
Tak beberapa lama kemudian masuklah Bi Ira kedalam kamar Nadhira dan memberitahukan bahwa teman teman Nadhira datang untuk berkunjung, ketika mereka mendengar bahwa Nadhira sudah ditemukan mereka segera bergegas menuju rumah Nadhira untuk menjenguknya.
"Nyonya diluar ada teman temannya Non Dhira ingin menjenguk Non Dhira" Ucap Bi Ira.
"Bersihkan dirimu dulu Dhira sebelum bertemu dengan mereka, oh iya Bi, suruh mereka masuk keruang tamu dan buatkan mereka minuman" Ucap Sena memerintahkan kepada Bi Ira.
"Baik nyonya" Jawabnya dan langsung bergegas pergi dari kamar Nadhira.
"Kalau begitu aku mandi dulu ya Ma".
"Iya, bisa jalan sendiri?".
"Bisa Ma, ini hanya luka kecil saja kok".
"Baguslah kalau begitu".
Nadhira segera masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan dirinya dan mengganti pakaiannya, setelah sekian lama berada didalam kamar mandinya, Nadhira keluar dari kamar mandi dan sudah memakai pakaian yang bagus dan rapi.
Nadhira terlihat berbeda daripada sebelumnya karena sebelumnya Nadhira suka memakai pakaian yang sederhana akan tetapi kali ini dirinya memakai pakaian yang feminim untuk menemui teman temannya itu dengan riasan tipis.
Nadhira keluar dari kamarnya bersama dengan Sena, melihat kedatangan dari Nadhira membuat teman temannya terbengong sesaat karena mereka tidak pernah melihat Nadhira dengan pakaian seperti itu apalagi dengan riasan tipis diwajahnya, mereka begitu terkejut dengan apa yang mereka lihat dan Nadhira berjalan kearah mereka dengan pincangnya.
"Maaf lama menunggu, Dhira baru saja bangun, Dhira mengalami hilang ingatan, jadi jangan sampai membebani Nadhira ya" Ucap Sena.
"Apa! Hilang ingatan" Ucap teman temannya serempak dengan rasa keterkejutannya.
Nadhira duduk didepan teman temannya dengan bantuan dari Sena, mereka juga terkejut ketika melihat perlakuan Sena kepada Nadhira, entah apa yang terjadi saat ini kenapa Nadhira tiba tiba hilang ingatan dan kenapa perlakuan Sena berbeda dari biasanya ketika mereka main kerumah Nadhira.
"Kalian mengobrol dulu, aku masih banyak urusan" Ucap Sena.
"Iya Ma".
"Iya Tante".
Sena segera pergi dari tempat itu untuk membiarkan mereka mengobrol dengan leluasanya, akan tetapi karena Nadhira hilang ingatan membuat Nadhira merasa canggung dengan kehadiran dari teman temannya itu.
Susi, Rahma, Bayu, Vano, dan Reno hanya berdiam diri ketika melihat Nadhira yang hanya diam ditempat itu, tidak biasanya Nadhira akan bersikap seperti ini karena sejak kembali dari hilangnya sikap Nadhira terasa berbeda apalagi dengan dirinya yang hilang ingatan.
"Dhira, apa kamu benar benar melupakan kita?" Tanya Susi penasaran.
"Aku sama sekali tidak ingat apapun, kapan aku pernah bertemu dengan kalian?" Tanya Nadhira balik.
"Padahal kita sudah seperti sahabat, tapi kenapa kamu melupakan kita" Keluh Susi.
Susi merasa sedih ketika Nadhira sudah tidak lagi mengenali dirinya itu, apalagi Susi adalah sahabat Nadhira sejak kecil sehingga ketika mengetahui bahwa Nadhira hilang ingatan dirinya merasa telah kehilangan sosok sahabatnya itu.
"Sus apa yang kamu katakan? Nadhira mengalami musibah sehingga dirinya hilang ingatan seperti ini, tidak seharusnya kamu mengatakan itu karena dirinya juga tidak ingin ingatannya hilang" Ucap Bayu.
"Iya aku tau itu Bay, kita adalah sahabat sejak kecil Dhira, apa kau benar benar telah melupakan kami, kami sangat senang ketika mendengar bahwa kau sudah kembali, tapi ketika mendengar dirimu hilang ingatan entah kepada aku merasa begitu sedih".
"Siapa sebenarnya Nadhira?" Tanya Nadhira pelan kepada Susi.
"Dirimu adalah Nadhira, Nadhira adalah gadis yang baik hati, periang, penuh dengan kasih sayang, sabar, dan ahli dalam ilmu beladiri. Bahkan dia adalah wanita yang sangat pemberani, dia tidak penah takut untuk menghadapi setiap bahaya yang ada, bahkan dia sama sekali tidak pernah peduli dengan rasa sakit yang ia rasakan".
