Batin Nadhira.
__ADS_1
Nadhira menatap ujung kakinya hingga kedua tangannya untuk mencari sesuatu yang membuat dirinya dipandang sedemikian rupanya, ia hanya menemukan bahwa pangkal jarinya telah terluka. Nadhira tidak menyadari bahwa bibirnya juga telah terluka, ia hanya merasakan kebas akibat pukulan yang ia terima diwajahnya.
Nadhira berjalan dengan santainya diantara orang orang itu, ia memegangi memandangi dompet yang ada ditangannya. Terdapat setetes darah ditepi dompet tersebut, itu adalah darahnya akibat dari perkelahian itu.