
Rifki segera berdiri dari jongkoknya, kini ia menghadap kearah Nadhira yang sedang berkaca kaca ketika pandangan keduanya bertemu, dengan pelan dan gagahnya Rifki berjalan kearah Nadhira yang sedang meneteskan air mata itu.
"Kau akan pergi sekarang Rif?". Tanya Nadhira sambil menahan air matanya agar tidak jatuh dihadapan Rifki saat ini, meskipun begitu ada sedikit air yang mampu lolos dari pelupuk matanya.
"Iya Dhira, jaga dirimu baik baik, aku akan segera kembali hanya untukmu Dhira, maafkan aku karena aku harus pergi meninggalkanmu dengan cara seperti ini, aku tidak tau lagi apa yang harus aku lakukan saat ini, aku tidak ingin membantah ucapan Kakek dan Papa".
"Aku hanya bisa berdoa, semoga kau baik baik saja dan secepat untuk kembali ketanah air dengan selamat, jangan pernah melupakanku Rif, aku hanya takut kau akan melupakanku setelah bertemu banyak wanita disana, karena aku tidak akan mampu menjadi seperti wanita wanita itu".
"Kau tenang saja Dhira, aku tidak akan melupakanmu, kau juga, jangan pernah melupakan diriku, jika nantinya kau menemukan sosok pengganti diriku, maka jangan sia siakan hal itu, aku ingin melihatmu bahagia tanpa adanya tekanan dariku, aku tidak akan memaksa dirimu untuk tetap menungguku, apapun keputusanmu nantinya, aku akan mendukungnya dengan sepenuh hatiku".
"Aku tidak mau yang lainnya Rif, aku akan tetap menunggumu, sampai kau benar benar hadir dalam hidupku".
"Aku tidak bisa memaksamu Dhira, aku hanya bisa mengatakan kepadamu, berhati hatilah dengan ibu tirimu itu, ataupun orang orang yang ada disekitarmu, yang baik belum tentu baik dan yang buruk juga belum tentu buruk".
"Iya Rif, meskipun tanpa kau minta sekalipun aku akan tetap berhati hati dengan ibu tiriku, justru saat ini kaulah yang harus berhati hati karena akan pergi ke negeri orang lain".
"Aku akan baik baik saja, aku akan segera kembali Dhira, ku harap disaat itu kau akan baik baik saja". Ucap Rifki sambil mengusap kepala Nadhira pelan.
Rifki menoleh kearah Nimas dan Nadhira secara bergantian, tidak mudah bagi Rifki untuk memutuskannya biar bagaimanapun didalam tubuh Nadhira masih terdapat sebuah permata iblis sementara didalam tubuhnya sendiri sudah terdapat keris pusaka xingsi yang tidak akan pernah bisa menyatu dengan permata iblis.
Rifki memandangi Nimas dengan rasa sedihnya, jika bukan karena apa yang dilakukan oleh Nimas, Rifki tidak akan pernah meninggalkan Nadhira seperti ini tapi biar bagaimanapun yang terjadi sudah terjadi dan sekarang yang tersisa adalah penyesalan, takdir benar benar mempermainkan keduanya.
"Pasti sulit jika jadi kamu Rif, memang tidak ada jalan keluar sama sekali, untung Kakekmu pintar menyuruhmu keluar negeri agar kalian berdua tidak semakin dekat sebelum kita mengetahui bagaimana caranya untuk mengeluarkan permata itu". Ucap Raka yang membenarkan maksud dari Papa dan juga Kakeknya Rifki.
"Iya aku tau, tapi itu juga tidak mudah untuk dilakukan, aku tidak siap jika harus berpisah dengan Nadhira saat ini, bagaimana jika kepergianku saat ini adalah sebuah kesalahan dan menyebabkan Nadhira dalam bahaya". Batin Rifki.
"Kau tidak perlu cemas masalah itu Rif, aku dan Raka pasti bisa melindungi Nadhira, aku juga tidak ingin terjadi sesuatu pada permata itu yang akan menyebabkan nyawa Nadhira dalam bahaya, biar bagaimanapun ini juga adalah kesalahanku karena keegoisanku yang membuat permata itu masuk kedalam tubuhnya seperti sekarang ini". Ucap Nimas.
