
Nadhira segera mengajak Rifki untuk segera berangkat kesekolah sebelum terlambat, Rifki segera mengikuti apa yang dikatakan oleh Nadhira, diperjalanan nampak Rifki sedang memikirkan sesuatu yang begitu rumit untuk diatasi.
"Rif, kamu masih memikirkan apa yang dikatakan oleh Ratu iblis itu?". Ucap Nadhira yang menyadari bahwa Rifki tengah dibebani oleh pikiran yang sulit untuk diselesaikan dengan mudah.
"Aku akan mencari cara untuk menyelamatkanmu Dhir, aku tidak mau kehilangan dirimu tanpa adanya usaha yang harus aku lakukan".
"Memang benar ya! Takdir memang selalu mempermainkan kita, biar bagaimanapun kematian hanya berada ditangan Allah, jika belum ditakdirkan untuk mati maka Allah pasti akan menyelamatkan kita dari berbagai macam musibah".
Nadhira mengatakan hal itu dengan begitu sedihnya meskipun mulutnya dipaksa untuk tetap tersenyum dihadapan Rifki, ia tidak ingin membuat Rifki terbebani hanya karena masalahnya, diatas motor tersebut Nadhira terus mengusap halus punggung Rifki untuk menenangkannya.
Rifki terus menerus memikirkan bagaimana caranya untuk bisa menyelamatkan Nadhira dari permata iblis itu, ia teringat apa yang dikatakan oleh Raka mengenai keris pusaka xingsi, mungkin itu satu satunya cara untuk mengatasi energi dari permata iblis yang ada ditubuh Nadhira itu.
"Takdir memang tidak bisa kita ubah, tetapi usaha dan berdoa adalah sebuah kewajiban kita sebagai umat manusia, Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaannya sendiri, kamu tau? Aku tidak akan menyerah untuk hal itu, jika kematianmu adalah jalan satu satunya untuk masalah ini, maka aku akan menghancurkan jalan itu dan membangun jalan yang baru".
Nadhira hanya bisa tersenyum mendengar ucapan Rifki yang begitu gigih untuk dapat menyelamatkannya, Nadhira begitu beruntung memiliki seorang teman dan sahabat seperti Rifki, biar bagaimanapun Rifki masih menyimpan perasaannya kepada Nadhira, Rifki tidak ingin mengutarakan perasaannya kepada Nadhira, ia hanya ingin Nadhira menganggapnya hanya sebagai sahabat baiknya.
Rifki segera melanjukan motornya menuju kesekolah, tak beberapa lama kemudian akhirnya mereka sampai juga disekolahan yang mereka tuju, setelah memarkir kendaraannya Nadhira dan Rifki segera bergegas menuju kekelasnya.
Sesampainya dikelas mereka segera disambut oleh teman temannya, Rifki mengabaikan hal itu dan langsung duduk dibangkunya setelah itu segera membuka bukunya untuk dipelajari lebih lanjut, sementara Nadhira menanggapi ucapan dari teman temannya tersebut.
Entah apa yang dibicarakan oleh Nadhira dan lainnya, sehingga Nadhira begitu gugup ketika menanggapi ucapan mereka mengenai hari ini, beberapa kali Nadhira menoleh kearah dimana Rifki berada saat ini.
"Eh Rif, nanti ada pemilihan Ketua OSIS yang baru". Ucap Nadhira sambil berjalan ketempat dimana Rifki sedang duduk dengan santainya.
"Lalu?". Jawaban begitu simpel dan masih tetap melanjutkan membaca bukunya.
"Kamu ngak tertarik untuk ikut?". Nadhira segera menarik buku tersebut dan menutupnya setelah itu Nadhira menaruhnya diatas meja.
"Ngak Dhir, ribet jadi Ketua OSIS itu, mending dikelas aja mendengarkan materi".
"Tapi teman teman sudah mendaftarkan dirimu sebagai calon Ketua OSIS". Ucap Nadhira sambil menyengir kek kuda.
Sebenarnya Nadhira sangat ragu untuk mengatakan apa yang telah direncanakan oleh teman temannya untuk menjadikan Rifki sebagai ketua OSIS, bagi mereka Rifki adalah orang yang sangat cocok untuk menjadi pemimpin sekolah.
