
Dengan tergesa gesa bi Ira segera bergegas kegudang tempat dimana Nadhira dikurung didalamnya. Mendengar suara langkah kakinya mendekat kearah gudang tersebut, Nadhira mengambil nafas dalam dalam dan berusaha untuk bangkit dari duduknya. Ketika ia mendengar pintu tersebut akan dibuka membuat Nadhira tersenyum tiba tiba.
Ketika pintu sudah terbuka bi Ira mampu melihat Nadhira dengan keadaan yang begitu lemas dan bermuka pucat seakan akan tiada darah yang mengalir diwajahnya.
"I.... Ibu". Ucap Nadhira sambil tersenyum kepada bi Ira.
Bi Ira berjalan mendekat kearah Nadhira, ketika jaraknya sudah berdekatan, tiba tiba pandangan Nadhira menjadi gelap berkunang kunang dan akhirnya ia jatuh tidak sadarkan diri dalam dekapan ibu angkatnya.
"Nak kamu kenapa? Nak bangun". Ucap bi Ira begitu khawatirnya dengan Nadhira sambil menepuk nepuk pipi Nadhira.
Nadhira mengalami demam karena pengap dan juga dinginnya ruangan tersebut, udara yang berada didalam gudang begitu sangat terbatas karena tiadanya rongga didalam ruangan tersebut yang mampu menyalurkan udara.
Tak lama kemudian Rendi datang untuk memeriksanya, ketika ia melihat Nadhira pingsan dipangkuan pembantunya membuat segera memastikan keadaan Nadhira bahwa Nadhira tidak apa apa.
Rendi segera mengangkat tubuh Nadhira dan menggendongnya menuju kekamar Nadhira, pandang Rendi tertuju kepada wajah anaknya tersebut.
"Kenapa aku merasakan kesedihan ini ketika melihat anak ini sakit saat ini, tidak!!! Dia bukan anakku". Batin Rendi.
Rendi membawa Nadhira yang sedang berada digendongnya menuju kekamar Nadhira, sesampainya disana Rendi segera membaringkan tubuhnya Nadhira ditempat tidur Nadhira.
"Bi tolong belikan salep untuk memar di apotek". Ucap Rendi sambil menyodorkan uang kepada bi Ira.
"Tuan terluka?". Bi Ira reflek bertanya kepada Rendi.
"Bukan aku, tapi dia". Menunjuk kearah Nadhira yang terbaring tidak sadarkan diri. "Setelah beli langsung obati dia".
"Baik Tuan".
Setelah mendengar jawaban dari bi Ira, Rendi segera pergi dari tempat itu, meninggalkan bi Ira seorang yang sedang mematung ditempat yang sama.
Bi Ira tidak mengerti apa yang dikatakan oleh majikannya tersebut, ia segera memeriksa luka memar yang dimaksud oleh majikannya yang berada ditubuh Nadhira.
Ia membuka sedikit baju Nadhira dan memperlihatkan luka memanjang dipinggang Nadhira seperti luka cambukkan, tetapi luka itu sudah memulai bengkak dan memar tersebut terlihat begitu jelas.
Bi Ira segera bergegas menuju ke apotek yang berada didekat rumah Nadhira, setelah mendapatkan obat tersebut bi Ira segera kembali kerumah majikannya.
Didalam ruang kamarnya Nadhira mulai mengernyitkan dahinya pertanda bahwa ia sebentar lagi akan tersadarkan diri dari pingsannya. Ketika ia membuka matanya pandangannya mulai telihat buram, ketika pandangannya mulai jelas Nadhira baru menyadari bahwa dirinya sudah berada dikamarnya.
"Akh... Kenapa kepalaku begitu pusing".
Nadhira mencoba bangkit dari tidurnya, tenggorokannya terasa begitu kering, Nadhira ingin mengambil gelas yang berada dimeja dekat dengan tepat tidurnya.
Nadhira terduduk ditepi tempat tidurnya dan meminum air digelas tersebut dengan cepatnya karena rasa haus yang mendalam ia rasakan setelah terkurung digudang dua hari satu malam.
"Nak, kamu sudah bangun?". Ucap bi Ira yang baru saja tiba ketika melihat Nadhira sudah sadarkan diri.
Nadhira dapat melihat ibu angkatnya datang membawanya sesuatu dibalik nampan yang sedang bi Ira pegang saat ini, Nampan itu berisikan nasi dan lauk pauk kesukaan Nadhira yang berupa sayur dan ayam.
__ADS_1
"Iya bu".
Bi Ira segera datang menemui Nadhira dan membantu Nadhira untuk membaringkannya lagi, bi Ira tiba tiba membuka baju Nadhira yang menutupi pinggangnya.
