
Rifki segera bergegas memanggilkan dokter, sedangkan bi Ira membersihkan ruangan tersebut karena kejadian yang mereka alami baru saja. Nadhira masih termenung diatas kasur tidurnya, kejadian itu sama sekali tidak ia harapkan terjadi.
Tangan kiri Nadhira mulai membengkak akibat infusnya yang tercabut sehingga menimbulkan luka goresan ditempat infusnya tertancap, darah yang tadinya mengalir sekarang sudah membeku. Nadhira begitu ketakutan dan merasa bersalah karena telah melukai ibu angkatnya, yang bagaimana itu bukanlah kemauannya.
Dokter datang dan langsung memeriksa luka ditangan dan diperut Nadhira, ia juga meneriksa tensi darahnya dan juga denyut jantungnya.
"Lukanya sudah tidak ada masalah, tensinya juga sudah normal, masih ada keluhan yang lainnya mbak?". Tanya dokter.
"Sudah tidak ada bu". Jawab Nadhira.
Dokter membereskan peralatannya dan juga infusan yang telah dipakai Nadhira, ia mengatakan bahwa Nadhira sudah diperbolehkan untuk pulang. Bi Ira segera menelfon majikannya dan memberi tahukan bahwa anak mereka sudah diizinkan pulang.
"Assalamualaikum tuan, ini non Nadhira sudah boleh pulang".
"....."
"Baik tuan".
Setelah menelfon majikannya, ekspresi wajah bi Ira berubah, yang tadinya begitu bersemangat dan begitu senang, kini ia menurunkan senyumannya dan menampakkan wajah datarnya.
Nadhira melihat perubahan wajah tersebut, sudah dapat ia tebak sebelumnya. "Ada apa bu? Ibu ngak perlu memikirkan hal itu, aku sudah tau kok bu". Jawabnya sambil tersenyum pahit.
Setelah menyelesaikan administrasinya, Rifki segera memesan taksi untuk Nadhira dan juga bi Ira. Tanpa adanya percakapan antara ketiganya, Rifki mampu merasakan apa yang telah terjadi kepada Nadhira, ia menembak bahwa ini ada hubungannya dengan sang ayah.
Ketiganya berjalan menyusuri rumah sakit, sampailah mereka ditempat parkir rumah sakit dan sudah terparkir taksi yang dipesan oleh Rifki disana. Rifki membantu memasukkan beberapa barang milik Nadhira kedalam bagasi mobil itu.
Mobil taksi itu mulai berjalan meninggalkan rumah sakit tersebut, dengan diikuti oleh Rifki dari belakang sambil mengendarai sepedah miliknya, dan menuju kearah rumah Nadhira.
Satu jam perjalanan akhirnya mereka sampailah didepan rumah Nadhira, Bi Ira langsung membukakan pintu rumah Nadhira dan meminta bantuan Rifki untuk mengangkat barang barang itu kedalam rumah. Rifki dan juga supir tersebut segera mengangkatnya kedalam rumah tersebut.
"Sudah saya bayar lewat aplikasi ya pak". Ucap Rifki.
"Iya mas, kalo begitu saja permisi".
Ketika Rifki dan juga bi Ira sudah berada didepan terasnya, Nadhira masih mematung dihalaman sambil memandang kearah gazebo yang tidak jauh darinya. Melihat Nadhira menghentikan langkahnya membuat Rifki bergegas mendatanginya, dan mengajaknya untuk masuk.
"Mengapa bunga bunga disini kembali layu dan sebagian sudah mati, dan mengapa ada yang tega memotongnya". Nadhira merasa sedih melihat bunga bunga itu, karena bunga itu adalah bunga kesukaannya dan juga mamanya.
Nadhira berjalan menuju kearah gazebo dimana dahulu ia sering bercanda gurau dengan papa dan juga mamanya, sementara Rifki mengikutinya dari belakang. Melihat Nadhira berbalik arah dari pintu rumahnya, bi Ira juga ikut menyusulnya.
"Kamu ngak usah khawatir, bukankah aku yang ahlinya menanam, nanti biar aku tanamkan bunga yang banyak untukmu". Rayu Rifki.
"Hehe.... Kamu yang terbaik Rif". Nadhira tertawa mendengar ucapan Rifki.
__ADS_1
"Haha... Aku gitu lo Dhir". Sombongnya Rifki keluar.