Rifki bukan hanya tegas dalam bertindak, tetapi ia juga disiplin dalam kesehariannya, tetapi hal itu demi kepentingan dirinya dan juga orang yang berada didekatnya, hal itulah yang membuat teman temannya sangat mempercayai dirinya untuk menjabat sebagai ketua OSIS.
Tetapi Reaksi yang ditimbulkan oleh Rifki membuat Nadhira dan juga beberapa temannya sempat terkejut mendengar teriakan yang dilontarkan oleh Rifki kepada Nadhira, tidak biasanya Rifki akan berkata sampai berteriak dihadapan Nadhira, tetapi Nadhira yang sudah terbiasa mendengarnya berteriak hanya terkejut melihat reaksi Rifki ketika ia mengetahui bahwa Rifki telah ditunjuk oleh beberapa temannya untuk menjadi ketua OSIS.
"APA!!!".
"Terima saja Rif, kali aja melalui OSIS kamu bisa memimpin perusahaanmu dengan tegasnya". Bisik Nadhira ditelinga Rifki.
Rifki menatap tajam kearah Nadhira, Rifki berpikir bahwa hal itu bukanlah ide yang buruk juga, melihat Rifki yang terus mengarahkan tatapan tajam kearah Nadhira membuat beberapa temannya menelan ludah mereka masing masing.
"Mari kita saksikan apakah Rifki akan marah kepada Nadhira". Ucap Fajar yang jauh dari keduanya.
"Menurutku sih ngak juga, karena Nadhira kan orang yang paling berarti bagi Rifki". Ejek Rahma kepada Fajar yang ada disampingnya.
"Tapi sesabar sabarnya seorang lelaki pasti masih memiliki batas kesabaran". Tambah Reihan yang melihat kedua temannya yang sedang menyaksikan reaksi yang akan terjadi.
Rifki yang pendengarannya cukup tajam, ia dapat mendengar apa yang diucapkan oleh teman temannya, seketika itu juga pandangan tajamnya yang awalnya ia arahkan kepada Nadhira sekarang berpindah kepada mereka membuat mereka diam seketika.
__ADS_1
Ketika meraka sudah diam membisu, Rifki kembali menatap kearah kedua mata Nadhira, Nadhira yang ditatap seperti itu hanya bisa tersenyum canggung dan berpose seimut mungkin dihadapan Rifki hal itu membuat Rifki menghelakan nafasnya.
"Baiklah aku terima, asalkan dirimu yang menjadi wakilnya, gimana?".
"Emang bisa seperti itu?".
"Kenapa tidak? Ketua kan bebas memilih siapa wakilnya, bukan begitu?".
"Itu mah kalo dimarkasmu kali Rif, ini disekolahan bukan dimarkasmu, jadi tidak bisa seenaknya bertindak memilih seperti itu".
"Iya kalo begitu, aku ngak mau jadi ketua, lagian mereka juga seenaknya memilih tanpa mendengarkan keputusanku terlebih dahulu".
Nadhira diam begitu saja dan sambil memberikan sebuah kode kepada teman temannya bahwa Rifki tidak menyetujui apa yang dilakukan oleh mereka, mereka pun kecewa dengan keputusan apa yang diambil oleh Rifki saat itu.
"Itu ide yang bagus Rif, terima saja, kamu akan dihargai oleh orang lain dan juga terkenal di seluruh sekolahan ini".
"Ck.. aku tidak butuh itu, percumah saja banyak yang menghargai tetapi kalau kita susah dan terjatuh mereka semua juga akan pergi".
Dengus Rifki dengan kesalnya karena ucapan dari Raka, melihat Rifki yang sedang berbicara sendirian membuat Nadhira yang melihatnya hanya bisa membuka matanya lebar lebar kearah diaman Rifki yang saat ini sedang menghadap.
Teman temannya mengira bahwa Rifki sedang begitu marahnya kepada Nadhira, sehingga mengatakan hal seperti itu dengan kesalnya, tetapi merek tidak mengetahui bahwa Rifki bukan berbicara kepada Nadhira melainkan sosok gaib yang selalu mengikutinya kemanapun ia pergi.
"Ayolah Rif, terima ya, jangan buat mereka kecewa".