"Apa yang ibu lakukan". Nadhira begitu terkejut dengan apa yang bi Ira akan lakukan sambil menghentakkan pergerakan tangan ibu angkatnya.
"Sudahlah diam saja, ibu hanya mau mengoleskan salep ini saja". Jawab bi Ira sambil membuks bungkus salep yang ada ditangannya.
Nadhira hanya bisa pasrah dengan apa yang akan dilakukan oleh ibu angkatnya, ketika salep tersebut menyentuh lukanya, Nadhira hanya bisa menahan rasa perih yang ia rasakan, dan sesekali berpegangan erat pada selimutnya.
"Bagaimana ibu bisa tau kalau aku terluka?". Tanya Nadhira.
"Tuan yang memberi tau".
"Maksud ibu? Papa yang memberitahu? Tapi untuk apa ia peduli denganku, bukankah ia sangat membenciku?".
"Tidak seperti itu nak, bagaimanapun tidak ada yang namanya mantan anak, oh iya, Tuan jugalah yang menggendong kamu kekamar".
"Papa? Bertahun tahun aku tinggal bersamanya, tetapi aku sama sekali tidak mengetahui jalan fikirannya". Nadhira tersenyum mendengar bahwa papanya juga peduli padanya. "Mungkinkah ada sesuatu yang mempengaruhi pikiran papa sehingga ia kadang suka marah marah seperti itu?". Batin Nadhira.
*****
Beberapa hari kemudian, ketika menjelang malam Nadhira datang menemui ibu tirinya disebuah ruangan yang berada dirumah Nadhira, Tatapan Nadhira seakan akan begitu tajam kearah Sena, tatapan itu terlihat begitu mengintimidasi seakan akan itu bukanlah tatapan Nadhira selama ini.
Dan benar saja itu bukanlah Nadhira yang mengendalikan tubuhnya, melainkan Nimas yang berhasil mengendalikan tubuh Nadhira, Nimas berdiri tepat dihadapan Sena.
"Lantas apa yang harus kita lakukan selanjutnya? bagaimana caranya aku bisa membantumu?". Ucap Sena.
"Semua gara gara lelaki itu, hanya ada satu cara untuk mengatasi energi itu".
"Apa caranya?".
"Kekuatan keris xingsi harus dihancurkan, hanya itulah satu satunya cara untuk melemahkan energi yang berada ditubuh anak ini, tetapi jika keris itu bertambah kuat maka energi didalam tubuhnya juga akan semakin besar".
"Lalu bagaimana caranya kita mencari keris tersebut?".
"Aku juga tidak tau, Kuswanto telah membawa keris itu pergi, sampai saat ini aku tidak bisa merasakan kehadiran energi keris pusaka tersebut, energi dari dalam tubuh anak ini berasal dari pusaka itu, jika kita bisa menghancurkannya maka energi ini juga akan menghilang".
"Jika dendamku tidak terbayar maka dendamku juga tidak akan terlunasi, aku tidak ingin musuhku bisa tertawa diatas penderitaan yang selama ini aku rasakan".
Keris xingsi adalah sebuah pusaka yang mampu mengalahkan kekuatan dari permata iblis tersebut, tetapi jika keris itu berhasil mengalahkan permata iblis, maka siapapun yang telah menelannya akan ikut mati bersama dengan permata tersebut.
Begitupun sebaliknya, jika orang yang menelan permata tersebut mati karena suatu hal maka permata itu juga ikut hancur bersama dengannya. Itulah sebabnya Nimas memberikan sebuah pil kepada Nadhira agar ketika Nadhira menghadapi bahaya apapun ia tidak akan mati dengan mudahnya melainkan Nadhira masih mampu merasakan semua kesakitan jika terjadi sesuatu kepada dirinya.
Keris itu begitu berbahaya bagi Nimas dan permata iblis tersebut, setelah Kuswanto membawa keris itu pergi, sampai saat ini tidak ada yang mengetahui dimana keberadaan keris tersebut.
"Siapa sebenarnya Kuswanto itu?". Tanya Sena.
__ADS_1
"Dia adalah orang yang paling sakti dimasanya, tidak ada yang bisa mengalahkannya, hingga suatu hari terdengar sebuah kabar mengenai kematiannya, tetapi tiada yang tau bagaimana caranya ia mati, seluruh masyarakat dikala itu mempercayai bahwa ia mati karena dikalahkan oleh orang yang lebih sakti darinya".
Nimas merasakan kepalanya begitu pusing, ia menyadari bahwa waktunya telah habis untuk menguasai tubuh Nadhira, karena Nadhira terus berusaha untuk merebut kembali kesadarannya.
"Sebaiknya aku segera pergi sebelum tubuh ini terbangun". Ucap Nimas.