"Nadhira begitu hebat, dan kenapa aku bisa melupakan jati diriku yang sesungguhnya".
__ADS_1
Susi menceritakan semuanya kepada Nadhira tentang hal hal yang pernah mereka lalui bersama, segala kenangan indah antara pahit dan manis mereka lalui bersama, satu berduka maka semuanya ikut berduka dan jika satu bahagia maka semuanya ikut bahagia bersama.
Susi mengatakan bahwa mereka adalah sahabat yang tidak akan pernah melupakan satu sama lain, tidak akan ada kata pisah diantara mereka, segela kenangan Susi ceritakan kepada Nadhira tentang bagaimana dirinya belajar ilmu beladiri, tentang bagaimana dirinya bercanda tawa bersama dengan anggota Gengcobra dan juga tentang Rifki.
"Apakah aku pernah belajar beladiri sebelumnya seperti yang kau ceritakan itu?" Tanya Nadhira.
"Bukan hanya pernah Dhira, kau begitu hebat dalam beladiri apalagi bermain senjata tongkat, Rifki telah mengajarimu beladiri dan selalu ada untukmu ketika kamu senang dan susah, bahkan kita pernah bertarung dan kau berhasil mengalahkan diriku" Ucap Reno menambahkan.
Tanpa teman temannya sadari bahwa Nadhira saat ini sedang memegangi lututnya yang sedang mengalami cidera itu, Nadhira tidak menduga bahwa dirinya dulu adalah seseorang yang begitu hebat dalam beladiri dan sangat berbeda dari saat ini.
"Rifki? Siapa Rifki? Kalian pasti berbohong bukan, aku tidak pernah belajar beladiri ataupun bertarung denganmu sebelumnya, untuk apa aku belajar beladiri aku bahkan tidak suka dengan kekerasan lalu kenapa kau bisa berpikir bahwa aku hebat dalam beladiri, dan aku juga tidak kenal dengan orang yang kalian sebut sebut itu, siapa Rifki yang kalian sebut sebut itu? Apa hubungannya aku dengan dirinya itu?" Bantah Nadhira.
"Dhira apa kau benar benar telah melupakan Rifki? Bagaimana bisa kau melupakan orang yang sangat berarti dalam hidupmu juga?" Ucap Vano yang tidak mempercayai apa yang dikatakan oleh Nadhira.
"Aku tidak kenal dengan kalian! Tapi kenapa kalian terus memaksaku untuk mengingat semuanya? Siapa itu Rifki? Aku tidak tau Rifki itu seperti apa!"
Kelima teman Nadhira seketika itu diam karena mendengar ucapan dari Nadhira, Nadhira benar benar telah melupakan semuanya tentang masalalu mereka begitupun dengan sosok Rifki pun telah ia lupakan dan dirinya sama sekali tidak mengingat apapun yang telah mereka lalui sebelumnya.
"Rifki adalah orang yang sangat berarti dalam hidupmu Dhira, dia juga adalah pemimpin kami, saat ini dia sedang berada diluar negeri untuk melanjutkan pendidikannya dan dia sangat menyayangimu" Ucap Vano dengan pelannya.
"Dia menyayangiku? Tapi aku tidak menyayanginya, dan aku sama sekali tidak mengenalnya".
"Apa yang terjadi dengan Nadhira, kenapa dia bisa melupakan Rifki? Bukankah hubungan mereka begitu dekat selama ini" Batin Reno.
"Sebenarnya apa yang terjadi dengan Dhira, kenapa dia bisa sampai melupakan semuanya tentang teman temannya" Batin Susi.
"Seandainya Rifki mendengar ucapan Nadhira saat ini, mungkin dirinya akan merasa sangat sedih, Nadhira dan Rifki adalah dua orang yang tidak akan terpisahkan tapi kenapa kali ini Nadhira bisa sampai melupakan dirinya" Batin Rahma.
"Tidak masalah kau tidak mengenalinya saat ini, mungkin nantinya ingatanmu akan perlahan lahan kembali, dan kamu akan mengingat semuanya tentang siapa aku, Vano, Reno, Susi, dan Rahma, kau juga pasti akan ingat tentang siapa itu Rifki, aku akan katakan kepadamu Rifki adalah sosok seorang pemuda yang selama ini selalu ada untukmu, kau bahkan pernah mengorbankan nyawamu hanya untuk menyelamatkan dirinya" Ucap Bayu.