"Ini bukan kesalahanmu Nimas, ini adalah takdirku yang harus aku lakukan, aku tidak masalah jika nyawaku sendiri yang menjadi taruhannya, hanya saja aku takut jika harus berpisah dengan orang orang yang menurutku baik". Batin Nadhira.
"Ini bukan salahmu Nimas, aku tau betul dan mengerti apa yang telah terjadi kepadamu saat itu, jika aku adalah dirimu waktu itu aku akan melakukan hal yang sama seperti apa yang kamu lakukan saat itu, aku tau perasaanmu pasti merasa begitu sakit setelah mengetahui bahwa keluargamu telah dibantai tanpa tersisa sedikitpun apalagi ketika kau mengetahui apa alasannya kenapa keluargamu dibantai seperti itu, kau pasti akan begitu dendam kepada Pangeran Kian karena keris yang dimiliki olehnya membuat keluargamu tiada". Batin Rifki.
"Kau terlalu banyak tau Rif, itu adalah urusanku dengan Pangeran Kian, dan tidak ada hubungannya dengan dirimu sama sekali, sebaiknya kau berhenti untuk mencari tau tentangnya ataupun tentang keris pusaka xingsi itu". Ucap Nimas.
Nimas belum mengetahui bahwa Rifki adalah keturunan dari Pangeran Kian yang selama ini ia cari, karena Nimas tidak merasakan energi keris pusaka xingsi didalam tubuh Rifki, karena energi itu telah dikunci rapat oleh Aryabima dan juga Haris sehingga tidak ada yang dapat merasakan adanya energi itu didalam tubuh Rifki.
Rifki tidak berani membatin bahwa dirinya adalah keturunan dari Kuswanto itu sendiri sehingga Rifki berhak untuk mengetahui tentang apa yang terjadi kepada keluarganya dahulu, karena itu bukanlah hal yang sepele baginya disaat keluarganya harus dibunuh dan bersembunyi sembunyi seperti ini.
Seandainya Nimas tau bahwa Rifki adalah keturunan dari Pangeran Kian mungkin dia tidak akan mengatakan hal itu kepadanya saat ini, karena energi dari keris pusaka xingsi tidak mampu dirasakan oleh Nimas membuat Nimas tidak mengetahui bahwa Rifki adalah orang yang ia cari.
"Sebaiknya kau diam Ratu iblis, jika kau bicara kau menambah keruh suasana disini". Ucap Raka.
"Menambah keruh bagaimana? Ini adalah urusan pribadiku dengan Pangeran Kian, manusia lainnya dilarang keras untuk mengetahuinya".
"Apa yang kau bicarakan Nimas? Kenapa kau terlihat marah seperti itu? Apa yang dibicarakan oleh Rifki juga?". Tanya Nadhira melalui batinnya.
__ADS_1
"Kenapa kalian tiba tiba diam diaman seperti ini?". Tanya Putri ketika melihat Nadhira dan Rifki hanya berdiam diri dalam waktu yang cukup lama.
Tiba tiba terdengar suara bahwa pesawat yang akan dinaiki oleh Rifki akan berangkat beberapa menit lagi, mendengar itu sontak membuat Nadhira meneteskan air mata dengan begitu derasnya, dan beberapa menit kedepan dirinya tidak lagi bisa melihat wajah Rifki selama beberapa tahun kedepan.
"Ngak ada yang kuat jika berhubungan dengan masalah hati Rif, secara fisik dapat telihat baik baik saja, tapi secara batin aku sangat tersiksa melihat kepergianmu kali ini". Ucap Nadhira yang terus berlinangan air mata.
"Aku tau itu Dhira, maafkan aku karena aku tidak bisa berbuat apa apa". Ucap Rifki yang juga tengah meneteskan air matanya.
"Jangan pergi hiks.. hiks.. hiks.. aku mohon jangan tinggalkan aku". Tangis Nadhira pecah seketika.
"Jaga diri baik baik Dhiraku, jaga diri baik baik Ma, maafkan Rifki, Rifki harus pergi, Assalamualaikum".
Rifki mulai membalikkan badannya membelakangi ketiga orang itu, dengan perlahan lahan dirinya mulai melangkah menjauh dari ketiganya, Nadhira hendak mengejarnya akan tetapi tangan seseorang langsung menghentikan langkahnya.
"Rifki jangan pergi". Teriak Nadhira. "Lepaskan aku! Rifki jangan pergi, jangan tinggalkan aku". Nadhira berusaha untuk melepaskan pegangan tangan itu.