Nadhira memegangi tangan Rifki dengan eratnya sambil menunjuk kearah teman temannya berada, yang ditunjuk oleh Nadhira hanya bisa berdiam diri sambil mengalihkan pandangan mereka dari wajah Rifki, mereka tidak ingin menjadi sasaran kemarahan Rifki untuk selanjutnya.
"Mereka yang memaksa, atau dirimu?".
"Mau jawaban yang jujur atau bohongan?".
"Berani berbohong didepanku silahkan, tapi tanggung sendiri akibatnya, karena aku tidak suka dibohongi". Ucapnya dengan begitu santainya.
"Yaya... gitu aja marah, sebenarnya aku yang memaksa". Jawab Nadhira sambil menyengir dihadapan Rifki. "Tapi... Tapi itu juga demi kebaikanmu, kau akan jadi pemimpin perusahaan besar, lagian apa salahnya sih berpartisipasi dalam hal ini? Kamu akan terbiasa menghadapi orang orang dengan cara ini, bukan begitu?".
Rifki memikirkan kembali apa yang dikatakan oleh Nadhira, memimpin sebuah markas sering kali ia lakukan, tetapi ia belum pernah memimpin seseorang yang belum sama sekali ia kenal sebelumnya, mencoba sesuatu yang baru itu adalah sebuah tantangan tersendiri.
"Terima saja, itu bukan sesuatu yang buruk juga kok". Kali ini Nimas ikut berkomentar.
"Bener tuh, apa kata Ni.... Aaaaa". Mendengar suara itu lagi lagi membuat Nadhira berteriak, dan langsung bersembunyi dibalik punggung Rifki.
Teman temannya yang melihat kejadian itu mengira bahwa Nadhira sedang memeluk Rifki, tetapi nyatanya Nadhira bersembunyi dibalik punggung Rifki karena suara yang tiba tiba ia dengar.
Rifki menghela nafasnya karena melihat kelakuan Nadhira yang masih saja begitu terkejut ketika mendengar suara tanpa rupa tersebut, dan juga tatapan seluruh temannya yang sedang tertuju kepada keduanya saat ini.
"Kenapa dia masih takut ketika mendengar suaraku, bukankah sudah aku beritahu siapa diriku kepadanya". Keluh Nimas.
"Butuh waktu untuk seseorang beradaptasi dengan sekitarnya yang baru menurutnya, apalagi Nadhira yang baru pertama kali mengalami hal seperti ini". Ucap Rifki menanggapi apa yang dikatakan oleh Nimas.
"Tapikan aku sudah lama berada didekatnya!".
"Aku bukannya takut padamu, bisa ngak sih menampakkan dirimu, jangan hanya suaramu saja". Keluh Nadhira sambil melepaskan pegangan tangannya dari Rifki.
__ADS_1
"Jika aku bisa, sudah ku lakukan sejak tadi, kau tau? Kekuatanku sekarang melamah, itu sebabnya temanmu itu bisa melihatku".
"Sejak lama aku bisa melihatmu, tapi kali ini bayanganmu lebih terlihat jelas daripada sebelumnya, dan aku juga terkejut kenapa wajahmu sudah sembuh". Sahut Rifki.
"Hey... Kalo bukan karena Pangeran pasti ini tidak akan hilang, kau tau, itu adalah hasil perjuanganku ketika aku masih hidup".
"Apa yang kalian berdua katakan".
Tiba tiba sosok Fajar muncul diantara keduanya dengan begitu penasarannya mengenai tentang percakapan keduanya yang seakan akan berbicara dengan mahluk gaib, Fajar sama sekali tidak mengerti apa yang dibicarakan oleh keduanya saat itu sehingga Fajar memutuskan untuk melangkah mendekati keduanya.
Plak... Bhuk...
Melihat Fajar yang tiba tiba muncul disamping Nadhira membuat Nadhira memukulnya dengan begitu sangat kerasnya hingga membuat Fajar terbaring dilantai, Nadhira begitu terkejut sehingga ia melontarkan sebuah pukulan kepada Fajar yang Nadhira kira adalah mahluk yang sama seperti Nimas yakni mahluk gaib.
"Mentang mentang kalian bisa beladiri, seenaknya aja kau memukulku.. huh... Akh...". Fajar mendengus karena tindakan yang dilakukan oleh Nadhira.