"Iya iya aku percaya, dulu ketika tanaman disini layu seperti ini, kalian bertigalah yang membangun kembali taman yang rusak ini hanya untukku". Ucap Nadhira.
"Iya kami bertiga akan selalu ada untukmu Nadhira kami". Sahut seseorang yang tiba tiba datang disitu.
Nadhira menoleh dan menemukan bahwa Susi dan juga Bayu berdiri tepat didepan gerbang rumah Nadhira. Keduanya merasa senang ketika mengetahui bahwa Nadhira sudah diperbolehkan untuk pulang, mendengar kabar itu keduanya segera bergegas kerumah Nadhira.
"Kalian....". Ucap Nadhira.
"Kalau bukan kami, siapa lagi? Hehe...." Tawa Susi.
Susi dan Bayu bergegas mendatangi Nadhira digazebo tersebut, Susi berlari kearah mereka dan segera memeluk Nadhira ketika jarak mereka sudah dekat. Keempatnya adalah sahabat sedari kecil hingga mereka dewasa, membuat hubungan mereka layaknya saudara kandung.
Melihat Susi memeluk Nadhira, Rifki dan Bayu bergegas untuk duduk digazebo tersebut sambil berbincang bincang. Selesai berpelukan mereka juga ikut duduk digazebo tersebut, keempatnya saling bercanda bersama.
Tidak beberapa lama bi Ira datang sambil membawakan keempatnya minuman dan cemilan yang ia ambil dari dalam rumah, dan memberikannya kepada mereka berempat.
"Waduh bi, ngak perlu repot repot bengini". Ucap Susi..
"Tidak repot sama sekali kok". Jawab bi Ira.
"Iya ngak repot kok, lagian bayu juga kelaparan". Sahut Rifki.
"Hahaha... " Keempatnya menertawakan Bayu bersama sama.
Bayu menjadi salah tingkah karena hal itu, hingga ia menyembunyikan wajahnya dibalik meja yang ada didepannya sambil memejamkan matanya. Rifki tertawa terbahak bahak melihat tingkah Bayu sampai sampai membuatnya terbatuk batuk.
Bi Ira segera mengambil segelas minuman yang baru saja ia taruh dimeja dan segera membantu Rifki untuk meminumnya, ketika minuman digelas itu hampir tandas, Rifki menghentikan apa yang dilakukan oleh bi Ira.
"Sudah bi sudah, sudah, aku ngak kuat lagi jika harus meminumnya". Keluh Rifki.
"Ngak perlu khawatir, didalam masih banyak kok, mau bibi ambilkan lagi?". Tanya bi Ira.
"APA!?!?! tidak bi tidak, itu untuk Nadhira saja". Rifki sangat khawatir kalau harus meminumnya lagi, perutnya terasa sudah terisi penuh oleh minuman.
"Oh iya bu, mengapa dirumah sangat sepi? Kemana yang lainnya?". Tanya Nadhira tiba tiba.
Bi ira menjelaskan bahwa papanya Nadhira belum jua pulang dari luar kota, sedangkan mama tirinya sedang ada acara, dia sudah pergi sejak pagi tetapi belum juga kembali hingga sore, sementara itu Amanda sedang ada dikamarnya karena marah tidak dibelikan hp baru, hpnya telah disita oleh pihak sekolah.
Nadhira dan teman temannya melanjutkan canda tawa mereka sementara bi Ira kembali masuk kedalam untuk melakukan tugasnya sebagai pembantu rumah tangga, Ketika waktu menunjukkan pukul 5 sore, ketiga sahabatnya berpamitan pulang.
Nadhira memasuki rumahnya dan tidak menemukan seorang pun didalamnya, bi Ira sedang memasak makanan didapur sedangkan Amanda masih berada dikamarnya. Nadhira bergegas menemui bi Ira didapur sambil membantunya masak, setelah selesai memasak, Nadhira segera memakan masakan itu, setelah habis Nadhira juga pergi kekamarnya untuk membersihkan tubuhnya dan istirahat.
__ADS_1
Mama tirinya baru pulang ketika waktu menunjukkan pukul 10 malam, ketika Nadhira terbangun dari tidurnya. Nadhira berniat keluar kamar untuk menanyakan kenapa namanya pulang selarut ini, tetapi niat itu segera ia wurungkan ketika mendengar bahwa mamanya sedang marah diluar kamarnya.