"Dhira tenang Dhira".
"Tidak!! Aku harus menghentikan dia, aku tidak ingin dia pergi, lepaskan aku hiks.. hiks.. hiks.. tolong mengertilah aku, jangan pisahkan aku dari dia".
"Dhira istighfar, biarkan dia pergi".
Ketika mendengar suara tangis Nadhira, Rifki merasa bahwa hatinya tengah terasa seakan akan tesayat sayat, seandainya bisa ia menghentikan takdir ini, dirinya akan menghentikannya sejak awal agar dirinya tidak terpisahkan dengan Nadhira.
Tiada hal yang lebih menyakitkan daripada perpisahan, perpisahan adalah hal yang paling ditakuti oleh setiap orang dan perpisahan adalah hal yang tidak diinginkan oleh semua orang, apalagi berpisah dengan orang yang paling berarti dalam hidup kita, begitulah yang dirasakan oleh Nadhira karena Nadhira telah menganggap Rifki sebagai teman curhatnya tempat dimana dirinya mencurahkan semua isi hatinya, tentang suka maupun duka.
"Aku tau ini berat Dhira, tapi mengertilah ini demi kebaikan kalian berdua, Rifki melakukan ini karena perintah dari orang tuanya, apa kau ingin Rifki melihat durhaka kepada kedua orang tuanya karena telah menolak apa yang telah mereka perintahkan kepada Rifki?".
"Mengatakannya memang mudah Bay, kau sama sekali tidak mengerti apa yang aku rasakan saat ini".
"Aku mengerti Dhira, aku juga merasa sedih ketika melihat kepergian dari Rifki, bukan hanya dirimu saja tapi kita semua juga merasa begitu sedih".
Mendengar percakapan keduanya membuat langkah yang Rifki ambil terasa begitu berat baginya, tiada hal yang lebih menyiksa baginya kecuali suara tangisan seorang wanita kepadanya entah itu ibunya atau wanita yang begitu dekat dengannya.
"Maafkan aku Dhira, aku harus pergi, sampai permata itu bukan lagi ancaman bagi kita". Ucap Rifki pelan sambil melangkah menjauh.
Nimas dan Raka yang melihat kepergian Rifki hanya menatapnya dalam diam, entah mengapa tiba tiba Nimas juga merasakan kesedihan yang dirasakan oleh Nadhira, ingin sekali dirinya menghentikan kepergian dari Rifki, tapi apalah dirinya hanya mahluk halus yang tidak mampu untuk menyentuh manusia.
"Huh suasananya haru sekali". Keluh Raka.
"Diam saja kau, membuat mood hancur saja suaramu itu, merusak suasana hatiku saja".
"Emang mahluk gaib sepertimu punya hati? Ini juga gara gara dirimu yang telah memasukkan permata itu kedalam tubuh gadis ini, andai saja dulu kau tidak melakukan itu mungkin keduanya tidak akan pernah berpisah seperti ini".
"Iya iya memang ini salahku, karena aku dengan dendam ku telah melakukan itu, andai saja bisa diputar balikkan, aku tidak akan melakukan hal itu".
__ADS_1
"Sudah terlambat, percumah penyesalanmu itu, karena semuanya sudah terjadi, sekarang kau harus bertanggung jawab untuk mencari solusinya".
"Kau berani memerintahku?".
"Bukan perintah, apa kau tidak kasihan dengan keduanya yang harus berpisah seperti ini? Jika kau punya hati seharusnya kau berpikir bagaimana caranya untuk mencari solusi dalam hal ini".
Tanpa mendengarkan ucapan Raka, Nimas segera menghilang dari tempat itu dengan cepatnya, memang ditinya telah melakukan kesalahan dengan Nadhira akan tetapi dirinya memang tidak sengaja melakukan hal itu kepada Nadhira karena rasa dendamnya karena keluarganya yang telah dibantai habis saat dirinya masih hidup.
Nadhira menjatuhkan dirinya dan bersimpuh ditempatnya sambil menatap kepergian dari Rifki, Nadhira merasakan ada sesuatu yang telah hilang dalam hidupnya dan membuatnya merasa begitu kesepian saat ini.
Rifki tidak berani untuk menoleh kebelakang lagi karena dirinya tidak akan sanggup untuk melihat Nadhira dan Ibunya menangis ketika melihat kepergiannya saat ini, beberapa kali Rifki juga ikut serta meneteskan air matanya, dirinya sangat menghawatirkan kedua orang tuanya dan juga Nadhira yang terancam menjadi sasaran para orang jahat.