"Maaf". Ucap Nadhira sambil membantu Fajar untuk berdiri kembali.
"Kira kira deh kalo mau mukul, jangan asal mukul, sakit tauk, kamu sih enak tinggal ngmong maaf doang lah aku? Harus nanggung sakitnya".
"Salah sendiri kenapa membuatku terkejut seperti itu, untung saja hanya pukulan yang aku lontarkan, kalo sampai tendangan tamatlah riwayatmu".
Nadhira menahan tawanya karena ia telah memukul seseorang tanpa sengaja karena refleknya, sementara Rifki hanya menggelengkan kepalanya sambil tersenyum tipis disini memang Fajar yang salah karena tiba tiba muncul diantara keduanya, sebelum Rifki bertindak, Nadhira terlebih dahulu memukul Fajar dengan kerasnya.
"Lain kali jangan keras keras dong, remuk nih tulangku, emang kamu mau ganti?........". Fajar terus saja mengomel.
"Untung saja masih Nadhira yang memukulmu, kalo bukan karena didahului olehnya mungkin kau lah yang aku pukul saat itu". Ucap Rifki menghentikan omelan dari Fajar.
Fajar menatap keduanya dengan perasaan yang campur aduk, antara sakit, malu, dan juga merinding melihat tatapan keduanya yang kini tengah terarah kepadanya.
"Kalian memang pasangan yang begitu sadis!!!".
"Mau tau seberapa sadisnya diriku? Aku bisa membunuh seseorang tanpa menyentuh loh". Ucap Rifki sambil menakut nakuti Fajar.
Kedua mata Fajar melotot karena ucapan Rifki. "Ka... kau!!! Kau pakai santet ha?".
Nadhira dan Rifki tertawa melihat ketakutan Fajar yang bagi mereka begitu lucunya, meskipun Rifki terlihat serius dalam ucapannya ia tidak akan melakukan hal yang disebut sebagai santet, ia tidak akan sampai hati untuk menyakiti seseorang menggunakan kemampuannya.
Bagi Rifki, kemampuannya adalah sebuah anugerah baginya untuk menolong sesama bukan untuk menyakiti sesama, Rifki diberi kemampuan seperti itu oleh Allah karena Allah begitu yakin kepadanya bahwa dirinya mampu untuk memanfaatkan dengan baik kemampuannya tersebut.
"Ya kali aku pake santet, hanya satu pukulanku saja bisa membuatmu langsung bisa masuk rumah sakit kok, mau mencobanya? Dengan senang hati aku akan meladeninya". Ucap Rifki sambil menjilat bibirnya dan menatap Fajar dengan tatapan seperti predator yang sedang mengincar mangsanya.
"Tidak tidak... terima kasih".
Fajar menggelengkan kepalanya dengan cepatnya untuk menolak ucapan yang Rifki lontarkan, sementara Nadhira perlahan lahan mendekatkan kepalanya kepada telinga Fajar, dan membisikkan sesuatu kepada Fajar.
"Lebih baik jangan memancing harimau yang sedang diam!! Kau tau, dalam sekejap saja dirimu dapat dikalahkan olehnya, tapi aku tidak bisa menjamin bahwa tulang tulangmu masih tetap berada ditempatnya seperti semula, ingat itu". Bisik Nadhira kepada Fajar.
Setelah membisikkan hal itu, Nadhira tersenyum mencurigakan kepada Fajar, Fajar hanya bisa mengigit jarinya mendengar ucapan dari Nadhira, Nadhira memang tidak berniat untuk menakut nakuti Fajar tetapi tidak ada pilihan lain untuk bisa menghentikannya yang terus saja mengomel seperti seorang ibu ibu yang sibuk bernegosiasi dengan seorang penjual dipasar.
"Apa yang kalian bisikkan?". Tanya Rifki sambil mengerutkan keningnya.
__ADS_1
"Bukan hal penting". Jawab Nadhira sambil menggelengkan kepalanya.
Nadhira berjalan kembali menuju bangkunya yang berada disebelah Rifki, sementara Fajar memilih untuk duduk didepan meja Nadhira karena belum bel masuk kelas sehingga bangku yang ada didepan Nadhira masih kosong.