Bukan menadapatkan kebahagiaan ketika melihat Nadhira sudah kembali dengan kondisi baik baik saja akan tetapi justru mereka mendapatkan sebuah kejutan yang begitu menyedihkan ketika mengetahui bahwa Nadhira mengalami hilang ingatan dan Nadhira telah melupakan semuanya.
"Untuk apa aku mengorbankan nyawa untuk orang lain?" Tanya Nadhira lagi lagi yang membuat mereka merasa begitu terkejut mendengarnya.
"Kau benar, untuk apa dirimu mengorbankan nyawa untuk orang lain? Kau tau, saat kau berada dalam masa kritismu waktu itu, Rifki merasa sangat terpukul ketika mendengar kondisimu, dan disaat Rifki dihajar oleh Theo kenapa kau melakukan segalanya? Dan mendapatkan sebuah goresan pisau yang masih membekas di lehermu itu" Ucap Bayu.
Nadhira sontak memegang lehernya dan merasakan kulitnya yang kasar karena bekas luka tersebut yang masih melekat di lehernya sampai saat ini, bekas luka sayatan itu tidak akan mudah hilang dalam waktu yang sangat lama.
"Jika kau tidak menyayanginya kau tidak akan melakukan itu Dhira, kau boleh melupakannya untuk saat ini, perlahan lahan kau akan ingat semuanya, dan seberapa besar cinta kalian berdua" Tambah Susi melanjutkan ucapan Bayu.
Sekilas bayangan Rifki terlintas didalam ingatan Nadhira, Nadhira memejamkan kedua matanya dan meneteskan air matanya, ia tidak tau apa yang sebenarnya terjadi kepadanya kenapa dirinya bisa melupakan segalanya yang pernah terjadi dalam hidupnya tentang masalalunya.
"Kenapa kamu menangis Dhira?" Tanya Rahma.
"Aku.... Aku.... Aku tidak tau lagi harus mengatakan apa untuk saat ini, aku benar benar tidak mengingat semuanya, aku tidak mengenali kalian" Ucap Nadhira.
"Aku paham dengan apa yang kau alami Dhira, kami datang hanya memastikan bahwa keadaanmu baik baik saja, kami tidak ada niatan untuk memaksamu mengingat semuanya, perlahan lahan saja jangan memaksakan diri untuk mengingatnya, jika kau memaksakan untuk mengingat semuanya, justru ingatanmu akan semakin hilang"
"Rahma benar, tidak sebaiknya kita memaksa Nadhira untuk mengingat semuanya, jika sudah waktunya Nadhira untuk ingat maka Nadhira akan ingat dengan sendirinya" Susi membenarkan ucapan Rahma.
Bagaimanapun Susi telah mengambil jurusan kedokteran sehingga dirinya mampu memaklumi bahwa Nadhira hilang ingatan akan tetapi dirinya merasa penasaran apa penyebab dari hilangnya ingatan Nadhira tentang semuanya padahal Nadhira tidak mengalami benturan diarea kepalanya.
Jika Nadhira mengalami benturan hebat dan ditemukan dirumah sakit mungkin Susi akan mempercayainya akan tetapi Nadhira berbeda, Susi berpikir bahwa ketika Nadhira hilang dibawa oleh mahluk astral kealam gaib, telah terjadi sesuatu dengan dirinya hingga Nadhira mampu melupakan segalanya saat ini.
Nadhira baru saja ditemukan setelah menghilang dalam waktu yang sangat lama, Nadhira beruntung karena hanya dirinya yang selamat setelah kembali dari alam gaib berbeda dengan orang orang yang ikut menghilang bersama dengan Nadhira mereka kembali hanya tersisa tubuh mereka saja akan tetapi nyawanya sudah tidak melekat didalam tubuh begitulah pikir teman temannya.
__ADS_1
Karena Raka adalah teman gaib Rifki, mungkin Raka tidak akan mampu untuk mengambil nyawa Nadhira sehingga Nadhira dikembalikan kealam manusia akan tetapi dengan ingatan yang telah dihapus olehnya agar Nadhira melupakan semuanya.
"Ya sudah, kita pamit dulu ya Dhira, kau pasti membutuhkan istirahat yang banyak" Ucap Bayu.
"Iya".
Teman teman Nadhira segera berpamitan untuk kembali pulang karena mereka tidak ingin menganggu Nadhira, setelah mengetahui bahwa Nadhira sudah baik baik saja mereka merasa begitu lega dan mereka juga tidak ingin memaksa Nadhira untuk mengingat semuanya.
Ketika teman temannya sudah melangkah pergi dari rumah Nadhira, Nadhira segera bergegas kembali menuju kekamarnya dan melanjutkan istirahatnya, sementara teman temannya bergegas masuk kedalam mobil milik anggota Gengcobra.