Nimas segera meninggalkan tempat itu dan membawa tubuh Nadhira kembali kekamarnya, Tepat berada didepan kamarnya jiwa mereka kembali bertukar, Nadhira merasa bahwa ada sesuatu yang mendorong jiwanya untuk masuk kembali kedalam tubuhnya.
Karena pusing kepalanya begitu terasa ketika jiwa mereka kembali bertukar, hingga tanpa sengaja membuat Nadhira menabrak dinding kamarnya dengan keras.
Duk...
"Akh..... siapa sih ini yang naruh dinding ini disini". Keluh Nadhira kepada dinding yang ada didepannya.
Ketika Nadhira tersadar ia tidak mengetahui bahwa ada sebuah dinging dihadapan, karena pergantian jiwa tersebut membuat Nadhira merasa pusing sehingga tanpa ia sadari bahwa didepannya ada sebuah dinging sehingga ia menabraknya.
Benturan keras tersebut sama sekali tidak meninggalkan bekas diarea dinding yang telah ditabrak oleh Nadhira sebelumnya, justru bekas tersebut tercipta dijidat Nadhira seperti habis disengat oleh lebah.
"Apa ada yang salah dengan kepala gadis ini? sudah jelas jelas dinding itu berada disitu sangat lama kenapa masih saja menyalahkan dinding". Ucap Nimas yang kebetulan masih berada diruang kamar Nadhira.
Nadhira mengosok gosok kepalanya menggunakan tangannya, pusing yang ia rasakan semakin bertambah karena benturan tersebut, sebenarnya apa kesalahan yang telah dinding lakukan sehingga ia memfitnahnya.
"Untung saja kau hanya benda mati, kalo hidup huh!! akan ku pukul kau hingga penyok karena beraninya membuat kepalaku benjol seperti ini, sakit tauk".
"Hah? yang benar saja kau, hanya sebuah benturan kecil seperti ini sudah membuatmu sakit? bagaimana dengan cambukan itu? bagaimana dengan luka tusukan yang kau peroleh karena menyelamatkan seorang pemuda yang tak tau malu itu hah? seandainya papamu mendengarnya mungkin ia akan merasa insecur karena ucapanmu".
"Siapa juga sih yang naroh tembok sembarangan disini? seenaknya aja naroh sembarangan".
"Arghhh... kenapa dengan otak anak ini, ditaruh dimana sebenarnya pikirannya itu hah?? kenapa dia tiba tiba begitu bodohhh". Teriak Nimas mendengar ucapan Nadhira.
"Auhh... kepalaku sakit". Keluh Nadhira sambil terus menggosok gosok kepalanya yang terbentur.
"Tumben mengeluh biasanya aja ngak punya rasa sakit, sebaiknya aku pergi dari sini sebelum kepalaku ikut pusing mendengar ucapan gadis ini".
Nimas segera menghilang dari tempat tersebut entah kemana, karena ia tidak ingin mendengar omelan Nadhira yang begitu tidak jelas baginya.
Karena pusingnya membuat Nadhira segera membaringkan tubuhnya di atas tempat tidurnya, meskipun beberapa kali ia menabrak sebuah benda benda yang ada disekitarnya dan didalam kamar miliknya.
"Apa itu keris xingsi? Kenapa tiba tiba aku memikirkan hal itu? Kemana mahkluk itu tadi membawaku, kenapa aku sama sekali tidak menyadarinya bahwa tubuhku telah dikendalikannya".
Nadhira sekelibat mendengar sebuah kata yang tiba tiba muncul dikepalanya mengenai keris xingsi, Nadhira terus kepikiran mengenai keris tersebut, memang Nadhira tidak mendengar apa yang dikatakan oleh Nimas sebelum tetapi ia mendapatkan sebuah sekelibat kata yakni keris xingsi.
"Sudahlah, gara gara dinding itu membuat kepalaku sakit, awas aja kalo sampe terulang dua kali, akan ku remukkan dinding itu".
Nadhira terus mengosok gosok kepalanya yang terasa seperti adanya sebuah benjolan kecil yang timbul karena benturan keras tersebut, Nadhira ingin sekali mengumpat pada dinding itu tetapi ia tersadar bahwa dinding itu tidak akan mampu mendengarnya berbicara.
Nadhira memejamkan matanya untuk mengurangi rasa sakit dikepalanya, ia juga memberikan minyak kayu putih kepada lukanya untuk mengurangi rasa nyeri yang ditimbulkannya.
__ADS_1
Hingga beberapa menit kemudian Nadhira benar benar terlelap dalam tidurnya, karena rasa lelah setelah dikendalikan dan juga rasa pusing yang ia terima karena benturan keras antara dirinya dan juga tembok yang ada dikamarnya.