Nadhira memutuskan kembali tidur karena hari masih cukup larut, rasanya baru sebentar ia tertidur tiba tiba terdengar suara seseorang mengetuk pintu kamarnya dengan keras, ketika ia melihat jam, jam itu menunjukkan pukul 7 pagi.
Nadhira bergegas bangkit dari tidurnya, berjalan kearah pintu tersebut, ia menemukan bahwa mama tirinya tengah berdiri didepan pintu tersebut, jika Nadhira telat untuk membukanya bisa bisa mama tirinya begitu murka.
"Enak enakan tidur aja, buruan cuci bajuku, kalau sampek aku pulang belum juga kering, awas kau ya!". Ucapnya sambil melemparkan beberapa pakaian kotornya kepada Nadhira.
Nadhira menangkapnya dengan susah payah, ketika melihat mamanya sudah menuju kearah bagasi, Nadhira membuang pakaian itu dilantai, dan menjatuhkan tubuhnya diatas pakaian pakaian itu.
"Hah, baru juga bangun tidur sudah diberi makanan seperti ini".
Nadhira kembali memungutnya, setelah itu dia menyeretnya menuju tempat biasanya ia mencuci, pakaian itu Nadhira masukkan kedalam mesin cuci dan menyalakannya agar mesin cuci itu bekerja.
Nadhira pergi kearah dapur untuk sarapan pagi, sesampainya didapur ia tidak menemukan ibu angkatnya juga. Nadhira sangat senang ketika ibu tirinya tidak ada dirumah, biasanya Nadhira tidak diizinkan untuk memakai mesin cuci, ia tidak boleh makan sebelum ia selesai mencuci baju, mencuci piring, dan membersihkan rumah.
Sesampainya ia dimeja makan, ia membuka tudung diatas meja makan tersebut, betapa terkejutnya ia ketika melihat lauk pauk yang ada didalamnya. Ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal, dan bergegas mengambil nasi.
"Tidakku sangka akan bertemu tahu lagi secepat ini setelah 11 hari tidur dirumah sakit".
Ketika Nadhira selesai makan, bi Ira datang sambil membawa dua keranjang belanjaan ditangan kanan dan kirinya, bi Ira berjalan menuju kedapur dengan susah payah karena belanjaan yang ia bawa lumayan berat.
"Eh sudah bangun nak, ibu tadi buatkan ayam kecap dimeja makan, buruan dimakan sebelum habis". Ucapnya.
"Aku sudah makan kok bu, tapi disini ngak ada ayam kecap bu". Ucap Nadhira.
Mendengar ucapan Nadhira membuat bi Ira segera bergegas kearah meja makan dan memeriksa apa yang ada dibalik tudung saji tersebut, ia merasa terkejut kenapa makanannya bisa langsung berubah seperti itu.
"Eh kok bisa? Ibu tadi tidak menggoreng tahu, ibu tadi benar benar masak ayam kecap nak, kenapa bisa jadi tahu, setelah ibu masak ibu taruh disini kok bener, tetapi bukan diwadah ini, lalu ibu tinggal kepasar". Ucapnya sambil menggaruk kepalanya.
"Mungkin sudah dimakan oleh mama dan Amanda kali bu, lalu mama yang menggorengnya untukku".
"Mungkin bisa jadi, eh tapi nyonya kan ngak bisa masak".
"Meskipun ngak bisa masak, menggoreng tahu tidak butuh keahlian bu".
Nadhira bangkit dari duduknya menuju kearah mesin cuci, Nadhira segera mengeluarkan cucinnya dan memasukkannya kedalam keranjang, ketika hendak mengangkatnya bi Ira segera menghentikannya untuk mengangkat keranjang tersebut.
"Ada apa bu?".
"Biar ibu saja yang melakukannya, lagian lukamu masih belum sembuh sepenuhnya, ibu takut membuatnya kambuh lagi karena mengangkat berat".
"Baiklah bu, ibu bantu mengangkatnya saja, nanti biar kau yang jemur".
__ADS_1
Bi Ira mengangguk dan segera mengangkat keranjang tersebut kehalaman belakang rumah, keduanya lalu menjemur pakaian tersebut bersama sama, bi Ira tidak mau melihat Nadhira mengerjakannya sendiri, akhirnya ia membantunya.