"Sebaiknya kabar tentang Nadhira yang hilang ingatan itu jangan sampai Rifki mendengarnya untuk saat ini" Ucap Bayu kepada keempat temannya.
"Kau benar Bay, jika Tuan Muda Rifki sampai mendengarnya dirinya akan merasa sedih dan mungkin dia akan segera pulang, jika sampai itu terjadi maka Tuan Besar akan sangat murka kepada kita semua" Ucao Reno.
"Aku tidak habis pikir kenapa Nadhira bisa melupakan semuanya setelah dirinya ditemukan" Ucap Susi.
"Soal itu sih masih bisa saja terjadi, apalagi itu berhubungan dengan hal gaib, mungkin saja sebelum Nadhira dikembalikan dialam manusia, mahluk gaib itu sudah menghapus semua ingatan Nadhira sehingga Nadhira bisa lupa dengan kita, aku tidak tau sampai kapan Nadhira akan hilang ingatan, aku hanya bisa berdoa semoga Nadhira dapat mengingat semuanya secepatnya" Rahma yang sedari tadi diam mulai mengutarakan pendapatnya.
Apa yang diucapkan oleh Rahma mampu diterima oleh mereka dengan jelas, biar bagaimanapun Nadhira juga tidak ingin melupakan mereka karena mereka juga begitu berarti bagi Nadhira, ini hanya sebuah musibah sehingga membuat Nadhira hilang ingatan seperti ini.
"Kita hanya perlu membantu Nadhira untuk dapat mengingat semuanya" Ucap Susi.
"Kau benar Sus, kita harus mencoba segala cara agar ingatan Nadhira kembali lagi".
"Iya Bay, Nadhira harus mengingat kembali, dia harus ingat dengan perlakuan Ibu tirinya kepadanya selama ini, aku lihat tadi Nadhira dan Ibu tirinya terlihat begitu akrab dan tidak seperti biasanya".
"Soal itu bukan masalah, bisa jadi kan Ibu tirinya itu sudah tobat sehingga dirinya sangat baik kepada Nadhira".
"Tobat? Bagaimana bisa orang seperti itu tobat, aku hanya takut kalau Ibu tirinya hanya memanfaatkan hal ini karena Nadhira yang sedang hilang ingatan".
"Kita berdoa saja semoga Ibu tirinya itu benar benar sudah tobat".
"Aamiin"
Mereka lalu kembali melanjutkan perjalanan mereka, mobil itu melaju dengan cepatnya untuk mengantarkan mereka yang ada didalam mobil itu menuju kerumah mereka masing masing.
Ketika Nadhira berjalan menuju kekamarnya tiba tiba dirinya berpapasan dengan Bi Ira, Bi Ira segera menghentikan langkah dari Nadhira yang hendak masuk kedalam kamarnya, Nadhira yang melihat Bi Ira menghentikan langkahnya ia segera menghentikannya dan berbalik menatap kearah dimana Bi Ira berdiri saat ini.
"Ada apa?" Tanya Nadhira.
"Kenapa teman temanmu buru buru pergi Nak?" Tanya Bi Ira balik kepada Nadhira.
"Apa yang kamu katakan barusan? Kau panggil aku apa? Sejak kapan aku menjadi anakmu!" Tanya Nadhira dengan ketusnya kepada Bi Ira.
"Nak, kenapa kau mengatakan hal seperti itu kepadaku? Bukannya kita sudah begitu dekat? Kau bahkan memanggilku dengan sebutan Ibu" Ucap Bi Ira dengan kedua mata yang mulai berkaca kaca.
"Mungkin dulu kita memang begitu dekat, tapi aku telah lupa segalanya dengan apa yang telah terjadi kepada diriku selama ini, dan aku bukanlah anakmu, ingat posisimu! Kau hanya pembantu disini, dan bersikaplah layaknya seorang pembantu didepanku! Jangan pangil aku Nak, pangil aku Nona, apa kau lupa aku adalah anak dari majikanmu".
Ucapan Nadhira seketika membuat perasaan Bi Ira terasa seperti tersayat sayat, Nadhira tidak pernah berkata seperti itu sebelumnya, dia bahkan menghormati dirinya layaknya seorang Ibu akan tetapi kali ini berbeda, sungguh berbeda jauh apalagi ketika Nadhira mengatakan posisinya saat ini.
Selama ini Nadhira tidak pernah berkata tentang sebuah posisi ataupun kedudukan kepada siapapaun, hal ini seketika membuat Bi Ira merasa sangat terkejut sekaligus perkataan itu mampu melukai hatinya.
...Jangan lupa like dan dukungannya 🥰...
...Terima kasih...
__ADS_1
...Kritik dan sarannya ya kak...