"Rifki! Jangan pergi". Teriak Nadhira memanggil Rifki.
Ketika bayangan Rifki sudah tidak terlihat lagi ditempat itu karena Rifki sudah mulai memasuki pesawat yang akan ia naiki, tiba tiba Nadhira kehilangan kesadarannya dan seketika itu juga membuat Bayu merasa begitu cemas dan memanggil pihak medis yang ada ditempat itu.
"Dhira, apa yang terjadi denganmu, Pak tolong!". Ucap Bayu yang berusaha untuk menyandarkan tubuh Nadhira ke tubuhnya.
"Rifki jangan tinggalkan aku". Ucap Nadhira pelan dan hampir tidak terdengar walaupun dengan jarak yang begitu dekatnya.
"Apa yang terjadi?". Tanya salah satu pihak medis dengan khawatirnya ketika melihat seorang pemuda yang begitu cemasnya.
"Dhira tidak sadarkan diri". Ucap Bayu sambil terus menepuk pelan pipi Nadhira untuk membangunkannya dari pingsannya.
"Pak tolong bantu angkat dia, bawa ke ruangan sekarang". Ucap seorang lelaki kepada anak buahnya.
"Baik Pak". Jawab mereka serempak.
Melihat Nadhira yang histeris karena ditinggalkan oleh Rifki membuat Putri dan Ayu hanya mampu berdiam diri, setelah orang orang itu membawa Nadhira pergi dari tempat itu, Putri dan Ayu mengikuti kemana orang orang itu membawa Nadhira.
"Bay apa yang sebenarnya terjadi dengan dia?". Tanya Putri ketika berjalan disamping Bayu.
"Dia terkena tekanan batin Tan". Jawab Bayu singkat.
"Kenapa bisa terkena tekanan batin segitunya?".
"Sejak kematian dari Tante Lia waktu itu, hal itu membuat Nadhira begitu tertekan fisik dan batinnya, bukan hanya itu saja tapi Ibu tirinya juga tidak pernah bersikap baik kepadanya Tan, selama ini dia hanya dekat dengan satu orang untuk mencurahkan segala isi hantinya, dan orang itu adalah Rifki, sehingga ketika Rifki pergi dirinya merasa begitu sangat kehilangan, aku harap Tante memakluminya, tidak ada yang kuat Tan jika harus berpisah dengan seseorang yang begitu berarti bagi kita, apalagi Rifki dan Nadhira bersahabat sangat dekat".
"Kasihan sekali dirinya itu, kenapa dia tidak pergi saja dari rumah yang dihuni oleh singa singa itu, ajak saja ke Surya Jayantara, biar Ibu tirinya tidak melakukan hal hal yang akan membahayakan dirinya itu".
"Rifki tidak akan mengizinkan Nadhira untuk tinggal disana Tan karena Nadhira orang yang paling berarti bagi Rifki, lantas bagaimana bisa dirinya mengizinkan Nadhira tinggal ditempat yang sama sekali tidak layak untuknya, Nadhira sendiri juga tidak akan mau, dia begitu sangat menyayangi Papanya dan tidak mau membiarkan Papanya begitu saja tinggal bersama wanita itu, meskipun Papanya telah bersikap jahat kepadanya, kalau dirinya".
Surya Jayantara adalah tempat untuk menampung anak anak yang kurang beruntung dan ditinggalkan oleh orang tuanya agar mereka dapat bersekolah lagi, sementara Nadhira masih memiliki orang tua dan masih mampu untuk melanjutkan pendidikannya bagaimana bisa Rifki mengizinkan Nadhira tinggal ditempat seperti itu apalagi disana pendidikannya cukup keras karena mereka mendidik anak anak jalanan yang belum mengetahui aturan.
Nadhira sendiri tidak akan mau untuk tinggal disana karena ia lebih nyaman dilingkungan sendiri dan bersama dengan Bi Ira, meskipun Surya Jayantara tidak seburuk yang ia lihat tapi Nadhira masih mau tinggal bersama Ayahnya dan menjaga Ayahnya karena dirinya belum mengetahui apa tujuan Sena yang telah masuk kedalam keluarganya.
__ADS_1
...Jangan lupa like dan dukungannya 🥰...